• Tidak ada hasil yang ditemukan

Francis Hutcheson

Dalam dokumen PRAKATA. Surabaya, Juni Xaverius Chandra (Halaman 57-62)

(1694-1746)

1. Apa latar belakang pemikiran etis Hutcheson? Pertama-tama ia terlibat dalam perdebatan melawan pandangan Thomas Hobbes, yang mana ini kemudian diperbarui oleh Bernard Mandeville (1670-1733), yang meletakkan dasar dari etika pada cinta pada diri sendiri atau kepentingan diri di abad ke-18. Mandeville membela tesis Hobbes bahwa satu-satunya motif dari tindakan manusia adalah cinta pada diri sendiri atau kepentingan partikular. Adalah untuk mengejar kepentingan partikularnya tanpa memperhatikan yang lain maka manusia-manusia berpartisipasi dalam perkembangan komunitas manusia. Menurut Hutcheson argumen seperti itu membawa pada suatu skeptisisme moral yang mengenai sentimen-sentimen moral yang lebih umum pada manusia. Jika seseorang mengiyakan bahwa semua tindakan manusia adalah ditentukan oleh cinta akan diri sendiri atau kepentingan partikular, maka kata “keutamaan” dan “cela” kehilangan maknanya dan tidak lagi diperhitungkan dalam pendidikan sehubungan dengan moralitas. Pertimbangan moral lantas direduksi pada penggunaan-penggunaan verbal yang tidak menunjuk pada maknanya sendiri. Ia akan membuat tidak adanya pembedaan moral antara yang baik dan yang buruk. Prinsip nilai juga akan

57

dicari dalam perhitungan akan kepentingan-kepentingan. Menurut Hutcheson di dalam pertimbangan moral, di mana kita menyetujui keutamaan dan menyalahkan cela dan di mana kita mengarahkan tindakan kita menurut yang baik dan yang buruk, doktrin tentang egoisme tidak dapat terlibat secara langsung karena menyebabkan skeptisme moral. Karena itu, Hutcheson mengajukan realitas perasaan moral yang berbeda dari perasaan natural yang ada pada kepentingan partikular. Perasaan moral ini memiliki kebaikan umum atau kegunaan publik sebagai objeknya, dan ia dibawa oleh suatu cinta akan kemanusiaan secara umum yang disebut oleh Hutcheson sebagai kebaikan hati atau sikap baik (benevolence).

2. Apa itu “Perasaan Moral” menurut Hutcheson? “Perasaan moral” adalah fakultas yang mengikuti persepsi terhadap kualitas moral dari tindakan-tindakan kita. Kita dapat mengetahui suatu sentimen persetujuan atau celaan. Dengannya kualitas-kualitas moral (baik-buruk, berkeutamaan-bercela) dapat ditunjukkan dengan lebih tepat dan dalam aspek positif, yaitu dalam apa yang disebut dengan “kebaikan hati.” Perasaan moral merupakan suatu kapasitas menerima dari kesenangan atau kesusahan hingga ide-ide hasil kontemplasi seperti misalnya keindahan dan harmoni. Perasaan moral ini hadir sebagai persetujuan dan pencelaan yang menyertai persepsi terhadap, misalnya, kesenangan dan kesusahan. Ia hadir sebagai perasaan atau emosi refleksif yang muncul sesudahnya atas apa yang dipersepsi. Hutcheson sendiri mengartikan perasaan moral sebagai “suatu determinasi dari roh kita untuk menerima tindakan-tindakan yang diikuti ide-ide simpel persetujuan atau pencelaan, penentuan yang lebih dulu dari setiap opini atas

58

bilamana ada keuntungan atau kerugian yang dapat dirasakan.” (Recherche, 2, I, 8) Persetujuan di sini terarah pada kualitas-kualitas yang dapat diindrai dari objek-objek pancaindra. Persepsi akan objek tidak bergantung pada kehendak kita sehingga perasan ini pasif dan ia tidak dimediasi oleh suatu pengetauan. Persetujuan ini terjadi seketika secara spontan. 3. Apa itu “Kebaikan Hati” menurut Hutcheson? “Kebaikan hati” merupakan sesuatu yang dengannya orang melakukan tindakan-tindakan yang berkontribusi pada kebaikan umat manusia. Kebaikan hati ini ada pada wilayah sentimen yang mengacu pada pengalaman di mana tiap orang bertanya pada hatinya sendiri dan memperhatikan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan orang-orang lain di sekitarnya. Ini merujuk pada pengalaman alih-alih argumen-argumen dari metafisika, dengan menyesuaikan diri pada semangat eksperimental seperti yang ada pada filsafat alam. Di sini moralitas bukan sesuatu yang deduktif karena tiap orang ditentukan oleh perasaan moral yang ada padanya.

Perasaan moral menuntut orang tidak menghubungkan perasaan natural dengan kepentingannya sendiri. Kebaikan hati pada umat manusia tidak menindas kecemasan akan yang kumiliki pada diriku sendiri karena kecemasan ini lahir dari hidupku sendiri. Bagi Hutcheson tidak ada konflik antara dua perasaan ini dan keduanya ada dalam tatanan afeksi. Perasaan natural tidak dari dirinya sendiri adalah immoral dan lagi, pengaruhnya tidak berkontraksi dengan daya dari perasaan moral. Cinta akan diri sendiri adalah indiferens secara moral (III, 5). Jika kebaikan hati dibawa pada kebaikan orang lain, maka

59

harus ditentukan apa yang baik, yang mana penentuan akan yang baik secara konkret ini tidak dapat masuk ke dalam suatu perhitungan akan apa yang menguntungkan semua manusia, tetapi pada tiap orang secara partikular. Pada tiap orang ini penentuan akan apa yang baik dari masing-masing orang mengandaikan seseorang mengukur kuantitas kebaikan dari semua sehingga ia menilai apa yang diterima masing-masing orang dan karenanya ada proporsi antara kebaikan umum dan kebaikan yang dapat diperlukan pelaku tindakan.

4. Jika cinta akan diri sendiri bukan prinsip keburukan dan jika perasaan moral adalah sesuatu dalam kesadaran dan tindakan manusia, lantas dari mana datang keburukan? Suatu kehendak yang buruk tidak dapat memiliki tempat dalam kodrat manusia. Hutcheson mengecam doktrin tradisional yang menganggap yang buruk datang atau berasal dari cinta akan diri sendiri yang salah dimengerti atau dari afeksi-afeksi yang melahirkan opini-opini terburu-buru. Keburukan lahir ketika pertimbangan-pertimbangan dan tindakan-tindakan manusia tidak dijelaskan secara memadai oleh pengertian.

5. Jika prinsip moral adalah suatu perasaan, lantas maka bagaimana menentukan keutamaan dan cela? Jika ditolak suatu ide penentuan rasional sebagaimana ada pada keutamaan dan cela, maka perasaan morallah yang menentukan berupa rasa suka atau rasa benci terhadap impuls-impuls atau dorongan-dorongan. Ada hubungan antara keutamaan dan cela karena semua manusia secara real dibawa pada kesukaan dan berbalik dari kebencian. Keutamaan dan cela bukan kualitas-kualitas pertimbangan persetujuan dan penyalahan, dan juga bukan

60

suatu kualitas pertimbangan akan sesuatu yang dilihat dalam dirinya sendiri, meski dalam pertimbangan kita mengenakan kualitas-kualitas pada hal-hal yang ditimbang.

61

Dalam dokumen PRAKATA. Surabaya, Juni Xaverius Chandra (Halaman 57-62)

Dokumen terkait