• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 11. Parit dan Saluran

11.2 Fungsi dan Manfaat Parit dan Saluran

Parit dan saluran dibangun manusia untuk berbagai keperluan, dan terkadang daya guna parit dan saluran dapat melebihi dari apa yang direncanakan. Misalnya saluran yang tadinya hanya ditujukan bagi keperluan irigasi pertanian; pada perkembangannya dapat digunakan juga bagi keperluan perikanan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Pada lokasi hutan rawa gambut di Sumatera dan Kalimantan, saluran bahkan digunakan untuk sarana transportasi kayu tebanganliar dari dalam hutan.

11.2.1 Fungsi Ekologis Parit dan Saluran

a. Mencegah bencana banjir

Pada beberapa daerah, saluran (kanal) dibangun untuk mengurangi bencana banjir yang biasa terjadi ketika air sungai meluap. Saluran ini dibangun dengan menyodet aliran sungai dan mengalihkan alirannya ke daerah lain. Banjir Kanal Barat (BKB) di Jakarta adalah salah satu contoh saluran yang dibangun untuk mengatasi masalah banjir. Kanal yang selesai dibangun pada tahun 1920 oleh Pemerintah Kolonial Belanda ini mengalir ke arah barat, membusur ke arah utara, dan mencurahkan airnya ke Teluk Jakarta (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2004).

b. Mengalirkan kotoran

Saluran dan (terutama) parit juga dibangun untuk mengalirkan kotoran ke badan air yang lebih besar (sungai/kanal besar, danau, kolam pengolah limbah, atau laut). Pada kota yang telah tertata dengan baik, limbah dari perumahan dialirkan melalui parit-parit ke unit kolam-kolam pengolahan air limbah. Bandung, Surakarta, Cirebon, Jakarta, dan Yogyakarta adalah kota-kota yang sebetulnya sudah memiliki infrastruktur saluran-saluran air limbah dan kolam-kolam pengolahan air limbah, namun infrastruktur tersebut amat kurang difungsikan (baca juga sub bab 10.5 Perkembangan Kolam

Stabilisasi Limbah di Indonesia). Sekarang ini di sebagian besar

daerah di Indonesia, parit-parit yang menampung air kotor dari perumahan dan perkotaan umumnya langsung mengalir ke sungai. Parit, saluran, dan perairan apapun sebetulnya tidak boleh menerima limbah padat. Namun karena rendahnya tingkat kesadaran masyarakat, pemandangan tersumbatnya parit-parit dan terhambatnya aliran saluran/sungai oleh berbagai jenis bahan padat menjadi hal yang sangat umum di Indonesia. Perilaku buruk ini pada akhirnya menimbulkan bencana banjir yang amat parah di banyak daerah di Indonesia.

c. Mengairi areal pertanian/mendukung kegiatan pertanian

Salah satu fungsi utama parit dan saluran adalah untuk mengairi areal pertanian (irigasi), dan terkadang air irigasi ini juga digunakan untuk mengairi kolam-kolam budidaya ikan air tawar (baca juga sub

bab 3.4.2 Tipe Sawah Berdasarkan Sumber Air dan Pengelolaannya

dan sub bab 4.4.1 Tipe Kolam Berdasarkan Sumber Air). Keberadaan saluran irigasi ini sangat penting dalam peningkatan hasil pertanian (terutama padi). Pembangunan dan pengembangan saluran irigasi sebagai salah satu bagian dari program intensifikasi pertanian terbukti telah mampu membuat Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1970-an (Whitten et al., 1999). Total areal yang dilayani oleh jaringan irigasi di Indonesia sekarang ini mencapai 6.771.016 Ha (Direktorat Pembinaan Teknis, Ditjen Pengairan, 1999 dan Bappenas, 2002 dalam Departemen Pertanian – Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian, 2004).

Pada beberapa areal pertanian di lahan gambut (seperti di Sumatera dan Kalimantan), parit dan saluran justru dibangun untuk mengurangi kandungan air dan menghindari bencana banjir di lahan pertanian. Salah satu daerah yang melakukan hal ini adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Pada daerah ini pemerintah (atas permintaan masyarakat) membuat parit dan saluran di lahan pertanian, tujuannya adalah untuk mengurangi banjir; namun ternyata proyek yang dilakukan secara tergesa-gesa tanpa memperhitungkan dampak lingkungan ini malah menimbulkan berbagai macam masalah. Parit dan saluran yang dibangun di lahan gambut ini telah menyebabkan tanah gambut menjadi kering karena air dalam tanah mengalir menuju parit dan saluran; hal ini selanjutnya menyebabkan lahan gambut menjadi rawan kebakaran pada musim kemarau. Sebaliknya pada musim hujan, keberadaan parit dan saluran ini malah menyebabkan bencana banjir yang lebih parah dari sebelumnya, hal ini karena permukaan air di sungai utama (Batang Berbak) lebih tinggi dari lahan pertanian, sehingga dengan adanya parit dan saluran – air semakin mudah masuk ke lahan pertanian (Arinal, 2003).

d. Habitat berbagai jenis hewan dan tumbuhan

Dalam parit dan saluran dapat ditemukan berbagai jenis hewan dan tumbuhan, baik yang bersifat menguntungkan ataupun merugikan, mulai dari yang berukuran besar (makro) sampai yang berukuran renik (mikro). Jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang hidup di parit dan saluran sangat dipengaruhi oleh asal sumber air, tingkat kesuburan air, dan besarnya arus air. Jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang hidup di parit dan saluran akan dibahas lebih lanjut pada sub bab keanekaragaman hayati.

11.2.2 Manfaat Ekonomis Parit dan Saluran

a. Jalur transportasi

Sejak jaman dahulu manusia menggunakan sungai dan danau besar sebagai jalur transportasi. Tingginya tingkat kebutuhan akan jalur

transportasi air menyebabkan masyarakat membuat saluran/kanal-kanal; hal ini terutama dilakukan pada daerah yang sulit dijangkau melalui jalan darat. Di hutan rawa gambut di Kalimantan dan Sumatera banyak dijumpai parit/saluran berukuran kecil (lebar 60-120 cm, dalam 70-100 cm, dan panjang 2-5 km) yang dibuat oleh para penebang kayu (baik legal maupun ilegal) untuk mengangkut kayu hasil tebangannya (Waspodo et al., 2004). Pada daerah bekas Pembukaan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah, parit/saluran telantar yang tadinya dibangun untuk keperluan pertanian juga banyak digunakan untuk mengangkut kayu gelondongan.

b. Sarana parawisata/rekreasi

Pemanfaatan saluran/kanal untuk keperluan parawisata di Indonesia memang sangat kurang dilakukan, karena umumnya saluran/kanal (dan juga sungai) di Indonesia berada dalam kondisi kumuh; namun sebetulnya potensi pengembangan wisata saluran/ kanal itu masihlah ada. Di berbagai kota besar di dunia, seperti di London, Amsterdam, Chicago, bahkan Singapura sungai dan kanal dibanggakan sebagai obyek wisata dan selalu tampil cantik dalam materi promosi wisata, namun di Indonesia - sungai dan kanal hampir selalu dijadikan tempat sampah, bahkan ada yang menyebut sungai dan kanal Indonesia sebagai “WC terpanjang di dunia” (Winarno, 2002).

Sekarang ini pemerintah sedang berupaya membangun Banjir Kanal Timur (BKT) yang rencananya akan rampung pada tahun 2010. Kanal Timur ini selain dirancang sebagai pengendali banjir juga dirancang sebagai sarana konservasi air (untuk pengisian air tanah), sarana pelabuhan dan lalu lintas, serta sarana rekreasi. BKT ini disiapkan untuk menjadi motor pengembangan wilayah Timur dan Utara Jakarta; prinsip pembangunan dan pengelolaannya adalah

waterfront city (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah,

2004). Keberhasilan proyek pembangunan saluran/kanal ini tidak hanya tergantung pada lancarnya kucuran dana tetapi juga pada kesadaran dan kemauan masyarakat untuk memelihara lingkungan saluran/kanal dan sungai sebagai “halaman depan” (waterfront).

11.2.3 Manfaat Sosial dan Budaya Parit dan Saluran

Fungsi saluran/kanal sebagai jalur transportasi secara tidak langsung berkaitan dengan kondisi sosial-budaya masyarakat. Keberadaan saluran/ kanal yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain memungkinkan masyarakat yang hidup di daerah tersebut berhubungan/ berinteraksi satu sama lain, hal ini pada tahap selanjutnya akan berpengaruh pada kondisi sosial-budaya masyarakat. Keberadaan kanal juga berpengaruh pada mata pencaharian masyarakat setempat; contohnya banyak diantara masyarakat pinggir kanal yang kemudian berprofesi menjadi nelayan karena adanya potensi perikanan yang dapat diandalkan dari kanal.