• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI. KAIDAH PELAKSANAAN

PPLS 08 GREMAKERTASUSILA 09 + NON GREMAKERTASUSILA '10

7. Urusan Perindustrian

2.4. ASPEK DAYA SAING DAERAH

2.4.4. Fokus Sumber Daya Manusia

Fokus Sumber Daya Manusia diukur dengan IKK : Rasio Ketergantungan, dan rasio lulusan S-1,S-2, dan S-3 terhadap total penduduk.

Tabel 2.55

Fokus sumberdaya Manusia

No Indikator TAHUN

2007 2008 2009 2010 2011

1 Rasio Ketergantungan 48,3 48,3 48,3 47,44 47,44

2 Rasio lulusan S-1,S-2 dan S-3

terhadap total penduduk 29,5 29,5 29,5 164,3 164,1

Hasil analisis gambaran umum kondisi daerah Kabupaten Ngawi terkait dengan capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan dapat dirangkum dalam tabel 2.56 sebagai berikut :

R P J P D K a b . N g a w i T a h u n 2 0 0 5 - 2 0 2 5 B A B I I - 4 4 Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Terhadap Capaian Kinerja

Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah Kabupaten Ngawi

Tabel 2.56

2007 2008 2009 2010 2011

1 2 3 4 5 6 7

1 Persentase penduduk di bawah garis kemiskinan 66,53% 70,31% 15,26% 14,00% 13,50%

2 Jumlah sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi

8 8 9 9 9

3 Persentase Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial

7,00% 4,33% 10,41% 8,00% 8,00%

4 Persentase PMKS yg memperoleh bantuan sosial 4,75% 2,17% 9,93% 7,00% 7,00%

5 Persentase Rumah layak huni untuk Gakin terbangun

2,1% 5,0% 7,0%

6 Persentase jumlah transmigrans yang ditempatkan 2,43% 6,66% 5,00%

7 Persentase Maskin memperoleh Jamkesmas dan Jamkesda

75% 100% 100%

8 Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100% 100% 100%

9 Cakupan Layanan Dasar Pendidikan bagi Gakin 98% 99% 99,8%

10 Cakupan Layanan Dasar Kesehatan bagi Gakin 30,97% 100% 100%

11 Persentase Anak Gakin dapat mengakses pendidikan sesuai jenjang pendidikannya

100% 100% 100%

12 Angka Kelangsungan Hidup Bayi 12.304 12.325 12.330

13 Cakupan Pelayanan anak balita 51,22% 80,00% 83,00%

14 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin

98,91% 100% 2,20% 100% 100%

15 Partisipasi masyarakat sekitar hutan 26.571 29.228 32.151

16 Angka melek huruf 97,85% 98,25% 98,75%

17 Angka rata-rata lama sekolah 7,37 7,76 8 8,15 9

18 Angka Partisipasi Sekolah 273,03 76,17 108,84 110 111

19 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) 41,37% 42,82% 41,26% 46,53% 46,53%

20 Angka Partisipasi Murni (APM)SD/MI paket A 97,23% 98,58% 99,34% 101,20% 101,20%

21 Angka Partisipasi Murni (APM)SMP/MTS paket B 92,83% 93,12% 93,53% 95,24% 95,24%

22 Angka Partisipasi Murni (APM)SMA(SMK,MA) paket C

65,46% 69,14% 71,19% 77,54% 77,54%

23 Angka Putus Sekolah (APS) SD(MI) 0,01% 0,01% 0,01% 0,00% 0,00%

24 Angka Putus Sekolah (APS) SMP (MTs) 0,04% 0,02% 0,02% 0,01% 0,01%

25 Angka Putus Sekolah (APS) SMA(SMK, MA) 0,09% 0,05% 0,02% 0,02% 0,02%

26 Angka Kelulusan (AL) SD(MI) 99,78% 99,87% 99,85% 100% 100%

27 Angka Kelulusan (AL) SMP(MTs) 99,90% 99,29% 99,32% 100% 100%

28 Angka Kelulusan (AL) SMA(SMK,MA) 95,09% 94,22% 98,30% 100% 100%

29 Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV 44,59% 51,49% 52,39% 62,39% 62,39%

30 Rasio Ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Pendidikan Dasar dan Menengah

119,00 116,64 139,69 132,71 132,71

31 Rasio guru/murid 142,12 152,76 230,41 218,89 218,89

32 Rasio guru/murid per kelas rata-rata 0,054 0,057 0,010 0,010 0,010

33 Angka Melanjutkan(AM) dari SMP(MTs) ke SMA(SMK,MA)

64,11% 62,71% 81,80% 60,12% 60,12%

34 Cakupan kunjungan Ibu hamil 93,42% 91% 92%

35 Cakupan Komplikasi Kebidanan yg ditangani 11,96% 72,15% 94,71% 65,00% 70,00%

36 Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kes. yg memiliki komp. kebidanan

99,79 78,37 101,36% 87,50% 88,00%

37 Cakupan pelayanan nifas 100,40% 87,50% 88%

38 Cakupan neonatus dg komplikasi yang ditangani 50,62% 65,00% 70,00%

39 Cakupan kunjungan bayi 98,83% 49,68% 95,92% 88,00% 88,00%

40 Cakupan desa/kel.Universal Child Immunization 68,00% 26,27% 66,36% 100% 100%

41 Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pd anak usia 6-24 bulan keluarga miskin

100% 100% 100%

42 Cakupan peserta KB aktif 127,77% 123,81% 83,72% 71,00% 72,00%

43 Penemuan penderita AFP 100% 100% 100%

8 Indikator Kinerja Pembangunan

No.

Capaian kinerja

Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah

Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah Kabupaten Ngawi

2007 2008 2009 2010 2011

1 2 3 4 5 6 7 8

Indikator Kinerja Pembangunan

No. Keterangan

44 Penemuan dan penanganan penderita pneumonia balita

100% 100% 100%

45 Penemuan dan penanganan penderita pasien baru TB BTA positif

91.63% 85% 85%

46 Penemuan dan Penanganan DBD 37,00% 83,55% 100% 100% 100%

47 Penanganan penderita diare 100% 100% 100%

48 Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yg harus diberikan sarana kesehatan (RS) di Kabupaten

100% 100% 100%

49 Cakupan desa/kel.mengalami KLB yg dilakukan penyelidikan epidemiologi <24 jam

100% 100% 100%

50 Cakupan desa siaga aktif 100% 75% 80%

51 Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) 0 1 2 0 1

52 Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Rupiah

0 100 M 92.601.000.000 0 100 M

53 Rasio daya serap tenaga kerja (orang) 0 2.177 3.174 2.385 3.500

54 Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN 0 0 91.000.125.395 55.477.437.929 100 M

55 Jumlah investor (Non PMDN/PMA) 0 516 565

56 Jumlah nilai investasi (Non PMDN/PMA) Rupiah 0 100 M 100 M

57 Persentase koperasi aktif 69,64% 70,98% 71,43% 79,94% 80,84%

58 Jumlah UKM non BPR/LKM UKM 475 525 17 17 19

59 Jumlah BPR/LKM 4 6 7 8 10

60 Jumlah Usaha Mikro dan Kecil 18.679 28.329 33.602 33.802 34.002

61 Regulasi ketahanan pangan SK Bpati No.28

Thn. 2004 BPPPPK Kab. Ngawi SK Bpati No.28 Thn. 2008 BPPPPK Kab. Ngawi 1 1 1

62 Ketersediaan pangan utama (PPH) 95,28 95,26 86,3 87,5 88,8

63 Padi-padian 399,00 394,70 25 25 25

64 Umbi-umbian 749,20 700,20 2,1 2,1 2,2

65 Pangan hewani 30,80 41,90 14,1 15,0 15,9

66 Minyak dan lemak 2,20 4,5 2,9 3,1 3,2

67 Buah/biji berminyak 0,9 1,8 1,0 1,0 1,0

68 Kacang-kacangan -193,8 -175,5 10 10 10

69 Gula 9 11,2 1,2 1,3 1,5

70 Sayur dan buah 742,9 707,9 30 30 30

71 Lain - lain 1,3 2,7 0,0 0,0 0,0

72 Rasio jaringan irigasi (Km/Ha) 235,94 235,94 6 6 7

73 Persentase penduduk yang memiliki lahan (%) 0,15% 0,15% 13,90% 13,90% 13,66%

74 Produktivitas padi dan bahan pangan utama lokal lainnya (Ku/Ha) 75 Padi 61,19 59,89 65,61 62,60 63,54 76 Jagung 59,72 59,82 49,49 54,19 40,53 77 Kedelai 16,78 15,74 15,98 16,67 18,52 78 Kacang Tanah 14,26 16,78 15,21 15,46 18,41 79 Kacang Hijau 9,18 13,53 15,7 12,86 12,28 80 Ubi Kayu 151,88 172,6 198,4 205,44 193,24 81 Ubi Jalar 198,36 261,57 206,65 163,06 121,61

82 Produksi padi dan bahan pangan utama lokal lainnya (Ton) 83 Padi 638.659 598.696 719.394 624.696 651.264 84 Jagung 70.564 68.661 99.680 53.584 55.634 85 Kedelai 25.390 21.805 34.380 26.406 35.558 86 Kacang Tanah 10.018 10.563 12.030 13.357 14.139 87 Kacang Hijau 355 524 693 679 648 88 Ubi Kayu 111.403 111.586 143.948 157.777 138.404 89 Ubi Jalar 22.970 34.083 38.416 13.306 9.923

90 Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (Rupiah) 1.934.019.136.416 1.708.805.004.576 1.831.517.194.656 91 Populasi ternak 92 Sapi Potong 56.415 60.477 64.226 93 Kerbau 1.522 1.492 1.462 94 Kuda 45 46 46 95 Babi 35 35 35 96 Kambing 71.696 72.805 73.897 97 Domba 22.88 23.236 23.584

2007 2008 2009 2010 2011

1 2 3 4 5 6 7 8

Indikator Kinerja Pembangunan No. Capaian kinerja Keterangan 98 Ayam Pedaging 141.779 145.431 149.067 99 Ayam Petelur 66.729 68.432 70.145 100 Ayam Buras 532.101 540.391 548.497 101 Itik 26.977 27.411 27.822 102 Entok 11.988 12.173 12.355

103 Konsumsi daging Kg/kapita/Thn 5,94 6,21 6,48

104 Konsumsi Telur Kg/kapita/Thn 2,12 2,15 2,18

105 Jumlah Produksi Komoditas Perkebunan (Ton)

106 Kakao 440,87 543 600

107 Tembakau 1.578,40 880,28 1.137,50

108 Kopi 98,48 108,47 100

109 Cengkeh 150,69 164,15 171

110 Tebu 3850,86 3600 4980

111 Produktifitas Komoditas Perkebunan

112 Kakao 0,300 0,375 0,375

113 Tembakau 0,800 0,825 0,875

114 Kopi 0,325 0,358 0,400

115 Cengkeh 0,200 0,218 0,225

116 Tebu 0,78 0,80 0,83

117 Luas Lahan Perkebunan

118 Kakao 1.469,55 1,448 1,600

119 Tembakau 1.973 1.067 1.300

120 Kopi 303 303 250

121 Cengkeh 753,45 753 760

122 Tebu 4.937 4500 6000

123 Produksi perikanan (ton)

124 Patin 52 55 58 125 Nila 16 30 50 126 Mas 3 5 10 127 Gurami 66 73 77 128 Lele 741 815 1,000 129 Lain-lain 5 10 12

130 Konsumsi ikan Kg/kapita/Thn 7,26 7,62 8,00

131 Rehabilitasi lahan kritis 300 300 800

132 Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB (Juta Rupiah)

1.412.591.980 1.610.680.644 1.529.624,10 1.682.586,51 1.850.845,16

133 Eksport Bersih Perdagangan (Juta Rupiah) 6.806.846.241 6.348.505.633 9.052,19 9.520,91 9.996,96

134 Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB (Juta Rupiah)

6,09 6,14 113.371.863 127.862.111 143.071.080

135 Pertumbuhan Industri (unit) 0,82 0,87

136 Industri Kecil Formal 274 275 287

137 Industri Kecil Non Formal 15.035 15.25 15.476

138 Jumlah Kunjungan Wisata 122.180 123.660 125.500

139 Persentase angka partisipasi angkatan kerja 73,36% 73,36% 73,39%

140 Persentase pencari kerja yang ditempatkan 15,68% 21,63% 21,65%

141 Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJPD yang telah ditetapkan dengan PERDA

Tidak Ada Tidak Ada Tidak Tidak Tidak

142 Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJMD yang telah ditetapkan dengan PERDA/PERKADA

Ada Ada Ada Ada Ada

143 Tersedianya Dokumen Perencanaan RKPD yang telah ditetapkan dengan PERKADA

Ada Ada Ada Ada Ada

144 Rasio penduduk ber KTP per satuan penduduk 59% 64% 70%

145 Rasio bayi berakte kelahiran 86% 88% 92%

146 Rasio pasangan berakte nikah 100% 100% 100%

147 Penerapan KTP Nasional berbasis NIK Ada Ada Ada

148 SKPD yang mempunyai IKM 6 10 14

149 Penerapan Sistim Informasi Manajemen Pemda 10 SIM 1 SIM 2 SIM 4 SIM

150 Urusan yang sudah diterapkan SPM nya berdasarkan pedoman yang diterbitkan oleh Pemerintah

0 0 1

151 Proporsi PAD dalam APBD 3% 3% 4%

152 Tingkat ketaatan pegawai pada peraturan kepegawaian

2007 2008 2009 2010 2011

1 2 3 4 5 6 7 8

Indikator Kinerja Pembangunan

No. Keterangan

153 Persentase pelanggaran pegawai 2,00% 1,00% 0,00%

154 Persentase pejabat yang telah memenuhi persyaratan pendidikan pelatihan kepemimpinan

59% 48% 54%

155 Keberadaan Standar kompetensi jabatan Ada Tidak Ada Tidak Ada

156 Sistem Informasi Kepegawaian Ada Ada Ada

157 Buku ”kabupaten dalam angka” Ada Ada Ada Ada Ada

158 Buku ”PDRB kabupaten” Ada Ada Ada Ada Ada

159 Persentase penerapan pengelolaan arsip secara baku pada SKPD

83,00% 87,00% 92% 94% 95%

160 Persentase SDM pengelola kearsipan yang terbina 60% 65% 69%

161 Persentase peningkatan SDM pengelola kearsipan pada SKPD

50% 60% 70%

162 Tersedianya Web site milik pemerintah daerah 2 2 1 1 1

163 Jumlah jaringan komunikasi 0 0 9 9 12

164 Rasio wartel/ warnet terhadap penduduk 0 0 296 219 219

165 Jumlah surat kabar nasional/lokal 7 7 21 25 30

166 Jumlah penyiaran radio/ TV lokal 3 3 4 4 6

167 Jumlah perpustakaan 1 1 1 1 1

168 Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun 8.245 17.085 13.774 21.300 30.000

169 Banyaknya jenis koleksi buku 22.579 24.306 25.631 27.865 35.000

170 Partisipasi perempuan di lembaga pemerintahan 2,62% 3,40% 0,08% 0,10% 0,12%

171 Partisipasi perempuan di lembaga swasta 97,38% 96,60% 99.92% 99.90% 99.88%

172 Persentase KDRT 44,00% 52,00% 1.40% 1.30% 1.20%

173 Rata-rata jumlah anak per keluarga 2,08% 2,98% 1.92% 1.92% 1.92%

174 Persentase keikutsertaan ber KB (akseptor) 70,68% 71,77% 70.00% 67.50% 65.00%

175 Persentase Keluarga Pra sejahtera dan keluarga sejahtera I

67.00% 62.00% 60.00%

176 Desa yang telah menyusun APBDes sebelum bulan April

0 75 90

177 Persentase kelembagaan ekonomi desa/ kelurahan yang aktif

1% 3% 5%

178 Persentase Unit pengelola keuangan dan usaha (UPKu) yang berkembang

0% 3% 3%

179 Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik, (km) 62,064 67,311 136 136 170

180 Proporsi panjang jalan dalan kondisi baik, 0 0 16,46% 22,55% 28,19%

181 Jumlah jembatan dalam kondisi baik, (buah) 0 320 329

182 Proporsi jumlah jembatan dalam kondisi baik 0 88% 90%

183 Proporsi utilitas jalan dalam kondisi baik (gorong2, trotoar

0 43,50% 46,25%

184 Persentase Panjang jaringan irigasi dalam kondisi baik

78% 80% 82%

185 Proporsi panjang jaringan irigasi dalan kondisi baik 231.050 /

296.217

236.975 / 296.217 242.899 /

296.217

186 Luas baku sawah yang tercukupi air irigasi 31.053 33.714 36.375

187 Proporsi luas baku sawah yang tercukupi air irigasi 31.053 / 44.362 33.714 / 44.362 36.375 / 44.362

188 Luas Layanan Jaringan Irigasi Yang Direhabilitasi 31.053 33.714 36.375

189 Jumlah HIPPA yang aktif dari jumlah 314 lembaga 139 180 190

190 Prosentase peran serta HIPPA dalam pemeliharaan jaringan irigasi

2007 2008 2009 2010 2011

1 2 3 4 5 6 7 8

Indikator Kinerja Pembangunan No.

Capaian kinerja

Keterangan

191 Jumlah Sumur Air tanah Yang di Bangun 126 128 130

192 Jumlah Embung Selesai di Bangun 7 7 8

193 Persentase rumah tinggal bersanitasi 0 35,43% 36,93%

194 Rasio rumah layak huni 79,2 80,01 21,12 21,12 26,12

195 Rasio permukiman layak huni 72,1 74,08 60,2 62,75

196 Lingkungan permukiman kumuh 23,15 21,26 2 2 2

197 Persentase Permukiman tertata 0 27,61% 29,50%

198 Persentase Rumah tangga pengguna air bersih 0 24,15% 29,15%

199 Persentase penduduk berakses air minum 0 11,00% 17,80%

200 Rasio tempat ibadah per satuan penduduk

201 Masjid 1.359 1.385 1.398

202 Mushola 3.769 3.959 4.149

203 Gereja 77 77 77

204 Kuil 1 1 1

205 Vihara 2 2 2

206 Jumlah penumpang angkutan umum 1.008.587 752.178 762.000 822.500 883.000

207 Jumlah terminal bis 1 1 6 6 6

208 Jumlah terminal kargo 1 1 1

209 Jumlah ijin trayek 179 187 195

210 Jumlah Uji Kir angkutan umum 5.217 5.339 5.460

211 Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan 12 12,5 14

212 Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum per tahun

1.008.587 752.178 762.100 770.433 778.766

213 Jumlah orang/barang yang melalui terminal per tahun

900 1080 1188

214 Rasio angkutan darat per jumlah penumpang angkutan darat

0,13 0,15 0,165

215 Rasio bangunan ber IMB per satuan bangunan 0% 0% 0% 100% 100%

216 Ketaatan terhadap RTRW 0% 0% 100% 100% 100%

217 Tersedianya dokumen RTRW yang telah ditetapkan dengan PERDA

ada ada ada

218 Tersedianya dokumen RDTRK yang telah ditetapkan dengan PERDA

ada ada ada

219 Tersedianya Peraturan zonasi yang telah ditetapkan dengan PERDA

- - - - ada

220 Presentase penanganan sampah 90,00% 90,00% 26,88% 31,00%

221 Rasio TPS persatuan penduduk 1 : 1.639 1 : 1.639 17,45 22,45

222 Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan

AMDAL

100% 100% - 10% 15%

223 Presentase penegakan hukum lingkungan 0,00% 0,00% - 10% 15%

224 Rasio RTH per satuan luas wilayah ber HPL/HGB 1 : 3.7 14,10% 21,25%

225 Jumlah sumur resapan 46 48 50

226 Rasio ketersediaan daya listrik(dengan asumsi pemakaian 900 Watt/pelanggan)

70 71 70,16 73,5

227 Rumah tangga yang menggunakan listrik/jumlah pelanggan

116.979 119.107 56,77 59,7

228 Jumlah pertambangan tanpa ijin 71 69 67

229 Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 0,58% 0,58% 0,58%

230 Jumlah kelompok/grup kesenian daerah 41 90 124 124

231 Jumlah gedung kesenian - - - -

-232 Jumlah kegiatan keagamaan di tingkat kabupaten 10 18 18

233 Jumlah organisasi keagamaan 19 19 19

234 Rasio jumlah Polisi pamong praja per 10.000 penduduk

176 150 1,24 1,19 1,28

235 Jumlah linmas per jumlah 10.000 penduduk 0 0 76 76 76

R P J P D K a b . N g a w i T a h u n 2 0 0 5 - 2 0 2 5 B A B I I I - 1

ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS 3.1. PERMASALAHAN PEMBANGUNAN DAERAH

Permasalahan pembangunan daerah merupakan “gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi riil saat perencanaan sedang dibuat. Permasalahan pembanguan diperoleh dari hasil analisis gambaran umum daerah dan analisis capaian kinerja daerah.

Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal dan kelemahan yang tidak diatasi untuk menggapai peluang dan meminimalisasi hambatan. Untuk mengefektifkan sistem perencanaan pembangunan daerah dan bagaimana visi/misi daerah dibuat dengan sebaik-baiknya, dibutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang dihadapi.

Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan kinerja pembangunan daerah dimasa lalu, khususnya yang berhubungan dengan kemampuan manajemen pemerintahan dalam memberdayakan kewenangan yang dimilikinya. Selanjutnya, identifikasi permasalahan pembangunan dilakukan terhadap seluruh bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara terpisah atau sekaligus terhadap beberapa urusan. Hal ini bertujuan agar dapat dipetakan berbagai permasalahan yang terkait dengan urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Tidak semua permasalahan tiap urusan dijadikan sasaran pokok selama 20 (dua puluh) tahun ke depan, mengingat keterbatasan pendanaan, isu strategis yang muncul, fokus kepada agenda paling strategis, dan hubungannya dengan agenda-agenda pembangunan yang telah berhasil dicapai di periode sebelumnya. Dengan pendekatan manajemen strategis, permasalahan pada urusan atau gabungan urusan yang akan dijadikan sebagai dasar penentuan sasaran pokok adalah permasalahan-permasalahan yang memiliki dampak paling tinggi terhadap pembangunan dan kriteria-kriteria lain yang sesuai peraturan perundang-undangan.

R P J P D K a b . N g a w i T a h u n 2 0 0 5 - 2 0 2 5 B A B I I I - 2

Untuk mendapatkan gambaran awal bagaimana permasalahan daerah dipecahkan, tiap-tiap permasalahan juga diidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilannya dimasa datang. Faktor-faktor penentu keberhasilan adalah faktor kritis, hasil kinerja, dan faktor-faktor lainnya yang memiliki daya ungkit yang tinggi dalam memecahkan permasalahan pembangunan atau dalam mewujudkan keberhasilan penyelenggaraan urusan pemerintahan.

Kecenderungan dinamika perubahan kondisi geografis morfologis karena semakin pesatnya akselerasi pembangunan wilayah mereduksi standar lingkungan yang sehat dan disisi lain tenaga kerja profesional cenderung meningkat dan tidak sebanding dengan kebutuhan pembangunan/industri dan terbatasnya kemampuan pemerintah daerah untuk konsisten dalam penerapan tata ruang wilayah.

Kualitas pembangunan manusia yang rendah seperti ditunjukkan posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Ngawi menunjukkan gambaran beban yang semakin berat dalam menghadapi persaingan global. Dari komposisi demografi Kabupaten Ngawi sudah merasakan dampak lain dari menigkatnya mutu kesehatan dalam bentuk menurunnya kematian bayi dan balita dibarengi dengan meningkatnya tingkat harapan hidup. Meski angka pengangguran terbuka relatif rendah akan tetapi terdapat kecenderungan untuk meningkat terutama akibat dampak krisis moneter dan perubahan harga-harga yang terjadi dalam tiga tahun terkhir yang mengakibatkan korporasi perlu mengkalkulasi ulang struktur biaya produksi perusahaan.

Pada aspek pendidikan, indikator melek huruf, serta capaian tingkat pendidikan di Kabupaten Ngawi juga masih memerlukan optimalisasi. Hal ini harus segera ditingkatkan secara konsisten karena arah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Ngawi Tahun 2005-2025 menyangkut mutu SDM yang penting dalam menjalankan pembangunan. Sementara penyediaan lapangan kerja untuk klasifikasi lulusan pendidikan tinggi masih perlu ditingkatkan. Fakta menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran riil perkapita untuk Kabupaten Ngawi nilainya masih rendah, sehingga menggambarkan bahwa tingkat hidup masyarakat Kabupaten Ngawi masih belum jauh dari tingkat kemiskinan.

R P J P D K a b . N g a w i T a h u n 2 0 0 5 - 2 0 2 5 B A B I I I - 3

dimiliki oleh daerah menyebabkannya tidak mudah untuk mengontrol, merencanakan dan mengawasi secara optimal seluruh kegiatan eksporasi dan eksploitasi sumber daya alam sehingga terjadi berbagai aktifitas illegal di lapangan kehutananan, pertambangan dan perikanan.

Ketersediaan data dan informasi serta mutu perangkat teknologi informasinya yang masih ketinggalan menyebabkan sulitnya mengidentifikasi SDA yang dimiliki. Dampaknya adalah setiap kebijakan dan tindakan menjadi selalu terlambat. Walaupun pendapatan perkapita terlihat terus meningkat serta tingkat pengangguran terbuka cenderung terus menurun, namun terdapat kecenderungan penyerapan tenaga kerja yang sangat lambat, sementara angkatan kerja pada periode yang sama tumbuh dengan pesat. Gairah sektor industri terindikasikan menurun yang terlihat dari menurunnya jumlah unit industri serta lambatnya pertumbuhan produksi.

Belum terbentuknya kawasan sentra industri dan perdagangan yang berbasis sumber daya dan kearifan lokal yang mampu bersaing di tataran regional, nasional, bahkan global. Perkembangan koperasi disemua sektor ekonomi pun terlihat semakin menurun. Hal ini dapat menjadi gambaran pola perkembangan kegiatan ekonomi masyarakat dalam bentuk UKM yang juga cenderung menurun. Padahal perkembangan UKM sebagai sarana otomatis pemerataan distribusi aset dan kesejahteraan bagi rakyat. Masih lemahnya struktur dan kapasitas kelembagaan ekonomi masyarakat sehingga motivasi kewirausahaan dan tingkat partisipasi dalam gerak roda perekonomian sangat rendah.

Sektor pertanian diharapkan berperan besar namun produksi dan penyerapan terhadap tenaga kerjanya tumbuh lambat. Lambatnya perkembangan sektor pertanian dan UKM yang terdesak sektor industri membawa dampak pada lambatnya penyerapan tenaga kerja. Perlambatan ini juga mempengaruhi tingkat perekonomian masyarakat. Jumlah penduduk miskin relatif masih tinggi dan perkembangannya cukup fluktuatif. Penurunan serupa juga dialami pada besarnya Dana Perimbangan dibanding periode sebelumnya. Belum mapannya sarana-prasarana perekonomian bagi setiap kegiatan ekonomi baik produksi, distribusi maupun konsumsi yang dapat menjamin terselenggaranya mobilitas yang cepat, lancar, layak dan optimal.

R P J P D K a b . N g a w i T a h u n 2 0 0 5 - 2 0 2 5 B A B I I I - 4

Penggunaan batubara sebagai bahan bakar alternatif setelah minyak bumi perlu dipikirkan agar pengelolaannya jangan membahayakan masa depan dan hasilnya benar-benar dapat dinikmati oleh masyarakat.

Data perkembangan keperluan dan penyediaan benih di Kabupaten Ngawi menunjukkan bahwa persediaan benih yang ada di Kabupaten Ngawi masih belum mencukupi, sehingga untuk mencukupinya masih sangat tergantung dari luar.

Penggunaan Varietas Unggul dan benih bersertifikat masih terbatas. Hal ini disebabkan rendahnya pemahaman petani mengenai pentingnya benih bersertifikat. Penggunaan pupuk oleh petani belum memperhatikan tepat waktu, tepat dosis, dan tepat jenis.

Pada tanaman pangan, kehilangan hasil dalam menangani pasca panen masih cukup tinggi dari produksi yang dihasilkan. Hal ini antara lain disebabkan oleh terbatasnya kemampuan petani dalam penyediaan alat pasca panen sendiri. Organisme pengganggu tanaman (OPT), kekeringan dan kebanjiran juga merupakan salah satu penyebab kehilangan hasil. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya sarana-prasarana dan akses petani bagi pengembangan sektor pertanian daerah, misalnya lantai jemur, gudang penyimpanan, kios saprodi, jalan usahatani, peralatan, mesin-mesin pertanian, dan sumber pembiayaan, serta masih rendahnya kuantitas dan kualitas petugas/aparat dalam mendukung program pembangunan pertanian, seperti masih kurangnya tenaga penyuluh yang berperan penting bagi keberhasilan sektor pertanian.

Pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah dilatarbelakangi oleh berbagai aspek kehidupan seperti perkembangan penduduk, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dinamika kegiatan ekonomi, perkembangan/perluasan jaringan komunikasi-transportasi dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut akan membawa perubahan terhadap bentuk keruangan di wilayah yang bersangkutan, baik secara fisik maupun non fisik, sebagai wadah kegiatan manusia di dalamnya.

Perkembangan penduduk di Kabupaten Ngawi mulai dari tahun 2003-2007 menunjukkan peningkatan dengan pertambahan rata-rata mencapai 3.393 jiwa setiap tahunnya, berdasarkan tren perkembangan penduduk akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pertambahan penduduk tersebut akan membawa pengaruh terhadap ketersediaan ruang dan perkembangan fisik wilayah.

R P J P D K a b . N g a w i T a h u n 2 0 0 5 - 2 0 2 5 B A B I I I - 5

Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Ngawi yang sudah ditetapkan dalam Perda No 10 Tahun 2011 tentang RTRW Kab. Ngawi Tahun 2010-2030. Dimana didalam RTRW tersebut memuat rencana perkembangan fisik wilayah yang merupakan hasil dari pengkajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi baik faktor internal maupun eksternal yang dijabarkan dalam rencana struktur dan pola ruang.

Dominasi fungsi kawasan adalah pertanian dengan penetapan luas lahan pertanian pangan berkelanjutan seluas 41.523 ha dengan 47,15% penduduk merupakan petani, maka potensi terbesar Kabupaten Ngawi adalah pada aspek pertanian, terutama pertanian tanaman pangan. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penyelenggaraan penataan ruang yang teruang dan RTRW Kabupaten Ngawi adalah Terwujudnya ruang

wilayah Kabupaten Ngawi sebagai lumbung pertanian Jawa – Bali yang didukung oleh industri dan perdagangan.

 Rencana Struktur Ruang Wilayah

Perkembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Ngawi dirinci dalam hirarki pelayanan perkotaan dan jaringan prasarana wilayah. Penetapan sistem perkotaan di Kabupaten Ngawi memiliki pola yang cukup kompleks karena wilayah Kabupaten Ngawi saling berkaitan dan pengembangan perkotaan ibukota kecamatan yang berkaitan dengan pusat perdesaan.

Kajian terhadap sistem struktur perkotaan ini meliputi : rencana sistem perkotaan, rencana fungsi perkotaan, dan pengembangan fasilitas kawasan perkotaan. Struktur ini akan menggambarkan keterkaitan antar kawasan perkotaan dan perkotaan dengan perdesaan secara keseluruhan.

Adapun Rencana Hierarki Sistem Perkotaan di Kabupaten Ngawi adalah sebagai berikut:

 Penetapan PKL adalah Perkotaan Ngawi;

 Penetapan PKLp adalah Perkotaan Karangjati, Widodaren dan Ngrambe; serta  Penetapan PPK adalah ibukota kecamatan di Kabupaten Ngawi lain yang tidak

termasuk diatas, antara lain Kecamatan Karanganyar, Pitu, Kresman, Bringin, Padas, Pangkur, Kwadungan, Geneng, Gerih, Kendal, Jogorogo, Sine, Kedunggalar, Mantingan.

R P J P D K a b . N g a w i T a h u n 2 0 0 5 - 2 0 2 5 B A B I I I - 6

 penetapan PPL adalah masing-masing pusat desa

Setiap kawasan perkotaan akan memiliki jangkauan pelayanan tertentu sesuai dengan sistem perkotaan masing-masing.

Tabel 3.1 Fungsi Kawasan

Perkotaan Kecamatan

dan PPK Fungsi Kawasan

Luas Wilayah

(km2)

Karangjati (PKLp)

Karangjati Pusat Perindustrian kecil dan menengah, Pertanian

240.4 Padas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Pariwisata

Bringin Perikanan Darat, Perindustrian Pangkur Pertanian, Peternakan

Kasreman Pertanian, Peternakan

Ngawi (PKL)

Ngawi Pemerintahan, Pendidikan, Pusat dan Distribusi hasil Perindustrian, Pariwisata

289.04 Geneng Peternakan, Perikanan, Pertambangan

Paron Pendidikan, Pertanian, Peternakan, Perikanan, Perindustrian

Kwadungan Perikanan

Gerih Peternakan

Widodaren (PKLp)

Widodaren Peternakan, Perindustrian

289.04 Kedunggalar Pendidikan, Pertanian, Perikanan, Pariwisata

Pitu Produksi Pertambangan, Peternakan Mantingan Perhubungan, Pariwisata, Industri,

Pergudangan

Karangayar Perhubungan, Perkebunan, Perikanan, Peternakan

Ngrambe (PKLp)

Ngrambe

Pemasaran hasil Pertanian Perkebunan, Peternakan Perindustrian, dan sebagai Perhubungan

288.11 Jogorogo Produksi Pertanian dan Perkebunan,

Perhubungan

Kendal Perkebunan, Peternakan, Pertambangan, Pariwisata

R P J P D K a b . N g a w i T a h u n 2 0 0 5 - 2 0 2 5 B A B I I I - 7

wilayah, dimana sistem jaringan prasarana wilayah merupakan koneksi antara supply dan dimand, antara produsen dan konsumen, antara kawasan produksi dan pemasaran, juga penghubung jaringan komunikasi dan teknologi informasi dalam rangka menunjang pertumbuhan dan perkembangan wilayah.

Guna menata perkembangan perkotaan Ngawi sebagai Pusat Kegiatan Lokal dan pusat pelayanan kabupaten perlu pengembangan sisten jaringan jalan yang produktif yaitu dengan pembangunan jalan lingkar (ringroad) yang meliputi ringroad selatan dan utara. Disamping itu Kabupaten Ngawi termasuk dalam pengembangan jaringan jalan bebas hambatan atau jalan tol dengan ruas Solo – Mantingan - Ngawi dan Ngawi – Kertosono.

 Rencana Pola Ruang

Rencana pola ruang wilayah terbagi dalam kawasan lindung dan budidaya dengan membagi peran berdasarkan potensi, daya dukung dan daya tampung alam serta menunjang perkembangan kawasan strategis kabupaten.

Pengembangan kawasan strategis kabupaten meliputi pengembangan kawasan strategis ekonomi berupa kawasan agropolitan Ngrambe yang meliputi kawasan NENGKENEBEJO (Geneng - Kendal – Sine – Ngrambe – Jogorogo) dengan mengembangkan potensi kawasan terutama sektor pertanian dan pariwisata.

Disamping itu juga dikembangankan kawasan strategis sosial budaya dengan pengembangan kawasan JATIPANGAWITAN (Karangjati – Padas – Ngawi – Mantingan) dengan pengembangan sektor pariwisata dan perdagangan/jasa.

Dijinjau dari perkembangan regional, posisi Kabupaten Ngawi juga merupakan kawasan perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah yang tergabung dalam pengembangan kawasan KAWISMAPAWIROGO (Karanganyar – Wonogiri – Sragen – Magetan – Pacitan - Ngawi – Ponorogo).

Perumusan permasalahan pembangunan pada tiap penyelenggaraan urusan pemerintah daerah dilakukan dengan memperhatikan capaian indikator kinerja pembangunan tiap penyelenggaraan urusan pemerintah guna mendapatkan rumusan permasalahan pada masing-masing urusan tersebut, berikut permasalahan pembangunan daerah di Kabupaten Ngawi :

R P J P D K a b . N g a w i T a h u n 2 0 0 5 - 2 0 2 5 B A B I I I - 8