2010 2011 2012 2013* 2014** Asuransi/Financial and
1 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
2.3. Aspek Pelayanan Umum
2.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib
Urusan wajib adalah indikator kinerja yang menilai urusan pelayanan wajib di suatu daerah, penyelengaaraan urusan wajib ditangani oleh pemerintah KAbupaten Kepulauan Meranti berkaitan dengan pelayanan dasar. Bagian dari urusan wajib
Rencana Pembangunan JangkaMenengah Daerah Tahun 2016-2021 II.47 seperti: pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan, perhubungan, lingkungan hidup, pertanahan, dan lain sebagainya.
1) Pendidikan
a. Pendidikan Dasar
a.1. Angka Partisipasi Sekolah (APS)
Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan proporsi anak sekolah pada suatu kelompok umur. APS SD/MI tahun 2014dengan kelompok umur 7-12 tahun sebesar 99,41 persen, dan APS SMP/MTsdengan kelompok umur 13-15 tahun sebesar 90,56 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada 0,59 persen anak umur Sekolah Dasar di Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini sedang tidak aktif bersekolah. Jumlah anak umur Sekolah Dasar yang tidak bersekolah tahun 2014 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang berjumlah 0,03 persen. Selanjutnya, anak umur Sekolah Menengah Pertama yang sedang tidak aktif bersekolah sebanyak 9,44 persen. Sehingga ini memberikan gambaran bahwa tugas pemerintah masih cukup berat untuk mensukseskan program wajib belajar 9 tahun dimasa datang.
Berikut adalah grafik fluktuasi angka partisipasi sekolah pendidikan dasar Kabupaten Kepulauan Meranti dengan periode 2011 sd 2014.
Gambar 2.23
Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Dasar Kabupaten Kepulauan Meranti (%)
Sumber: Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti 2015
a.2. Rasio Ketersediaan Sekolah/ Penduduk Usia Sekolah
Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan dasar per 10.000 jumlah penduduk usia dasar. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan dasar. Kondisi rasio ketersediaan sekolah dapat dilihat pada gambar berikut.
96.92 97.59 99.38 99.41 88.09 89.99 90.42 90.56 80 85 90 95 100 105 2011 2012 2013 2014 SD/MI SMP/MTs
Gambar 2.24
Rasio Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia SekolahPendidikan Dasar Kabupaten Kepulauan Meranti (Per 10.000 penduduk)
Sumber: Refleksi 5 (Lima) Tahun Pembangunan Kabupaten Kepulauan Meranti 2010-2015
Melihat gambar di atas, rasio ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah pendidikan dasar Kabupaten Kepulauan Meranti terlihat statis perkembangannya pada tahun 2010 hingga tahun 2012 tetapi meningkat sangat signifikan sejak tahun 2012 hingga tahun 2013 dengan tercatat pada tahun 2012 sebesar 63,2 dan tahun 2013 naik sebesar 9,22 sehingga menjadi sebesar 72,42. Hal ini menggambarkan bahwa pada tahun 2012 hingga tahun 2013 program pemerintah tentang pendidikan dasar cukup baik dalam meningkatkan ketersediaan sekolah pada Kabupaten Kepulauan Meranti.
a.3. Rasio Guru/Murid
Rasio guru/murid bertujuan untuk menilai ketersedian pengajar, selain itu juga mengukur jumlah ideal murid untuk setiap guru. Rasio guru/murid dapat dilakukan perhitungan untuk mencapai standar kualitas pendidikan yang baik.
Pelayanan pendidikan dapat diamati dari rasio guru terhadap siswa. Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan dasar per 10.000 jumlah murid pendidikan dasar. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar. Selain itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran.Berikut adalah grafik rasio guru terhadap murid untuk pendidikan dasar pada Kabupaten Kepulauan Meranti dengan periode 2009 sd 2013.
63.35 62.54 63.2 72.42 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 2010 2011 2012 2013
Rencana Pembangunan JangkaMenengah Daerah Tahun 2016-2021 II.49
Gambar 2.25
Rasio Guru/Murid Pendidikan Dasar Kabupaten Kepulauan Meranti (Per 10.000 Penduduk)
Sumber: Refleksi 5 (Lima) Tahun Pembangunan Kabupaten Kepulauan Meranti 2010-2015
Dari gambar di atas terlihat selama tahun 2009 hingga tahun 2013 bahwa rasio guru terhadap murid mengalami fluktuasi dengan tercatat pada tahun 2009 rasio guru terhadap murid pada Kabupaten Kepulauan Meranti sebesar 1062,9 lalu turun menjadi 1045,98 pada tahun 2010, kemudian turun cukup signifikan menjadi 908,89, tetapi penurunan ini tidak terjadi pada tahun 2012 dan tahun 2013 denga tercatat tahun 2012 naik menjadi 909,94 dan tahun 2013 naik signifikan menjadi 977,59.
Rasio tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Kepulauan Meranti terjadi ketimpangan antara guru dan murid. Tahun 2013 menggambarkan bahwa terdapat 1 guru dari 978 (Pembulatan) murid pada sekolah swasta dan negeri pada Kabupaten Kepulauan Meranti. Ketimpangan guru dan murid tersebut seharusnya diimbangi dengan penambahan guru untuk pendidikan dasar yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti.
b. Pendidikan Menengah
b.1. Angka Partisipasi Sekolah (APS)
Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan proporsi anak sekolah pada suatu kelompok umur. APS SMA/MA/SMK tahun 2011 kelompok umur 16-18 sebesar 58,75 persen. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 41,25 persen anak umur 16-18 tahun di Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini sedang tidak aktif bersekolah. Jumlah anak umur SMA/MA/SMK yang tidak bersekolah tahun 2012 menurun menjadi 52,46 persen, tetapu pada tahun 2013 meningkat kembali menjadi 62,49% dan tahun 2014 kembali mengalami kenaikan menjadi 62,49%. Dengan keadaan tersebut, tergambar bahwa tugas pemerintah masih sangat berat untuk meningkatkan kesadaran kepada masyarakat bahwa pendidikan sangat penting guna kemajuan masyarakat.
1062.9 1045.98 908.89 909.94 977.59 800 850 900 950 1000 1050 1100 2009 2010 2011 2012 2013
Berikut adalah grafik fluktuasi angka partisipasi sekolah pendidikan menengah Kabupaten Kepulauan Meranti dengan periode 2011 sd 2014.
Gambar 2.26
Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan MenengahKabupaten Kepulauan Meranti (%)
Sumber: Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti 2015
b.2. Rasio Ketersediaan Sekolah/ Penduduk Usia Sekolah
Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan menengah per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan menengah. Kondisi rasio ketersediaan sekolah dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 2.27
Rasio Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Pendidikan Menengah Kabupaten Kepulauan Meranti (Per 10.000 penduduk)
Sumber: Refleksi 5 (Lima) Tahun Pembangunan Kabupaten Kepulauan Meranti 2010-2015
Melihat gambar di atas, rasio ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah pendidikan menengah Kabupaten Kepulauan Meranti terlihat trend yang positif dengan angka yang terus bertambah selama tahun berjalan dari tahun 2011 hingga tahun 2014. Rasio ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah pendidikan menengah pada tahun 2011 tercatat sebesar 18, lalu tahun 2012
58.75 52.46 62.49 62.59 46 48 50 52 54 56 58 60 62 64 2011 2012 2013 2014 SMA/MA/SMK 18 39 40 44 0 10 20 30 40 50 2011 2012 2013 2014
Rencana Pembangunan JangkaMenengah Daerah Tahun 2016-2021 II.51 bertambah menjadi 39, kemudian tahun 2013 naik kembali menjadi 40, kemudian tahun 2014 naik kembali menjadi 44. Dengan data tersebut tergambar bahwa tahun 2014 baru terdaoat 44 sekolah pendidikan menengah dari 10.000 penduduk usia sekolah pendidikan menengah. Hal ini seharusnya menjadi salah satu titik yang difokuskan pemerintah, karena pendidikan merupakan salah satu unsur yang sangat penting guna kemajuan bangsa.
b.3. Rasio Guru Terhadap Murid
Rasio guru/murid bertujuan untuk menilai ketersedian pengajar, selain itu juga mengukur jumlah ideal murid untuk setiap guru. Rasio guru/murid dapat dilakukan perhitungan untuk mencapai standar kualitas pendidikan yang baik.
Pelayanan pendidikan dapat diamati dari rasio guru terhadap siswa. Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan menengah per 10.000 jumlah murid pendidikan menengah. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar. Selain itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran.
Berikut adalah grafik rasio guru terhadap murid untuk pendidikan menengah pada Kabupaten Kepulauan Meranti dengan periode 2010 sd 2013.
Gambar 2.28
Rasio Guru Terhadap Murid Penddidikan Menengah Kabupaten Meranti (Per 10.000 Penduduk)
Sumber: Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti 2015 (Data Diolah)
Dari gambar di atas terlihat selama tahun 2010 hingga tahun 2013 bahwa rasio guru terhadap murid memilki trend yang positif, dengan tercatat pada tahun 2010 rasio guru terhadap murid pada Kabupaten Kepulauan Meranti sebesar 53,1 lalu naik menjadi 55,43 pada tahun 2011, kemudian naik cukup signifikan menjadi 77,38, lalu terdapat sedikit kenaikan pada tahun 2013 yaitu menjadi 78,66.
53.10 55.43 77.38 78.66 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 2010 2011 2012 2013
Rasio tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Kepulauan Meranti terjadi juga terdapat ketimpangan antara guru dan murid. Tahun 2013 menggambarkan bahwa terdapat 1 guru dari 79 (Pembulatan) murid pada sekolah swasta dan negeri pada Kabupaten Kepulauan Meranti. Murid yang terlalu banyak yang dipegang oleh 1 guru, akan mempengaruhi proses belajar mengajar jadi kurang efektif, sehingga Kabupaten Kepulauan Meranti masih perlu untuk menambah jumlah guru untuk pendidikan sekolah menengah.
b.5. Penduduk yang berusia >15 Tahun Melek Huruf (Tidak Buta Aksara)
Angka Melek Huruf (dewasa) adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya. AMH dapat
digunakan untuk:
(i) Mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, terutama di daerah pedesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD.
(ii) Menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagaimedia.
(iii) Menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis. Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Gambar 2.29
Penduduk yang berusia >15 Tahun Melek Huruf (Tidak Buta Aksara) (%)
Sumber: Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti 2015
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa penduduk >15 tahun yang melek huruf di Kabupaten Kepulauan Meranti dari tahun 2010 sampai 2014 mengalami peningkatan terus menerus. Angka penduduk >15 tahun yang melek huruf tahun 2011 sebesar 59,49 dan 3 tahun kemudian angka penduduk >15 tahun yang melek huruf meningkat menjadi 72,22 persen.
56.87 59.49 66.63 70.45 72.22 0 10 20 30 40 50 60 70 80 2010 2011 2012 2013 2014
Rencana Pembangunan JangkaMenengah Daerah Tahun 2016-2021 II.53 c. Fasilitas Pendidikan
Fasilitas di sebuah institusi pendidikan merupakan salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan. Karena keberadaan fasilitas akan menunjang kegiatan akademik dan non-akademik siswa serta mendukung terwujudnya proses belajar mengajar yang kondusif. Salah satu fasilitas yang sangat penting diperhatikan adalah kondisi bangunan sekolah secara baik.
c.1. Sekolah Pendidikan SD/MI Kondisi Bangunan Baik
Bangunan gedung sekolah merupakan salah satu prasarana pendidikan yang mempunyai peran penting dalam usaha pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kerangka tersebut, prasarana pendidikan mempunyai peran untuk mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.
Pada Kabupaten Kepulauan Meranti sejak tahun 2010 hingga tahun 2014 bangunan sekolah untuk pendidikan dasar SD/MI negeri dan swasta masih dalam keadaan yang sangat baik yaitu dalam buku Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti tahun 2015 dengan data diolah selalu tercatat 100%.
c.2. Sekolah Pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA Kondisi Bangunan Baik
Bangunan gedung sekolah merupakan salah satu prasarana pendidikan yang mempunyai peran penting dalam usaha pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kerangka tersebut, prasarana pendidikan mempunyai peran untuk mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.
Pada Kabupaten Kepulauan Meranti sejak tahun 2010 hingga tahun 2014 bangunan sekolah untuk pendidikan dasar SMP/MTs dan SMA/SMK/MA negeri dan swasta masih dalam keadaan yang sangat baik yaitu dalam buku Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti tahun 2015 dengan data diolah selalu tercatat 100%.
d. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) d.1. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Gambar 2.30
Pendidikan Anak Usia Dini Kabupaten Kepulauan Meranti (%)
Sumber: Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti 2015 (Data Diolah)
Data menunjukkan PAUD di Kabupaten Kepulauan Meranti cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2013 sampai dengan 2014 yaitu tercatat tahun 2013 sebesar 23,87 persen dan tahun 2014 tercatat 39,67 persen. Adanya pendidikan anak usia dini bertujuan untuk:
Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.
Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Tujuan yang baik tersebut perlu didukung dengan berbagai fasilitas dan kebijakan yang dibantu oleh pemerintah daerah, untuk menciptakan Kepualauan Meranti yang memiliki sumberdaya yang unggul.
e. Angka Kelulusan
Angka kelulusan adalah persentase kelulusan yang dicapai setiap tahunnya pada setiap jenjang pendidikan. Angka kelulusan dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di sekolah serta kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan daerah.
e.1. Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs
Angka kelulusan SMP/MTs pada Kabupaten Kepulauan Meranti pada tahun 2013 tercatat pada buku Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kepulauan Meranti tahun 2015 sebesar 43,9% dengan data diolah, maka masih terdapat 56,1% murid SMP/MTs yang belum lulus pada tahun 2013. Hal ini perlu menjadi salah satu titik focus pemerintah dalam meningkatkan pendidikan di Kabupaten Kepulauan Meranti baik dalam kurikulum mutu guru dan program-program pemerintah dalam meningkatkan angka kelulusan pada Kabupaten Kepulauan Meranti.
23.87 39.67 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 2013 2014
Rencana Pembangunan JangkaMenengah Daerah Tahun 2016-2021 II.55 e.2. Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA
Angka kelulusan SMA/SMK/MA pada Kabupaten Kepulauan Meranti pada tahun 2013 tercatat pada buku Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kepulauan Meranti tahun 2015 sebesar 49,02 persen tetapi pada tahun 2014 turun menjadi 47,44 persen. Maka pada tahun 2014 masih terdapat 52,56 persen murid SMA/SMK/MA yang belum lulus pada tahun 2014. Hal ini juga perlu menjadi salah satu titik focus pemerintah dalam meningkatkan pendidikan di Kabupaten Kepulauan Meranti baik dalam kurikulum mutu guru dan program-program pemerintah dalam meningkatkan angka kelulusan pada Kabupaten Kepulauan Meranti.
Berikut grafik angka kelulusan SMA/SMK/MA pada Kabupaten Kepulauan Meranti tahun 2013 hingga tahun 2014.
Gambar 2.31
Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Kabupaten Kepulauan Meranti
Sumber: Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti 2015 (Data Diolah)
e.3. Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs
Angka melanjutkan sekolah adalah persentase siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menghitung angka melanjutkan sekolah dilakukan dengan menghitung setiap jenjang pendidikan. Angka melanjutkan sekolah di Kabupaten Kepulauan Meranti disajikan pada tabel berikut:
Gambar 2.32
Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTsKabupaten Kepulauan Meranti (%)
Sumber: Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti 2015 (Data Diolah)
49.02 47.44 46.50 47.00 47.50 48.00 48.50 49.00 49.50 2013 2014 29.39 25.93 27.51 26.73 20.00 25.00 30.00 2011 2012 2013 2014
Terlihat dari grafik di atas bahwa terjadi fluktuasi angka melanjutkan sekolah dari SD/MI ke SMP/MTs sejak tahun 2011 hingga tahun 2014, tetapi fluktuasi tersebut terjadi tidak terlalu besar. Tahun 2011 tercatat sebesar 29,39 persen, tahun 2012 turun menjadi 25,93 lalu 2 tahun berikunya yaitu tahun 2014 tercatat sebesar 26,73%. Hal ini menggambarkan bahwa 73,27 persen murid tidak melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, hal ini akan berdampak besar terhadap pembangunan daerah.
e.4. Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA
Angka melanjutkan sekolah adalah persentase siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menghitung angka melanjutkan sekolah dilakukan dengan menghitung setiap jenjang pendidikan. Angka melanjutkan sekolah dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA di Kabupaten Kepulauan Meranti disajikan pada tabel berikut:
Gambar 2.33
Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Kabupaten Kepulauan Meranti (%)
Sumber: SistemInformasi Pembangunan Daerah KabupatenKepulauanMeranti 2015 (DataDiolah)
Terlihat dari grafik di atas bahwa terjadi penurunan pada tahun 2012 dengan tercatat turun dari tahun 2011 yaitu 80,59 persen menjadi 72,58 persen pada tahun 2012, lalu naik kembali pada tahun 2013 menjadi 76,84 persen lalu tahun 2014 tercatat naik menjadi 82,33 persen. Hal ini berbeda dengan angka melanjutkan dari SD/MI yang sangat kecil angkanya, tetapi pada grafik di atas, pada tahun 2014 masih terdapat 17,67 persen yang tidak melanjutkan pendidikan SMP/MTs ke SMA/SMK/MA. hal ini juga akan berdampak terhadap pembangunan daerah.
e.5. Guru Yang Memenuhi Kualifikasi S-1/D-IV
Standar kualitas pendidik yang tinggi tentu saja akan mempengaruhi murid didiknya. Standar pendidik atau guru saat ini adalah Sarjana atau Diploma IV. Pemerintah pusat saat ini melakukan sertifikasi terhadap guru, program tersebut
80.59 72.58 76.84 82.33 66.00 68.00 70.00 72.00 74.00 76.00 78.00 80.00 82.00 84.00 2011 2012 2013 2014
Rencana Pembangunan JangkaMenengah Daerah Tahun 2016-2021 II.57 merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas pengajar.
Berikut adalah table guru yang memenuhi kualifikasi S-1/D-IV pada Kabupaten Kepulauan Meranti pada tahun 2014 dan tahun 2015.
Tabel 2.28
Guru Yang Memenuhi Kualifikasi S-1/D-IV (Orang)
Keterangan 2014 2015
Sekolah Dasar (SD) Sederajat 976 2015
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP) Sederajat - 522
Sekolah Menengah Atas (SMA) Sederajat 495 -
Sumber: Sistem Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti 2015
Dari tabel di atas tercatat pada tahun 2014 terdapat 976 guru yang memenuhi kualifijkasi dan SMA tercatat berjumlah 495 orang guru yang memenuhi kualifikasi. Kemudian pada tahun 2015 terdapat penambahan jumlah guru yang memenuhi kualifikasi untuk SD sederajat yaitu berjumlah 2015 orang guru lalu pada SMP tercatat sejumlah 522. Dari data tersebut diketahui bahwa jumlah guru yang memenuhi kualifikasi masih perlu ditingkatkan. Guru yang berkualitas akan mengajarkan pendidikan yang berkualitas kepada siswanya, dengan siswa yang berkualitas nantinya akan mencitakan sumberdaya yang berkualitas juga.
2) Kesehatan
Pada dasarnya pembangunan dibidang kesehatan bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara mudah, merata, dan murah. Dengan meningkatnya pelayanan kesehatan, pemerintah berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang kemudian akan menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif.
a. Rasio Posyandu Per Satuan Balita
Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini.
Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai dan idealnya satu Posyandu melayani 100 balita. Oleh karena itu perlu dihitung rasio ketersediaan posyandu per balita. Kegunaannya untuk mengetahui berapa selayaknya jumlah posyandu yang efektif tersedia sesuai dengan tingkat
penyebarannya serta sebagai dasar untuk merevitalisasi fungsi dan peranannya dalam pembangunan daerah.
Data jumlah posyandu yang diperoleh pada buku Refleksi 5 (Lima) Tahun Pembangunan Kabupaten Kepulauan Meranti 2010-2015, sehingga dapat terlihat rasio posyandi per satuan balita. Rasio posyandu per satuan penduduk disajikan pada grafik berikut.
Gambar 2.34
Rasio Posyandu Per 1.000 Balita Kabupaten Kepulauan Meranti
Sumber: Refleksi 5 (Lima) Tahun Pembangunan Kabupaten Kepulauan Meranti 2010-2015
Rasio posyandu per satuan balita di Kabupaten Kepulauan Meranti pada tahun 2011 menuju tahun 2012 naik sebesar 8,76 persen sehingga pada tahun 2012 tercatat sebesar 238,96 persen, tetapi tahun 2013 turun menjadi 238,3%. Dengan adanta peningkatan pada tahun 2012, tetapi turun sedikit pada tahun 2013, maka perlu strategi operasional pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak secara dini yang dapat dilakukan di setiap posyandu.
b. Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu Per Satuan Penduduk
Rasio puskesmas, poliklinik dan pustu bermanfaat untuk mengetahui cakupan pelayanan kesehatan tersebut dalam memenuhi pelayannya kepada penduduk, dengan demikian pelayanan kesehatan dapat terpenuhi sesuai dengan standar pelayanan.
Berikut adalah table rasio puskesmas dan pustu per satuan penduduk dari tahun 2010 hingga tahun 2013.
Tabel 2.32
Rasio Puskesmas, dan Pustu Per Satuan Penduduk Keterangan 2010 2011 2012 2013 Rasio Puskesmas Per
1.000 Penduduk 0.034 0.038 0.038 0.044 Rasio Pustu Per 1.000
penduduk 0.153 0.154 0.157 0.21
Sumber: Refleksi 5 (Lima) Tahun Pembangunan Kabupaten Kepulauan Meranti 2010-2015 (Data Diolah)
230.2 238.96 238.3 225 230 235 240 2011 2012 2013
Rencana Pembangunan JangkaMenengah Daerah Tahun 2016-2021 II.59 Dari tabel di atas tercatat bahwa rasio puskesmas pada tahun 2010 sebesar 0,034 lalu 3 tahun berikutnya yaitu tahun 2013, rasio puskesmas hanya naik 0,010 yaitu sebesar 0,044 per 1.000 penduduk. Kemudian rasio Pustu pada tahun 2010 tercatat sebesar 0,153 dan pada tahun 2013 tercatat sebesar 0,21 per 1.000 penduduk.
Semakin tinggi nilai rasio fasilitas kesehatan maka semakin banyak penduduk yang dilayani oleh puskesmas ataupun pustu. Sedangkan semakin rendah nilai rasio fasilitas kesehatan maka semakin sedikit penduduk yang dilayani oleh puskesmas ataupun pustu. Penambahan jumlah fasilitas kesehatan seperti pustu dan dan puskesmas perlu ditingkatkan seiiring dengan perkembangan jumlah penduduk yang terus terjadi, sehingga penduduk di Kepulauan Meranti memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal.
c. Rasio Rumah Sakit Persatuan Penduduk
Rasio rumah sakit per satuan penduduk adalah jumlah rumah sakit per 10.000 penduduk. Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisasi serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan, asuhan keperawatan yang bekesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien.
Rasio rumah sakit di Kabupaten Kepulauan Meranti pada tahun 2010 bernilai 0,004 dan 0,005 pada tahun 2013, yang artinya dari 1.000 penduduk di Kabuaten Kepulauan Meranti rumah sakit hanya mampu memfasilitasi sebesar 0,005 pada tahun 2013. Nilai rasio rumah sakit tersebut terlalu kecil, sehingga diperlukan peningkatan jumlah rumah sakit dalam rangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kurangnya jumlah rumah sakit ini dapat diimbangi dengan jumlah puskesmas dan jaringannya dalam memberikan pelayanan dasar kesehatan.
Berikut adalah tabel rasio rumah sakit per satuan penduduk sejak tahun 2010 sd 2013 pada Kabupaten Kepulauan Meranti.
Tabel 2.33
Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk
Keterangan 2010 2011 2012 2013 Rasio Rumah Sakit Per
1.000 Penduduk 0.004 0.004 0.004 0.005
Sumber: Refleksi 5 (Lima) Tahun Pembangunan Kabupaten Kepulauan Meranti 2010-2015 (Data Diolah
d. Rasio Dokter Per Satuan Penduduk
Rasio dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh dokter dibandingkan jumlah penduduk yang ada. Tabel berikut adalah perkembangan rasio dokter umum dan dokter spesialis per satuan penduduk di Kabupaten Kepulauan Meranti dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013.
Tabel 2.34
Rasio Dokter Per Satuan Penduduk
Keterangan 2010 2011 2012 2013
Rasio Dokter Umum Per 1.000 Penduduk
0.047 0.149 0.178 0.229
Rasio Dokter Spesialis Per
1.000 Penduduk 0.013 0.009 0.004 0.01
Sumber: Refleksi 5 (Lima) Tahun Pembangunan Kabupaten Kepulauan Meranti 2010-2015 (Data Diolah)
Dari tabel di atas terliihat bahwa jumlah dokter umum dan spesialis terus meningkat sehingga rasio dokter per satuan penduduk di Kabupaten Kepulauan Meranti terus meningkat. Pada tahun 2010 rasio dokter umum sebesar 0,047 dan dokter spesialis 0,013, lalu 3 tahun kemudian yaitu tahun 2013 tercatat rasio dokter umum sebesar 0,229 dan rasio dokter spesialis 0,01. Dengan hal ini artinya bahwa dokter umum pada tahun 2014 hanya mampu memfasilitasi sebesar 0,229 dan dokter spesialis pada tahun 2014 hanya mampu memfasilitasi sebesar 0,01. Nilai