• Tidak ada hasil yang ditemukan

FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)

Dalam dokumen Kajian Dampak KUR.compressed (Halaman 111-116)

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.7 FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)

FGD merupakan salah satu bentuk penelitian kualitatif yang digunakan

dalam kajian ini dalam rangka mengindentifikasi kebutuhan stakeholder (bank

pelaksana KUR, perusahan penjamin, instansi terkait, dan dibitur KUR. Dalam forum ini akan dilihat pandangan dan sikap peserta terhadap program KUR dan saran perbaikan yang dikemukakan di masa mendatang. Kelompok peserta dipandu untuk secara interaktif saling bertanya dan membahas terkait dengan implementasi kebijakan penyaluran KUR di lapangan. Adapun sasaran yang ini dicapai oleh Tim Kajian dari penyelenggaraan FGD adalah :

1. Menggali berbagai permasalahan atau persoalan sehubungan dengan

penyaluran KUR

!"#$"%&'"()"*&!+,-$.&/0"1"&2"*3".&&

Agar sasaran yang diinginkan efektif dapat dicapai, maka peserta dipilih dengan selektif, dimana peserta diambil dari orang-orang yang benar-benar kompeten mengetahui permasalahan objek yang didiskusikan. Peserta diskusi pada umumnya adalah kepala dinas atau kepala bidang pada masing-masing institusi. Sebagai nara sumber diminta dari : Kepala Dinas Koperasi dan UKM tingkat Provinsi dan Bappeda tingkat Provinsi (bidang yang membidangi kredit UMKM), sedangkan peserta lainnya adalah : kepala Dinas/Instansi terkait dengan KUR, lembaga perbankan (Bank Indonesia, Bank BRI, Bank BNI, Bank BTN, Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, Bank Bukopin) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD), Lembaga Penjaminan KUR, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) / Koperasi Simpan Pinjam (KSP), UMK-penerima KUR dan Peneliti/Perguruan Tinggi setempat.

Penyelenggaraan FGD untuk Kajian Dampak KUR telah dilaksanakan pada 3 provinsi (Sumatera Utara, Kalimantan Selatan dan Jawa Barat). FGD di Sumut selenggarakan bertempat di Bank Indinesia Medan, FGD di Kalsel diselenggarakan bertempat di Kantor Dinas Koperasi dan UKMK di Banjarmasin, dan FGD di Jabar diselenggarakan bertempat di Kantor Dinas Koperasi dan UKM di Bandung. Melalui forum ini dapat digali kondisi situasional tentang pelaksanaan KUR, sehingga memberikan wawasan yang cukup komprehensif terhadap permasalahan yang sedang dihadapi. Secara umum pandangan dan sikap peserta FGD positif terhadap program KUR namun dalam implementasi program KUR perlu adanya berbagai perbaikan dalam aturan, agar program KUR dimasa mendatang penyalurannya bisa menyentuh UMKM secara lebih luas.

Khusus pada penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) di

Banjarmasin dikemukakan oleh BRI, bahwa terjadi pemahaman yang berbeda antara bank penyalur KUR dengan masyarakat tentang KUR sebagaimana terlihat dalam Tabel. 4.14.

!"#$"%&'"()"*&!+,-$.&/0"1"&2"*3".&&

Tabel 4.14 Perbedaan pemahaman tentang KUR

PERSEPSI BANK PERSEPSI MASYARAKAT

Tujuan KUR:

1) Sebagai embrio debitur yang sustainable

dan bisa migrasi menjadi nasabah komersial;

2) Tidak hanya target penyaluran jumlah debitur dan jumlah kredit.

Tujuan KUR:

1) Sebagai program pemerintah;

2) Sebanyak mungkin bisa memperoleh kredit dengan mudah.

Syarat Debitur KUR:

Sudah berusaha minimal 6 bulan untuk menilai keseriusan berusaha.

Syarat Debitur KUR:

Bisa untuk usaha baru (start up company) bahkan yang belum memulai usaha.

Jaminan:

1) Proyek yang dibiayai;

2) Untuk melihat karakter calon nasabah;

3) Tidak untuk dilikuidasi;

4) Sesuai dengan UU perbankan / prudential banking.

Jaminan:

1) Syarat untuk memperoleh kredit; 2) Harus berupa tanah (fixed asset).

Suku Bunga:

1) Merupakan refleksi biaya (reflection of cost);

2) Untuk menutup overhead cost yang tinggi.

Suku Bunga:

1) Merupakan refleksi risiko (reflection of risk );; 2) Yang penting murah.

Sumber Dana:

Dana KUR 100% dari perbankan atau dana pihak ketiga (DPK).

Sumber Dana: Dana pemerintah.

Salah satu hasil penelitian terhadap 19 debitur KUR (kredit diatas Rp 5 juta hingga Rp 500 juta) dan 7 debitur KUR Mikro (kredit hingga Rp 5 juta) yang disampaikan saat FGD di Banjarmasin oleh Dra. Netty Herman, MM (dosen tetap STIE Banjarmasin yang juga bertindak sebagai Konsultan Keuangan Mitra Bank/KKMB), menunjukkan hal-hal berikut:

(1) Bagi koperasi, pelaksanaan KUR telah berdampak terhadap peningkatan aspek manajemen, aspek kinerja usaha, aspek partisipasi anggota, aspek pelayanan terhadap anggota serta aspek pelayanan masyarakat;

(2) Bagi UMK pelaksanan KUR telah berdampak terhadap peningkatan:

aspek keuangan yakni peningkatan pendapatan, modal dan laba;

aspek pemasaran, yakni peningkatan volume penjualan, wilayah

!"#$"%&'"()"*&!+,-$.&/0"1"&2"*3".&&

aspek produksi, yakni peningkatan jumlah produksi, jenis barang yang

diproduksi, dan variasi jenis usaha;

aspek penyerapan tenaga kerja.

(3) Besarnya persentase kenaikan dampak pada usaha mikro lebih besar dibanding kenaikan pada usaha kecil;

(4) Dampak positif yang terjadi disebabkan koperasi dan UMK dalam memanfaatkan KUR benar-benar digunakan untuk pengembangan usaha, pemilihan debitur KUR yang selektif oleh petugas bank, dan kesadaran yang tinggi oleh UMKM akan kewajiban pengembalian pinjaman;

(5) Koperasi dan UMK menyatakan KUR bermanfaat sekali terhadap peningkatan usaha dan beranggapan bahwa KUR merupakan pinjaman menguntungkan dengan beban bunga yang murah.

Hasil penelitian tersebut juga mengusulkan hal-hal berikut:

(1) Penyaluran KUR diharapkan dapat diteruskan dan ditingkatkan lagi kepada koperasi dan UMK, karena dari sampel responden penerima KUR menunjukkan dampak positif peningkatan usaha, dengan mengaktifkan peran KKMB menjembatani UMKM dengan pihak bank baik untuk informasi maupun pendampingan ke bank;

(2) Bagi UMK yang sudah melunasi KUR diharapkan dapat diberikan KUR lagi sehingga UMK tersebut tidak hanya sekali mendapatkan KUR;

(3) Besar pinjaman yang tidak dikenakan jaminan tambahan diharapkan dapat ditingkatkan lebih dari Rp 5 juta, artinya bukan hanya KUR Mikro;

(4) Semua bank pelaksana KUR diharapkan dapat lebih banyak menyalurkan KUR Mikro serta dapat memberikan informasi secara luas dan terbuka tentang KUR pada cabang banknya di daerah;

(5) UMK yang telah memperoleh KUR mengharapkan juga peningkatan kapasitas

usaha (capacity building) dari instansi terkait dan dari dana PKBL bank

penyalur KUR berupa pelatihan mencari peluang pasar, mendekati pembeli, mengatur keuangan/pembukuan dan membuat perencanaan usaha.

!"#$"%&'"()"*&!+,-$.&/0"1"&2"*3".&&

Beberapa sikap dan pandangan peserta FGD di tiga provinsi (perbankan, instansi terkait dan UMKM) sebagai berikut:

a. Sikap dan pandangan Perbankan

(1) Kebijakan Pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan No. 135/PMK.05/2008 tanggal 24 September 2008 tentang Fasilitas Penjaminan dan perubahannya No. 10/PMK.05/2009 tanggal 2 Februari 2009 perlu direvisi;

(2) Perlunya peningkatan alokasi dana KUR perbankan; (3) Potensi debitur di daerah masih tinggi;

(4) SID (sistem informasi debitur) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia mengenai debitur harus akurat;

(5) Perlunya pembentukan LPKD (Lembaga Penjaminan Kredit Daerah) untuk memperluas penjaminan KUR di daerah karena 2 perusahaan penjamin Askrindo dan Jamkrindo cenderung mulai kewalahan;

(6) Perlu adanya pemeringkatan Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

b. Sikap dan pandangan Instansi Terkait

(1) Melibatkan secara aktif pemerintah daerah dalam mensosialisasi dan memfasilitasi KUR;

(2) Perlu memaksimalkan peran dinas terkait di daerah dalam penyaluran KUR misalnya dalam menyusun database debitur dan calon debitur; (3) Perlu ada sosialisasi intensif antara pihak perbankan dengan

dinas-dinas di daerah kepada masyarakat sehingga memiliki persepsi yang sama dengan perbankan;

(4) Prioritas pemberian kredit kepada usaha mikro (KUR Mikro) perlu ditekankan;

(5) Perlu adanya target kantor cabang dari masing-masing bank penyalur di daerah;

(6) Perlunya melibatkan sistem pendampingan KUR melalui Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB);

!"#$"%&'"()"*&!+,-$.&/0"1"&2"*3".&&

(7) Mendorong pengembangan KUR Syariah seperti sistem bagi hasil yang diterapkan Bank Syariah Mandiri (BSM);

c. Sikap dan pandangan UMKM

(1) Perlunya peningkatan alokasi dana KUR perbankan; (2) Meningkatkan KUR linkage melalui koperasi/LKM;

(3) Memperluas penyaluran KUR ke sektor-sektor non perdagangan terutama pertanian dan perikanan;

(4) Perlu menurunkan tingkat suku bunga;

(5) Perlu modifikasi skim kredit modal kerja yang permanen;

(6) Perlu pengembangan pelatihan SDM UMKM melalui dana PKBL

(Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) BUMN dan Corporate Social

Responsibility (CSR) dari perusahaan swasta.

4.8 SKALA PRIORITAS PENENTU KEBERHASILAN KINERJA

Dalam dokumen Kajian Dampak KUR.compressed (Halaman 111-116)

Dokumen terkait