• Tidak ada hasil yang ditemukan

Format Baru Pembangunan Pertanian

Dalam dokumen Usep – Kembali ke Agraria (Halaman 85-91)

S

ULIT dipungkiri bahwa potret kehidupan masyarakat petani kita masih dalam kondisi memprihatinkan. Banyak pengamat sudah mengatakan tentang tingkat pendapatan petani yang berbanding ter- balik dengan tingkat kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Sebagai ilustrasi, jika saja harga-harga produk petani disanding- kan dengan kebutuhan mereka—misalnya untuk membeli sarana produksi pertanian (saprotan), lauk-pauk, pakaian, perbaikan papan, kesehatan, pendidikan dan hiburan yang layak—dapat dipastikan perbandingannya ibarat bumi dengan langit. Keadaan yang dimak- sud tentu saja tak terjadi dengan sendirinya, melainkan ada sebab musabab yang berdiri di belakangnya.

Tulisan ini menyorot dua faktor utama yang melahirkan keadaan yang dialami petani: (1) tidak adanya kebijakan yang jelas dari pemerintah dalam hal peningkatan produksi pertanian dan kesejah- teraan petani. Kalaupun ada kebijakan yang terkait dengan sektor pertanian kerap dirasakan bahwa kebijakan itu belum sepenuhnya berpihak kepada kepentingan petani itu sendiri; (2) pola pertanian yang dikembangkan petani kita masih bercorak “tradisional”. Harus diakui bahwa mayoritas petani kita masih menganut pola pertanian subsisten dengan mengandalkan pengelolaan pertanian individual. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa pola subsisten-individual dalam usaha tani tidak bisa diandalkan bagi peningkatan produksi pertanian maupun kesejahteraan petani pada umumnya.

Dengan demikian, kedua faktor tadi mestilah mendapat perha- tian yang seksama dari kita yang menginginkan pesatnya laju pertum- buhan sektor pertanian kita sekaligus mendambakan perbaikan mutu hidup kaum tani. Sebelum mencari solusi ke depan, ada perlunya kita menengok secara lebih rinci mengenai fakta-fakta lapangan yang hingga hari ini masih “menyelimuti” kehidupan petani di pedesaan.

Masalah

Dari banyak kajian dan pengalaman lapangan diketahui ada beberapa masalah yang dihadapi petani, meliputi: organisasi; mana- jemen dan teknik pertanian; modal usaha; sarana produksi; dan tanah pertanian. Organisasi tani yang mandiri sebagai wadah atau alat petani dalam mengaktualisasi kepentingan-kepentingannya masih belum seperti yang diharapkan. Ketiadaan organisasi bagi sebuah kelompok masyarakat tertentu dapat memicu terjadinya marginalisasi yang sistematis terhadap kelompok tersebut.

Tiadanya organisasi juga memperlemah posisi tawar kelompok tersebut di hadapan kekuatan/kepentingan pihak lain. Demikian halnya dengan peningkatan kapasitas individu petani menjadi sulit dilakukan jika wadah bersama tidak dimiliki. Di beberapa wilayah memang sudah terdengar berdirinya organisasi tani. Yang patut disa- yangkan adalah bahwa organisasi tani tersebut biasanya hanya berbasis pada komunitas petani yang selama ini mengalami konflik penguasaan atas tanah dengan pihak lain. Sedangkan inisiatif pem- bentukan organisasi tani di kalangan petani yang tidak berkonflik masih belum lagi terdengar kehadirannya.

Berkaitan dengan manajemen dan teknik pertanian yang biasa dijalankan, petani kita masih terhitung lemah. Kondisi ini sangat mungkin berhubungan dengan orientasi usaha tani mayoritas petani kita yang masih subsisten dan sangat individual tadi. Manajemen usaha tani di pedesaan selama ini boleh dibilang masih mengandal- kan feeling sehingga kerap kali mengabaikan hitung-hitungan “ra- sional”. Rasionalisasi dalam usaha tani sebenarnya dimaksudkan

untuk memungkinkan terjadinya peningkatan surplus dan peman- faatannya untuk kesejahteraan petani sendiri.

Manajemen dan teknik pertanian yang selama ini masih terlihat lemah berkisar pada masalah berikut: pengelolaan usaha yang tidak terencana dengan matang; pemilihan jenis komoditi yang sedang trend di pasaran; penggunaan sarana produksi pertanian (saprotan) seperti bibit, pupuk, pestisida, dsb. masih tergantung pada input dari luar; pemeliharaan tanaman yang tidak intensif; dan pengelolaan pemasaran hasil tani yang nyaris tidak pernah dikembangkan dengan serius, dst.

Langkanya modal bagi usaha tani juga masalah yang sangat berat. Modal usaha tani—dalam pengertian sempit diartikan sebagai uang—nantinya dimanfaatkan untuk menyediakan berbagai sapro- tan dan kebutuhan lain yang terkait dengan proses produksi perta- nian. Beberapa program pemerintah yang berupaya menyediakan modal bagi kalangan petani selama ini dipandang tidak lagi efektif untuk mendongkrak produksi dan apalagi meninggikan kesejahteraan petani. Misalnya program kredit usaha tani (KUT) yang disinyalir hanya menguntungkan petani “kaya” berlahan luas.

Yang lebih tragis, konon dana KUT banyak disunat di sana-sini oleh mereka yang menjadi ’penyalur’-nya dan dijadikan ajang bagi- bagi ’kue’ atas nama kepentingan petani. Sehingga tak heran jika program ini disimpulkan sebagai gagal karena terbukti banyak bo- cornya, sering tidak kembali lagi, dan nyaris selalu tidak kena sa- saran. Padahal kelangkaan modal telah menempatkan petani dalam posisi yang sangat terjepit—khususnya bagi mayoritas petani gurem (kecil) yang berlahan sempit, buruh tani atau para petani penggarap lainnya—karena di satu sisi mereka bersemangat untuk menjalankan usaha tani, tapi di sisi lain tidak ada kemampuan untuk membeli berbagai kebutuhan untuk usaha tersebut.

Masalah saprodi pertanian masih jadi kendala pula. Sebagai- mana telah disinggung sebelumnya, perbandingan antara kebutuhan petani untuk menyediakan saprotan dengan tingkat penghasilan

yang didapat dari usaha tani sangat tidak seimbang. Tidak terjang- kaunya harga-harga saprotan oleh petani menimbulkan pola dan produk pertanian berkualitas rendah. Pada titik ekstrem, mahalnya saprotan seperti bibit, pupuk, pestisida, dan alat produksi lain men- dorong petani untuk bekerja secara asal-asalan. Bahkan pada titik yang paling ekstrem, karena saprotan tidak terbeli maka petani tidak lagi mau bekerja di atas tanahnya.

Soal lain yang menjadi masalah pelik berkaitan dengan penye- diaan saprotan adalah asal datangnya saprotan tersebut. Revolusi hijau yang menjadi kojo Orde Baru dalam membangun sektor perta- nian diketahui telah menghasilkan mentalitas petani yang selalu tergantung pada input dari luar. Ketergantungan ini, selain membu- ahkan ketidakmandirian petani tetapi juga telah memicu kerusakan ekosistem lingkungan pertanian (tanah dan tanaman jadi tergantung pada input luar) dan lenyapnya kearifan lokal (indigenous knowledge) yang dipandang lebih inklusif dengan dimensi sosio-kultural masya- rakat petani setempat. Dengan demikian, walaupun dalam setiap usaha tani yang ideal disyaratkan ketersediaan saprotan yang murah, namun lebih dari itu kategori saprotan yang selama ini dipatok dari luar lebih banyak menjerat leher petani dan merusak tanah pertanian. Masalah lain berhubungan dengan ketersediaan tanah perta- nian. Berbagai sumber data mengenai pola penguasaan dan peman- faatan tanah pertanian menunjukkan ketimpangan yang luar biasa. Ketimpangan ini terjadi baik dari segi penguasaan sesama (keluarga) petani maupun dari segi pemanfaatan lahan pertanian dengan zona- pertanian. Secara khusus, dalam hal penguasaan tanah di kalangan petani, strukturnya mencermin kenyataan bahwa semakin banyak petani berlahan sempit yang kehilangan tanahnya dengan berbagai alasan. Tanah pertanian yang sempit—biasanya di bawah 2 hektar— tentu saja tidak bernilai ekonomis bagi usaha tani. Jangankan untuk memperoleh surplus, kebutuhan sehari-hari pun tidak bisa dipenuhi oleh petani dengan tanah sesempit itu. Tidak jarang petani kecil ter- paksa bekerja sambilan atau malah menjual tanahnya untuk nombokin

(memenuhi) kebutuhan hidupnya.

Faktor ‘penyerahan’ tanah oleh petani kecil kepada kalangan petani ‘kaya’ atau kelompok berduit lainnya dapat menciptakan konsentrasi (baca: monopoli) penguasaan tanah pertanian. Kondisi inilah yang melahirkan buruh-buruh tani atau tenaga kerja ‘mengam- bang’ yang biasanya terpaksa ‘mengungsi’ ke kota-kota besar untuk bekerja sebagai tenaga kerja kasar. Lantas apa dan bagaimana solu- sinya?

Solusi

Untuk perbaikan ke depan, tidak ada pilihan lain kecuali menjawab semua fakta masalah yang telah diuraikan sebelumnya. Pokok-pokok jawaban yang dimaksud meliputi: pertama, perlu ditumbuhkan dan dikuatkannya organisasi tani yang mandiri di seluas mungkin komunitas pertanian. Ini penting mengingat orga- nisasi petani dapat mengartikulasikan segala kepentingannya dan melalui organisasi pula petani bisa membiasakan diri untuk menjalankan usaha tani secara bersama, sehingga keuntungan pun dapat dinikmati bersama oleh petani sendiri.

Kedua, perlunya pendidikan dan pelatihan yang sistematis mengenai manajemen dan teknik bertani yang baik. Pola pendidikan dan latihan bagi petani kecil ini hendaknya bersifat partisipatif dan mengacu pada kearifan lokal. Muara dari pendidikan ini adalah ber- gesernya kesadaran orientasi bertani dari subsisten-individual ke arah komersial-kolektif serta meningkatnya keterampilan bertani.

Ketiga, penyediaan modal usaha tani secara cukup merupakan kebutuhan yang juga mendesak. Negara (c.q. pemerintah) sudah sewajarnya berusaha semaksimal mungkin untuk menyediakan ber- bagai skim (alokasi anggaran) permodalan bagi petani kecil dengan persyaratan yang seringan dan sesimpel mungkin. Modal yang dimaksud sebaiknya disalurkan kepada kelompok-kelompok tani yang memang sudah siap menjalankan usaha tani secara bersama dengan mekanisme yang transparan dan bebas dari unsur korupsi.

Keempat, demikian halnya harga-harga saprotan agar diturunkan sehingga terjangkau oleh petani kecil dan rasional bagi dijalankannya usaha tani. Di samping itu diperlukan juga pengkajian yang men- dalam terhadap kearifan lokal yang di dalamnya mengandung kekayaan pengetahuan dan sarana produksi internal dari komunitas setempat. Saprotan yang murah dan ramah lingkungan adalah kri- teria kuncinya.

Kelima, hal yang mutlak untuk segera dilakukan adalah pemba- gian atau penyediaan tanah pertanian yang cukup kepada petani kecil. Karena usaha tani tidak akan efektif jika dilakukan di lahan yang sempit—apalagi tanpa adanya tanah—jelas usaha tani tidak mungkin dijalankan, maka penyediaan tanah adalah fondasi bagi pengembangan dunia pertanian dan peningkatan kesejahteraan kaum tani.

Tentu saja agenda-agenda di atas perlu menjadi perhatian kita bersama. Kalangan akademisi kampus dan organisasi non-pemerin- tah (LSM) sebaiknya mengambil peran secara intens dalam membe- rikan kritik dan masukan kepada para pengelola negara. Hal ini pen- ting karena sekarang ini pemerintah masih kelihatan gamang dalam merumuskan kebijakan pertanian yang tepat dan efektif dalam men- dongkrak produksi pertanian sekaligus meninggikan kesejahteraan kaum tani.

Terakhir, semua agenda perbaikan dunia pertanian hendaknya menggunakan dua tanah medan perjuangan: (1) membuat berbagai kebijakan politik yang menguntungkan pertanian dan petani kita, dan (2) memperkuat masyarakat petani agar mampu memperbaiki nasibnya secara mandiri. Kedua hal ini bisa jadi merupakan format baru pembangunan pertanian paska Orde Baru yang mengandung misi meningkatkan kesejahteraan petani dan mendorong petani agar mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Wallohua’lam. ***

Dalam dokumen Usep – Kembali ke Agraria (Halaman 85-91)