• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNTUK INDONESIA

Focus Group Discussion(FGD) dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan dari para peserta diskusi tentang model dan jenis kantong plastik belanja yang ramah lingkungan. Diskusi ini mengundang para stakeholder

kantong plastik belanja, seperti pihak industri sebagai produsen kantong plastik belanja, pihak retailer yang menyalurkan kantong plastik belanja ke konsumen, pihak akademisi dan peneliti sebagai pakar plastik ramah lingkungan, pihak masyarakat sebagai pengguna kantong plastik belanja dan pemerintah sebagai regulator. Dalam FGD juga diedarkan kuesioner AHP (Analitycal Hierarchy Process) yang bertujuan untuk mendapat masukan tentang kantong plastik belanja yang seperti apa yang sesuai untuk masyarakat Indonesia (konvensional ,

oxodegradable, atau biodegradable). Penggunaan kantong plastik belanja ramah lingkungan di Indonesia adalah sebuah sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling terkait yaitu dalam bentuk para stakeholder. Sebagai tahap awal penelitian tentang sistem model kantong plastik belanja ramah lingkungan di Indonesia , maka dibuat klasifikasinya sebagai berikut (Marimin, 2009):

Tabel 8 Klasifikasi Sistem Model Kantong Plastik Belanja Biodegradable

System Input Proses Output

Analysis Biji Plastik Produksi kantong plastik belanja

Kantong plastik konvensional yang menjadi sampah yang terurai dalam waktu yang sangat lama

Synthesis Pati dari bahan nabati banyak tersedia di Indonesia Teknologi pembuatan bioplastik dengan berbagai alternatif bahan baku nabati dengan harga yang relatif murah

Kantong plastik ramah lingkungan

Design -Pati dari hasil umbi-umbian dan biji-bijian -Pengurangan kantong plastik konvensional Rancangan model proses pemanfaatan bahan yang dapat diperbaharui sebagai bahan campuran biji plastik

Formulasi yang menghasilkan kantong plastik ramah

lingkungan yang mutunya sesuai SNI dengan harga yang relatif murah Control Masyarakat pengguna kantong plastik belanja - Industri plastik - Industri pembuatan Pati

-SNI kantong plastik ramah lingkungan

-Ketersediaan kantong plastik belanja ramah lingkungan -Masyarakat teredukasi tentang dampak sampah kantong plastik terhadap lingkungan Selanjutnya dilakukan analisis kebutuhan terhadap ketersediaan kantong plastik belanja yang ramah lingkungan di Indonesia, dengan mendata identifikasi pelaku, komponen informasi dan tingkat kebutuhannya

Tabel 9 Analisis Kebutuhan Kantong Plastik Belanja Biodegradable

Komponen Informasi

Pelaku

Masyarakat Industri Ritel Pemerintah Lembaga Penelitian

Ketersediaan Bahan Baku Pati √ √√ - √ √

Ketersediaan Produk KPBB √ √√ √√ √ -

Teknologi Proses KPBB - √√ - √ √

Harga Biji Plastik - √√ - √ -

Harga KPBB √√ √√ √√ √ -

Instruksi Penggunaan √ √√ √√ √√ -

Kesadaran Menggunakan √√ √√ √√ √ √

Identifikasi sistem yang merupakan hubungan antara analisis kebutuhan dengan permasalahannya dapat digambarkan sebagai berikut:

Kesejahteraan petani Industri pati nabati Pelaku ritel menyediakan KPBB Jumlah penduduk Model penggunaan KPBB UU & SNI Kebijakan pemerintah Sampah kantong plastik konvensional Pencemaran lingkungan karena plastik yang tidak bisa

terurai Polusi perairan Produksi KPBB Kesadaran masyarakat (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+) Polusi darat (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+) (-) (-)

Gambar 10 Causal Loop Model Penggunaan Kantong Plastik Belanja Biodegradable

SNI: Standar Nasional Indonesia UU: Undang Undang Interpretasi causal loop kedalam diagram input -output terhadap penggunaan kantong plastik belanja ramah lingkungan dibuat sebagai berikut:

· Proses produksi KPBB relatif sulit

· Pajak untuk bahan baku · Masyarakat tidak peduli bahaya

plastik terhadap lingkungan · Produsen tidak menyediakan

KPBB karena harga lebih mahal

· Undang – Undang · SNI (Standar Nasional

Indonesia) · Kebijakan Pemerintah · Kondisi Lingkungan

MODEL PENGGUNAAN KANTONG PLASTIK BELANJA BIODEGRADABLE (KPBB) SEBAGAI PENGGANTI KANTONG PLASTIK KONVENSIONAL DI INDONESIA INPUT TIDAK TERKENDALI

INPUT LINGKUNGAN

· Tersedianya pati sebagai campuran bahan baku pembuatan KPBB · Kesadaran masyarakat · Kepedulian pelaku retel dan industri · Lancar produksi KPBB sehingga

bisa ekspor

· Edukasi masyarakat lewat media massa

INPUT TERKENDALI

MANAJEMEN PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN TERSEDIANYA KPBB DI RITEL DAN SWALAYAN

· Masyarakat mengurangi jumlah pemakaian kantong plastik (Reduce) · Masyarakat mau menggunakan KPBB · Tersedianya KPBB di tempat

perbelanjaan

· Pendapat masyarakat meningkat (Industri pertanian dapat diolah menjadi pati) · Lingkungan lebih lestari

OUTPUT YANG DIKEHENDAKI

· Kelangkaaan bahan bakar pati · Masyarakat menolak menggunakan

KPBB karena membayar lebih · Harga KPBB mahal

· Pelaku industri enggan memproduksi KPBB

· Pencemaran lingkungan OUTPUT YANG TIDAK DIKEHENDAKI

Penggunaan Proses Hierarki Analitik

Dalam mengorganisir informasi yang diperoleh dari hasil diskusi persoalan jenis kantong plastik belanja ramah lingkungan yang sesuai untuk masyarakat Indonesia, maka digunakan Proses Hierarki Analitik (AHP) dengan 4 level

sebagai berikut:

Sasaran : Kantong Belanja Ramah Lingkungan Yang Sesuai Untuk Indonesia Kriteria : (1) Ketersediaan (2) Harga (3) Minat Konsumen (4) Proses Aktor : (1) Pemerintah (2) Pelaku Industri (3) Pelaku Ritel (4) Masyarakat

Alternatif: (1) Kantong Plastik Konvensional (2) Kantong Plastik Oxodegradable (3) Kantong Plastik Biodegradable

Hasil kuesioner yang diisi oleh 36 responden saat FGD dan diolah dengan menggunakan expert choice software , maka level alternatif yang dipilih adalah sebagai berikut.

Tabel 10 Peringkat Pilihan Jenis Kantong Plastik Hasil FGD Jenis kantong

plastik belanja Pemerintah Industri Retail LSM-Peneliti-Masyarakat Total Peringkat

Konvensional 1 2 6 9 III

Oxodegradable 1 2 2 8 13 II

Biodegradable 2 1 11 14 I

Gambar 12 Peringkat Pilihan Jenis Kantong Plastik

Focus Group Discussion dihadiri oleh 38 peserta yang terdiri dari beberapa pimpinan industri plastik yang telah memproduksi kantong plastik belanja ramah lingkungan, ataupun industri yang mengimpor biji plastik yang sudah diproses dan tergolong ramah lingkungan, wakil-wakil dari ritel, wakil dari instansi pemerintah, LSM, akademisi, dan peneliti. Peserta di dominasi oleh masyarakat pengguna kantong plastik belanja.

Kuesioner yang diisi oleh responden adalah sejumlah 36 (4 wakil dari Pemerintah, 5 wakil dari Industri, 2 wakil ritel dan 25 wakil dari LSM, akademisi, peneliti dan masyarakat pengguna). Dari hasil diskusi dapat disimpulkan bahwa jenis kantong plastik belanja ramah lingkungan yang diharapkan dapat dipakai di Indonesia adalah jenis biodegradable, namun karena faktor ketersediaan yang belum memadai, maka yang banyak di pasaran adalah jenis oxodegradable (tidak tersedia jenis pilihan alternatif yang ramah lingkungan lainnya).

Sedangkan dari hasil perhitungan pengolahan data kuesioner AHP, yang diolah dengan software expert choice, maka jenis kantong plastik ramah lingkungan yang dipilih pada level alternatif adalah berturut-turut kantong plastik jenis biodegradable (38.89%), oxodegradable (36.11%) dan konvensional (25%). Persentase pilihan alternatif biodegradable dan oxodegradable relatif sangat kecil perbedaannya (hanya berbeda 1 responden). Faktor penyebab pemilihan alternatif tersebut terutama adalah faktor harga dan ketersediaan.

Gambar 11 berikut menjelaskan faktor level kriteria yang mempengaruhi 36 responden dalam memutuskan memilih alternatif model kantong plastik belanja ramah lingkungan, yaitu faktor harga 44.44% (16 responden), ketersediaan 30.55% (11 responden), minat menggunakan 19.44% (7 responden) dan yang mementingkan proses pembuatan kantong plastik ramah lingkungan hanya 5.57% (2 responden).

Gambar 13 Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kantong Plastik Selama ini pihak ritel dan toko-toko memberikan kantong plastik secara gratis dan tidak dibatasi jumlahnya kepada para konsumen, sehingga agak sukar mengubah pola pikir masyarakat pengguna (konsumen) untuk memulai membayar kantong plastik belanjanya. Oleh sebab itu pihak ritelcenderung memilih kantong plastik konvensional agar omzet penjualan tetap stabil, karena konsumen bisa belanja barangnya dalam jumlah yang besar.

Sebaliknya pihak industri plastik selama ini mengekspor kantong plastik belanja jenis biodegradable yang diproduksinya ke berbagai manca negara, karena faktor harga menjadi kendala jika jenis biodegradable tersebut dijual kepada ritel lokal. Mahalnya pati singkong yang dipakai sebagai bahan pengisi biji plastik menyebabkan kendala faktor harga.

Jadi perlu intervensi pemerintah untuk membuat regulasi bahwa kantong plastik yang dipakai di pasaran, haruslah kantong plastik yang ramah lingkungan

biodegradable dengan memberikan keringanan pajak dan memberikan kebijakan fiskal tertentu bagi industri yang memproduksi atau ritel yang menggunakan kantong plastik belanja ramah lingkungan dalam usaha mereka.

Hasil Survei tentang Kantong Plastik Belanja Ramah Lingkungan

Dari hasil kuesioner yang dibagikan kepada responden di beberapa lokasi, maka diperoleh data sebagai berikut:

- 80% responden menggunakan kantong plastik belanja dalam aktivitas kesehariannya, dan 67% rata2 mengunakan >5 kantong plastik per hari

- 50% responden tidak pernah membawa kantong belanja sendiri dan 58% responden tidak pernah berniat mengurangi penggunaan kantong plastik - 27% responden menolak diberikan kantong plastik di supermarket atau di

pasar dan hanya 57% yang menggunakan kembali kantong plastiknya (reuse) - 54-87% responden mengetahui dampak buruk kantong plastik yang dibuang

terhadap lingkungan

- 56% responden dapat membedakan jenis kantong plastik ramah lingkungan (banyak responden yang mengetahui kantong plastik ramah lingkungan hanya dari membaca label yang tercetak pada kantong plastik tentang slogan

- 60% responden belum pernah menggunakan kantong plastik ramah lingkungan bahkan masih ada yang tidak mendukung penggunaan plastik ini - 93% responden merasa perlu menerapkan penggunaan kantong plastik ramah

lingkungan di semua pasar di Indonesia

- 67% responden merasa perlu adanya peraturan pemerintah tentang kewajiban menggunakan kantong plastik ramah lingkungan di semua tempat perbelanjaan

Survei tentang kantong plastik belanja dan kantong plastik ramah lingkungan jenis biodegradable ini, dilakukan terhadap populasi responden yang berusia antara 15-50 tahun, yang umumnya masih memerlukan banyak kantong plastik belanja dalam menunjang aktivitas kesehariannya. Ternyata para responden hampir tidak dapat membedakan mana jenis kantong plastik belanja yang ramah lingkungan, bahkan kantong plastik biodegradable masih merupakan jenis yang belum tersosialisasi dengan baik. Umumnya responden mengetahui manfaat penggunaan plastik ramah lingkungan, karena banyak melihat tumpukan sampah kantong plastik yang ditemukan hampir di semua tempat, yang menurut responden tidak dapat diurai atau tidak mudah hancur. Namun responden mempertanyakan ketersediaan kantong plastik biodegradable, bahkan bersedia membayar dengan harga antara Rp 200 – Rp 500 untuk setiap lembar kantong plastik belanja ramah lingkungan jenis biodegradable.

Dokumen terkait