• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM KEBIJAKAN TRANSFER PRICING

4.3 Gambaran mengenai kewajiban pembuatan transfer pricing

documentation di Indonesia

Ketentuan mengenai kewajiban pembuatan Transfer Pricing Documentation di Indonesia terdapat di dalam pasal 16 ayat (2) dan ayat (3) PP 80 tahun 2007 tentang tata cara pelaksanaan hak dan kewajiban UU KUP. Adapun ketentuan dalam kedua pasal tersebut berbunyi.:

(2) Dalam hal Wajib Pajak melakukan transaksi dengan para pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak, kewajiban menyimpan dokumen lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi dokumen dan/atau informasi tambahan untuk mendukung bahwa transaksi yang dilakukan dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa telah sesuai dengan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dokumen dan/atau informasi tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tata cara

pengelolaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

Kedua pasal ini menjelaskan apabila Wajib Pajak melakukan transaksi dengan para pihak yang memiliki hubungan istimewa maka kewajiban untuk menyimpan dokumen dan/atau informasi tambah untuk mendukung bahwa transaksi yang dilakukan dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa telah sesuai dengan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha. Ketentuan ini secara signifikan akan merubah praktik perpajakan internasional di Indonesia. Dalam ketentuan ini mewajibkan Wajib Pajak untuk mempersiapkan dokumentasi transfer pricing untuk mendukung pelaporan SPT PPh Badan tahun pajak 2008 dan tahun-tahun berikutnya. (Danny Darussalam, 2008:95)

Pada pertengahan tahun 2009 yaitu muncul PER-39/PJ/2009 tentang SPT PPh Badan beserta petunjuk pengisiannya yang terdapat beberapa lampiran baru dan salah satunya adalah lampiran 3A yang mempertanyakan tentang:

a. Pihak-pihak hubungan istimewa mana saja yang menjadi lawan transaksi

b. Jenis-jenis transaksi apa saja yang dilakukan dengan pihak hubungan istimewa

c. Apakah terdapat pihak hubungan istimewa yang terdapat di tax haven country

d. Apakah WP membuat Dokumentasi Penetapan Harga Wajar Transaksi:

1) Gambaran Perusahaan Secara Rinci:

a) Struktur Kepemilikan yang menunjukkan keterkaitan antara semua perusahaan dalam satu kelompok perusahaan multinasional.

c) Aspek-aspek kegiatan operasional Wajib Pajak termasuk rincian fungsi-fungsi yang dilaksanakan dalam unit operasional organisasi Wajib Pajak.

d) Gambaran lingkungan usaha secara rinci 2) Gambaran mengenai Transaksi:

a) Informasi transaksi dengan Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa

b) Data transaksi pembanding

c) Dalam Hal WP bertindak sebagai penjual, menyerahkan atau memnijamkan maka memiliki data sebagai berikut:

(A) Kebijakan penentuan harga dan data penentuan harga dalam 5 tahun terakhir

(B) Rincian biaya pabrikasi atau harga perolehan atau biaya penyiapan jasa

3) Catatan Hasil Analisi Kesebandingan:

a) Karakteristik dari produk yang ditransaksikan

b) Analisis fungsional yang dijadikan dasar pertimbangan dilakukannya transaksi antara Wajib Pajak dan pihak yang memiliki Hubungan Istimewa, semua risiko-risiko diasumsikan dan aktiva-aktiva digunakan dalam transaksi tersebut

c) Kondisi ekonomi yang terjadi pada saat terjadinya transaksi tersebut

d) Persyaratan-persyaratan transaksi termasuk juga perjanjian kontrak antara Wajib Pajak dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa di luar negeri.

e) Strategi bisnis Wajib Pajak saat melakukan transaksi dengan pihak afiliasi

4) Catatan Mengenai Penentuan Harga Wajar:

a) Metodologi penentuan harga wajar yang menunjukkan bagaimana harga wajar diperoleh

b) Data pembanding yang digunakan oleh Wajib Pajak dalam menentukan harga transfer

c) Aplikasi metodologi penentuan harga transfer dan penggunaan data pembanding dalam penentuan harga transfer

Tahun 2010 Direktorat Jendral Pajak mengeluarkan PER-43/PJ./2010 yang mengatur tentang penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha dalam transaksi antara Wajib Pajak dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa. di dalam Pasal 3 peraturan tersebut dibahas bagaimana cara-cara yang harus dilakukan oleh Wajib Pajak untuk menerapkan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha di dalam usahanya, adapun yang harus dilakukan oleh Wajib Pajak untuk menerapkan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha adalah:

a) melakukan Analisis Kesebandingan dan menentukan pembanding;

b) menentukan metode Penentuan Harga Transfer yang tepat; c) menerapkan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha

berdasarkan hasil Analisis Kesebandingan dan metode Penentuan Harga Transfer yang tepat ke dalam transaksi yang dilakukan antara Wajib Pajak dengan pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa; dan

d) mendokumentasikan setiap langkah dalam menentukan Harga Wajar atau Laba Wajar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

Dalam PER-32/PJ/2011 yang menyempurnakan peraturan yang diatur dalam PER-43/PJ/2010, sehingga ada beberapa pasal yang berubah di

antarnya yang mengatur mengenai pembuatan dokumentasi transfer pricing dan beberapa pasal yang dirubah terkait masalah transfer pricing . Pada Pasal 3 di PER-32/PJ/2011 menyebutkan apabila transaksi dengan perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa tidak melebihi Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) dalam satu tahun maka tidak diwajibkan untuk membuat transfer pricing documentation. Ketentuan ruang lingkup di PER-43/PJ./2010 juga menyebutkan “transaksi Wajib Pajak dengan Pihak Hubungan Istimewa” harus membuat transfer pricing documentation, juga diperbaharui di PER-32/PJ/2011 yang menjelaskan apabila dengan sesama Wajib Pajak dalam negeri tapi ada pemanfaatan perbedaan tarif baru perlu dicermati apakah suatu perusahaan tersebut perlu membuat transfer pricing documentation atau tidak.

Berdasarkan S-153/PJ.04/2010 mengenai Panduan Pemeriksaan Kewajaran Transaksi Afiliasi menjelaskan beberapa hal terkait transfer pricing yang berlaku di Indonesia. Dikeluarkannya panduan ini di tahun 2010 bertujuan untuk meningkatkan kesesuaian praktek pemeriksaan pajak yang dilakukan para pemeriksa pajak dengan ketentuan mengenai pedoman pemeriksaan yang berlaku. Tujuan yang kedua untuk meningkatkan keseragaman penerapan prinsip kewajaran dalam transaksi afiliasi di seluruh Indonesia, yang penerapannya dilakukan pada saat pemeriksaan pajak. Ketiga, untuk memberikan penegasan atas beberapa ketentuan dalam Pedoman Pemeriksa dan Petunjuk Penanganan Transfer Pricing yang diterbitkan pada tahun 1993. Tujuan yang terakhir adalah untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan dan kualitas hasil pemeriksaan kewajaran transaksi afiliasi.

4.4 Ketentuan transfer pricing documentation berdasarkan OECD