BAB II LANDASAN TEORI
B. Fungsi, Manfaat Dan Peranan Baitul Mal Wa Tamwil (BMT)
1. Mengidentifikasi, memobilisasi, mengorganisasi, mendorong dan mengembangkan potensi ekonomi anggota, kelompok anggota muamalat (Pokusma) dan daerah kerjanya.
2. Meningkatkan kualitas SDM anggota dan pokusma menjadi professional dan islami sehingga semakin utuh dan tangguh dalam menghadapi persaingan global.
3. Menggalang dan memobilisasi potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota.
4. Menjadi perantara keuangan antara gharim ( yang berhutang ) sebagai shahibul maal dengan duafa sebagai mudharib, terutama untuk dana sosial seperti zakat, infaq, sedekah, wakaf, hibah dll.
5. Menjadi perantara keuangan antara pemilik dana baik sebagai pemodal maupun penyimpan dengan pengguna dana untuk pengembangan usaha produktif.
Manfaat dan Tujuan Baitul Mal wa Tamwil (BMT) Sebagai lembaga pengelola dana masyarakat dalam skala kecil dan menengah,
11Ibid Hal 10
menawarkan pelayanan jasa dalam bentuk kredit dan pembiayaan kepada masyarakat. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pelayanan BMT, antara lain:
1. Meraih keuntungan bagi hasil dan investasi dengan cara syariah.
2. Pengelolaan dana berdasarkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan akan menjadikan setiap simpanan dan pinjaman di BMT aman baik secara syari’i maupun ekonomi.
3. Komitmen kepada ekonomi kerakyatan, di mana BMT membuat setiap transaksi keuangan, memperoleh kredit dan pengelolaannya bermanfaat bagi pengembangan ekonomi umat Islam.
4. BMT dan masyarakat dapat berperan membangun citra perekonomian yang dikelola umat Islam.
5. Menggairahkan usaha-usaha kecil produktif dan membebaskan mereka dari jeratan rentenir.
6. Partisipasi positif bagi kemajuan lembaga-lembaga keuangan dan perbankan Islam termasuk di dalamnya BMT.
Adapun peranan BMT antara lain adalah sebagai berikut:
1. Menjauhkan masyarakat dari praktek ekonomi non-syariah. Aktif melakukan sosialisasi di tengah masyarakat tentang arti penting sistem ekonomi Islam. Hal ini biasa dilakukan dengan pelatihanpelatihan mengenai cara-cara bertransaksi Islami.
18
2. Melakukan pembinaan dan pendanaan usaha kecil. BMT harus bersikap aktif menjalankan fungsi sebagai lembaga keuangan mikro.
3. Melepaskan ketergantungan pada rentenir.
4. Menjaga keadilan ekonomi masyarakat dengan distribusi yang merata.12
C. Manajemen Pemasaran Baitul Mal Wa Tamwil 1. Konsep Pemasaran Syariah
Pasar merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim dan bisa dijadikan sebagai katalisator hubungan transendental muslim dengan tuhannya. Dengan kata lain, bertransaksi dalam pasar merupakan ibadah seorang muslim dalam kehidupan ekonomi.13
Konsep dasar pemasaran Islam adalah tata olah cipta, rasa, hati dan karsa (implementasi) yang dibimbing oleh integritas keimanan, ketakwaan, dan ketaatan kepada syariat Allah swt Dalam pemasaran Islam, pemasaran dirancang berdasarkan 3 kombinasi penting.
a. Pemasaran pada tahap kecerdasan intelektual yakni berfokus kepada program (product, place, price, promotion –marketing mix), diferensiasi dan selling.
12 Rini Hayati Lubis, “Peranan Baitul Mal Wat Tamwil Terhadap Perekonomian Sumatera Utara”, AL-MASHARIF, Vol 3, No. 2 (Juli-Desember 2015). Hal 121-122
13 Nurul Huda dan Purnama Putra dkk, Baitul Mal Wa Tamwil ( Jakarta , Sinar Grafika Offset, 2016) hal 199
b. Pemasaran pada tahap kecerdasan emosional ditandai dengan hadirnya konsep: Customer relationship, emotional branding, dan experientang marketting.
c. Pemasaran pada tahap kecerdasan spiritual yakni pemasaran yang dibimbing oleh nilai-nilai akidah yaitu : jujur, tanggung jawab (shiddiq, amanah) cerdas dan bijaksana (fathanah) dan komunikatif (tabligh). Inti dari ketiga konsep tersebut adalah memasukkan value emosional untuk melayani pelanggan dengan cinta sehingga menciptakan pengalaman-pengalaman baru dalam mengkonsumsi produk.
Kegiatan pemasaran Islam merupakan bentuk muamalah yang berlandaskan pada firman Allah swt dan di contohkan oleh Rasulullah saw, maka dalam kegiatannya tidak boleh bertentangan dengan akad dan prinsip muamalah. Karakteristik pemasaran syariah yang dapat menjadi panduan bagi para pemasar,yakni:14
a. Teistis (Rabbaniyah)
Jiwa seseorang pemasar syariah meyakini bahwa hukum syariat adalah hukum yang sempurna; paling adil:
serta paling mampu mewujudkan kebenaran, memusnahkan kebatilan , dan menyebarluaskan kemaslahatan. Pemasar
14 Nurul Huda dan Purnama Putra dkk, Baitul Mal Wa Tamwil ( Jakarta , Sinar Grafika Offset, 2016) hal 199
20
syariah selain menaati hukum syariah, juga menjauhi segala larangannya dengan sukarela.
b. Etis (Akhlaqiyyah)
Pemasar syariah mengedepankan nilai-nilai akhlak dalam seluruh aspek kegiatannya. Ia pun fleksibel dalam bersikap dan bergaul. Selain itu, ia sangat memahami bahwa dalam lingkungan yang heterogen.
c. Realistis (Waqi’iyyah)
Pemasar syariah adalah pemasar yang berpenampilan bersih, rapi dan bersahaja. Ia bekerja dengan sangat profesional dan mengedepankan nilai-nilai kesalehan.
d. Humanistis (Insaniyyah)
Pemasar syariah yang memiliki sifat humanitis menyadari bahwa syariah diciptakan agar derajat manusia terangkat dan sifat kemanusiaannya terjaga.
2. Strategi pemasaran Baitul Mal Wa Tamwil
Strategi pemasaran produk ialah suatu cara yang ditempuh dalam rangka menawarkan dan menjual kepada masyarakat produk-produk yang dimiliki. Sedangkan menurut pengertian syariah pemasaran adalah sebuah bentuk tindakan dan langkah-langkah kebijakan yang
sejalan dengan prinsip syariah. Dalam memasarkan produk BMT, pengelola perlu memperhatikan beberapa hal penting berikut:15
a. Meluruskan Niat
Langkah pertama yang harus dilalui oleh pengelola BMT sebelum mulai memasarkan produknya adalah dengan meluruskan niat, karena niat cermin perbuatan seseorang. Luruskan niat dengan selalu menyebut nama Allah swt, luruskan niat dengan melakukan tindakan yang sesuai dengan misi BMT, luruskan niat dengan dilandasi keyakinan bahwa memasarkan produk BMT juga merupakan salah satu bagian penting dari seangkaian perjuangan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi dan dakwah menuju jalan yang benar.
Meluruskan niat dalam esensi BMT disini adalah meluruskan arah kebijakan pengelolaan lembaga agar dapat sesuai dengan misi yang diembannya. Dengan niat yang lurus tentu akan melahirkan kebijakan-kebijakan positif yang bagi proses pencapaian maslahah sebagaimana yang dikehendaki syariah.
b. Memperhatikan Ulama
Pendekatan terhadap ulama juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh BMT sebelum memasarkan produknya.
15 Nurul Huda dan Purnama Putra dkk, Baitul Mal Wa Tamwil ( Jakarta , Sinar Grafika Offset, 2016) hal 200-201
22
Terutama untuk kalangan ulama yang berbeda pendapat dalam menilai keberadaan BMT. Dengan cara memberikan pengertian secara jelas kepada mereka bahwa operasional BMT dikelola dengan baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Bahkan tujuan berdirinya BMT adalah untuk kepentingan umat dan agar dapat meningkatkan ekonomi bangsa Indonesia.
Langkah-langkah strategis BMT pun harus dipikirkan secara jelas dengan cara mengukuhkan jalinan kerjasama antara BMT dengan lembaga atau organisasi-organisasi sosial keagamaan yang berada dibawah naungan ulama, antara lain dengan menawarkan produkproduk simpanan bagi hasil BMT, seperti Simpanan Pendidikan untuk para santri, Simpanan Haji untuk umat Islam yang telah berkecukupan.
c. Memperluas Jaringan Kerjasama (Kemitraan)
Langkah berikutnya yang harus dilalui pengelola dalam memasarkan produknya adalah memperluas jaringan kerjasama yang saling menguntungkan sepanjang tidak mengingkari prinsip-prinsip syariah. Kerjasama ini dilakukan agar BMT semakin kukuh dimasyarakat karena mengalirnya dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak. Tujuan adanya kerjasama ini ialah sebagai langkah strategis BMT dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemasaran di masa mendatang. Semakin banyak
kerjasama yang terjalin, maka semakin besar pula peluang BMT untuk lebih mudah dikenal oleh masyarakat dan target-target pemasaran pun akan lebih mudah dicapai. Dan manfaat dari terjalinnya kemitraan ini tidak hanya dirasakan oleh satu pihak melainkan semuanya.16
d. Jemput Bola
Sosialiasasi dan promosi secara lebih optimal merupakan suatu keharusan yang harus dijalankan oleh BMT, mengingat sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui perbedaan lembaga keuangan konvensional dan lembaga keuangan syariah.
Salah satu cara efektif yang dapat dilakukan BMT agar dapat mencapai target pemasaran produknya adalah dengan melakukan pendekatan “jemput bola”, pendekatan ini dapat dilakukan dengan cara petugas mendatangi calon anggota dirumah atau tempat-tempat usaha mereka. pendekatan ini memberikan begitu banyak kemudahan bagi calon nasabah, karena mereka tidak perlu lagi repot-repot berkunjung langsung ke BMT, terutama bagi calon nasabah yang memiliki tingkat kesibukan yang tinggi.
16 Ibid hal 202
24
Dalam pandangan Islam, jemput bola dipahami sebagai upaya BMT dalam mengembangkan tradisi silaturrahmi yang menurut keterangan Nabi saw, dapat menambah rezeki, memanjangkan umur, serta menjauhkan manusia dari dendam dan kebencian. Dan dengan begitu terbinalah persaudaraan yang baik antara BMT dengan nasabah dan antara muslim satu dengan muslim lainnya (ukhuwah Islamiyah).17
D. Pengertian Rentenir 1. Pengertian Rentenir
Menurut kamus besar bahasa Indonesia rentenir adalah orang yang mencari nafkah dengan membungakan uang.18Bunga yang ditetapkan merupakan suatu jenis hasil pekerjaan yang sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan lembaga non Bank dan Bank konvensional. Rentenir atau kegiatan rente adalah suatu aktifitas dimana seseorang meminjamkan uang dengan bunga yang berlipat-lipat yang memungkinkan bunga tersebut melebihi utang pokok jika cicilan yang terlambat.19
17Makhalul Ilmi SM, Teori dan Praktik Mikro Keuangan Syariah (Yogyakarta ;UII,202), hal 61
18 Hasan Alwi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan), Hal 453-454.
19Eka Nur Azizah, Skripsi:”Dampak Praktik Rentenir Terhadap Kesejahteraan Pedagang Didusun Kauman Kecamatan Kota Gajah Kabupaten Lampung Tengah,(IAIN Metro Lampung,2018).
Hal 9.
Menurut Suhrawardi, rente adalah keuntungan yang diperoleh seseorang karena jasanya telah meminjamkan uang untuk memperlancar kegiatan usaha perusahaan/ orang yang telah meminjam uang tersebut. Adapun yang melakukan kegiatan rente disebut rentenir.20
Berdasarkan penjelasan di atas peneliti memahami bahwa riba adalah satu hal yang benar-benar di larang dan harus di hindari oleh manusia, orang yang memakan riba akan diberikan hukuman yang berat oleh Allah SWT.
Dampak dari pinjaman rentenir adalah bahwa utang, dengan rendahnya tingkat penerimaan pinjaman dan tingginya biaya bunga, akan menjadikan peminjam tidak pernah keluar dari ketergantungan, terlebih lagi jika bunga atas utang tersebut dibungakan.
Suharwadi menyatakan bahwa rente dan riba adalah sama. Pendapat itu disebabkan rente dan riba merupakan bunga uang. Karena sama-sama bunga uang maka dihukumkan sama-sama.
Maksud pernyataan di atas adalah bahwa rente dan riba memiliki persamaan yaitu adanya tambahan atau kelebihan di dalamnya yang di
20Suharwadi, Hukum Eknomi Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012) Hal 29.
26
sebut dengan bunga baik sedikit ataupun banyak, sebab itu hukumnya dikatakan sama.21
2. Rentenir Dalam Perspektif Ekonomi Islam
Rentenir dalam perspektif ekonomi Islam dipandang sebagai kegiatan ekonomi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, karena didasarkan pada sistem bunga (riba).Para ulama sepakat bahwa riba itu diharamkan. Tentu saja, memaksa orang yang membutuhkan untuk membayar riba pada hutang mereka adalah ketidakadilan yang besar, terutama karena (secara islam) pemimpin diharuskan untuk bersabar dengan peminjam yang membutuhkan, tidak secara ilegal meningkatkan pokok hutangnya.
Dalam Al-Quran, meminjamkan uang adalah riba karena mencari tambahan dan bertentangan dengan ajaran agama Islam. Menurut Fatwa DSN MUI terkait menukarkan uang dan ada nilai lebih dari uang yang ditukarkan tersebut haram hukumnya.
Terdapat dua jenis riba yang disebabkan adanya transaksi hutangpiutang antara dua pihak, yaitu riba jahiliyah dan riba fadl atau riba qardh. Riba jahiliyah adalah riba yang dibatasi oleh batas waktu dan tergantung waktu.Riba jahiliyah merupakan riba yang timbul karena adanya keterlambatan pembayaran dari si peminjam sesuai
21Ibid Hal 10
dengan waktu pengembalian yang diperjanjikan. Jenis riba yang kedua yaitu riba fadlatau riba qardh yang didefinisikan sebagai mengambil pinjaman untuk pembayaran di kemudian hari untuk nilai yang lebih tinggi, atau menjual suatu barang untuk mendapatkan laba.
3. Faktor Pedagang Meminjam Uang Terhadap Rentenir
Pedagang adalah distributor yang membeli barang dengan tujuan untuk dijual kembali dengan menggunakan namanya sendiri untuk memperoleh laba.Pedagang ingin mengembangkan usahanya namun seringkali terhambat karena minimnya modal yang dimiliki. Karena kebutuhan pedagang akan modal dengan cara yang cepat tanpa proses yang rumit menyebabkan pedagang menjadikan rentenir sebagai alternatif utama untuk meminjam uang.
Dalam hutang-piutang, pedagang dapat dikatakan sebagai konsumen sedangkan pihak yang meminjamkan adalah produsen atau pihak yang memberikan jasa. Perilaku konsumen merupakan tindakan langsung dalam mendapatkan, mengonsumsi serta menghabiskan pendapatan dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan tersebut.
Menurut Philip Kotler, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian antara lain:
a. Faktor Ekonomi
28
Dalam ilmu ekonomi, dikatakan bahwa manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya dan selalu bertindak rasional. Konsumen berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya selama utilitas marginal yang diperoleh dari pembelian produk masih lebih besar atau sama dengan biaya yang dikorbankan maka konsumen akan membeli produk tersebut.
b. Faktor Psikologis
Beberapa ahli beranggapan bahwa perilaku konsumen dipengaruhi oleh dorongan psikologis.Terdapat empat faktor psikologis yang mempengaruhi seseorang dalam membeli produk, yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan.
c. Faktor Sosial (Pengaruh Dari Luar)
Perilaku konsumen juga akan dipengaruhi oleh faktor sosial seperti kelompok kecil, keluarga, peran dan status sosial dari konsumen. Faktor-faktor ini sangat mempengruhi tanggapan konsumen, oleh karena itu pemasar harus benar-benar memperhitungkan dalam usaha menyusun strategi pemasaran.
d. Faktor Pribadi (Keyakinan)
Keputusan seseorang membeli suatu produk juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, seperti umur, jabatan, keadaan ekonomi, gaya hidup dan kepribadian.
4. Sistem penentuan bunga dan Mekanisme
Keberadaan rentenir di tengah-tengah masyarakat desa awalnya dianggap sebagai dewa penolong, namun kemudian masyarakat merasakan kejamnya “saudara desa” mereka ini. Perlakuan para rentenir yang awalnya sangat baik, karena mereka sedang berusaha untuk menarik simpati calon pelanggannya, berubah menjadi
“monster” ketika tiba waktu pembayaran. Besarnya bunga yang dibebankan, mengakibatkan semakin banyaknya hutang mereka.
Hutang yang semula hanya Rp 1.000.000,00 dalam satu tempo satu bulan menjadi Rp 1.200.000,00. Ini dikenal dengan sistem “rolasan”.
Jika ketika jatuh tempo tidak bisa membayar, maka bulan berikutnya utang beserta bunganya akan dibungakan kembali, jadi dari Rp 1.200.000,00 menjadi Rp 1.400.000,00. Bayangkan ketika kita berhutang Rp 10.000.000,00, maka dalam tempo satu bulan ia harus mengembalikan Rp 12.000.000,00.
Dalam bisnis rentenir tidak ada aturan mengenai besarnya bunga, semua tergantung si rentenir dan si pengutang harus mematuhi aturan tersebut. Oleh karena itu ada beberapa rentenir yang membebankan bunga sangat besar.
Berikut ialah contoh nyata yang terjadi, yang bernama Ibu X. Ia meminjam uang kepada rentenir sebesar Rp. 3.000.000,00. Ibu X selalu 138 menunda tempo pembayaran hutangnya karena ia tidak
30
memiliki penghasilan tetap (ia hanya bekerja sebagai pedagang makanan kecil). Setelah dua bulan jatuh tempo betapa terkejutnya Ibu X ketika mengetahui ternyata hutangnya menjadi Rp 6.000.000,00.
Mekanisme peminjaman yang dilakukan rentenir adalah jika meminjam uang 1 juta, maka anda akan menerima 900 ribu yang Rp.
100.000,- untuk uang administrasi dan tabungan. Sedangkan pengembalianya adalah Rp. 1,2 juta artinya dalam 1 juta bunganya 20%/bln. Jadi perhari akan di kenakan pengembalian Rp. 40.000., dan harus dibayar tanpa boleh menunggak. Kalau menunggak, risikonya adalah barang-barang berharga akan disita. Sistem pinjaman yang diberikan rentenir.22
a. Bank Keliling/ Bank Harian/ Pinjaman Paket
Bank keliling banyak menjadi pilihan orang untuk berhutang karena kemudahan proses pencairannya. Cukup menunjukan KTP asli sudah bisa cair. Namun banyak orang tidak menghitung bunga dan resikonya. Berikut perhitungan bunganya :
Pokok hutang Rp. 100.000,- Potongan 10 % Rp. 10.000,- Uang diterima Rp. 90.000,-
Angsuran Rp. 5.000,- x 25 = Rp. 125.000,-
22 Yeyen Parlina, “ Praktik Pinjaman Rentenir dan Perkembangan Usaha Pedagang di Pasar Papatanmanjalin Majalengka”, Jurnal INKLUSIF Vol. 2 No 2, Des 2017, Hal 137-138
Hitung Bunga (125.000–90.000)/90.000=38,9%
b. Hutang Bayar Bunga Mingguan/ Bunga Bulanan
Banyak orang tertipu dengan cara ini, ketika menerima pinjaman dipotong 10% dan angsuran 10 % juga, memberikan kesan murah. Contoh: pinjaman 1 juta dengan administrasi diawal Rp. 100.000,- dan angsuran Rp. 100.000,- per bulan selamanya.
Hutang tidak akan dianggap lunas jika pokok yang 1 juta tidak dibayar sekaligus (hutang pokok tidak boleh dicicil atau dibayar sebagian). Jika tidak bayar 1 bulan maka angsuran bulan berikutnyamenjadi Rp. 110.000,- dengan pokok bertambah menjadi Rp. 1.100.000,- .Berikut sistem perhitungannya:23
Tabel 2.1
Data Mengenai Sistem Perhitungan Rentenir
Jumlah Tunggakan Pokok Hutang Angsuran Bunga10%
0 Tunggakan 1.000.000 100.000
1 Tunggakan 1.100.000 110.000
2 Tunggakan 1.210.000 121.000
23 Ibid Hal 139
32
3 Tunggakan 1.331.000 133.100
4 Tunggakan 1.464.100 146.410
c. Gadai Sewa
Cara ini biasanya menggunakan jaminan fisik seperti sepeda motor (belum lunas angsuran) atau rumah (belum AJB atau SHM).
Rentenir memberikan sejumlah uang kepada pemilik sepeda motor misalnya Rp. 2.000.000,- kemudian pemilik sepeda motor boleh tetap menggunakan sepeda motornya dengan membayar sewa Rp.
400.000,- per bulan. Selama pemilik sepada motor belum melunasi hutangnya maka dia harus terus mambayar sewa tersebut. Mekanisme bunga yang dilakukan rentenir sebagai berikut:
1) Tingkat suku bunga cukup tinggi, bisa mencapai 20% dari total nominal pinjaman.
2) Besaran suku bunga dapat berlaku setiap bulannya. Jarang-jarang yang per tahun.
3) Jika tidak segera membayar atau terlambat dalam membayar, suku bunga akan naik terus (bunga berbunga).
4) Apabila Anda tidak membayar dengan segera, siap-siap saja rumah anda akan didatangi oleh para debt collector yang notabene adalah preman.
E. Pengertian Pasar
Pasar merupakan kumpulan seluruh pembeli dan potensial atas tawaran pasar tertentu.Pasar selama ini sudah menyatu dan memiliki tempat paling penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, bagi masyarakat pasar bukan hanya tempat bertemunya antara penjual dan pembeli tetapi juga sebagai wadah untuk berinteraksi sosial.24
Para ahli ekonomi menggunakan istilah pasar untuk menyatakan sekumpulan pembeli dan penjual yang melakukan transaksi atas suatu produk tertentu. Sedangkan dalam manajemen pasar konsep pasar terdiri atas semua pelanggan potensial yang mempunyai kebutuhan atau keinginan tertentu yang mungkin bersedia dan mampu melibatkan diri dalam suatu pertukaran guna memuaskan kebutuhan atau keingian tersebut.
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli ditandai dengan adanya transaksi atau tawar menawar antara si penjual dan pembeli secaralangsung.
Pasar tradisional merupakan sektor perekonomian yang sangat penting bagi mayoritas penduduk di Indonesia.Pasar memiliki kedudukan yang
24Muhammad Khairi, Skripsi:”Dampak PinjamanTerhadapPendapatan Pedagang Pasar Tradisional Di Pasar Pagi Pulo Brayan Bengkel”, (UIN Sumatera Utara,2018) Hal 19
34
sangat penting dalam kegiatan perekonomian, sebagian besar kegiatan ekonomi terjadi di pasar. Pasar merupakan salah satu kegiatan perdagangan yang tidak bias terlepas dari kegiatan sehari-hari manusia, keberadaan pasar tradisional sudah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dalam kehidupan manusia.
Dalam peraturan Menteri Perdagangan No. 53/M-DAG/PER/12/2008 dijelaskan bahwa pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah daerah, swasta, badan usaha milik Negara dan badan usaha milik daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki dan dikelola oleh pedagang kecil, menengah swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar-menawar.25
Pasar dapat diartikan sebagai tempat di mana pembeli dan penjual bertemu untuk mempertukarkan barang-barang mereka. Para ahli ekonomi menggunakan istilah pasar untuk menyatakan sekumpulan pembeli dan penjual yang melakukan transaksi atas suatu produk. Sedangkan dalam manajemen pemasaran konsep pasar terdiri atas semua pelanggan potensial yang mempunyai kebutuhan atau keinginan tertentu yang mungkin bersedia
25 Ibid Hal 20
dan mampu melibatkan diri dalam suatu pertukaran guna memuaskan kebutuhan dan keinginan.
Selain itu pasar memiliki fungsi sebagai penentu nilai suatu barang, penentu jumlah produksi, mendistribusikan produk, melakukan pembatasan harga dan menyediakan barang dan jasa untuk jangka panjang.Dengan demikian pasar sebagai tempat terjadinya transaksi jual beli, merupakan fasilitas publik yang sangat penting bagiperekonomian suatu daerah dan juga menjadi barometer bagi tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Dalam Islam harus diperhatikan perilaku dan etika seorang penjual yang didasarkan dengan prinsip-prinsip pasar yang efisien, yaitu:
1. Prinsip suka sama suka.
2. Prinsip penetapan harga dan keuntungan.
3. Prinsip tidak merugikan orang.26 F. Kajian Terdahulu.
Adapun penelitian yang berjudul “Peran BMT Al Hijrah dalam menghambat laju pertumbuhan transaksi rentenir di Pasar Bawah Kota Bukittinggi” ini tentu tidak lepas dari penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai pandangan dan referensi, diantaranya ialah:
1. Penelitian oleh Fizhatun Ningsih bejudul “Respon Masyarakat Muslim terhadap Strategi KJKS BMT Mandiri Ukhuwah Persada (MUDA) dalam
26 Ibid Hal 21
36
mengurangi ketergantungan pada Rentenir (Studi Kasus pada Masyarakat Kedinding Lor Surabaya)”.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan teknik deskriptif analisis. Pada penelitian ini peneliti memfokuskan pada bagaimana strategi KJKS BMT Mandiri Ukhuwah Persada (MUDA) dalam mengurangi ketergantungan pada rentenir dan seperti apa respon masyarakat muslim kedinding lor terhadap strategi tersebut. Persamaan dengan yang akan diteliti oleh peneliti yakni sama-sama membahas dan mengkaji tentang strategi apa yang diterapkan oleh BMT dalam mengurangi ketergantungan masyarakat pada rentenir.
akan tetapi perbedaan diantara keduanya ialah terletak pada subjek dan objek yang diteliti, subjek peneliti terdahulu ialah KJKS BMT Mandiri Ukhuwah Persada (MUDA) dan objeknya lebih terbatas yakni masayarakat kedinding lor Surabaya. sedangkan subjek dari peneliti sekarang ialah Koperasi BMT Al Hijrah Bukittinggi dan objeknya lebih luas atau lebih global yakni nasabah Koperasi BMT Al Hijrah yang tepatnya pedagang Pasar bawah Bukittinggi.27
2. Penelitian Jajang Nurjaman berjudul “Peranan Baitul Maal Wattamwil
2. Penelitian Jajang Nurjaman berjudul “Peranan Baitul Maal Wattamwil