sistematik terhadap suatu gelaja yang tampak pada objek penelitian. Sedangkan menurut Nasution (2003), observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Adapun kriteria yang hendak diperhatikan oleh observeser antara lain:
1) Memliki pengetahuan yang cukup terhadap obyek yang hendak diteliti, 2) Pemahaman tujuan umum dan tujuan khusus penelitian yang
dilaksanakannya,
3) Penentuan cara dan alat yang dipergunakan dalam mencatat data, 4) Penentuan kategori pendapatan gejala yang diamati,
5) Pengamatan dan pencatatan harus dilaksanakan secara cermat dan kritis, 6) Pencatatan setiap gejala harus dilaksanakan secara terpisah agar tidak saling
mempengaruhi,
7) Pemilikan pengetahuan dan keterampilan terhadap alat dan cara mencatat hasil observasi.
Pada dasarnya teknik observasi digunakan untuk melihat dan mengamati perubahan fenomena–fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang yang kemudian dapat dilakukan perubahan atas penilaian tersebut, bagi pelaksana observaser untuk melihat obyek moment tertentu, sehingga mampu memisahkan antara yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan. (Margono 2007).
Observasi dalam penelitian ini menggunakan observasi terbuka. Dalam proses pengumpulan data, dinyatakan kegiatan yang sebenarnya kepada sumber data, bahwa sedang dilakukan penelitian. Jadi responden yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas penelitian. Oleh karena itu fakta atau fenomena yang akan diobservasi adalah terkait unsur kinerja Gapoktan, yaitu efektivitas organisasi, efisiensi organisasi, relevansi (kesesuaian) organisasi, dan pencapaian kemandirian keuangan organisasi.
3. Focus Group Discussion (FGD)
FGD adalah suatu metode riset, Irwanto (1988) mendefinisikan sebagai “suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok”. Dengan kata lain FGD merupakan proses pengumpulan informasi bukan melalui wawancara, bukan perorangan, dan bukan diskusi bebas tanpa topik spesifik. Metode FGD termasuk metode kualitatif. Seperti metode kualitatif lainnya (direct observation, indepthe interview, dsb) FGD berupaya menjawab jenis-jenis pertanyaan how and why, bukan jenis-jenis pertanyaan what and how many yang khas untuk metode kuantitatif (survei, dsb). FGD dan metode kualitatif lainnya sebenarnya lebih sesuai dibandingkan metode kuantitatif untuk suatu studi yang bertujuan “to generate theories and explanations” (Morgan and Kruger 1993).
Tujuan umum FGD adalah mengembangkan pemahaman mengenai dampak sosial ekonomi pelaksanaan Program PUAP. Untuk mencapai tujuan itu dimanfaatkan secara ektensif data kuantitatif yang berlingkup makro dari berbagai sumber. FGD merupakan salah satu metode untuk memperoleh infromasi kuantitatif-mikro dan sesuai dengan tujuan penelitian ini, karena pendekatan FGD memungkinkan memperoleh informasi yang (1) bersifat kualitatif yang bermutu dalam waktu yang relatif singkat, mengenai dampak pelaksanaan Program PUAP,
40
(2) bersifat lokal dan sensitif, dan (3) diyakini tidak dapat diperoleh memalui pendekatan survei dan wawancara individu.
4. Dokumentasi
Dokumen merupakan rekaman yang sifatnya tertulis atau film dan isinya merupakan peristiwa yang telah berlalu. Jadi, dokumen bukanlah catatan peristiwa yang terjadi saat ini dan masa yang akan datang, namun catatan masa lalu. Data-data yang dikumpulkan dengan teknik dokumentasi cenderung merupakan Data-data sekunder.
Dokumentasi merupakan benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen harian, dan sebagainya. Adapun pengambilan data dokumentasi yang diperlukan terdiri atas pelaksanaan PUAP, perkembangan asset Gapoktan, dan realisasi dana PUAP.
Metode Penentuan Sampel
Untuk menjawab tujuan pertama, dipilih sampel Gapoktan. Gapoktan sampel terdiri atas dua group Gapoktan, yakni Gapoktan yang sudah menerima dana PUAP (tahun 2008-2010), selajutnya disebut Gapoktan PUAP, dan Gapoktan yang belum menerima dana PUAP, selanjutnya disebut Gapoktan Non PUAP. Pemilihan sampel Gapoktan dilakukan secara purposive sampling (secara sengaja), atas pertimbangan bahwa: (1) Gapoktan memiliki usaha ekonomi produktif berbasis padi, (2) unit simpan pinjam sudah berjalan, (3) asset atau permodalannya sudah mengalami perkembangan, dan (4) aktivitas organisasi masih berjalan. Jumlah Gapoktan yang dipilih pada masing-masing group, sebanyak tiga Gapoktan. Sehingga total Gapoktan sampel dalam penelitian ini sebanyak enam Gapoktan.
Untuk menjawab tujuan kedua, dipilih sampel petani anggota dari masing-masing group Gapoktan. Petani sampel terdiri atas petani yang sudah menerima dana PUAP, selanjutnya disebut petani PUAP, dan petani yang belum menerima dana PUAP, selanjutnya disebut petani non PUAP. Pemilihan sampel petani dilakukan secara purposive sampling (secara sengaja), berdasarkan kriteria: (1) petani yang berusahatani padi, (2) petani yang sudah menerima dana pinjaman/kredit dari Gapoktan, (3) petani anggota yang berperan aktif dalam kegiatan organisasi Gapoktan, dan (4) petani yang mengalokasikan dana pinjaman/kredit untuk membeli input produksi. Jumlah populasi petani anggota berdasarkan kriteria tersebut, terpilih 44 orang pada Gapoktan PUAP dan 43 orang pada Gapoktan Non PUAP.
Penentuan jumlah sampel dari populasinya untuk masing-masing group, dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan Yamane (1967), yaitu:
[1] Keterangan:
n = Jumlah sampel N = Jumlah Populasi
41 Berdasarkan perhitungan di atas, maka jumlah petani padi yang dijadikan sampel penelitian untuk masing-masing group sebanyak 30 orang. Di samping itu, penentuan jumlah petani padi di tiap Gapoktan terpilih dilakukan secara proporsional (proportionate random sampling). Menurut Riduwan dan Kuncoro (2011), alokasi proporsional tersebut adalah:
[2] Keterangan:
ni = Jumlah petani sampel dari Gapoktan terpilih ke-i
Ni = Jumlah seluruh petani sampel dari Gapoktan terpilih ke-i N = Jumlah petani seluruh Gapoktan terpilih
n = Jumlah petani sampel semua Gapoktan terpilih.
Berdasarkan perhitungan persamaan 2, maka diperoleh jumlah petani sampel untuk masing-masing Gapotan seperti disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah petani sampel di tiap Gapoktan terpilih
No. Nama Gapoktan Gapoktan Kode Kecamatan Desa Anggota Jumlah
Jumlah Petani Padi Jumlah Sampel Gapoktan PUAP
1 Saluyu Utama (2008) A Ciasem Ciasem Tengah 50 15 10 2 Mitra Tani (2008) B Ciasem Sukahaji 35 7 5 3 Mitra Tani (2010) C Patok Beusi Tambak Jati 60 22 15
Jumlah 44 30
Gapoktan Non PUAP
1 Jaya Laksana X Ciasem Ciasem Hilir 60 15 10 2 Warga Tani Y Ciasem Pinang Sari 31 14 10 3 Makmur Tani Z Patok Beusi Ranca Bango 45 14 10 Jumlah 43 30
Tahapan Penentuan Sampel Gapoktan dan Petani
Tahapan penentuan sampel Gapoktan dalam penelitian ini, sebagai berikut: 1. Mengumpulkan data Gapoktan-Gapoktan yang sudah menerima dana BLM
PUAP. Data tersebut bersumber dibeberapa instasi seperti Pusat Pembiayaan, BPTP Jabar, dan BBP2TP. Data yang terkumpul, diidentifikasi dan dipilah berdasarkan Gapoktan yang telah berhasil menumbuhkembangkan LKM-A, 2. Hasil dari identifikasi data Gapoktan yang sudah membentuk LKM-A,
selanjutnya dipilah lagi berdasarkan nilai perkembangan asset atau kepemilikan modal A, persentase tingkat perkembangan modal LKM-A dari modal awal (Rp. 100 juta), persentase modal keswadayaan yang dimiliki Gapoktan, (indikatornya persentasi melebihi 50% dari dana awal (100juta), itu yang diambil,
3. Setelah terpilih beberapa Gapoktan/LKM-A, kemudian ditentukan indikator berikutnya, yakni Gapoktan yang usaha ekonomi produktifnya berbasis padi, 4. Dari data beberapa Gapoktan terpilih yang berbasis padi, dipilah kembali
42
garapan yang dikelola Gapoktan. Gapoktan yang dipilih yakni Gapoktan yang memiliki garapan lahan padi lebih luas dan mempunyai tingkat produktivitas tertinggi,
5. Selanjutnya data yang terpilih, diverifikasi dengan kondisi eksisting dilapangan. Proses verifikasi melalui pendekatan Focus Group Discution (FGD) dengan melibatkan tokoh kunci yang terdiri atas penyuluh pendamping (PPL), Penyelia Mitra Tani (PMT), Kepala Desa, dan Dinas Pertanian Kabupaten dan Kecamatan. Adapun pengambilan sampel Gapoktan pada tahap ini, yakni selain mempertimbangkan indikator yang sudah disampaikan sebelumnya, juga lebih menekankan pada aktivitas berjalannya sistem ke organisasian, seperti rutinitas rapat anggota, rapat tahunan, rutinitas simpan pinjam, keaktifan para pengurus dan anggota, sejauh mana kekuatan modal sosial para aktor yang bermain di Gapoktan. Serta mempelajari kelengkapan dokumen-dokumen yang dimiliki Gapoktan yang mengacu pada Pedum PUAP.
Tahapan penentuan sampel petani dalam penelitian ini, sebagai berikut: 1. Langkah awal yang dilakukan yakni dengan melihat daftar petani yang sudah
menerima pinjaman/kredit dari Gapoktan, dari data-data tersebut dipilih petani yang berusahatani padi,
2. Data petani yang terpilih, kemudian dipilah kembali dengan menerapkan indikator petani yang mengalokasikan dana pinjaman/kredit tersebut untuk membeli input produksi. Tahap ini melalui pendekatan dengan melihat jurnal atau buku besar Gapoktan, atau menanyakan langsung kepada pengurus Gapoktan dan Kelompok Tani, serta menelusuri informasi pada kios-kios penjual saprodi yang berada diwilayah domisili petani sampel,
3. Selanjutnya memilih petani peminjam yang berperan aktif dalam kegiatan keorganisasian, hal ini dimaksudkan untuk menggali sejauhmana pengetahuan petani terhadap Gapoktannya, dan perspektif petani anggota terhadap kinerja Gapoktan dalam mengelola dan mengembangkan modal Gapoktan, usaha produktif Gapoktan, dan bagaimana aturan main keorganisasian Gapoktan.
Analisis Kinerja Gapoktan
Untuk menjawab tujuan pertama, dilakukan penilaian atau skoring terhadap kinerja Gapoktan PUAP. Penilaian kinerja merupakan penentuan secara periodik efentifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang ditetapkan sebelumnya. Karena organisasi pada dasarnya dijalankan oleh manusia, maka penilaian kinerja sesungguhnya merupakan penilaian atau perilaku manusia dalam melaksanakan peran yang petani mainkan dalam organisasi.
Skoring Gapoktan didasarkan pada keragaan kinerja Gapoktan. Dalam penelitian ini penilaian kineja Gapoktan ditinjau dari 4 (empat) atribut kinerja Gapoktan. Keempat atribut tersebut adalah efektifitas organisasi, efisiensi
43 organisasi, relevansi organisasi, dan pencapaian kemandirian keuangan organisasi. Atribut kinerja tersebut yang dijadikan sebagai instrumen dalam penggalian data-data yang dibutuhkan dalam penelitian.
Berikut dikemukaan panduan (guide) dalam penggalian data-data yang dibutuhkan dalam penelitian. Selanjutnya dari guide tersebut dituangkan kedalam kuesioner. Guide tersebut diantaranya:
(1) Aspek Efektivitas organisasi bergerak maju menuju misi dan tujuannya sendiri:
1. Bagaimana kinerja organisasi dalam hal pencapaian utama (major achievements), tingkat produktifitas organisasi dalam kaitannya dengan misi dan nilai-nilai dalam organisasi, dan daya guna produk-produknya (utilization of results)?
2. Bagaimana kinerja staf/pengurus dalam hal pelayanan (clients served), dan kualitas pelayanan/produk?
3. Bagaimana kinerja pelayanan, misalnya bagaimana dukungan terhadap komunitas riset, dan transfer teknologi?
(2) Aspek Efisiensi organisasi dalam menuju misinya:
1. Bagaimana perbandingan antara biaya yang telah dikeluarkan dibagi jasa yang dihasilkan (rate costs/services)?
2. Bagaimana produktivitas anggota?
3. Bagaimana sistem administrasi yang dijalankan? (3) Aspek Relevansi (kesesuaian) organisasi sepanjang waktu:
1. Bagaimana adaptasi dari misi utamanya ketika terjadi perubahan kondisi?
2. Bagaimana kebutuhan stakeholders dapat dipenuhi?
3. Bagaimana daya adaptasi organisasi terhadap perubahan lingkungannya?
(4) Aspek Pencapaian (outcome) Keuangan dalam organisasi: 1. Bagaimana diversifikasi sumber pendanaan digali?
2. Bagaimana kemampuan organisasi untuk menghasilkan uang/pendanaan sendiri?
3. Bagaimana kemampuan untuk selalu memperoleh keuntungan sepanjang waktu?
Keseluruhan indikator dianalisis menggunakan sistem pemberian skor penilaian, yang kemudian diuraikan secara deskriptif. Penentuan skor tersebut menggunakan skala Likert. Skala terbesar adalah 3 (tiga) untuk jawaban yang paling mendukung, dan skala terendah adalah 1 (satu) untuk jawaban yang kurang mendukung. Maksud dari jawaban yang mendukung adalah adanya kesesuaian antara kondisi yang seharusnya (harapan) dengan kondisi yang terjadi (eksisting) pada Gapoktan sampel. Misalnya kondisi yang diharapkan pada Gapoktan sampel, yakni sudah memiliki asset atau perkembangan modal >80% setelah tiga tahun berjalan, dalam hal ini usaha simpan pinjam pada Gapoktan sampel, jika sesuai maka diberi skala 3, tetapi jika belum atau <50% maka diberi skala 1.
Berdasarkan perolehan skor dari responden, selanjutnya ditentukan rentang skala atau selang untuk menentukan kinerja Gapoktan. Selang diperoleh dari selisih total skor tertinggi dengan total skor minimal, kemudian dibagi jumlah kategori jawaban, rumusnya sebagai berikut (Umar 2005):
44
𝑆𝑒𝑙𝑎𝑛𝑔 =𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑡𝑒𝑔𝑜𝑟𝑖 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 [3]
Berdasarkan perhitungan persamaan 3, maka diperoleh rentang skala tiap kategori penilaian. Skala rentang penilaian yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Skala skor penilaian kinerja Gapoktan/LKM-A
Kategori Penilaian Kinerja Interpretasi Rentang Skala
A Baik 234 – 300
B Cukup 168 – 233
C Kurang 100 – 167
Selain itu, dilakukan pula dengan: (1) mempelajari dokumen-dokumen penting, berupa gambar-gambar, tujuan organisasi, AD/ART, dokumen simpan pinjam, laporan tahunan, laporan keuangan (financial reports), serta jasa yang ditawarkan/disediakan organisasi, (2) mengidentifikasi fasilitas yang dimiliki, berupa gedung, kios usaha, dan berbagai prasarana lainnya, dan (3) mempelajari dinamika sosialnya secara umum, yaitu bagaimana sikap petani ketika berinteraksi (siapa yang hadir, siapa yang tidak), proses pengambilan keputusan, sifat relasi dengan organisasi, dan bagaimana pekerjaan atau apa paradigma utamanya.
Pengertian penilaian kinerja yang dikemukakan di atas tidak semata didasarkan pada penilaian buruk tidaknya pengurus Gapoktan dalam melaksanakan tugasnya untuk kemudian diambil tindakan organisasi. Tetapi penilaian kinerja dapat menjadi proses pembelajaran bagi organisasi dan pihak manajemen agar dapat menentukan langkah-langkah strategis untuk mengarahkan aktivitas organisasi, memperbaiki tindakan-tindakan manajemen, dan terus melakukan penilaian untuk melakukan adaptasi terhadap proses manajemen dan mengarahkannya kepada tujuan penting organisasi
Analisis Pendapatan Usahatani Padi
Penerimaan usahatani merupakan nilai produksi yang diperoleh dari produk total dikalikan dengan harga jual di tingkat petani. Jumlah total disini menggambarkan hasil penjualan produk yang akan dijual juga hasil penjualan produk sampingan. Pengeluaran atau biaya usahatani adalah nilai penggunaan sarana produksi dan lain-lain yang mungkin diperoleh dengan membeli, sehingga pengeluaran atau biayanya berbentuk tunai tetapi ada pula sarana produksi yang digunakan itu berasal dari hasil usahatani sendiri, sehingga pada keadaan demikian pengeluaran atau biaya itu merupakan nilai yang diperhitungkan.
Biaya tunai merupakan pengeluaran tunai usahatani yang dilakukan oleh petani sendiri. Pengeluaran tunai usahatani ini secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap adalah biaya untuk sarana produksi yang dipakai proses produksi yang tidak langsung mempengaruhi jumlah produksi dan sifat penggunaannya tidak habis terpakai dalam satu kali proses produksi. Biaya variabel adalah biaya untuk sarana produksi yang dipakai dalam proses produksi yang langsung mempengaruhi jumlah produksi dan sifat penggunaannya habis terpakai dalam satu kali proses produksi.
45 Pendapatan usahatani padi didapatkan dengan menghitung selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya selama proses produksi. Perhitungan analisis pendapatan usahatani padi, dituangkan dalam format dasar tabel usahatani seperti yang disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Format dasar tabel usahatani padi
Komponen Jumlah (kg/liter/HOK) Satuan Harga/satuan (Rp) Nilai (Rp)
A. Biaya (cost) Benih Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Sewa lahan Iuran air/pompa Biaya lainnya: Total Biaya B. Penerimaan (revenue) Produksi Harga Total Penerimaan C. Pendapatan kotor D. Hutang (risk premium) E. Pendapatan Bersih R/C
B/C MBCR
Dalam perhitungan pendapatan usahatani menggunakan model persamaan sebagai berikut: π = TR –TC [4] dengan ketentuan: TR = Pq . Q TC = TFC + TVC = TFC + ∑Pxi . Xi sehingga, π = Pq . Q – (TFC + ∑Pxi . Xi) [5] keterangan: π = keuntungan/pendapatan
TR = Total Revenue (total penerimaan) TC = Total Cost (total biaya)
TFC = Total Fix Cost (total biaya tetap)
TVC = Total Variabel Cost (total biaya variabel) Py = harga jual output
Y = jumlah output yang diproduksi Pxi = harga input ke-i
Xi = jumlah penggunaan input ke-i i = 1,2,3, ... n
46
Berdasarkan persamaan 4, maka untuk melihat peran tambahan modal usaha (kredit) terhadap tingkat pendapatan usahatani padi petani anggota, dilakukan dengan cara membandingkan tingkat pendapatan petani PUAP dengan petani non PUAP. Sehingga untuk menghitung pengaruh adanya kredit melalui pendekatan dengan rumus sebagai berikut:
∆π = π1-π2 [6]
∆π = pengaruh terhadap pendapatan
π1 = tingkat pendapatan usahatani padi petani PUAP π2 = tingkat pendapatan usahatani padi petani non PUAP
Analisis Rasio Penerimaan atas Biaya (R/C)
Analisis rasio penerimaan atas biaya (R/C) merupakan salah satu cara untuk mengetahui perbandingan antara penerimaan dan biaya yang dikeluarkan. Rasio penerimaan atas biaya mencerminkan seberapa besar pendapatan yang diperoleh setiap satu satuan biaya yang dikeluarkan dalam usahatani. Untuk menghasilkan tingkat kelayakan usahatani padi petani PUAP dan non PUAP (Soekartawi 2006), digunakan rumus sebagai berikut:
R
C
=
Total Penerimaan (TR )Total Biaya (TC )
=
P x YTFC +TVC
[7]
Sementara itu, dalam mengukur tingkat kelayakan usahatani padi maka terdapat kriteria penilaian dari hasil perhitungan R/C tersebut, yaitu :
a. Apabila nilai R/C > 1, maka usahatani tersebut dikatakan menguntungkan karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan lebih besar dari satu rupiah.
b. Apabila nilai R/C = 1, maka usahatani tersebut dikatakan impas karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan sebesar satu rupiah juga.
c. Apabila nilai R/C < 1, maka usahatani tersebut dikatakan tidak menguntungkan karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan lebih kecil dari satu rupiah.
Analisis Rasio Keuntungan atas Biaya (B/C)
Analisis rasio keuntungan atas biaya (B/C) merupakan salah satu cara untuk mengetahui perbandingan antara keuntungan dan biaya yang dikeluarkan. Menurut Soekartawi (2006), analisis benefit-cost ratio (B/C) ini pada prinsipnya sama saja dengan analisis revenue-cost ratio (R/C), hanya saja pada analisis B/C ini data yang diperhitungkan adalah besarnya manfaat dari proyek (PUAP) yang dilaksanakan dalam proses produksi usahatani. Secara teoritis manfaat ini dihitung dengan rumus sebagai berikut:
B C=
Keuntungan (π)
47 Sementara itu, dalam mengukur tingkat keuntungan usahatani maka terdapat kriteria penilaian dari hasil perhitungan B/C rasio tersebut, yaitu :
a. Apabila nilai B/C > 1, artinya setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan lebih besar dari satu rupiah.
b. Apabila nilai B/C = 1, artinya setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar satu rupiah juga.
c. Apabila nilai B/C < 1, artinya setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan lebih kecil dari satu rupiah.
Analisis Marginal Benefit Cost Rasio (MBCR)
Untuk mengungkap peran BLM PUAP terhadap pendapatan usahatani, dilakukan melalui telaahan struktur pembiayaan dan penerimaan usahatani dengan membandingkan kondisi pendapatan usahatani padi petani PUAP dengan petani non PUAP. Dengan pendekatan tersebut kemudian dihitung rasio tambahan modal terhadap tambahan pendapatan usahatani, dengan analisis Marginal Benefit Cost Ratio (MBCR) (Swastika, 2004). Secara matematis dirumuskan sebagai berikut:
MBCR = If1− If2
TC1− TC2 [9]
Dimana:
If1 = Pendapatan petani PUAP (Rp) If2 = Pendapatan petani non PUAP (Rp) TC1 = Total biaya petani PUAP (Rp) TC2 = Total biaya petani non PUAP (Rp)
Kaidah keputusannya, semakin besar nilai MBCR yang diperoleh semakin besar peran tambahan modal terhadap pendapatan usahatani padi.
Analisis Independent Sample T Test
Langkah selanjutnya, dilakukan uji beda sampel tidak berhubungan (independent sampel T test). Uji beda ini dapat disebut juga sebagai Uji-t. Uji-t digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan nyata antara pendapatan usahatani padi pada petani PUAP dengan petani Non PUAP. Uji-t ini merupakan uji hipotetis dengan selang kepercayaan 95%.
Hipotesis :
H0: μ1=μ2 Hasil pendapatan petani yang sudah menerima tidak berbeda dengan hasil pendapatan petani yang belum menerima dana PUAP
H1: μ1≠μ2 Hasil pendapatan petani yang sudah menerima berbeda dengan hasil pendapatan petani yang belum menerima dana PUAP
Dimana H0 merupakan hipotesis awal dan H1 merupakan hipotesis alternatif. Hipotesis alternatif μ1≠μ2 menyatakan bahwa μ1<μ2 atau μ1>μ2. Dalam penelitian ini jumlah dua kelompok sampel (n1 dan n2) adalah sama, maka rumus uji beda sampel yang digunakan adalah independent sampel t-test sparated varian, sebagai berikut:
48 t = 𝑋 − 𝑋1 2 𝑆𝑛2 1+𝑆𝑛2 2 [10] dimana: X1 = Rata-rata sampel 1 X1 n X2 = Rata-rata sampel 2 X2 n S2 = Varian populasi N = jumlah data
Varian populasi (S2) dihitung dengan rumus:
S2 = 𝑋1 2 −( 𝑋𝑁1)2 1 + 𝑋22−( 𝑋𝑁2)2 2 𝑁1+ 𝑁2− 2 [11] Kriteria Uji:
a. Jika thitung > ttabel atau nilai signifikan ≤ 0,05, berarti Ho ditolak (terima H1), maka perbedaannya signifikan.
b. Jika thitung ≤ ttabel atau nilai signifikan > 0,05, berarti Ho diterima (tolak H1), maka perbedaannya tidak signifikan.
Analisis data akan dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 19. Hasil pengolahan data kemudian dianalisis dan diinterpretasikan secara deskriptif.
Analisis Pearson Product Moment (PPM)
Menganalisis hubungan variabel kinerja Gapoktan (X) terhadap variabel pendapatan usahatani padi petani anggota (Y), menggunakan analisis korelasi. Analisis korelasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu korelasi Pearson Product Moment (PPM). Korelasi ini dikemukakan oleh Karl Pearson tahun 1900. Keguanaannya untuk mengetahui derajat hubungan antara variabel bebas (independent) dengan variabel terikat (dependent).
Sebelum mengkorelasikan kedua variabel tersebut, yang harus diperhatikan yakni jenis data dari kedua variabel tersebut. Variabel kinerja Gapoktan jenis datanya ordinal, sementara variabel pendapatan usahatani jenis datanya rasio. Kedua variabel ini tidak bisa langsung dikorelasikan, mengingat teknik analisis korelasi PPM termasuk teknik statistik parametrik yang menggunakan data interval dan ratio. Dengan demikian, data ordinal dari variabel kinerja Gapoktan ditransformasi terlebih dahulu menjadi data interval. Tujuan mentransformasi data ordinal tersebut adalah agar data mengikuti sebaran normal (Riduwan dan Kuncoro 2011). Data ordinal sebenarnya adalah data kualitatif atau bukan angka sebenarnya. Proses mengubah data ordinal ke data interval dapat menggunakan bantuan metode suksesif interval (Method of Succesive Interval/MSI) (Kuncoro 2003 dan Sekaran 2003). Menurut Ali (2011) pengertian Method of Succesive
49 Interval/MSI adalah metode penskalaan untuk menaikkan skala pengukuran ordinal ke skala pengukuran interval.
Analisis PPM memiliki persyaratan lainnya yang harus dipenuhi, misalnya: data dipilih secara acak (random), datanya berdistribusi normal, data yang dihubungkan berpola linier, dan data yang dihubungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan subjek yang sama. Kalau salah satu tidak terpenuhi persyaratan tersebut analisis korelasi tidak dapat dilakukan. Rumus koefisien korelasi PPM adalah sebagai berikut (Riduwan dan Kuncoro 2011):
rxy = n( XY) − ( X) . ( Y)
{n. X2 − ( X)2} . {n. Y2− ( Y)2} [12]
Korelasi PPM dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 ≤ r ≤ +1). Apabila nilai r = -1 artinya korelasinya negatif sempurna, r = 0 artinya tidak ada korelasi, dan r = +1 berarti korelasinya sangat kuat. Sedangkan arti harga r akan diinterpretasikan seperti disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Interpretasi koefisien korelasi nilai r
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,80 – 1,000 Sangat Kuat 0,60 – 0,799 Kuat 0,40 – 0,599 Cukup Kuat 0,20 – 0,399 Rendah 0,00 – 0,199 Sangat Rendah Sumber: Riduwan (2005)
Besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien determinan sebagai berikut:
KP = r2 x 100% [13]
Dimana:
KP = Nilai Koefisien Determinan r = Nilai Koefisien Korelasi
Analisis data akan dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 19. Hasil pengolahan data kemudian dianalisis dan diinterpretasikan secara deskriptif.