• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.1. Hasil Pengukuran Masing-masing Perangkat Gramatikal

4.1.1.4. Frase Nomina Indefinit

Suatu hari ia( Layagh) pergi kepinggir hutan

42. ni hadi ie jumpe ghut kalak metue disana ie jumpa sama orang tua

„Di sana ia( Layagh) bertemu dengan orang tua‟

Topik Silayagh pada 38 disebutkan secara berturut-turut sampai pada klausa 42 dalam bentuk anafora kosong Ø dan kata ganti diri ie . Dari data ditemukan, topik yang merujuk pada frasa kata nama lebih dipertahankan kemunculannya daripada bentuk topik lainnya. Dengan demikian topik dalam bentuk frasa kata nama memiliki kesinambungan tinggi untuk keberterusan topik.

4.1.1.4. Frase Nomina Indefinit

Topik dalam bentuk frase nomina indefinit memiliki jarak referensi yang sangat jauh dan kemunculan topik dalam tiga klausa secara berturut-turut, hampir keselurahan mendapat cukup gangguan dari topik lain dan topik juga tidak dipertahankan keberterusannya pada penyebutan selanjutnya. Penjabaran topik dalam bentuk frase nomina indefinit untuk masing-masing ukuran kesinambungan topik dapat dilihat dalam tabel dan uraian berikut ini :

Tabel 4.4 Frase Nomina indefinit

Ukuran Jumlah Token Nilai Nilai Rata-Rata

Jarak Referensi

` Jumlah keseluruhan token dalam bentuk frase nomina indefinit adalah 128.

Setiap token diberi nilai berdasarkan rentang nilai yang sudah ditentukan untuk ketiga ukuran kesinambungan topik, yaitu jarak referensi, kemungkinan gangguan dan keberterusan topik. Dari hasil pengukuran, diperoleh nilai untuk jarak referensi 1687, untuk kemungkinan gangguan 251 dan untuk keberterusan topik 79. Sedangkan nilai rata-rata diperoleh dari jumlah nilai yang diperoleh token dibagi dengan jumlah kemunculan token tersebut. Nilai rata-rata untuk jarak referensi adalah 1687 : 128 = 13,18. Nilai rata-rata untuk kemungkinan gangguan adalah 251 : 128 = 1,12. Nilai rata-rata untuk keberterusan topik adalah 79 : 128

= 0,62. Penghitungan yang lebih jelas masing-masing ukuran kesinambungan topik untuk topik dalam bentuk frase nomina indefinit dapat dilihat pada (lampiran 4). Berikut ini adalah hasil pengukuran frase nomina indefinit pada ketiga ukuran kesinambungan topik, yaitu JR, KG, dan KT.

4.1.1.4.1. Jarak Referensi

Untuk jarak referensi, selisih antara nilai topik (1687) dengan jumlah kemunculannya (128) terpaut sangat jauh dan nilai rata-rata yang diperoleh (13,18) sangat tinggi. Artinya, dari rentang nilai 1-20 yang sudah ditentukan untuk jarak referensi, mayoritas topik mendapat nilai terbesar (20). Ini berarti, jarak rujuk topik sangat jauh sehingga topik sangat sulit teridentifikasi. Selain itu, dari 128 jumlah token hanya 12 topik mendapat nilai terendah (1). Untuk keberterusan topik, hanya 1 topik mendapat nilai terbesar (7), mayoritas topik mendapat nilai (0). Pengukuranfrase nomina indefinit pada jarak referensi dapat dilihat pada contoh berikut ini:

` 43. ghaje ghut pemainesughi [P IND. JR 20] senang ate

raja sama permaisuri senang hati „raja berbahagia bersama permaisurinya‟

44. waktu embah belawe [P IND. JR 20]

waktu bawa ke air

„pada saat memberi nama putra raja‟

45. keghine kalak[P IND. JR 20] niundang semua orang di undang

„seluruh rakyat di undang‟

46. ghut kane niundang kehine si ghimba [P IND. JR 20]

sama juga diundang semua di rimba

„ Ikut juga di undangnya semua binatang yang ada di hutan rimba 47. ghoh keghine binatang[P IND. JR 20] ngikuti acagha ne

datang semua binatang ikut acara nya

„semua binatang datang mengikuti acara raja‟

48. tebegeime penceghane[P IND. JR 20] nebutken gelagh anak ghaje terdengar pembawa acara menyebutkan nama anak raja

„terdengar pembawa acara mengumumkan nama anak raja‟

Berdasarkan contoh di atas, dari klausa 43 sampai dengan 48, jarak rujuk topik tidak dapat teridentifikasi karena topik-topik tersebut merupakan topik-topik baru dan bukan topik-topik utama. Oleh karena jarak rujuk topik sulit terprediksi, menyebabkan kesinambungan topik menjadi rendah.

4.1.1.4.2. Kemungkinan Gangguan

Untuk kemungkinan gangguan, selisih antara nilai topik (251) dengan jumlah kemunculannya (128) terpaut cukup jauh. Nilai rata-rata (1,12) yang diperoleh cukup tinggi. Artinya, dari rentang nilai 1-2 yang sudah ditentukan untuk kemungkinan gangguan, mayoritas topik mendapat nilai maksimal (2). Ini

` berarti, mayoritas kemunculan topik pada tiga klausa sebelumnya secara berturut-turut mendapat gangguan dari topik lain, sehingga rujukan topik sulit teridentifikasi berdasarkan pengukuran kemungkinan gangguan. Dari 128 jumlah token, hanya 3 topik mendapat nilai minimal (1) selebihnya mendapat nilai maksimal (2). Pengukuran frase nomina indefinit pada kemungkinan gangguan dapat dilihat pada contoh berikut ini:

49. ndube ni tanoh Alas [ P IND. KG 2]

dulu, di tanah alas

„pada zaman dahulu di taah Alas‟

50. lot sebuah kekhajeen [ P IND. KG 2]

ada satu kerajaan

„ada sebuah kerajaan‟

51. kekhajenen ni peghintahi se kalak ghaje [ P IND. KG 2]

kerajaa diperintahi satu orang raja

„kerajaan itu di perintahi seorang raja‟

52. kasne ni Ngkhan [ P IND. KG 2]

tempat di Ngkeran

„kerajaan tersebut berada di Keran‟

Kemunculan topik mulai dari klausa 49 sampai dengan klausa 52 selalu mendapat gangguan dari topik lain. Masing-masing topik merupakan topik-topik baru sehingga jarak rujuk topik sulit teridentifikasi khususnya pada lingkungan tiga klausa sebelumnya. Hal ini menyebabkan topik dalam bentuk frase nomina indefinit memiliki kesinambungan rendah.

` 4.1.1.4.3. Keberterusan Topik

Untuk keberterusan topik, selisih antara nilai topik (79) dengan jumlah kemunculannya (128) terpaut sangat jauh dan nilai rata-rata (0.61) yang diperoleh cukup rendah Artinya, dari rentang nilai yang tidak terbatas, yaitu 0 +, yang sudah ditentukan untuk keberterusan topik, mayoritas topik mendapat nilai terkecil (1). Hal ini berarti, kemunculan topik secara berturut-turut dianggap tidak terlalu penting, sehingga topik agak sulit teridentifikasi. Dari 128 jumlah token hanya 1 topik mendapat nilai terbesar (7), mayoritas topik mendapat nilai (0).

Pengukuran frase nomina indefinit pada keberterusan topik dapat dilihat pada contoh berikut ini:

53. Tande wakil [P IND. KT 1] nebutaken pendapetne Tanda wakil nyebutkan pendapatnya

„wakil raja mengemukakan pendapatnya „

54. te mekate be ghaje [P IND. KT 0]

lalu berkata pada raja,

„Lalu ia berkata kepada raja‟

55. cube kite engketken ie be Kandang pelaghene [P IND. KT 1]

coba kita masukan dia pada Kandang hewan „coba kita masukkan dia kedalam kandang ternak‟

56. de pelaghenen [P IND. KT 0] mapot mengket kalau peliharaan ngakmau masuk

„ kalau hewan tidak mau masuk‟

57. mbah laus be ghimbe [P IND. KT 0]

Bawa pergi pada hutan

„ bawa dia pergi ke hutan rimba‟

` Pada klausa 53, topik tande wakil hanya disebutkan satu klausa di bawahnya selebihnya mulai dari klausa 54, topik tidak dipertahankan kemunculannya, pada klausa 55 ada keberterusan topiknya, pada klausa 56 sampai 57 topik tidak dipertahankan kemunculannya. Hal ini disebabkan topik-topik tersebut bukanlah topik utama, dan kemunculannya haya sesekali saja. Oleh karena itu kesinambungan topik menjadi rendah.