• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PARADIGMA PEDAGOGI FRANSISKAN

C. Paradigma Pedagogi Fransiskan

3. Fransiskan

Istilah Fransiskan digunakan untuk menunjuk kepada kelompok yang paling terkenal yang mengikuti "aturan hidup St. Fransiskus dari Asisi" yaitu Ordo Fratrum Minorum (seringkali disebut "Fransiskan "). Ordo Fratrum Minorum adalah ordo keagamaan yang bermula dari St. Fransiskus Assisi. Disebut ordo

Fratrum Minorum yaitu cara hidup mengikuti Yesus Kristus dan injil-Nya dalam kedinaan dan kerendahan. (http://pojokseminari.blogspot.co.id/2011/06/ordo- fratrum-minorum-ofm.html).

4. Paradigma Pedagogi Fransiskan

Paradigma pedagogi Fransiskan merupakan suatu model pendidikan yang berlandaskan pada sikap hidup/spiritualitas St. Fransiskus dari Asisi terhadap bumi yang tertuang dalam Gita Sang Surya. Paradigma pedagogi Fransiskan menjadi model pendidikan dalam melahirkan generasi-generasi muda yang peduli dan memiliki relasi yang baik dengan alam semesta sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup mereka. Pedagogi Fransiskan mengembangkan hubungan Tuhan dengan manusia yang dinyatakan dalam Yesus Kristus dan hidup Fransiskus sendiri sebagaimana yang ditekankan dalam dokumen Go and Teach (GT) yang dikeluarkan oleh Friars Minor sebagai pedoman untuk pendidikan Fransiskan art. 22 yang berbicara tentang: relasi Vertikal (Manusia dengan Tuhan) dan Horisontal (relasi sosial antara manusia dengan sesama). Di sini jelas bahwa pedagogi Fransiskan menjadi salah satu sarana menghantar dan membantu setiap anak didik untuk bisa menjalin relasi yang baik dan benar dengan Tuhan yang hadir dalam pribadi Yesus Kristus yang diimaninya, dengan sesama dan dengan alam semesta.

Sebagai sarana untuk menghantar anak didik dalam menjalin relasi dengan Tuhannya, para pelaku pendidikan (para Fransiskan dan guru-guru) dituntut untuk

tidak memandang anak didik yang datang sebagai sasaran atau objek yang kepadanya pengetahuan ditransfer oleh guru tetapi setiap anak didik yang datang merupakan anugerah dari Tuhan yang harus diterima dengan penuh syukur (GT art.40). Pedagogi Fransiskan mengajak setiap pribadi untuk memahami dan mendalami dunia tidak sekedar sebagai tempat alamiah eksistensi manusia tetapi juga sebuah ungkapan cinta, kebijaksanaan, keagungan dan keindahan Allah. Jika dunia ini merupakan ungkapan cinta dan keagungan terindah dari Allah, artinya setiap makhluk terutama manusia yang diciptakan dengan akal budi yang mulia dituntut suatu tanggung jawab untuk memelihara dan merawat dunia ini dengan baik (bdk Kej.1:26-29). Dalam kitab kejadian jelas perintah Allah (Kej.1:28): "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi". Menghayati panggilan untuk melindungi dan memelihara karya Allah merupakan bagian penting dari kehidupan yang saleh bukan suatu pilihan kedua dari kehidupan ini (bdk. LS art. 217).

Kehendak Allah jelas bagi manusia, dan dalam kitab Kejadian, jelas bagi kita bahwa Allah mempercayakan bumi beserta dengan segala isinya bagi manusia untuk menjaga dan merawatnya. Berkuasa bukan berarti dengan seenaknya saja manusia memperlakukan alam, tetapi kuasa yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah untuk menjaga dan merawat alam ini sebagai tanggapan manusia atas cinta dan keagungan Allah yang diberikan-Nya kepada manusia sehingga ketika manusia

memperlakukan alam dengan tidak bertanggung jawab, sudah jelas bahwa manusia menolak cinta Allah dan tidak mengakui keagungan dan kebesaran dari Allah sendiri. Maka jika kita manusia terbuka untuk melihat situasi alam kita saat ini, menjadi gambaran yang nyata bagaimana manusia menanggapi cinta Allah dalam dunia kita saat ini. Jika kita ingin jujur, dunia kita saat ini sedang mengalami “sakit” sehingga sebagai ciptaan yang mulia manusia perlu berbenah diri untuk mengembalikan dunia yang harmonis, alam yang indah dan udara yang segar yang memberi kehidupan bagi kita manusia.

Menyadari tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan Allah kepada manusia untuk merawat alam ini, Pedagogi Fransiskan membimbing dan membawa anak didik kepada sebuah pertobatan ekologis yang sejati dan sebuah keadilan lingkungan sejati yang didasarkan pada nilai-nilai respek dan solidaritas yang mengarah pada sikap cinta lingkungan. Paus Fransiskus dalam ensikliknya (LS, art. 219) mengatakan bahwa “pertobatan ekologis yang diperlukan untuk menciptakan suatu dinamisme perubahan yang berkelanjutan, juga merupakan pertobatan komunal”. Jelas bagi kita bahwa untuk mencapai suatu usaha dalam menciptakan relasi yang harmonis dengan lingkungan sekitar tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pribadi tetapi menjadi tanggung jawab bersama yang harus dilakukan secara bersama di dalam suatu komunitas yang memiliki arah dan tujuan yang sama. Pertobatan ekologis juga mau mengungkapkan suatu kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak terpisahkan dari makhluk ciptaan lainnya tetapi menjadi

suatu kesatuan yang tergabung dalam suatu persekutuan yang bersifat universal yang memberi suatu warna yang indah dalam kehidupan setiap hari. Pertobatan ekologi membawa suatu kesadaran baru bagi manusia bahwa setiap makhluk yang ada di alam raya ini merupakan cerminan dari kasih Allah yang sungguh nyata bagi manusia. Dengan kesadaran ini mengajak manusia untuk lebih peduli dan cinta lingkungan dengan memelihara dan merawat bumi ini dengan penuh kasih sebagai tanggapan akan cinta Allah yang besar bagi manusia yang diciptakan-Nya.

Pedagogi Fransiskan tidak hanya menekankan segi kognitif tetapi juga segi afektif dan psikomotorik anak didik sehingga apa yang dipelajari sungguh nyata dalam tindakan dan pengalaman hidupnya setiap hari.

Dalam GT art. 17 disajikan beberapa point pokok yang membutuhkan tindakan atau perbuatan diantaranya:

a) Mengembangkan kemampuan untuk mengkontemplasikan dunia fisik dari titik pandang kristiani dan Fransiskan.

b) Memahami masalah utama yang disebabkan oleh polusi dan bentuk kehancuran alam lainnya.

c) Mengusahakan sebuah pendidikan lingkungan dengan mengembangkan sebuah kesadaran untuk melindungi dan peduli ciptaan sesuai dengan kriteria yang ada humanist, scientifik dan transenden.

d) Mendorong sebuah pembentukan budaya berdasarkan sebuah relasi keadilan dan solidaritas pribadi dengan lingkungan.

e) Merangsang sebuah penelitian untuk sebuah sosio-ekonomic alternatif sejalan dengan proposal ekonomi keadilan.

f) Mempromosikan gaya hidup yang bertanggungjawab dalam menggunakan dan mengkonsumsikan sumber-sumber alam.

g) Menyebarluaskan peraturan-peraturan tentang lingkungan sosial dalam kerjasama dengan otoritas sipil dan religius.

Dalam menghadapi situasi dunia yang ditandai dengan globalisasi ini membutuhkan suatu paradigma pedagogi yang baru terhadap dunia pendidikan dan kehidupan ini. Melihat dan menyaksikan situasi yang ada, pedagogi Fransiskan menawarkan suatu pendidikan yang menghantar setiap pribadi untuk bisa membangun relasi yang baik dengan Tuhan, sesama dan alam sekitarnya. Model pendidikan yang ditawarkan oleh pedagogi Fransiskan yaitu: pendidikan ekologis dan Ekopedagogi.

a. Pendidikan Ekologis.

“Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya” (Daryanto & Suprihatin, 2013: 49). Secara singkat dapat juga dikatakan bahwa ekologi merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antar makhluk hidup. Berbicara tentang ekologi tidak lepas dari ekosistem. Yang dimaksud dengan ekosistem adalah suatu system ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tidak terpisahkan antar makhluk hidup dengan

lingkungannya (bdk. Daryanto & Suprihatin, 2013: 63). Ekologi memandang setiap makhluk hidup sesuai dengan perannya masing-masing dan memandang individu dalam species menjadi salah satu unsur terkecil dari alam sehingga ekologi menganut prinsip keseimbangan dan keharmonisan semua komponen alam sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. St. Fransiskus dari Asisi melalui karyanya (bdk. Kidung saudara matahari) mengajak kita semua untuk menyadari bahwasanya keberadaan manusia tidak lepas dari alam, sebaliknya keberadaan kita saling adanya keterkaitan sebagai makhluk yang berasal dari satu pencipta yaitu Allah sendiri sehingga Fransiskus dari Asisi mengajak setiap pribadi untuk memandang setiap ciptaan sebagai saudara dan saudari.

Pendidikan ekologi merupakan studi ilmiah tentang interaksi antara organisme dan lingkungan sekitar. Model pendidikan Fransiskan ini merupakan bagian warisan dari sikap Fransiskus Asisi terhadap bumi. Sikapnya yang konkrit nyata dalam tindakan yang tercantum dalam Gita Sang Surya yang memberikan hadiah penting pada zaman ini. Bagi Fransiskus yang ilahi, yang manusiawi, kosmik atau alam hadir bagi yang lain (dengan menggunakan pendapat Thomas Bery) Fransiskus memiliki cinta yang mendalam bagi Yesus Kristus inkarnasi Allah; hatinya berlimpah-limpah dengan syukur ketika ia memikirkan Allah menjadi manusia, arsitek dunia menjadi anak bumi. Cinta Fransiskus dan persahabatannya yang akrab dengan makhluk ciptaan seperti saudara ikan, saudari air, saudari burung, saudara monyet dan saudara kelinci memiliki persahabatan yang saling

menguntungkan; bukan merupakan pelayanan yang di tujukan kepada seseorang atau sesuatu yang didominasinya. Fransiskus berpikir melampaui pelayanan. Dia berbicara kepada ciptaan yang lain, dan mereka berbicara kepadanya. Dia menyampaikan kepada mereka tentang Allah, dan mereka menyampaikan kepadanya tentang Allah. Dia mengajarkan kepada mereka tentang kesederhanaan dan ucapan syukur dan mereka juga mengajarkan kepadanya tentang kesederhanaan dan ucapan syukur. Cinta Fransiskus terhadap ciptaan di bumi dan inkarnasi Allah dalam pribadi Yesus sebagai pribadi yang kudus. Fransiskus menghormati setiap pribadi karena mereka memiliki integritas dan keutuhan dalam hati yang penuh misteri sebagaimana diungkapkan oleh perancang ilahi. Sikap Fransiskus inilah yang menjadi alasan untuk mengungkapkan bahwa pendidikan Fransiskan harus spesifik, eksperiental, dan persaudaraaan/kekeluargaan (persaudaraan yang universal). Model pendidikan ekologi Fransiskan itu sangat membumi dan berkaitan dengan perkembangan dimensi manusia. Dalam pendidikan ekologi perlu menekankan empat point pokok yang menjadi pertanyaan reflektif bagi para pendidik Fransiskan:

 Siapakah kita?

 Bagaimana relasi kita kepada Allah?

Bagaimana persahabatan kita terhadap sesama?  Bagaimana relasi kita dengan bumi?

Melalui pendidikan ekologi dengan memperhatikan empat point pokok dengan harapan setiap anak didik dibantu oleh para guru dapat bertanggungjawab untuk keberlangsungan dan masa depan bumi ini. Dengan menekanan pertanyaan-

pertanyaan ini, Pendidik dalam sekolah/lembaga pendidikan yang dikelolah oleh para Fransiskan dipanggil untuk mengajarkan secara bebas; pembedaan dan kritik.

Menurut Pirkl (1992:147) “relasi persahabatan antara empat pertanyaan

pokok dan apa yang dilihat sebagai tanggungjawab ini bagi para pendidik dan anak didik bisa disetujui bisa juga tidak disetujui”. Orang yang percaya akan melihat bahwa tanggung jawab terhadap pertanyaan fundamental akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tanggungjawab pada tiga hal yang lain. Jika tuntutan Fransiskan benar bahwa hidup kita tidak didasarkan pada struktur tetapi pada persahabatan, dan siapakah kita (pertanyaan pertama) secara definitif bergantung pada persahabatan kita dengan Allah, sesama dan bumi. Bagaimana relasi persahabatan kita dengan Allah. Jika Allah adalah pencipta kita dan melalui misteri inkarnasi, imanen pada keluarga bumi dan relasi kita dengan Allah (pertanyaan kedua) adalah persahabatan makhluk ciptaan terhadap pencipta dan melalui Kristus. Bagaimana persahabatan kita dengan manusia (pertanyaan ketiga) bila kita mempunyai pendekatan pertanyaan siapa kita, kita juga mendekati pertanyaan siapakah orang lain dan bagaimana kita berelasi dengan mereka sebagai ciptaan dan anak-anak dari Allah yang sama, saudara dan saudari Kristus, dan anggota keluarga yang menghuni bumi ini. Bagaimana persahabatan kita dengan bumi (pertanyaan keempat) bila kita berpegang teguh pada persamaan ciptaan yang ada, kita tahu bagaimana relasi kita kepada Allah dan kepada ciptaan yang lain (persaudaraan universal).

Tujuan dari pendidikan yang ekologis adalah terwujudnya keselamatan dan keutuhan ciptaan. Dalam ensiklik Laudato Si art. 209 dikatakan bahwa orang- orang muda memiliki kepekaan ekologis dan semangat untuk membela lingkungan dan sebagai ungkapan cinta mereka akan lingkungan, mereka berupaya untuk membaharui lingkungan tetapi mereka hidup dan dibesarkan dalam lingkungan yang berbudaya konsumatif dan budaya instan sehingga menjadi sulit bagi mereka untuk menghidupi dan menghayati cara hidup yang baru yang menghantar mereka kepada suatu kehidupan yang berdasarkan pada spiritualitas ekologis. Bermula dari perubahan pola pikir dan pemahaman akan jati diri manusia sebagai individu yang ada dalam kebersamaan dan untuk mencapai suatu kehidupan yang didasarkan pada budaya ekologis, para pendidik harus mampu mengembangkan suatu pendidikan yang mengajak anak didik sungguh menyadari keberadaan mereka sebagai bagian dari alam ini sehingga setiap anak didik berusaha untuk memiliki rasa cinta akan lingkungan dan menyadari bahwa setiap ciptaan yang ada di alam semesta ini merupakan saudara bagi yang lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Daryanto & Suprihatin (2013: 1) bahwa pendidikan lingkungan hidup merupakan pendidikan tentang lingkungan hidup dalam konteks internalisasi secara langsung maupun tidak langsung dalam membentuk setiap pribadi menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab atas alam yang dipercayakan oleh Allah kepada manusia untuk dijaga dan dirawat sebagai tanggapan atas cinta Allah kepada manusia.

Dalam GT art. 18 mengatakan bahwa “Pedagogi Fransiskan dapat dan harus memberikan sebuah model alternatif tentang pribadi yakni Pribadi yang menjalin relasi dengan alam, sesama, Allah dan diri sendiri”. Bagi Fransiskus Asisi, relasi itu ada 2 aspek : “Persaudaraan dan Kedinaan” adalah pusat dan inti fundamental dari relasi interpersonal.

1) Persaudaraan

Menjadi “saudara” memiliki dasarnya dalam kebenaran Wahyu bahwa kita semua adalah Anak-anak dari Bapa yang sama (Mat 23:9). Santo Fransiskus dari Asisi mengembangkan gagasan persaudaraan menjadi lebih luas dan menyeluruh atau bersifat universal. Fransiskus tidak hanya membangun persaudaraan dengan sesama manusia tetapi bahkan memandang seluruh ciptaan yang ada di dunia ini sebagai saudara dan saudari. Ketika Fransiskus merenungkan bahwa segala sesuatu yang ada berasal dari pencipta yang satu dan sama, ia dipenuhi dengan kasih sayang yang besar dan memanggil semua makhluk, sekalipun yang terkecil sebagai saudara dan saudari. Paus Fransiskus dalam ensikliknya (LS, 11:20) kembali menegaskan bahwa sikap St. Fransiskus ini bukan sesuatu yang bersifat romantisme yang naïf, karena berdampak pada pilihan-pilihan yang menentukan kita dalam bersikap dan bertindak. Bercermin pada sikap sang santo, paus Fransiskus sangat menekankan kepada seluruh dunia untuk peduli alam dengan gerakan ekologi karena beliau meyakini bahwa dengan gerakan ekologi bisa membawa kemajuan yang besar bagi dunia ini (bdk. LS, art. 14)

Persaudaraan semesta yang dicita-citakan Fransiskus Asisi akan dapat terwujud bila dalam diri setiap makhluk terdapat sikap untuk tidak hanya mencintai diri sendiri (egois) tetapi juga memiliki cinta akan lingkungan hidupnya. Cinta ini pada akhirnya juga akan bermuara pada keselamatan dirinya sendiri sebab dunia kita ini tercipta sebagai sebuah ekosistem di mana semua makhluk ada dalam suatu mata rantai yang saling melengkapi satu sama lain. Cinta ini juga yang akan mendorong setiap orang untuk terlibat dalam usaha untuk melestarikan alam ini sebagai bagian dari hidupnya sebagaimana yang dikatakan oleh paus Fransiskus dalam ensikliknya bahwa “pelestarian alam adalah bagian dari suatu gaya hidup yang melibatkan kemampuan untuk hidup bersama dalam persekutuan” (LS art. 228).

2) Kedinaan

Menjadi “dina” memiliki dasarnya bahwa : Yesus adalah Guru dan Tuhan, menjadi Hamba dan melayani saudara-saudara-Nya. Kedinaan memiliki nuansa khusus dibandingkan dengan kemiskinan. Kedinaan lebih menunjukkan sikap hati yang mau merendah. Fransiskus menghayati perendahan diri ini terdorong oleh karena kekagumannya akan Allah yang dalam pengalaman imannya hadir sebagai Allah yang merendah. Allah yang sudi menjadi manusia dalam diri Kristus dan berbela rasa dengan penderitaan manusia. Maka sikap rendah hati berbeda dengan perasaan rendah diri/minder yang lebih merupakan kerapuhan jiwa.

Sikap rendah hati pertama-tama lahir dari pengakuan diri akan nilai manusia di hadapan Allah: sebagai abu yang tidak ada apa-apanya, namun belajar

dari pengalaman umat beriman keberadaan kita yang bagaikan abu bukanlah suatu fatalitas melainkan keadaan yang patut disyukuri karena Allah kita adalah Allah yang tidak akan menolak hati yang remuk redam, Allah yang berbelaskasih atas kerapuhan ciptaan-Nya sehingga meski kita abu tetapi Allah mengasihi kita dan bahkan menganugerahkan rahmat-Nya dan bekerja melalui dan dalam diri kita sehingga kita dapat berbuat banyak hal yang baik dan benar. Fransiskus mengakui bahwa yang baik itu semuanya berasal dari Allah karena hanya Allahlah satu-satunya yang baik bahkan Dialah kebaikan itu sendiri. Maka orang yang rendah hati adalah orang yang tidak minder/rendah diri.

Minder adalah perasaan bahwa dirinya lebih rendah daripada yang lainnya, sementara orang yang rendah hati memahami bahwa kenyataannya semua orang sama, tidak ada yang lebih rendah dari yang lainnya, karena semua hanyalah debu belaka di hadapan Tuhan. Tetapi orang yang rendah hati juga tidak sombong bila mengalami kesuksesan dalam hidup karena sadar bahwa semua kebaikan itu dapat terjadi dalam dirinya karena Allah yang berkenan bekerja dalam dirinya sehingga Allah jugalah yang patut dipuji karenanya. Selain itu karena percaya akan penyertaan Allah pada orang-orang yang rapuh dan kecil maka orang rendah hati yang menyadari kerapuhan dan kekecilannya justru tidak akan pernah merasa putus asa dalam hidup karena yakin Tuhan akan membantunya.

Kedinaan juga merupakan sikap hati terhadap kekayaan. Baik kekayaan rohani seperti bakat, intelektual, atau talenta yang kita miliki juga kekayaan dalam

arti jasmani seperti uang, rumah, harta benda dsb. Kedinaan mengajak kita untuk melihat dan memandang semua kekayaan tersebut bukan sebagai milik kita pribadi tetapi milik Tuhan. Konsekuensinya adalah semua kekayaan itu hendaknya digunakan bukan hanya menurut kemauan dan untuk kepentingan serta kesenangan kita sendiri tetapi digunakan sesuai kehendak Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan. Apa kehendak Tuhan dalam hal tersebut? Tuhan sendiri sudah menunjukkan diri sebagai pribadi yang solider karena menginginkan semua makhluknya selamat sejahtera maka kehendak Tuhan dalam penggunaan harta kekayaan tentunya agar harta tersebut dipakai sebesar-besarnya untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan semakin banyak orang/masyarakat. Oleh karena itu kedinaan pada akhirnya akan mendukung dan menghasilkan persaudaraan yang lebih kokoh.

b. Ekopedagogi

Ekopedagogi merupakan suatu pendidikan yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita ekologi baru-peradaban yang berkelanjutan sehingga anak-anak dan orang muda dapat mewujudkannya dengan bantuan para pendidik dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ekopedagogi mengajak manusia untuk tidak melihat dirinya sebagai tuan dan penguasa atas bumi ini melainkan hadir sebagai anak dan murid dari bumi yang merupakan “ibu” dan “guru” (Mater et magistra) karena sebagai ibu, bumi mengasuh dan menyuap kita dengan aneka tumbuhan yang terhampar indah di alam ini (bdk. Gita Sang Surya Fransiskus Asisi) dan sebagai Guru, bumi

menampakkan dalam dirinya “sekolah Kehidupan” yang memberi hikmat dan pengertian bahwa manusia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari alam ini. Sumber ekopedagogi yang utama adalah berdasarkan pada inspirasi dari sikap dan perilaku St. Fransiskus dari Asisi terhadap alam (bumi). Atas dasar ini, ekopedagogi menekankan karakter pendidikan yang partikular (GSS edisi Mei-juni: 2). Artinya pendidikan yang mengutamakan pengalaman yang berspiritkan persaudaraan dan kekeluargaan. Melalui pengalaman, anak didik diberi kesempatan untuk mengalami langsung realitas yang ada dalam berelasi dengan alam, sedangkan persaudaraan dimaksudkan agar anak didik memiliki kesadaran untuk mengenal dan menemukan diri mereka sendiri dengan semua ciptaan yang ada di bumi pertiwi ini sebagai saudara satu sama lain. Apakah ekopedagogi mengabaikan Teori? Dalam ekopedagogi, teori merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman. Dalam ekopedagogi, teori tidak lagi sesuatu yang hanya berhenti di “kepala” tetapi teori menyatu dan menyerap kedalam seluruh diri menjadi suatu keutuhan dari diri anak didik dalam berelasi dengan seluruh alam ciptaan yang ada.

Ekopedagogi bertujuan untuk mewargabumikan manusia (Mbula, 2015:7). Mewargabumikan manusia berarti mendorong setiap orang untuk mengintegrasikan keadilan sosial, perdamaian dan pendidikan lingkungan. Pendidikan lingkungan hidup merupakan upaya mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang nilai-nilai lingkungan hidup (bdk. Daryanto & Suprihatin, 2013: 20) tujuan dari

pendidikan lingkungan hidup mendorong dan memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dapat menumbuhkembangkan kepedulian untuk melindungi, memperbaiki dan memanfaatkan alam secara bijaksana dan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Melalui ekopedagogi membantu manusia untuk memahami hubungannya dengan alam. Ekopedagogi melihat pendidikan bukan untuk mencapai tujuan dalam dirinya sendiri melainkan untuk mencapai masa depan bersama. Para Fransiskan dan para pendidik (Guru-Guru YEMS) sebagai sasaran ekopedagogi untuk berkomitmen terhadap hak asasi manusia, perdamaian, dan membina persahabatan dengan alam yang harus ditanamkan bagi anak didik sehingga anak didik lebih peduli terhadap alam sekitarnya.

Dohut (2015: 39-43) membahas soal ekopedagogi menjadi salah-satu jawaban menuju pertobatan ekologi. Menurut Dohut, melalui ekopedagogi melatih anak didik untuk bertangung jawab dan respek terhadap alam semesta. Beliau menguraikan beberapa point penting dari ekopedagogi yakni:

1. Ekopedagogi berorientasi pada penyadaran kognitif bahwa bumi mengalami kerusakan. Kerusakan bumi bukan lagi sesuatu yang rahasia tetapi suatu kenyataan sehingga butuh kesadaran dari setiap pribadi untuk merawat bumi ini. 2. Penyadaran kognitif harus sampai menumbuhkan kepedulian untuk bertanggung

bumi harus menjadi penggerak bagi setiap pribadi untuk memberi perhatian yang khusus bagi perkembangan alam di bumi pertiwi ini.

Dokumen terkait