• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.2 Gambaran komunitas migran Bugis di desa tujuan

Lawonua, terletak sekitar 37 km dari Unaaha, ibu kota Kabupaten Konawe, dan sekitar 39 km dari Kendari, ibu kota Provinsi. Desa ini merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Besulutu. Kecamatan yang berada di titik koordinat 03’57.962’ LS dan 122’19.921’ BT merupakan penghasil coklat yang cukup besar di Kabupaten Konawe. Kontribusi coklat berasal dari luasan 2141 ha dengan produksi sebesar 2630 kuintal. Lada atau merica juga merupakan tanaman andalan karena tingkat produksinya yang mencapai 380 ton per hektar. Jagung, semangka dan kacang kedelai merupakan produk tanaman pangan yang utama dihasilkan di kecamatan ini.

4.2.1 Kondisi Fisik Wilayah

Lawonua merupakan desa yang sebagian wilayahnya (65%) merupakan dataran dan sebagian lainnya merupakan wilayah berbukit yang banyak

29

didominasi dengan tanaman coklat, buah-buahan seperti rambutan, langsat dan durian, serta merica, dan juga tanaman palawija lainnya. Saat ini, sekitar 17% dari luasan wilayah desa ini kini merupakan areal kebun sawit yang dikelola oleh PT Utama Agrindo Mas (PT UAM). Perusahaan ini rencananya akan melakukan penanam sawit di atas lahan 45 ribu hektar yang tersebar di Desa Bondoala, Wonggeduku, Sampara, Besulutu, Pondidaha, Lambuya serta Puriala. Namun sejauh ini baru di wilayah Desa Lawonua yang sudah ditanami.

Luasan Desa Lawonua sekitar 20,39 Km2 yang terbagi menjadi 3 wilayah dusun, yaitu Dusun 1, 2, 3 dan satu wilayah yang masih mencakup Dusun 3 namun letaknya agak jauh dari pusat desa yaitu Sambarapa. Desa ini dibatasi dengan sungai Konawe eha di Sebelah Timur yang langsung berbatasan dengan desa Besulutu. Desa Amosilu, Asaria, Ramolua membatasi desa ini di sebelah Utara, Selatan dan Barat. Lahan coklat di wilayah ini meliputi 38% dari total luasan wilayah.

Sektor pertanian dan perkebunan berkontribusi sekitar 54% dari total pendapatan rumah tangga di Lawonua, sedangkan 46% lainnya berasal dari kegiatan non pertanian dan perkebunan (non farm) (Janudianto 2013). Dari sektor perkebunan, sebagian besar penduduknya memiliki sumber mata pencaharian dengan tanaman coklat (42%), dan lada (9%). Buah-buahan seperti rambutan dan durian merupakan sumber penghidupan berbasis lahan yang juga cukup penting. Tanaman komoditi lainnya yang banyak ditemukan di desa ini adalah kopi, cengkeh dan sebagian orang mulai menanam nilam.

Desa Lawonua berkembang dengan adanya dukungan beberapa program pemerintah serta juga dari dukungan warga setempat yang secara swadaya ikut membangun wilayahnya. Program SRADP di akhir era 1990an cukup membantu meningkatkan perekonomian rakyat dengan bantuan bibit, dana dan dukungan teknisnya.

4.2.2 Sejarah dan Dinamika Kependudukan

Desa Lawonua terbentuk lebih kurang sekitar 30 tahun lalu, dan merupakan desa perpanjangan dari Desa Amosilu. Pada sekitar tahun 1978, Departemen Sosial menjalankan program bantuan bencana sebagai tindak lanjut bencana alam banjir Sungai Konawe eha tahun 1959. Komunitas desa dibuatkan rumah ukuran 4 x 6 m lalu diberi bantuan biaya hidup dan alat-alat kebutuhan hidup selama 1 tahun. Kawasan pemukiman tersebut dibuka dari areal yang masih hutan, dan menempatkan sekitar 10 – 20 KK, warga Desa Amosilu yang berusia muda atau pasangan yang baru menikah, untuk tinggal di daerah bukaan yang sekarang dikenal sebagai Desa Lawonua. Lokasi desa baru tersebut hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki selama lebih kurang 3 jam perjalanan menuju ke desa Amosilu yang berada di jalan poros Kendari - Unaaha.

Berdasarkan Perda no 16/2003, wilayah desa ini ditetapkan masuk menjadi wilayah kecamatan Besulutu. Sebelumnya, desa ini, dan juga Desa Amosilu, cikal bakal Desa Lawonua, merupakan bagian kecamatan Sampara. Saat masih menjadi bagian dari Sampara, wilayah desa ini sempat menjadi lokasi transmigrasi asal Jawa dan Bali. Semua warga transmigran tersebut ramai-ramai meninggalkan

lokasi transmigran ini dan kembali ke lokasi asal mereka, Pulau Jawa. Alasan kepergian mereka terutama karena adanya hama dan penyakit tanaman, sebagian lainnya beralasan karena kondisi pemukiman kurang memadai dan lahan garapan yang diberikan tidak sesuai dengan harapan mereka, serta juga adanya konflik antara komunitas pendatang dengan pribumi. Beberapa narasumber menyatakan bahwa awal 1980 an, hama babi dan monyet memang sedang menggila, lahan- lahan yang baru ditanam banyak diserang oleh hama tersebut. Pemukiman juga masih berada jauh di dalam daerah berhutan, yang hanya dapat dilalui jalan setapak sekitar 2 jam perjalanan menuju pusat keramaian. Beberapa narasumber menceritakan bahwa tingkat konflik antara pribumi dan pendatang saat itu cukup tinggi, komunitas pribumi sepertinya menolak kehadiran para pendatang ini. Dengan demikian hampir 100% penduduk transmigran tersebut meninggalkan lokasi Desa Lawonua. Petak-petak yang ditinggalkan oleh penduduk transmigran ini kemudian dikuasai oleh pribumi.

4.3 Ikhtisar

Komunitas Bugis di desa asal merupakan komunitas desa pertanian dan perkebunan dengan sumber pendapatan utama berbasis pada penggunaan lahan kebun campur dan petani sawah. Jika dimasukkan dalam tipologi yang dikemukakan oleh Abustam (1987), maka Desa Kalobba disebutkan memiliki ciri daerah pinggiran, dengan sumber daya lingkungan terbatas dan teknologi pertanian yang menengah. Dalam tipologi yang disampaikan Abustam (1987), maka karateristik Desa Kalobba mendekati desa tipe 2, desa pinggiran namun masih memiliki akses terhadap kegiatan ekonomi yang lebih baik dari desa tipe 3 yang sama sekali terpencil. Meski Desa Kalobba tidak dapat disebut sebagai desa terpencil, namun sumber daya lahan semakin terbatas karena penguasaan orang dari luar desa. Kompetisi atas lahan ini menjadi satu kondisi yang menyebabkan migrasi keluar di desa ini cukup tinggi.

Desa Lawonua, sebagai desa di daerah tujuan, digambarkan sebagai sebuah desa yang memiliki penduduk gabungan pendatang dari Bugis dan penduduk asli beretnis Tolaki yang hampir sama komposisinya. Dengan memiliki pola pertanian dan perkebunan yang berbeda, kedua etnis dominan ini hidup berdampingan yang saat ini cukup harmonis. Komunitas Bugis migran lebih banyak mengembangkan kebun coklat yang dikelola cukup intensif, dan tinggal menyebar ke beberapa daerah pedalaman yang jauh dari pusat desa. Komunitas asli Tolaki lebih memilih tinggal di pusat desa dengan pemukiman yang saling berdekatan satu sama lain, dan lebih menyukai sistem pertanian semusim dengan tanaman utamanya adalah sayuran atau palawija.

31