METODOLOGI PENELITIAN
Gambar 4.14. Jarak Oulet Nozzle dan Termal Manikin dengan Ketinggian
Gambar 4.14. Jarak Oulet Nozzle dan Termal Manikin dengan Ketinggian
Nozzle 1,8 m (Posisi Kepala)
7. Ketinggian aliran udara panas diatur menggunakan pipa nozzle, kecepatan aliran udara diatur dari blower sedangkan suhu udara panas diatur melalui heater di dalam kotak akrilik sesuai dengan variabel eksperimen yang telah ditetapkan.
Berikut merupakan skema ketinggian aliran udara panas terhadap termal manikin yang dapat dilihat pada Gambar 4.15.
0,4 m
1,8 m
IV-12
`
Gambar 4.15. Skema Ketinggian Nozzle terhadap Termal Manikin
8. Pengukuran pada satu replikasi dilakukan selama 60 menit dengan interval 1 menit.
9. Pengukuran semua temperatur udara dilakukan dalam satu hari dimana setup dilakukan pada jam 08.30 WIB – 09.00 WIB, kemudian dimulai pengukuran coverall medis pada ketinggian aliran udara panas dari posisi mata kaki dengan temperatur udara panas 40oC dengan kecepatan udara panas 4 m/s pada 09.00 WIB – 10.00 WIB, pengukuran pada ketinggian aliran udara panas dari posisi lutut dengan temperatur udara panas 40oC dengan kecepatan udara panas 4 m/s pada 10.15 WIB – 11.15 WIB, pengukuran pada ketinggian aliran udara panas dari posisi leher dengan temperatur udara panas 40oC dengan kecepatan udara panas 4 m/s pada 11.30 WIB – 12.30 WIB, pengukuran pada ketinggian aliran udara panas dari posisi kepala dengan temperatur udara panas 40oC dengan
IV-13
kecepatan udara panas 4 m/s pada 12.45 WIB – 13.45 WIB, setelah selesai dilakukan pengukuran semua alat pengukuran dimatikan dan disimpan pada tempatnya. dan dilanjutkan di hari berikutnya.
Berikut merupakan skema waktu pengukuran berdasarkan ketinggian aliran udara panas yang dilihat pada Gambar 4.16.
0,1 Ketinggian Nozzle (m)
60 60 60 60
Waktu Pengukuran (menit)
1 2 3 4
0,4 1,6 1,8
Gambar 4.16. Skema Waktu Pengukuran berdasarkan Ketinggian Nozzle
10. Pengukuran dilakukan selama 3 kali replikasi untuk setiap perlakuan dengan total pengukuran selama 6 hari.
4.5. Variabel Penelitian
Variabel penelitian terbagi menjadi dua, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen baik secara positif maupun negatif, sedangkan variabel dependen
IV-14
`
merupakan variabel yang nilai atau valuenya dipengaruhi atau ditentukan oleh nilai variablel lain.
Adapun variabel independen pada penelitian ini, yaitu:
a. Bahan pakaian coverall medis, yaitu bahan jenis SMS (Spunbond Meltblown Synthetic) Polypropylene / Spunbond dan Poly-Vinyl Chloride (PVC).
b. Ketinggian nozzle, yaitu ketinggian dari 0,1 m (mata kaki), 0,4 m (lutut), 1,6 m (leher) dan 1,8 m (kepala).
c. Temperatur panas, yaitu 40oC.
d. Kecepatan aliran udara, yaitu 4 m/s.
Sedangkan, variabel dependen pada penelitian ini, adalah nilai resistensi termal pakaian coverall medis.
4.6. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual menggambarkan alur berpikir/konsep dalam menyelesaikan permasalahan, yang dapat dilihat pada Gambar 4.17.
Nilai Resistensi
Gambar 4.17. Kerangka Konseptual Penelitian
IV-15
Kerangka konseptual penelitian pada Gambar 4.17. menjelaskan bahwa permasalahan yang akan diteliti adalah nilai resistensi termal pada coverall medis yang diberikan perlakuan berupa ketinggian nozzle yang berbeda-beda dengan temperatur panas 40oC dan kecepatan aliran udara 4 m/s. Pada penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukur perpindahan panas (heat transfer) adalah nilai resistensi termal. Nilai resistensi termal merupakan variabel yang mempengaruhi kemampuan bahan coverall medis tersebut untuk dapat memindahkan panas dari termal manikin ke lingkungan. Berdasarkan analisis nilai resistensi termal, maka akan diperoleh hasil berupa jenis pakaian coverall tenaga medis yang cocok digunakan pada lingkungan tertentu yang pada percobaan ini adalah lingkungan yang memiliki udara panas.
Definisi operasional yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bahan pakaian coverall medis adalah bahan pembuatan yang digunakan pada pakaian coverall medis.
2. Ketinggian Nozzle adalah ketinggian posisi oulet nozzle mengeluarkan aliran udara panas ke bagian tubuh termal manikin yang menggunakan coverall medis.
3. Temperatur panas adalah temperatur udara yang didistribusikan menggunakan heater melalui outlet nozzle ke termal manikin yang berpakaian coverall medis.
4. Kecepatan aliran udara adalah kecepatan udara yang dialirkan ke termal manikin yang menggunakan coverall medis.
IV-16
`
5. Nilai resistensi termal adalah perbedaan temperatur antara kedua permukaan bahan dibagi dengan fluks panas yang dihasilkan per satuan luas dalam arah gradien dan daya listrik untuk memberi panas pada termal manikin.
4.7. RoadMap Penelitian
Berikut merupakan roadmap penelitian yang dilakukan yang dapat dilihat pada Gambar 4.18.
Gambar 4.18. Roadmap Penelitian
4.8. Tahapan Penelitian
Berikut merupakan diagram alir tahapan penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 4.19.
IV-17
Temperatur kulit termal manikin menggunakan coverall medis
Pengolahan Data
1. Melakukan perancangan eksperimen menggunakan termal manikin dengan coverall medis dengan variabel
Ketinggian nozzle Temperatur udara panas Kecepatan udara panas
2. melakukan uji kenormalan data
3. melakukan perhitungan nilai resistensi termal total berdasarkan setiap perlakuan 4. membandingkan nilai resistensi termal total
5. melakukan perhitungan nilai resistensi termal pakaian coverall medis 6. membandingkan nilai resistensi termal pakaian coverall medis
Identifikasi Masalah
Nilai resistensi termal pakaian (clothing insulation) merupakan salah satu faktor utama untuk tercapainya kondisi kenyamanan termal pada manusia. Penelitian ini difokuskan pada bahan pembuatan coverall medis yang digunakan pada lingkungan kerja panas dengan menggunakan termal manikin
Gambar 4.20. Diagram Alir Tahapan Penelitian
IV-18
`
4.9. Sumber Data
Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh melalui pengamatan langsung terhadap penelitian yang dilakukan. Dalam hal ini, data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data hasil pengukuran temperatur kulit termal manikin yang berpakaian coverall medis dengan bahan SMS Polypropylene / Spunbond dan Poly-Vinyl Chloride (PVC). Coverall medis spunbond yang digunakan bersifat hidrofobik disposable (sekali pakai) dengan ketebalan 75 gsm dengan serat yang berukuran kecil untuk menyaring dan menahan fluida.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung atau diperoleh dari pihak kedua atau ketiga. Dalam penelitian ini tidak digunakan data sekunder.
4.10. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1. Melakukan pengukuran temperatur kulit termal manikin dengan coverall medis