• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gagasan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick dalam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

1. Gagasan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick dalam

a. Arti Penting Model Pembelajaran Talking Stick

Model pembelajaran talking stick merupakan bagian dari model pembelajaran kooperatif. Model talking stick sendiri sangat baik digunakan dalam proses pembelajaran terlebih untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi pokok yang sudah dijelaskan guru. Model pembelajaran talking stick dilakukan dengan bantuan tongkat (stick), siswa yang memegang tongkat akan menjawab pertanyaan dari guru. Model pembelajaran talking stick sangat cocok diterapkan diberbagai jenjang pendidikan seperti pada siswa SD, SMP maupun SMA/SMK.

Selain melatih siswa untuk berbicara, model pembelajaran ini mampu membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menarik serta melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian relevan, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick diyakini mampu meningkatkan minat dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan penggunaan model kooperatif tipe talking stick dapat melatih kemampuan siswa untuk berpikir kritis, mengarahkan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran dan melatih siswa agar mampu bekerjasama dalam kelompok. Selain itu, melatih siswa agar

mampu memahami materi dengan cepat, memacu siswa agar belajar dengan giat, berani mengemukakan pendapat, serta membuat proses pembelajaran menjadi santai sehingga siswa tidak merasa jenuh dan bosan karena dengan talking stick siswa belajar sambil mendengarkan lagu atau musik yang diputar guru.

Dalam pelaksanaannya, model pembelajaran talking stick dapat diterapkan di awal pembelajaran maupun pada pertengahan pembelajaran. Penerapan pada awal pembelajaran bertujuan untuk mengetahui kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, serta untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami atau mengingat materi pembelajaran sebelumnya. Sementara itu penerapan model talking stick pada pertengahan pembelajaran bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa paham atas materi pembelajaran yang sudah diberikan, serta sejauh mana siswa fokus dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, model pembelajaran kooperatif tipe talking stick sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran sejarah untuk meningkat minat belajar siswa serta membuat proses pembelajaran lebih menarik dan bervariasi.

b. Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Talking Stick Secara Umum Adapun langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif tipe talking stick adalah sebagai berikut:

1) Guru menyiapkan sebuah tongkat yang berukuran kecil.

2) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian siswa dalam kelompok berdiskusi tentang topik-topik permasalahan yang diberikan guru.

3) Setelah siswa selesai berdiskusi dalam kelompok, guru mempersilahkan siswa untuk menutup semua buku catatan.

4) Guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah satu siswa, setelah itu guru memutarkan lagu dan tongkatnya bergulir secara berurutan dari siswa ke siswa. Saat tongkatnya berpindah, guru menghentikan lagunya dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawab pertanyaan. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan dari guru.

Metode ini bermanfaat karena mampu menguji kesiapan siswa, melatih keterampilan dalam mengemukakan pendapat dan melatih siswa untuk memahami materi pelajaran dengan cepat, serta mengajak siswa untuk terus siap dalam situasi apapun.

Dalam kajian pustaka ini langkah-langkah pembelajaran sejarah menggunakan model talking stick pada materi KD 3.7 tentang teori-teori proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia, dapat digambarkan melalui skema di bawah ini.

Gambar III: Rancangan Proses Pembelajaran

Pertemuan pertama

1. Menjelaskan materi pokok 2. Membentuk kelompok dan berdiskusi

3. Penerapan model talking stick.

4. Presentasi hasil diskusi 6. Kesimpulan

Pertemuan kedua

1. Menjelaskan materi pokok 2. Membentuk kelompok dan berdiskusi

3. Penerapan model talking stick.

4. Presentasi hasil diskusi 5. Penugasan

6. Kesimpulan

Gambar IV: Proses Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas Guru menjelaskan secara garis

besar materi pokok pada KD 3.7 tentang teori-teori masuk dan siswa untuk menutup semua buku pelajaran. Guru memberikan sebuah tongkat kepada siswa. sambil

mendengarkan musik atau lagu yang diputar guru, tongkat akan terus bergulir. Ketika lagi berhenti siswa yang sedang memegang tentang hasil diskusi kelompok

Contoh pembagian kelompok berdasarkan kemampuan akademis Tabel 2: Prestasi Siswa di Kelas

Prestasi siswa Jumlah siswa

A 9

B 12

C 9

Keterangan:

A: Pandai B: Sedang C: Rendah

Gambar III: Kelompok Diskusi

c. Identifikasi Kompetensi Dasar (KD)

Kompetensi Dasar (KD) dalam kurikulum 2013 terdapat tiga aspek yang harus dicapai yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk menunjukkan siswa telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Dalam pembelajaran sejarah Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA), jumlah kompetensi dasar dari kelas X sampai kelas XII terdapat kurang lebih 27 Kompetensi Dasar (KD). Untuk kelas X terdapat 8 Kompetensi Dasar, sedangkan kelas XI terdapat 10 Kompetensi Dasar dan untuk kelas XII terdapat 9 Kompetensi Dasar yang harus dicapai.

Kompetensi dasar sejarah Indonesia yang cocok menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dapat dirincikan melalui tabel berikut.

Tabel 3: Kompetensi dasar yang cocok dengan talking stick

Kelas X Kelas XI Kelas XII

3.3 dan 4.3 3.1 dan 4.1 3.1 dan 4.1

3.4 dan 4.4 3.2 dan 4.2 3.2 dan 4.2

3.5 dan 4.5 3.3 dan 4.3 3.3 dan 4.3

3.6 dan 4.6 3.4 dan 4.4 3.4 dan 4.4

3.7 dan 4.7 3.5 dan 4.5 3.5 dan 4.5

3.8 dan 4.8 3.6 dan 4.6 3.6 dan 4.6

3.7 dan 4.7 3.7 dan 4.7 3.8 dan 4.8 3.8 dan 4.8 3.9 dan 4.9 3.9 dan 4.9 3.10 dan 4.10

Berdasarkan tabel di atas, terdapat dua kompetensi dasar pada kelas X yaitu KD 3.1 memahami konsep berpikir kronologis, diakronik, sinkronik, ruang, dan waktu dalam sejarah dan KD 3.2 memahami konsep perubahan dan keberlanjutan dalam sejarah, yang tidak cocok untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick. Hal ini dikarenakan kedua kompetensi dasar tersebut

tidak memenuhi kriteria untuk penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick. Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick sendiri semakin banyaknya materi pembelajaran, maka guru dengan mudah mengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok diskusi. Selain itu, dengan materi pembelajaran yang luas dapat membantu guru untuk membuat pertanyaan sebanyak-banyaknya yang akan digunakan pada saat penerapan model talking stick yaitu dengan melakukan proses tanya jawab (kuis).

Adapun contoh materi pembelajaran yang cocok untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick yang peneliti gunakan dalam dalam kajian pustaka ini yaitu materi kelas X dengan Kompetensi Dasar 3.7 Menganalisis berbagai teori tentang proses masuknya agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia dan 4.7 Mengolah informasi teori tentang proses masuknya agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia dengan menerapkan cara berpikir sejarah, serta mengemukakannya dalam bentuk tulisan.

2. Rancangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick dalam