V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3. FRONTIER ANALYSIS
Frontier Analysis digunakan untuk menganalisis efiisiensi dari UKM Jamur Tiram. Variabel inputoutput dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kinerja UKM Jamur Tiram. Besarnya skor efisiensi dan peningkatan efisiensi akan diperoleh pada akhir analisis. Program yang digunakan adalah Banxia Frontier Analysis. Proses analisis diawali dengan penentuan
input dan output serta penentuan model perhitungan. Analisis dilakukan dengan penerapan model perhitungan maximizing output. Model perhitungan ini dilakukan dalam rangka menghitung nilai efisiensi dengan memaksimalkan output berdasarkan input yang diberikan.
0 20 40 60 80 100 KEUANGAN TENAGA KERJA MARKET MANAJEMEN LINGKUNGAN TEKNOLOGI MATERIAL
GRAFIK LAYANG-LAYANG VARIABEL INPUT -OUTPUT UKM PENGOLAHAN JAMUR TIRAM
A B F
40
Ouput yang dihasilkan berupa nilai skor efisiensi, input/ouput contribution dan grafikpotensial improvement untuk UKM yang belum efisien.
Frontier Analysis UKM Budi Daya Jamur Tiram
Berdasarkan Tabel 22 dapat diketahui bahwa dari lima UKM budi daya jamur tiram, hanya satu UKM yang nilai efisiensinya belum mencapai 100%, yaitu UKM C dengan nilai efisiensi 25.21%. UKM yang memiliki efisiensi 100% merupakan UKM yang dinilai paling optimal dalam pemanfaatan sumberdayanya. UKM C diharapkan dapat meningkatkan efisiensinya dengan melakukan peningkatan pada variabel input output sesuai dengan
potential improvement-nya.
Tabel 22. Skor efisiensi UKM budi daya jamur tiram di Kabupaten Bogor
UKM Skor Efisiensi (%)
A 100
B 100
C 25.21
D 100
E 100
Grafik kontribusi variabel input output merupakan grafik yang memberikan informasi mengenai pengaruh penggunaan variabel input output yang digunakan terhadap efisiensi kinerja. Grafik berwarna hijau menunjukkan besarnya kontribusi variabel input, sedangkan grafik yang berwarna biru menunjukkan besarnya kontribusi variabel output. Penjumlahan dari nilai kontribusi disetiap variabel akan menghasilkan nilai 100%. Pada proeses perhitungan efisiensi dengan menggunakan Frontier Analysis, data yang digunakan adalah sub variabel. Tujuan dari penggunaan sub variabel sebagai data inputan adalah untuk mendapatkan hasil analisis penggunaan sumber daya yang lebih spesifik, sehingga memberikan informasi yang lebih detail apakah sumber daya telah digunakan sudah tepat atau belum.
Gambar 18. Kontribusi input/ouput UKM budi daya A
Gambar 18 menunjukkan grafik kontribusi variabel input-ouput UKM budi daya A. Jumlah penjualan (100%) yang didapat UKM A dipengaruhi oleh variabel manajemen (73%)
41
dan jumlah tenaga kerja (27%). Gambar 19 menunjukkan grafik kontribusi variabel input output UKM budi daya B. Nilai efisiensi UKM budi daya B dipengaruhi oleh variabel jumlah takaran (4%), jumlah tenaga kerja (13%), gaji tenaga kerja (34%), dan keuangan (50%) untuk mendapatkan jumlah penjualan (100%).
Gambar 19. Kontribusi input/output UKM budi daya B
Gambar 20 menujukkan grafik kontribusi variabel input output UKM C. Nilai efisiensi UKM C dipengaruhi oleh turunan bibit (5%), jumlah bag log (44%), biaya produksi (51%), untuk mendapatkan nilai variabel jumlah penjualan (100%). Frontier Analysis
menyediakan informasi bagi unit yang belum mencapai 100% (UKM C) yakni mengenai variabel yang dapat ditingkatkan agar mencapai efisiensi kinerja 100% berupa grafik
Potential Improvement. Berdasarkan Gambar 21 dapat diketahui bahwa untuk meningktakan efisiensi kinerja menjadi 100%, UKM C perlu meningkatkan Penjualan sebesar 296% dengan cara meningkatkan harga jual jamur tiram. Penurunan variabel manajemen (29%), limbah (33%), jumlah takaran bibit yang digunakan (51%), teknologi (39%), jam kerja (39%), jumlah tenaga kerja (32%), gaji tenaga kerja (65%), keuangan/modal (11%) menunjukkan bahwa penggunaan kedua variabel tidak diperlukan seperti saat ini untuk mencapai target
output.
42
Gambar 21. Potential improvement UKM budi daya C
Gambar 22 menujukkan grafik kontribusi variabel input output UKM D. Nilai efisiensi UKM D dipengaruhi oleh turunan bibit (2%), Jumlah bag log (48%), biaya produksi (49%) untuk mendapatkan jumlah penjualan 100%. Gambar 23 menunjukkan grafik kontribusi variabel input output UKM E. Nilai efisiensi UKM E dipengaruhi oleh turunan bibit (3%), jumlah bag log (36%), biaya produksi (61%) untuk mendapatkan jumlah penjualan 100%.
Gambar 22. Kontribusi input/output UKM budi daya D
43
Gambar 24 menujukkan grafik Total Potential Improvements. Total Potential Improvements menggambarkan peningkatan kinerja yang perlu dilakukan oleh UKM. Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa UKM budi daya jamur tiram di Bogor dapat meningkatkan pendapatannya sebesar 49.47% dengan menaikkan harga jual, dan mencari tempat pemasaran yang baru. Sementara efisiensi dapat dilakukan untuk variabel keuangan/modal, gaji tenaga kerja, jumlah tenaga kerja, jam kerja, takaran bibit, limbah dan manajemen.
Gambar 24. Diagram total potential improvements UKM budi daya
Efficiency Frontier Budi Daya Jamur Tiram
Efficiency frontier merupakan analisis secara grafis yang menggambarkan posisi kedekatan (peer position) satu UKM dengan UKM lainnya. Efficency frontier hanya dapat dilakukan dengan 2 input dan 1 output untuk model perhitungan maximaizing ouput. Analisis efisiensi kinerja untuk UKM jamur tiram terdiri dari sepuluh input dan satu output, hal ini akan mengakibatkan persamaan menjadi multidimensi dan tidak dapat ditampilkan dengan grafik. Oleh karena itu, untuk melakukan frontier plot perlu melakukan eliminasi terhadap 8 variabel input. Eliminasi dilakukan berdasarkan korelasi antara variabel. Variabel yang memiliki korelasi paling tinggi adalah biaya produksi (0,40) dan jumlah bag log (0,31).
Pada Gambar 25 ditunjukkan posisi masing-masing UKM dalam garis frontier. Garis
frontier adalah garis batas yang menghubungkan UKM yang memiliki efisiensi 100%. Analsisi efisiensi dengan 2 input menghasilkan skor yang berbeda. UKM yang memiliki efisiensi 100% adalah UKM B dan D. Semakin jauh UKM dari garis frontier maka efisiensi UKM semakin kecil. Garis biru merupakan garis referensi efisiensi.
Tabel 22 menunjukkan potensial peningkatan input output dari UKM yang belum efisien. UKM A, C, dan E dapat meningkatkan efisiensi dengan memaksimalkan jumlah penjualan, yakni meningkatkan harga jual, mencari pasar baru untuk menjual jamur segar dengan harga tinggi.
44
Gambar 25. Grafik Frontier Plot UKM Budi daya jamur tiram di Bogor Tabel 22. Daftar potensial peningkatan analisis efisiensi UKM budi daya jamur tiram
UKM Jumlah
Bag log
Biaya Produksi
Penjualan Skor Efisiensi (%)
A 0 -4 41 70.8
C 0 0 308 24.5
E 0 -7 10 90.7
Analisis dengan rasio produktivitas dan frontier anlaysis harus dilakukan secara bersamaan. Frontier analysis menghasilkan input output contribution dan potential improvements untuk peningkatan efisiensi. Efisiensi yang dihasilkan oleh frontier analysis
merupakan efisien relatif dimana UKM yang efisien dapat memperoleh skor 100%. Rasio produktivitas digunakan untuk mengetahui apakah UKM yang memiliki efisiensi relatif 100% masih memerlukan peningkatan kinerja atau tidak.
Frontier Analysis UKM Pengolahan Jamur Tiram
Tabel 23 menunjukkan skor efisiensi UKM pengolahan jamur tiram di Bogor. Dari tiga reponden, hanya UKM B yang memiliki nilai efisiensi 100%. UKM A dan F diharapkan dapat meningkatkan efisiensinya dengan melakukan peningkatan pada variabel input output
sesuai dengan potential improvement-nya.
Tabel 23. Skor efisiensi UKM pengolahan jamur tiram di Kabupaten Bogor
UKM Skor Efisiensi (%)
A 48.95
B 100.00
F 54.52
45
Gambar 26. Kontribusi input ouput UKM pengolahan jamur tiram A
Berdasarkan Gambar 26 diketahui bahwa dari tujuh data yang dimasukkan, variabel yang berpengaruh terhadap nilai efisineis kinerja UKM A adalah lingkungan (12%), manajemen (12%), teknologi (25%), bahan baku (28%), tenaga kerja (5%), keuangan/modal (18%) dan market/hasil penjualan (100%). Perbaikan yang dapat dilakukan UKM A untuk meningkatkan efisiensi menjadi 100% dapat dilihat pada Gambar 26. Diagaram potential improvement menujukkan UKM A sebaiknya meningkatkan variabel tenaga kerja sebanyak 107%, keuangan 104%, dan market/hasil penjulan sebesar 104% dengan meningkatkan kapasitas produksi.
Gambar 27. Diagram potential improvement UKM pengolahan A
Gambar 28 menunjukkan grafik kontribusi variabel inputoutput UKM pengolahan B. Nilai efisiensi UKM pengolahan B dipengaruhi oleh lingkungan (10%), manajemen (10), teknologi (25%), bahan baku (20%), tenaga kerja (6%), keuangan (28%) dan market (100%). Nilai efisensi UKM F dipengaruhi oleh lingkungan (10%), manajemen (10), teknologi (35%), bahan baku (20%), tenaga kerja (6%), keuangan (18%) dan market (100%).
46
Gambar 28. Kontribusi input/output UKM pengolahan B
Gambar 29. Kontribusi input/ouput UKM pengolahan F
Efisiensi UKM pengolahan F belum mencapai 100%. Nilai efisiensi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan varabel lingkungan sebesar 4% dengan melaksanakan pengolahan limbah dan peningkatan dukungan pemerintah. Variabel manajemen sebesar 4% dengan melakukan perencanaan produksi yang lebih baik, bahan baku 19% dengan mencari jamur tiram segar yang harganya lebih murah, serta keuangan (modal) sebesar 83% untuk meningkatkan kapasitas produksi.
47
Gambar 31 menujukkan grafik Total Potential Improvements. Total Potential Improvements menggambarkan peningkatan kinerja yang harus dilakukan oleh UKM pengolahan jamur tiram. Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa UKM pengolahan jamur tiram dapat meningkatkan penggunaan variabel keuangan (modal) sebesar 30.32, tenaga kerja 16.36%, hasil penjualan 30.32% dengan melakukan peningkatan kapasitas produksi serta melakukan efisiensi pada variabel teknologi, manajemen, dan lingkungan.
Gambar 31. Diagram Total Potential Improvements UKM pengolahan jamur tiram di Bogor Pada Gambar 32 ditunjukkan posisi masing-masing UKM Pengolahan dalam garis
frontier. Dua input yang digunakan adalah keuangan (0.98) dan tenaga kerja (0.47), sedangkan outputnya adalah market (0.98). UKM Pengolahan yang memiliki efisiensi 100% adalah UKM B dan F. Semakin jauh UKM dari garis frontier, efisiensi UKM semakin kecil. UKM B mampu menjual produk dengan harga mahal dengan biaya produksi rendah. UKM F juga mampu menjual produk dengan harga tinggi dengan jumlah jam kerja lebih sedikit dibandingkan UKM pengolahan lainnya. Sedangkan UKM A, memiliki biaya produksi tinggi dengan harga jual rendah dan upah tenaga kerja yang besar.
48
Tabel 24. Daftar potensial peningkatan analisis efisiensi UKM pengolahan jamur tiram
UKM Keuangan Tenaga Kerja Market Skor Efisiensi (%)
B - -1 - 99.93
F 3 -47 3 96.33
Tabel 24 menunjukkan potensial peningkatan input output dari UKM pengolahan jamur tiram yang belum efisien. Data ini dihasilkan dari perhitungan dengan menggunakan 2
input (keuangan dan tenaga kerja) dan 1 output (market). Peningkatan penggunaan variabel keuangan dan maket yang dibutuhkan UKM A hanya sedikit, dan pemanfaatan variabel tenga kerja juga tidak perlu dikurangi. Hal ini dikarenakan nilai efisiensi dirasa sudah tinggi.
UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor secara keseluruhan belum memiliki eifsiensi yang baik Hal ini terlihat dari nilai efisiensi variabel input-output yang telah diidentifikasi sebelumnya. UKM budi daya belum efisiensi jika dianalisis berdasarkan dua aspek yang paling mempengaruhi nilai efisiensi, yakni jumlah bag log dan biaya produksi. Efisiensi UKM budi daya dapat ditingkatkan dengan pengunaan mesin sterilisasi untuk menekan biaya produksi. Nilai efisiensi UKM pengolahan dtentukan oleh modal yang digunakan, pemberdayaan tenaga kerja serta hasil penjualan. UKM pengolahan dapat ditingkatkan efisiensinya dengan menambah kapasitas produksi serta menambah daerah pemasaran.