BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Kualitas Air Danau Siais
4.2.7. Fosfat dan Nitrat
Nilai parameter fosfat dan nitrat hasil pengukuran dari keempat stasiun rata-rata berkisar antara 0,4 – 0,7 mg/L. dan 1,4 – 1,7 mg/L. Secara keseluruhan nilai fosfat dan nitrat air Danau Siais masih berada di bawah ambang batas baku mutu air kelas 3 (PP No. 82 Tahun 2001). 1,4 % fosfor yang terkandung dalam pakan ikan budidaya keramba jaring apung merupakan sumber fosfat bagi danau tersebut. Fitoplankton akan menggunakan unsur fosfor dalam bentuk ikatan fosfat bagi pertumbuhannya untuk menjaga keseimbangan kesuburan perairan.
Jika nilai fosfat dan nitrat diatas ambang batas baku mutu air atau terlampu tinggi maka akan terjadi pengkayaan unsur hara di perairan yang akan menyebabkan blooming alga sehingga keseimbangan ekosistem perairan tidak dapat dipertahankan. Dari hasil pengukuran nilai fosfat dan nitrat perairan Danau Siais tergolong ke dalam jenis Danau Oligotrof yang artinya status trofik air danau dan/atau waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar rendah, status ini menunjukkan kualitas air masih bersifat alamiah belum tercemar dari sumber unsur hara nitrogen dan fosfor (KLH, 2009).
Nilai fosfat dan nitrat yang rendah yang dimiliki perai Danau Siais dapat disebabkan oleh beberapa hal. Aktifitas manusia disekitar danau yang menggunakan
bahan organik sebagai sumber penghasil fosfat dan nitrat masih dalam batas
Carrying Capacity danau, hal ini didukung dengan diperolehnya nilai DO yang tinggi, BOD5 dan COD yang rendah pada setiap masing-masing stasiun. Artinya bahan organik yang berasal dari luar dan kegiatan KJA akan mempengaruhi persediaan
oksigen dan Carrying Capacity perairan, jika jumlah bahan organik yang menumpuk
dihasilkan akan tinggi sehingga kadar oksigen akan rendah, nilai BOD5
Bila dibandingkan dengan nilai nitrat dan fosfat yang dimiliki oleh Danau Rawa Pening, Toba, Maninjau dan Singkarak, masing-masing : 0,027 – 0,303
mg/L dan 0,029 – 0,048 mg/L (Ravita et al. 2012), 0,25 – 0,47 mg/L dan 0,01 – 0,02 mg/L (Benny, 2009), 0,05 – 0,22 mg/L dan 0,04 – 0,08 mg/L
(Erlania, et al., 2012) serta 0,00054 – 0,0107 mg/l dan 0,0204 – 0,0513 mg/L
(Hayati, et al., 2012), maka nilai nitrat dan fosfat yang dimiliki perairan Danau Siais 0,4 – 0,7 mg/L. dan 1,4 – 1,7 mg/L. Jumlahnya lebih besar dari keempat danau yang ada. Hal ini disebabkan karena adanya aktivitas pertanian dan pemukiman dibagian hulu Danau Siais, dengan adanya aktivitas masyarakat yang menggunakan pupuk pestisida yang berasal dari pertanian dan deterjen yang berasal dari pemukiman, merupakan sumber limbah organik yang mengandung unsur fosfat diperairan bagi perairan Danau Siais.
dan COD akan tinggi karena dibutuhkan jumlah yang besar untuk memineralisai bahan organik dimana setiap 1 kg diperlukan 0,2 kg oksigen (Rustam, 2010).
Namun secara keseluruhan nilai ini masih berada di bawah ambang batas baku mutu air PP No. 82 Tahun 2001 kelas 3 untuk kegiatan perikanan. Dengan demikian bahwa kisaran nilai nitrat dan fosfat yang dimiliki Danau Siais menggambarkan bahwa kondisi lingkungan perairan Danau Siais dalam kualitas yang masih baik, mampu mendukung kehidupan organisme aquatik dan kegiatan aktivitas KJA.
4.2.8. Plankton
Dari hasil penelitian terhadap analisis plankton di Danau Siais dari 4 stasiun ditemukan 9 kelas (Chlorophyceae, Chytridiales, Bacilarophyceae, Mastigophora, Xanthophyceae, Cyanophyceae, Chrysophyceae, Branchiopoda dan Adenophorae), 16 genus (Rhizidiaceae, Ulotrichaceae, Desmidiaceae, Zygnemataceae, Navuculaceae, Coscinodiscaceae, Surirellaceae, Euglenaceae, Tribonemataceae, Merismopediaceae, Oscillatiriaceae, Chrysocapsaceae, Ochromonadaceae, Basminidae, Chydiridae, dan Monhysteridae) dan 25 spesies plankton (Rhizoclosmatium, Ulotrix, Closterium, Pleurotaenium, Staurastrum, Spirogira, Zygnemopsis, Caloneis, Diatomella, Gyrosigma, Navicula, Pinnularia, Coscinodiscus, Melosira, Surirella, Trachelomona, Tribonema, Merismopedia, Lyngbya, Phormidium, Chrysocapsa, Dynobryon, Basmina, Alonella, dan Monhystera) dari setiap stasiun pengamatan. Masing-masing terdiri dari 7 kelas, 13 genus dan 23 spesies fitoplankton serta 2 kelas, 3 genus dan 3 spesies zooplankton.
Diperoleh nilai kelimpahan berkisar antara 428 – 684 individu/liter dengan indeks dominansi 0,000000854964 – 0,05284714 yang artinya Indeks Dominansi (D) mendekati 0, nilai ini menyatakan bahwa tidak ada spesies yang mendominasi di perairan Danau Sias. Jika ditinjau dari Indeks Keanekaragaman (H’) berkisar 2,555 – 2,826 yang artinya 1 < H’ < 3 keanekaragaman sedang dan Indeks Keseragamannya (E) berkisar 0,784 – 0,867 nilai ini menunjukkan bahwa E mendekati 1, merupakan nilai yang menyatakan bahwa perairan Danau Siais memiliki spesies plankton dengan sebaran yang merata dan seimbang (adapun hasil analisis plankton yang diperoleh terlampir pada (lampiran 4).
Dari keempat stasiun pengamatan, nilai kelimpahan tertinggi diperoleh pada stasiun tiga dan untuk nilai kelimpahan terendah diperoleh pada stasiun satu. Hal ini disebabkan pada stasiun tiga nilai kecerahan, total fosfat dan nitrat yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan stasiun lainnya, sedangkan pada stasiun satu nilai total fosfat dan nitrat yang diperoleh lebih rendah dibandingkan stasiun lainnya, selian itu tata letak KJA stasiun 3 berada agak ditengah danau, memungkinkan arus relatif kecil. Dengan adanya kondisi tersebut merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan plankton diperairan. Untuk nilai dominansi pada keempat stasiun pengamatan menyatakan tidak ada spesies yang dominan, keanekaragaman spesies berada pada sebaran yang merata, hal ini ditunjukkan dengan diperolehnya 25 spesies plankton disetiap stasiun pengamatan.
Nilai keanekaragaman plankton digunakan untuk menyatakan berbagai jenis organisme yang terdapat pada suatau ekosistem. Nilai keanekaragaman plankton yang diperoleh di Danau Siais tergolong sedang. Seperti yang
dinyatakan oleh (Hayati et al. 2012) tinggi rendahnya nilai keanekaragaman
plankton di suatu perairan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, dimana semakin baik kondisi lingkungan maka akan tinggi keanekaragaman plankton, sebaliknya semakin buruk kondisi lingkungan maka keanekaragamn semakin rendah.
Keberadaan jumlah plankton sebagai produktifitas primer dan indikator pencemaran limbah organik di perairan, yang diperoleh di Danau Siais dilihat dari dominansi, keanekaragaman dan keseragaman merupakan nilai yang menyatakan bahwa perairan Danau Siais masih dalam kondisi yang baik yang mampu mendukung kelangsungan hidup organisme aquatik, dan tidak terjadinya pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) yang menyebabkan bloming alga.
Kondisi plankton dengan sebaran yang merata, tidak terdapatnya spesies yang mendominasi di perairan Danau Siais terjadi disebabkan oleh jumlah bahan organik di perairan tersebut baik yang berasal dari KJA dan aktifitas lainnya masih dalam jumlah yang kecil. Diperoleh nilai unsur hara fosfat dan nitrat di Danau Siais < 10 mg/L yang artinya Danau Siais termasuk ke dalam tipe danau Oligotrof adalah status trofik air danau dan atau waduk yang mengandung unsur hara denngan kadar rendah, status ini menunjukkan kualitas air masih bersifat alamiah belum tercemar dari sumber unsur hara nitrogen dan fosfat (KLH, 2009).
4.3. Kegiatan Perikanan