HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengembangan Model Pembelajaran Sains Berbasis Imtak
1. Gagasan/Konsepsi Sains Berbasis Imtak Hakikat Sains
Untuk membahas hakikat sains, diperlukan sebuah kajian kritis yang tentunya akan membawa konsekuensi pada cara pandang manusia dalam menanggapi dan menghayati sains. Cara pandang yang sempit tentang sains akan mempengaruhi warna yang diberikan kepada para siswa dalam proses pendidikan dan pembelajaran sains. Terlepas dari materi apa yang diajarkan, model pendidikan dan pembelajaran sains akan sangat dipengaruhi oleh persepsi para pendidik tentang sains itu sendiri.
Untuk membahas hakikat sains, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, sehingga para memungkinkan para pendidik untuk memahami pengertian sains secara lebih luas.20
1. Sains sebagai kumpulan pengetahuan
Sebagai kumpulan pengetahuan, sains mengacu pada berbagai konsepsi sains yang sangat luas. Sains dipertimbangkan sebagai akumulasi berbagai pengetahuan yang telah ditemukan sejak zaman dahulu sampai pengetahuan yang terkini dan terbaru. Pengetahuan tersebut berupa fakta, konsep, teori dan generalisasi yang menjelaskan tentang alam semesta.
2. Sains sebagai suatu proses penelusuran (investigasi)
Sebagai suatu proses penelusuran, sains pada umumnya merupakan suatu pandangan yang Menghubungkan gambaran sains yang berhubungan erat dengan
kegiatan laboratorium beserta perangkatnya. Sains dipandang sebagai suatu displin ilmu yang ketat dari kegiatan pengamatan, inferensi, hipotesis dan percobaan tentang alam semesta.
3. Sains sebagai kumpulan nilai
Sebagai kumpulan nilai, sains berhubungan erat dengan penekanan sains sebagai proses. Bagaimanapun juga, pandangan ini menekankan pada aspek nilai ilmiah yang melekat dalam sains, termasuk di dalamnya nilai kejujuran, rasa ingin tahu (curiousity), dan keterbukaan akan berbagai fenomena yang baru sekalipun 4. Sains sebagai cara untuk mengenal dunia
Proses sains dipengaruhi oleh cara manusia memahami kehidupan dan dunia di sekitarnya. Dalam konteks ini, Sains dipahami sebagai salah satu cara manusia mengerti dan memberi makna pada dunia di sekitar mereka. Diyakini, bahwa sains merupakan hal sangat penting dan karenanya dipandang sebagai suuatu cara untuk memahami alams emesta. Namun demikian, disadari pula bahwa sians memiliki keterbatasan sebagai suatu keumpulan pengetahuan dan strategi untuk memahami dunia secara komprehensif.
5. Sains sebagai Institusi Sosial
Sains seharusnya dipandang dalam pengertian sebagai kumpulan para profesional dan ilmuwan, dimana para melalui sains para ilmuwan dilatih dan diberi penghargaan akan karya yang dihasilkannya, didanai, dan diatur dalam masyarakat, dikaitkan dengan unsur pemerintah, bahkan dipengaruhi dalam politik. Kenyataannya, saat ini banyak para ilmuwan mengembangkan sains berkaitan dengan kepentingan negara ataupun tendensi tertentu.
6. Sains sebagai Hasil Konstruksi Manusia
Pandangan ini menunjuk pada pengertian bahwa sains sebenarnya merupakan penemuan dari suatu kebenaran ilmiah mengenai hakikat alam semesta yang tidak lain merupakan akumulasi kebenaran yang diperoleh. Hal pokok dalam pandangan ini adalah sains merupakan kontruksi pemikiran manusia, yang karenanya apa yang dihasilkan bisa jadi memiliki sifat bias dan sementara.
Manusia menyadari bahwa apa yang dipakai dan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sangat dipengaruhi oleh sains. Hal ini tidak semata-mata dalam wujud produk teknologi sebagai hasil dari metode ilmiah dalam sains, tetapi juga berupa bagaimana cara manusia berpikir mengenai situasi sehari-hari yang sangat kuat dipengaruhi oleh pendekatan ilmiah.
Kritik terhadap Sains Modern dan Urgensi Sains Islam
Memang benar bahwa Barat telah memperoleh kemajuan yang sangat besar baik di bidang sains maupun teknologi, menurut terminologi mereka, sejak mereka memisahkan aspek metafisik dari pemikiran dan kehidupan mereka. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pesatnya perkembangan sains dan teknologi tersebut diikuti pula oleh berbagai dampak negatif yang semakin besar manakala kehilangan ikatan aspek metafisiknya. Dalam pandangan Ziauddin Sardar, sebagian besar sains modern yang ada sekarang ini menyebar karena dominasi Barat di bidang ini, dan tumbuh dengan akar budaya, illusi, etos atau sistem nilai Barat, maka mudahlah dipahami bahwa sains modern atau sains Barat tidak mungkin bersifat universal, netral dan bebas nilai. Dalam kerangka ini, sains seringkali dikembangkan untuk mengejar keuntungan dan jumlah produksi, untuk pengembangan militer dan perlengkapan-perlengkapan perang, serta untuk dominasi suatu ras manusia terhadap ras lainnya, sebagaiman juga untuk mendominasi dan mengeksploitasi alam semesta. Sejauh mana sains modern bersifat universal, tidak netral, dan bebas nilai, para ilmuwan muslim sendiri masih memiliki keragaman pendapat.
Sementara itu, Sayid Hossein Nasr memandang bahwa isi dan penerapan sains barat telah terpisah dari ilmu pengetahuan wahyu akibat dari proses sekularisasi, sehingga seluruh rangkaian sains menjadi salah dan teramat berbahaya. Naquib Al-Attas mengidentifikasikan nilai-nilai zaman pencerahan (Renaissance) sebagai nilai-nilai dari sains dan teknologi modern. Dia mengakui bahwa Islam pada tahap awal evolusinya telah memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap sains dan teknologi Barat, "tetapi ilmu pengetahuan dan semangat ilmiahnya yang rasional telah disusun dan dibentuk kembali untuk disesuaikan dengan wadah peradaban Barat sehingga ia mengalami peleburan dan amalgamasi dengan semua elemen-elemen lain yang membentuk karakater
dan personalitas peradaban Barat.21 Karenanya, Sardar memandang perlu untuk merekontruksi sains dan membentuk apa yang disebut dengan sains Islam.
Pro dan Kontra Seputar Sains Islam dan Islamisasi Sains
Dalam majalah Nature (vol. 282/22, 1979), Ziauddin Sardar melaporkan hasil perjalanannya ke delapan negara muslim (Tunisia, Mesir, Turki, Syiria, Arab Saudi, Pakistan, dan Malaysia) yang dipilihnya sebagai negara kunci yang mewakili pendapat dan sikap ilmuwan-ilmuwan muslim di dunia Islam terhadap sains modern dan teknologi modern. Sardar mengklasifikasikan pendapat tersebut menjadi empat pandangan dan sikap yang membentuk suatu spektrum luas sikap ilmuwan muslim terhadap sains modern.22
Pandangan yang pertama, menganggap sains itu bersifat universal, netral dan bebas nilai, karenanya hanya ada satu sains. Pandangan ini sebenarnya merupakan pandangan yang dominan di kalangan ilmuwan Barat dan juga para ilmuwan Tunisia yang diwakili oleh Ali El-Hilli. Bahkan El-Hilli mengungkap, “Kita tidak dapat mengkompromikan rasionalitas dasar dari sains dengan urusan-urusan keagamaan. Jika kita kompromikan obyektivitas dan netralitas sains dengan nilai-nilai dan etika Islam, maka kita akan menghancurkan landasan terdasar dari sains itu sendiri. Pandangan ini juga dianut oleh sebagian ilmuwan di Mesir, Syiria dan Turki
Pandangan kedua, banyak dianut di Iran dan di Arab Saudi, seperti diungkap oleh Abdulah Umar Nassef, “Sains sekarang adalah sains Barat yang tumbuh dengan akar-akar budaya, etos, ilusi dan nilai-nilai Barat. Karenanya, harus direkontruksi dengan sains Islami. Dalam Islam, Sains harus tunduk di bawah tujuan-tujuan masyarakat. Tujuan umat Islam adalah mempererat persaudaraan, mengurangi konsumsi dan meningkatkan kesadaran spiritual”. Jelas bahwa pendapat ini menghendaki Islamisasi Sains bukan saja pada tujuan Sains tetapi juga landasan filosofisnya.. Karenanya, Waqar S. Hussaini mengungkapkan bahwa “sains Islami tidak dapat dipisahkan secara ontologis maupun etimologis dari konsep Islam tentang Tuhan. Sains Islam adalah sains untuk ummat dan
bekerja di dalam parameter-parameter konsep Islam tentang maslahat dan memajukan serta menjaga “Dhoruriyyat al Khomsah”.
Diantara kedua kutub pendapat di atas terdapat dua pendapat lain. Pendapat Ketiga, misalnya seperti diungkap dari Ali Kattani, “Sains Islam tidak berbeda secara radikal terhadap sains Barat. Hanya saja prioritas riset dan penekanannya berbeda sehingga baik kuantitas maupun kualitas isinya juga berbeda. Begitu pula tujuan-tujuan pemakaiannya.”
Pandangan Keempat, merupakan pandangan ilmuwan Pakistan dan Malaysia yang menganggap isi sains bersifat bersifat universal, tetapi penerapannya harus untuk tujuan-tujuan Islami.
Di samping itu, terdapat pula pandangan lain yang pada prinsipnya lebih menitikberatkan pada sains natural (sains alam), seperti diungkap oleh Maurice Bucaille23. Ia beranggapan bahwa sains modern sekarang ini sudah Islami justru karena unversalitasnya. Buktinya, banyak penemuan-penemuan sains modern sudah diisyaratkan oleh Al Qur’an.
Dengan demikian, jelaslah bahwa terdapat spektrum sudut pandang yang cukup luas dimulai dari universalisme sains yang konservatif, pandangan Islamisasi moderat yang tidak menganggap perlu Islamisasi filsafat sains, universalisme liberal yang mengizinkan Islamisasi tujuan penerapan sains, dan akhirnya baik tujuan maupun landasan filsafatnya perlu diislamisasikan, serta paham Bucaillisme yang lebih menitikberatkan pembuktian sains dengan Al Qur’an.
Paradigma Sains Islam
Sains Islam, menurut Sardar, sebagaimana dibuktikan oleh sejarahnya, jelas-jelas berusaha untuk menjunjung dan mengembangkan nilai-nilai dari pandangan dunia dan peradaban Islam, tidak seperti sains Barat yang berusaha untuk mengesampingkan semua masalah yang menyangkut nilai-nilai. Ciri yang unik dari sains Islam berasal dari penekanannya pada kesatuan agama dan sains, pengetahuan dan nilai-nilai, fisika dan
23 Pandangan ini dikenal dengan Bucaillisme, dimana upaya utama dari pandangan ini adalah membuktikan kemukjizatan Al Qur’an secara ilmiah, seperti terdapat pada karya utamanya Bible, Qur’an dan Sains
metafisika. Sedangkan menurut Osman Bakar, kesadaran religius terhadap tauhid merupakan sumber semangat ilmiah dalam seluruh wilayah pengetahuan.
Dalam pandangan Islam, cakupan sains tidaklah terbatas pada aspek material yang bertebaran di jagat raya, sebagaimana pandangan Barat selama ini. Islam memberikan ruang lingkup yang lebih luas terhadap sains yang meliputi tiga aspek. Pertama, aspek metafisik yang dibawa oleh wahyu. Aspek ini menjawab pertanyaan-pertanyaan abadi yang selalu muncul dalam jiwa manusia, yaitu dari mana, ke mana, dan bagaimana. Dengan memahami jawaban pertanyaan-pertanyaan ini menjadikan manusia tahu akan dirinya, tahu perjalanan dan misinya, dan tahu pula akan Tuhannya. Menurut Islam, ilmu inilah yang menempati tempat tertinggi. Kedua, aspek humaniora, dan studi-studi yang berkaitan dengannya, meliputi pembahasan mengenai kehidupan manusia, psikologi, sosiologi, ekonomi, politik, dan disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan kebutuhan manusia. Ketiga, aspek material, yang mencakup ilmu matematika dan ilmu alam, ilmu falak, kedokteran, teknik, dan lain-lain. Tegasnya segala ilmu yang dibangun di atas observasi dan eksperimen. Ketiga aspek ini, menurut Islam tidak boleh dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena disinilah letak kekuatan dan kesatuan ilmu dalam Islam seperti diisyaratkan Al Qur’an dalam surat Fusshilat ayat 53 berikut :
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.”
Dalam upaya mendefinisikan nilai-nilai pijakan sains Islam, sebuah seminar tentang "Science and Values" telah dilaksanakan pada September 1981 di Stockholm. Para peserta seminar merekomendasikan bahwa realisasi kontemporer dari sains Islam harus didasari oleh kerangka nilai yang merupakan karakteristik-karakteristik dasar kebudayaan Islam. Kerangka nilai tersebut terdiri atas sepeuluh konsep islami yang secara bersama-sama membentuk kerangka nilai Islam. Kesepuluh nilai tersebut adalah Tauhid, Khilafah, Ibadah, 'Ilm, Halal dan Haram, 'Adl (keadilan sosial), Zhulm (kezaliman), Istishlah (kemaslahatan umum), dan Dhiya' (kecerobohan), yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut :24
Ibadah Khilafah Zhulm Dhiya' Haram Tauhid 'Ilm 'Adl Istishlah Halal
Sebuah definisi mengenai sains Islam kini bisa diformulasikan dalam terma kerangka nilai-nilai Qur'ani. Paradigma-paradigma sains Islam adalah konsep-konsep Tauhid, khilafah, ibadah. D idalam paradigma-paradigma ini, sains islam bekerja melalui perantaraan 'ilm untuk memajukan keadilan sosial ('adl) dan kepentingan umum (istishlah). Oleh karena itu, sains Islam bertanggung jawab untuk mengembangkan kesadaran ketuhanan; mengharmoniskan tujuan dan cara dalam mencari ilmu pengetahuan; memperhatikan relevansi sosial dalam pencarian maupun penerapan ilmu pengetahuan; serta menolak netralitas ilmu pengetahuan obyektif. Berbeda dengan sains Barat yang berupaya memperkembangkan nilai-nilai kebudayaan Barat dan peradaban Barat, sains Islam mengembangkan nilai-nilai pandangan dunia Islam.
Dari definisi mengenai Sains Islam di atas, dapatlah dilihat bahwa tidak semua sains Barat berada di luar kerangka nilai-nilai Islam. Sebagai contoh, dapat diungkap bahwa gagasan tentang teknologi tepat guna, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya energi yang dapat diperbaharui, semuanya cukup sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan sains Islam. Lebih dari itu, semua kegiatan ilmiah yang diarahkan untuk memajukan keadilan sosial dan kemaslahatan, seperti misalnya penelitian kedokteran untuk mengurangi rasa sakit dan penderitaan manusia, penelitian dan pengembangan pertanian
untuk mengantisipasi dampak negatif teknologi, secara otomatis akan membentuk sebagian dari sains Islam.25
Hakikat Pendidikan Sains
Sains dari aspek dan epistemologi, didefinisikan sebagai “Suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan yang tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksprementasikan lebih lanjut”. Sebagai disiplin ilmu, sains diidentikkan dengan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) yang terediri atas physical sciences dan life sciences. Termasuk physical sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika. Sedangkan life sciences meliputi biologi, zoologi, dan fisiologi. Hal ini sejalan dengan pendefinisian yang diberikan dalam Encyclopaedia of Knowledge, 1993, dimana Sains / IPA didefinisikan sebagai pengembangan dan sistematisasi dari ilmu pengetahuan positif yang berkaitan dengan alam semesta. Perkembangan IPA ditunjukkan tidak hanya oleh kumpulan fakta saja, melainkan juga oleh timbulnya metode ilmiah (scientific method) dan sikap ilmiah (scientific attitude).26
Sementara itu, A.N. Whitehead menyatakan bahwa sains dibentuk karena pertemuan dua orde pengalaman, yaitu orde observasi yang didiasarkan pada hasil observasi terhadap gejala/fakta alam, dan orde konsepsional yang didasarkan pada konsep manusia mengenai alam semesta.27
Dengan demikian, Sains berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahaman tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tidak habis-habisnya, yang pada akhirnya akan memperdekat rentang jarak antara sains dengan teknologi sebagai terapannya.
Pendidikan Sains tentunya berbeda dengan sains itu sendiri, tetapi memiliki hubungan yang sangat erat. Bila Sains ditujukan untuk mengembangkan Sains itu sendiri, tetapi pendidikan sains ditujukan agar manusia mengerti dan mengembangkan atau mengembangkan aplikasi dari sains. Lain halnya dengan para saintis (ilmuwan), para
25 Sardar, op.cit, hal. 130
26 Abu Su’ud, 1993. Peranan Program MKDU dalam Upaya Memadukan Konsep-konsep IPA dan IPS di Perguruan Tinggi. Mimbar Pendidikan. No. 4/XII. IKIP Bandung. Bandung. hal. 18-19
Pen-Psikologi Sains Pendidikan Sains Pedagogi Dll
praktisi dalam pendidikan sains dituntut harus memperhatikan aspek-aspek psikologis, sosial dan kultural.28
Meskipun pendidikan sains seringkali disamakan dengan pengajaran sains, namun pendidikan sains dapat dibedakan lebih jauh dari pengajaran sains. Dalam pengajaran sains, para siswa terutama dilatih untuk memahami hubungan antar (dan peran masing-masing) peubah dalam gejala dan peristiwa alam, serta kondisi yang perlu bagi terjadi atau tidak terjadinya gejala itu melalui mekanisme tertentu. Sementara itu, pendidikan sains lebih ditujukan memberikan kearifan, menanamkan rasa tanggung jawab dan mendewasakan pertimbangan serta sikap moral etis. Dengan demikian, pendidikan sains lebih menitik beratkan pada pada aspek afektif, dan pengajaran sains lebih terfokus pada segi-segi kognitif dan psikomotorik.29
Dalam kaitannya dengan disiplin ilmu, sains (dan matematika) dapat dinyatakan memiliki daerah bersama (irisan) dengan ilmu-ilmu lain dimana, sains itu sendiri merupakan disiplin pokok yang berkaitan erat dengannya. Pendidikan sains tidak dapat terlepas dari psikologi, pedagogi, epistemologi, sosiologi, antropologi, bahasa dan lain-lain.30 Hubungan erat antar disiplin ilmu sebagaimana dimaksud tersebut, dapat dilukiskan seperti pada diagram berikut :
Gambar 1. Hubungan antara Pendidikan Sains dengan Disiplin ilmu lain
28 Y. Marpaung,. Pendekatan Sosio Kultural dalam Pembelajaran Matematika dan Sains. dalam Sumaji,
Pendidikan Sains Yang Humanitis , 1998. hal.248-249
29 Liek Wilardjo, Secercah Pandangan tentang Pengajaran Sains , dalam Sumaji, Pendidikan Yang Hu-manitis, hal. 50-53
Keterkaitan erat antara Sains dengan didiplin ilmu lainnya dalam Pendidikan Sains, berimplikasi pada pengembangannya sebagai disiplin ilmu yang relatif masih berkembang ini. Dimensi Pendidikan Sains, dengan sendirinya, sekurang-kurangnya mengandung unsur atau nilai sosial budaya, etika moral dan agama.31
Perkembangan Konsepsi Pendidikan Sains
Sebagai disiplin ilmu tersendiri Pendidikan sains relatif masih berusia muda. Sebagai gambaran, berikut ini diberikan gambaran perkembangan sains di negara lain, Amerika Serikat. Sampai tahun 1950, pengajaran sains di Amerika Serikat sangat menekankan pada segi-segi praktis, vokasional, dan aspek-aspek humanitarian dari sains. Sebagai illustrasi, pengajaran Biologi pada masa tersebut tidak terlalu teoretis, memberikan penekanan pada aspek-aspek praktis, ekologis, ekonomis, dan hubungannya dengan kesejaheteraan ummat manusia. Sehingga topik-topik yang berkembang adalah disekitar masalah-lingkungan hidup, pencegahan penyakit, higiene, dan pertanian. Begitu pula, pengajaran fisika dipenuhi dengan persoalan-persoalan praktis dan illustrasi penerapan fisika dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga biasa dijumpai dalam pelajaran fisika masa itu, pokok bahasan tentang listrik berisi pembahasan cara kerja telepon, seterika listrik, rangkaian listrik dalam rumah, sekering dan cara kerja berbagai peralatan rumah tangga. Demikian pula, dalam pokok bahasan fluida dibahas sistem aliran air di dalam kota, rem hidrolik, dan hal lain sejenisnya.
Pada tahun 1950-an terjadi suatu reformasi pendidikan sains di Amerika Serikat yangdipicu oleh oleh hasil penelitian bahwa jumlah mahasiswa yang memasuki bidang-bidang sains dan matematika semakin berkurang. Upaya reformasi itu diperkuat oleh peristiwa peluncuran Sputnik oleh Uni Soviet, yang membuat bangsa Amerika merasa tertinggal dalam hal sains dari Rusia dan berusaha mengejar ketertinggalan tersebut. Situasi ini mendorong para akademisi, ilmuwan dan para profesional merancang reformasi pendidikan sains yang lebih ke arah akademik. Hasilnya adalah rumusan pengajaran sains yang lebih teoretis, lebih menekankan pada struktur keilmuan. Periode ditandai dengan diterbitkannya buku Physical Science Study Committee (PSSC) yang disusun oleh sekelompok fisikawan dari Massachussets Institute of Technology. Buku yang dijadikan
sebagai buku standar di Amerika Serikat dan dipakai juga di banyak negara di dunia termasuk di Indonesia tersebut, memfokuskan pada struktur konsep-konsep fisika, dan menyampaikannya sebagai suatu ilmu, sehingga aspek terapan hampir tidak ada.32
Sementara itu, bersamaan dengan bekerjanya PSSC, begitu juga halnya dengan kelompok ilmuwan bidang studi lain. Dalam bidang Biologi juga terdapat upaya serupa dengan dibentuknya Biological Science Curriculum Study (BSSC) dari American Institute of Biological Science. Dalam bidang Kimia juga terdapat The Chemical Education Material Study dari Harvey Mudd College and University of California, sedangkan dalam Matematika terdapat School Mathematics Study Group dari Yale University.33
Pada tahun 1980-an terjadi perubahan strategi pendidikan sains yang ditandai dengan dipromosikannya konsep Scientific Literacy yang menyangkut pandangan terintegrasi sains dengan teknologi, masyarakat, nilai dan etika. Pembaruan ini terus berlanjut dengan pencanangan “toward scientifically literate society” dengan menggunakan pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat / STM (Science-Technology-Society / STS). Pendekatan ini dipilih sebagai pendekatan dipandang yang cocok untuk mengajarkan sains yang terarah pada pengembangan masyarakat yang scientifically literate.34
Beberapa Prinsip Dasar Pendidikan Sains Islam
Sebagaimana bidang keilmuan lainnya, pengembangan Pendidikan Sains juga dapat dilakukan dengan memperhatikan perspektif Islam tentang Pendidikan dan Sains. Sebagai acuan dasar bagi pengembangan Pendidikan Sains dalam perspektif Islam tersebut, Nasim Butt mengajukan 3 prinsip dasar sebagai berikut :35
1. Iman dan Nilai dalam Pendidikan Sains
32 T. Sarkim, Humaniora dalam Pendidikan Sains, dalam Sumaji dkk, Pendidikan Sains Yang Humanitis, hal. 135-137. Sebagai bahan perbandingan lihat juga, Anna Poedjiadi, Pembaharuan Pandangan dalam Pendidikan Sains, Mimbar Pendidikan No. 4/XIII/1994
33 Uraian lebih lengkap dapat dilihat pada Sukarno dkk, Dasar-dasar Pendidikan Sains, Bhratara Karya Aksara. Jakarta. 1981. hal. 91-124
Iman dan nilai tidak dapat diabaikan begitu saja, dan sudah semestinya diberi kedudukan sentral dalam sistem pendidikan. Dalam pendidikan sains, terdapat berbagai pokok pembahasan yang sarat nilai. Antara lain, topik-topik yang berkai-tan dengan penerapan analisa lingkungan, rekayasa genetika, seksualitas, tenaga nuklir, dan perosalan-persoalan yang berkaitan dengan permulaan dan akhir dari ke-hidupan. Disamping itu, juga terdapat topik-topik kontroversial lain yang membu-tuhkan pembahasan dari perspektif nilai dan moral agama, seperti teori evolusi, kontroversi pemanfaatan teknologi, dan hukum-hukum kekekalan energi dan ma-teri. Karenanya, reformasi pendidikan sains juga mensyaratkan upaya menginte-grasikannya dengan nilai moral dan keimanan.
Satu hal terpenting yang dilakukan Kuhn adalah membawa konsep nilai ke dalam tubuh sains. Pasca aliran Kuhn, sudah tidak relevan lagi untuk berpendapat bahwa pendidikan sains benar-benar bebas nilai dan obyektif. Sekalipun obyektifi-tas adalah tujuan utama sains modern, tak urung keseluruhan faktor subyektif akan selalu mempengaruhi persepsi, teori, seleksi dan proses pengolahan data. Seba-liknya, iman dan nilai bukanlah merupakan persoalan pilihan pribadi yang