• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengamatan Makroanatomi dan Mikroanatomi

BAHAN DAN METODE

B. Pengamatan Makroanatomi dan Mikroanatomi

Pengamatan makroanatomi dilakukan setelah proses pengawetan dalam larutan paraformaldehid 4%, meliputi pengamatan bentuk dan pengukuran organ esofagus dan lambung. Pengukuran menggunakan jangka sorong dan benang kasur sebagai alat bantu. Setelah pengamatan dan pengukuran, dilakukan pemotretan organ esofagus dan lambung secara keseluruhan.

Pengamatan mikroanatomi dilakukan dengan pembuatan preparat histologi. Sampel organ diambil dari enam daerah esofagus dan lambung yaitu : esofagus bagian kranial, medial, kaudal yang berbatasan dengan lambung, daerah kurvatura minor fundus, medial korpus, dan daerah perbatasan antara lambung (pilorus) dan usus. Sampel diproses secara rutin histologi diawali dehidrasi di dalam alkohol dengan konsentrasi bertingkat 70%, 80%, 90%, 95%, dan 100%, dilanjutkan dengan proses clearing dengan larutan xylol, infiltrasi parafin cair ke dalam jaringan dan kemudian ditanam dalam parafin (embedding) menjadi blok parafin. Blok parafin dipotong dengan ketebalan 3 µm dan 5 µm dengan mikrotom. Selanjutnya preparat disimpan dalam inkubator dengan suhu 37 °C selama 24 jam untuk penyempurnaan penempelan jaringan pada object glass dan siap untuk diwarnai. Proses pewarnaan didahului dengan proses deparafinisasi dilanjutkan proses rehidrasi yang bertujuan untuk mengembalikan air ke dalam sediaan. Proses tersebut dimulai dari larutan xylol, dilanjutkan dengan larutan alkohol 100%, 95%, 90%, 80%, 70%. Selanjutnya dilakukan proses pewarnaan dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE), alcian blue (AB),

dan periodic acid Schiff (PAS) (prosedur terlampir). Setelah itu dilakukan

dehidrasi, clearing dengan menggunakan xylol, dan penutupan sediaan dengan cover glass menggunakan perekat Entelan®.

15

Pengamatan mikroanatomi meliputi pengamatan struktur umum esofagus dan lambung dengan pewarnaan HE. Selain itu dilakukan pengamatan komposisi substansi mukus menggunakan pewarnaan AB dan PAS. Pengamatan struktur umum meliputi bentuk, macam sel, dan distribusi kelenjar serta struktur lapisan dinding esofagus dan lambung. Pengamatan substansi mukus dilakukan untuk mengetahui sifat dan komposisi karbohidrat dari substansi mukus di esofagus dan lambung.

Analisis Hasil

Analisis dilakukan secara deskriptif dengan membuat dan mengamati preparat baik makroskopis maupun mikroskopis, mencatat hasil pengamatan serta membandingkan dengan data pada hewan lain maupun literatur.

HASIL

Morfologi Esofagus dan Lambung Musang Luak a. Makroanatomi

Berdasarkan hasil pengamatan situs viscerum, esofagus pada awalnya berjalan di sebelah dorsal trakhea, kemudian di pertengahan daerah leherberbelok ke sisi kiri trakhea. Selanjutnya, di daerah thoraks organ ini kembali ke dorsal. Setelah bifurcatio trachealis, esofagus menembus hiatus esophagus pada diafragma dan bermuara di lambung. Esofagus bermuara ke bagian proksimal lambung sebelah kiri. Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh panjang esofagus rata-rata adalah 17,3 ± 1,92 cm. Hasil pengukuran diameter esofagus menunjukkan bagian kranial memiliki diameter rata-rata sebesar 1,06 ± 0,16 cm, lebih lebar dibandingkan dengan esofagus bagian medial dan kaudal dengan rata-rata berturut-turut adalah 0,72 ± 0,06 dan 0,83 ± 0,15 cm. Pengukuran panjang dan diameter dari tiga sampel organ esofagus musang luak tersebut dapat dilihat dalam Tabel 2. Tabel 2 Hasil pengukuran panjang dan diameter esofagus dari tiga sampel organ

esofagus musang luak

Keterangan : p = panjang d = diameter

Lambung musang luak merupakan lambung tunggal, terletak di bagian anterioventral ruang abdomen sebelah kiri. Letak lambung tertutup oleh hati pada permukaan kranio-ventral. Lambung bagian kranial berbatasan dengan otot diafragma dan di sepanjang kranio-lateral lambung sebelah kiri terdapat organ limpa yang berukuran relatif panjang, sehingga hanya sebagian kecil lambung yang tampak apabila dalam keadaan kosong (Gambar 6).

Sampel Musang Esofagus (cm)

p d kranial d medial d kaudal

A 16,4 0,9 0,65 0,65

B 16 1,06 0,74 0,89

C 19,5 1,23 0,76 0,94

17

Gambar 5 Situs viscerum saluran pencernaan musang luak.

a. esofagus, b. trakhea, c. paru-paru, d. jantung, e. limpa yang terletak di sepanjang permukaan kranio-lateral lambung, f. hati yang menutupi bagian kranio-ventral lambung, g. lambung, h. usus. Bar = 3 cm.

Gambar 6 Organ visceral musang luak dalam keadaan lambung kosong tampak dorsal (A) dan dalam keadaan lambung penuh ingesta tampak ventral (B).

a. lidah, b. esofagus, c. trakhea, d. paru-paru, e. otot diafragma, f. hati, g. limpa, h. lambung, i. usus, j. kloaka. Bar = 2 cm.

a b c e d f g h a a b b c d d e f f g h i i j j A B h

Lambung musang memiliki bentuk seperti huruf J dengan ukuran kurvatura minor lebih pendek daripada kurvatura mayor. Hasil pengukuran kurvatura mayor dan kurvatura minor lambung musang luak dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil pengukuran lambung pada musang luak A dan B menunjukkan hasil yang tidak terlalu berbeda jauh. Lambung musang luak A dan B berukuran kecil, berdinding tebal, dan mempunyai lipatan mukosa yang banyak dan keras. Sampel lambung tersebut diambil saat dalam keadaan kosong. Berbeda dengan lambung musang luak C yang memiliki ukuran lambung lebih besar dan berdinding sangat tipis karena pada saat pengambilan sampel, lambung dalam keadaan penuh ingesta (Gambar 8). Lambung musang luak terbagi atas empat daerah, yaitu daerah kardia, fundus, korpus, dan pilorus. Kardia adalah daerah lambung yang sempit dan berbatasan dengan gastroesophageal junction, fundus merupakan bagian yang berbentuk seperti kubah, dan pilorus merupakan bagian paling akhir dari lambung. Tabel 3 Hasil pengukuran kurvatura mayor dan kurvatura minor dari tiga sampel

organ lambung musang luak

Sampel Musang Kurvatura Mayor (cm) Kurvatura Minor (cm)

A 9,35 5,15

B 9,47 5,28

C* 27,4 8,74

Rata-rata 15,4±10,4 6,39±2,04 * Lambung berisi penuh ingesta

Ket

Gambar 7 Gambaran morfologi lambung musang luak.

a. esofagus, b. kardia, c. fundus, d. korpus, e. pilorus, f. duodenum, Mi = kurvatura minor, Ma = kurvatura mayor. Bar = 1 cm.

f a b c d Mi Ma e

19

Gambar 8 Gambaran morfologi interior lambung musang luak (A) dalam keadaan kosong yang berdinding tebal dengan permukaan mukosa membentuk banyak lipatan (plica gastrica) dan (B) dalam keadaan penuh ingesta yang berdinding sangat tipis dengan lipatan-lipatan mukosa yang sedikit teramati. Bar = 1 cm.

b. Mikroanatomi

Lapisan Dinding Esofagus dan Lambung Musang Luak

Lapisan dinding esofagus musang luak secara umum sama seperti pada mamalia lainnya yang terdiri atas empat lapisan, yaitu mukosa, submukosa, tunika muskularis, dan tunika adventisia atau serosa (Gambar 9). Seluruh permukaan mukosa esofagus dilapisi oleh epitel pipih banyak lapis yang tidak mengalami keratinisasi. Jaringan ikat yang terletak di bawah lapisan epitel disebut lamina propria yang terdiri atas jaringan ikat kolagen dan jaringan ikat elastis. Lapis muskularis mukosa terdiri atas otot polos dengan arah serabut longitudinal. Muskularis mukosa di bagian kranial esofagus sangat tipis dan tidak selalu terdapat di sepanjang esofagus (diskontinu) yang disayat secara melintang. Bagian medial dan kaudal esofagus memiliki muskularis mukosa lebih tebal dibandingkan dengan bagian kranial dan terdapat di sepanjang mukosa esofagus (Gambar 9). Lapisan muskularis mukosa ini menjadi batas antara lapisan mukosa dengan lapisan submukosa.

Lapisan submukosa adalah lapisan yang terdapat di profundal lapisan mukosa. Lapisan ini didominasi jaringan ikat longgar dan banyak ditemukan pembuluh darah (arteri dan vena) dan saraf. Kelenjar esofagus tidak ditemukan di sepanjang esofagus musang luak.

Tunika muskularis musang luak tersusun atas lapisan otot yang tebal. Tunika muskularis terdiri atas dua lapisan yaitu otot sirkuler di bagian dalam dan otot longitudinal di bagian luar. Semakin ke kaudal kedua lapisan tersebut semakin menebal. Gambaran mikroanatomi esofagus musang luak memperlihatkan tunika muskularis memiliki lapisan otot longitudinal yang lebih tipis dibandingkan dengan lapisan otot sirkulernya. Kedua lapisan ini pada esofagus bagian kranial dan medial tersusun atas otot bergaris melintang. Sedangkan pada bagian kaudal, tersusun oleh otot polos (Gambar 9). Lapisan terluar dari esofagus bagian kranial (daerah cervical) berupa jaringan ikat yang disebut tunika adventisia, sedangkan di bagian kaudal (daerah thoraks dan abdomen) lapisan tersebut merupakan mesothelium atau tunika serosa.

Perbatasan antara esofagus dan lambung secara mikroskopis ditandai dengan adanya perubahan epitel dari epitel pipih banyak lapis menjadi epitel silindris sebaris (Gambar 10). Dinding lambung musang luak memiliki empat lapisan, yaitu mukosa, submukosa, tunika muskularis, dan tunika serosa (Gambar 11). Seluruh permukaan mukosa lambung dilapisi oleh epitel silindris sebaris. Kelenjar lambung terdapat dalam lamina propia dan pada bagian profundalnya terdapat lamina muskularis mukosa yang cukup tebal dan menjadi batas dengan lapisan submukosa.

Tunika muskularis adalah lapisan otot yang tebal dan tersusun atas otot polos yang terbagi menjadi dua lapisan. Lapisan dalam merupakan otot yang tersusun secara sirkuler, sedangkan lapisan luar merupakan otot yang tersusun secara longitudinal. Diantara kedua lapis tunika muskularis ditemukan adanya jaringan ikat longgar, pembuluh darah dan kumpulan sel-sel saraf yang membentuk pleksus myenteric. Bagian terluar dari lambung dilapisi oleh tunika serosa yang disusun oleh jaringan ikat longgar.

21

Gambar 9 Gambaran mikroanatomi dinding esofagus musang luak yang tersusun atas (Mu) mukosa, (SM) submukosa, (TM) tunika muskularis, dan (TA) tunika adventisia atau serosa. A. esofagus bagian kranial dengan muskularis mukosa yang tipis dan diskontinu, B. esofagus bagian medial, dan C. bagian kaudal dengan muskularis mukosa yang lebih tebal dibandingkan dengan bagian kranial.

a. epitel pipih banyak lapis, b. lamina propria, c. muskularis mukosa, d. submukosa, e. otot sirkuler (otot lurik), e’. otot sirkuler (otot polos), f. otot longitudinal (otot lurik), f’. otot longitudinal (otot polos), g. tunika adventisia, g’. tunika serosa. Pewarnaan HE, Bar A= 50 µm, Bar B dan C = 150 µm. TM Mu SM TA d a e’ f’ b c g’ B C a b c d e g f a b c e g A

Gambar 10 Gambaran mikroanatomi batas antara esofagus dan lambung.

() batas esofagus dan lambung, (a) epitel pipih banyak lapis, (b) epitel silindris sebaris. Pewarnaan HE, Bar = 150 µm.

Gambar 11 Gambaran mikroanatomi dinding lambung musang luak yang tersusun atas (Mu) mukosa, (SM) submukosa, (TM) tunika muskularis, dan (Se) tunika serosa. Pewarnaan HE, Bar = 150 µm.

a b Mu SM TM Se

23

Distribusi Kelenjar Lambung Musang Luak

Musang luak memiliki daerah kardia yang sempit, kelenjarnya pendek dan lurus. Epitel permukaan disusun oleh sel epitel silindris sebaris dan membentuk lekukan yang disebut gastric pit. Daerah kelenjar kardia berupa kelenjar tubular sederhana, dengan sel berbentuk kuboid, dan inti terletak di basal. Beberapa sel parietal mulai ditemukan pada daerah peralihan, yaitu batas antara daerah kardia dan daerah fundus (Gambar 12).

Daerah kelenjar fundus menempati sebagian besar daerah lambung. Daerah ini ditandai dengan mulai ditemukannya sel-sel utama (sel chief). Kelenjar fundus berbentuk tubular sederhana atau bercabang yang terbentang di lamina propia hingga batas lapisan muskularis mukosa. Daerah kelenjar fundus musang luak ditemukan adanya empat tipe sel, yaitu sel mukus permukaan, sel leher mukus, sel parietal, dan sel chief. Sel mukus permukaan ditemukan menutupi seluruh permukaan mukosa lambung. Sel leher mukus berjumlah relatif sedikit dan terletak di bagian gastric pit. Di daerah basal kelenjar terdapat sel dengan sitoplasma bergranula dan bersifat basofil serta memiliki inti terletak di tepi. Sel tersebut merupakan sel chief yang memproduksi enzim prekursor yang disebut juga dengan pepsinogen. Sel parietal ditemukan dalam jumlah besar dan terdistribusi pada bagian apikal hingga basal kelenjar. Semakin ke basal jumlah sel parietal semakin berkurang. Sel ini berukuran lebih besar daripada sel chief, berbentuk bulat dengan inti besar terletak di tengah, dan memiliki sitoplasma yang bersifat asidofil (Gambar 13).

Kelenjar pilorus berbentuk tubulus bercabang dan permukaan mukosanya memiliki gastric pit yang dalam (Gambar 14). Kelenjar pilorus tersusun oleh sel-sel mukus. Penebalan otot yang membentuk sphincter pilorus, tidak sejelas pada hewan lain. Batas antara pilorus dan duodenum ditandai dengan ditemukannya vili usus, sel goblet, dan kelenjar Brunner pada proksimal duodenum (Gambar 15).

Gambar 12 Gambaran mikroanatomi daerah kelenjar kardia musang luak yang sempit dengan sel kelenjar berbentuk kuboid dan inti () terletak di basal. Beberapa sel parietal ( ) mulai ditemukan pada daerah peralihan antara kardia dan fundus, (a) lamina propria, (b) muskularis mukosa. Pewarnaan HE, Bar A = 50 µm, A’ = 10 µm.

A’

a

b A

25

Gambar 13 Gambaran mikroanatomi daerah kelenjar fundus musang luak dan sel-sel penyusun kelenjar fundus yang terdiri atas (a) sel-sel mukus permukaan, (b) sel leher mukus, (c) sel chief yang terdistribusi di basal kelenjar, dan (d) sel parietal yang terdistribusi dari apikal hingga basal kelenjar. Pewarnaan HE, Bar A = 50 µm, Bar A’ = 10 µm.

a b c d A A

Gambar 14 Gambaran mikroanatomi daerah kelenjar pilorus musang luak.

a. gastric pit, b. lamina propria, c. kelenjar pilorus.

Pewarnaan HE, Bar = 50 µm.

Gambar 15 Gambaran mikroanatomi batas antara pilorus dan duodenum (A) dan

sphincter pilorus yang berupa penebalan otot tunika muskularis (B).

a. kelenjar pilorus, b. vili usus, c. muskularis mukosa, d. kelenjar Brunner, e. submukosa, f. tunika muskularis.

Pilo = pilorus, Duo = duodenum. Pewarnaan HE, Bar = 150 µm

a b c a Pilo Duo b c c d e e f A B

27

Pengamatan Komposisi Substansi Mukus

Hasil pewarnaan alcian blue (AB) pH 2,5 dan periodic acid Schiff (PAS) memperlihatkan intensitas warna biru dan merah magenta yang lemah hingga kuat pada esofagus dan lambung musang luak dapat dilihat pada Tabel 4. Pada pewarnaan AB, sel-sel epitel mukosa esofagus menunjukkan hasil reaksi negatif. Sel-sel mukus dan sel-sel leher sepanjang permukaan mukosa lambung menunjukkan hasil reaksi positif terhadap pewarnaan AB yang ditunjukkan dengan warna biru pada sel-sel dan lumen kelenjar. Daerah kelenjar kardia, sel-sel kelenjar, dan lumen kelenjar menunjukkan intensitas warna kuat hingga lemah. Sel epitel mukosa kelenjar fundus menunjukkan intensitas warna yang kuat. Intensitas warna pada lumen kelenjar semakin rendah pada kelenjar yang terletak semakin ke bagian basal. Daerah kelenjar pilorus, sel-sel kelenjar, dan lumen kelenjar menunjukkan intensitas warna yang lemah terhadap AB.

Pada pewarnaan PAS terlihat bahwa epitel mukosa esofagus menunjukkan hasil reaksi positif dengan intensitas warna lemah. Sel-sel mukus dan sel-sel leher sepanjang permukaan mukosa lambung menunjukkan hasil reaksi positif terhadap pewarnaan PAS yang ditunjukkan dengan warna merah magenta pada sel-sel dan lumen kelenjar. Daerah kelenjar kardia, sel-sel, dan lumen kelenjar menunjukkan intensitas warna antara sedang hingga kuat. Daerah kelenjar fundus, sel-sel, dan lumen kelenjar menunjukkan reaksi lemah sampai kuat, dan daerah awal kelenjar pilorus menunjukkan reaksi yang kuat terhadap PAS. Intensitas warna semakin lemah ditunjukkan pada perbatasan antara daerah akhir kelenjar pilorus dan duodenum.

Tabel 4 Hasil pewarnaan AB dan PAS pada esofagus dan lambung musang luak

No. Nama Organ Pewarnaan

AB PAS 1. Esofagus - epitel mukosa - + 2. Kardia - epitel mukosa +++ +++ - sel kelenjar + ++ - lumen kelenjar + ++ 3. Fundus - epitel mukosa +++ +++ - sel kelenjar + + - lumen kelenjar + + 4. Pilorus - epitel mukosa + + - sel kelenjar + +++ - lumen kelenjar + +++

Gambar 16 Gambaran mikroanatomi hasil pewarnaan AB dan PAS pada esofagus dan substansi mukus kelenjar lambung musang luak. (A) esofagus, (B) kardia, (C) fundus, (D) pilorus. Bar = 50 µm.

Anak panah: a . intensitas warna biru kuat a’. intensitas warna biru lemah

b . intensitas warna merah magenta kuat b’. intensitas warna merah magenta lemah

PAS b’ PAS b A A AB PAS a AB B B C C D D a’ AB PAS b’ AB a b

29

PEMBAHASAN

Esofagus musang luak pada awalnya berjalan di sebelah dorsal trakhea, kemudian di pertengahan daerah leher (pars cervical) berbelok ke sisi kiri trakhea. Selanjutnya, di daerah thoraks (pars thoracal) organ ini kembali ke dorsal. Setelah

bifurcatio trachealis, esofagus kemudian menembus hiatus esophagus pada

diafragma dan bermuara di lambung (pars abdominal). Kondisi ini mirip dengan posisi esofagus pada ruminansia, kuda, dan babi, tetapi berbeda pada karnivora (Getty 1975). Esofagus pada karnivora berjalan di sepanjang dorsal trakhea sampai

bifurcatio trachealis, selanjutnya esofagus menembus hiatus esophagus pada

diafragma dan bermuara di lambung.

Lapisan dinding esofagus musang luak secara umum sama seperti pada mamalia lainnya yang terdiri atas empat lapisan, yaitu mukosa, submukosa, tunika muskularis, dan tunika adventisia atau serosa (Eurell et al. 2006; Samuelson 2007). Musang luak tidak memiliki kelenjar esofagus. Hewan lain yang tidak memiliki kelenjar esofagus adalah kelinci (Boyd et al. 1980). Pada beberapa hewan, kelenjar esofagus dapat ditemukan terbatas di pharyngoesophageal junction seperti pada kucing, kuda, dan ruminansia (Colville dan Bassert 2002) atau di daerah kranial seperti pada babi, sedangkan kelenjar ini pada anjing terletak di sepanjang esofagus (Samuelson 2007). Keberadaan kelenjar esofagus berkaitan dengan fungsinya. Sekresi kelenjar esofagus berupa mukus yang berfungsi sebagai pelicin untuk memudahkan proses transportasi makanan menuju lambung. Musang luak menyukai buah-buahan sebagai makanannya, buah-buahan dapat lebih mudah ditransportasikan dibandingkan dengan makanan yang berbentuk kering. Selain itu musang luak memiliki kelenjar ludah yang berkembang baik (Pratama 7 September 2012, komunikasi pribadi). Kelenjar ludah menghasilkan sekreta berupa air ludah yang berfungsi membantu membasahi dan melunakkan makanan yang kering, media untuk memecah dan mengencerkan bahan makanan, mempertahankan pH dalam rongga mulut, memecah karbohidrat, dan mengandung lisozim sebagai zat antibakteri (Samuelson 2007). Sekresi air ludah yang dihasilkan diduga cukup membantu melumasi dan melunakkan bahan makanan sehingga tidak memerlukan sekresi mukus dari kelenjar esofagus.

Pergerakan makanan dalam esofagus menuju lambung disebabkan oleh adanya gerakan peristaltik akibat kontraksi dua lapisan otot pada tunika muskularis (Colville dan Bassert 2002). Musang luak memiliki tunika muskularis yang tebal. Tunika muskularis esofagus pars cervical sampai thoracal bagian proksimal disusun oleh otot bergaris melintang. Tunika muskularis pars thoracal bagian distalis yang berbatasan dengan lambung disusun oleh otot polos. Gambaran ini mirip dengan kucing, primata, dan kuda, tetapi berbeda dengan anjing dan ruminansia. Pada anjing dan ruminansia tunika muskularis hanya disusun oleh otot bergaris melintang yang diinervasi oleh sistem saraf somatik dan berada di bawah kontrol kesadaran. Sedangkan otot polos berada di bawah kontrol langsung oleh sistem saraf enterikus dan kontrol tidak langsung oleh sistem saraf otonom (Stevens dan Hume 1995; Cunningham 2002; Samuelson 2007).

Buah kopi yang menjadi makanan musang luak terdiri atas kulit dan biji. Kulit buah kopi memiliki tiga lapisan utama, yaitu kulit luar (exocarp), daging buah

(mesocarp), dan kulit tanduk (endocarp). Sedangkan biji buah kopi terdiri atas dua

bagian yaitu kulit ari dan putih lembaga (endosperma) (AAK 1988). Musang luak yang memakan buah kopi pada awalnya menggigiti kulit dan daging buahnya, setelah buah terkupas musang luak menelannya secara langsung tanpa dikunyah. Oleh karena itu, biji kopi yang keras masih tetap utuh di dalam saluran cerna. Lapisan tunika muskularis yang tebal pada esofagus musang luak diduga merupakan kompensasi dari tidak adanya kelenjar esofagus dan berfungsi untuk menggerakkan makanan menuju lambung.

Lambung musang luak merupakan lambung tunggal, terletak di anterioventral ruang abdomen sebelah kiri. Letak lambung ini sama dengan lambung mamalia monogastrik pada umumnya. Lambung musang luak memiliki bentuk seperti huruf J dengan ukuran kurvatura mayor sekitar dua kali lebih panjang dari kurvatura minor. Bentuk lambung musang luak ini dimiliki oleh beberapa hewan antara lain kuda (Getty 1975) dan kelinci (O’ Malley 2005). Lambung musang luak dapat berdilatasi menjadi sangat luas dalam keadaan penuh ingesta. Kelompok musang memiliki lambung sederhana dan kecil, tetapi dapat berdistensi menjadi sangat luas untuk menampung makanan dalam jumlah besar (Aspinall dan O’Reilly 2004). Menurut Cunningham (2002), lambung terbagi atas dua regio fisiologis, yaitu regio proksimal dan regio distal yang memiliki fungsi

31

berbeda. Regio proksimal lambung berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan untuk menunggu proses pencernaan lebih lanjut dalam distal lambung. Regio distal berfungsi dalam memecah makanan menjadi partikel-partikel kecil untuk proses absorbsi selanjutnya di dalam usus. Lambung bagian proksimal dapat berdilatasi dan menerima makanan dalam jumlah besar akibat adanya relaksasi otot saat makanan masuk ke dalam lambung. Saat lambung dalam keadaan kosong, ketegangan dinding proksimal lambung sedikit meningkat sehingga mendorong makanan ke bagian distal lambung yang selanjutnya akan ditransportasikan ke duodenum.

Lambung musang luak terbagi atas empat daerah, yaitu daerah kardia, fundus, korpus, dan pilorus. Kardia adalah daerah lambung yang sempit dan berbatasan dengan gastroesophageal junction, fundus merupakan bagian yang berbentuk seperti kubah, dan pilorus merupakan bagian paling akhir dari lambung. Secara mikroanatomi dinding lambung musang luak memiliki struktur umum sama seperti lambung mamalia lainnya. Dinding lambung memiliki empat lapisan seperti umumnya saluran pencernaan, yaitu mukosa, submukosa, tunika muskularis, dan serosa (Samuelson 2007; Telford dan Bridgman 1995). Seluruh permukaan mukosa lambung musang luak dilapisi oleh sel epitel silindris sebaris. Epitel permukaan ini akan beregenerasi bila mengalami kerusakan (Eurell et al. 2006).

Distribusi Kelenjar Lambung Musang Luak

Lambung musang terbagi atas tiga daerah kelenjar, yaitu kardia, fundus, dan pilorus. Menurut Telford dan Bridgman (1995), kardia merupakan bagian lambung yang sempit dan berbatasan dengan gastroesophageal junction. Musang luak memiliki daerah kardia yang sempit, kelenjarnya pendek dan lurus. Beberapa sel parietal mulai ditemukan pada daerah peralihan, yaitu batas antara daerah kardia dan fundus. Kondisi daerah kelenjar kardia yang sempit ini juga ditemukan pada hewan karnivora seperti kucing dan anjing, tetapi berbeda dengan lambung babi dengan daerah kelenjar kardia yang menempati sebagian besar daerah proksimal lambung (Cunningham 2002). Kelenjar kardia hanya mengandung satu macam sel yaitu sel penghasil mukus. Menurut Cunningham (2002), kelenjar kardia memproduksi sekresi mukus dan bermanfaat untuk melindungi mukosa esofagus yang berbatasan dengan daerah kardia dari sekresi asam lambung.

Musang luak memiliki daerah kelenjar fundus yang menempati sebagian besar daerah lambung. Menurut Eurell et al. (2006), daerah kelenjar fundus pada karnivora mencapai lebih dari setengah mukosa lambung. Daerah ini ditandai dengan ditemukannya sel utama, sel parietal, sel leher, dan sel mukus permukaan. Ditemukannya sel parietal dalam jumlah besar dan terdistribusi mulai dari apikal sampai basal kelenjar, menunjukkan besarnya peranan HCl pada lambung musang luak. Kondisi banyaknya sel parietal dalam lambung musang luak dapat menyebabkan suasana lambung menjadi sangat asam karena besarnya produksi HCl yang dihasilkan. Asam khlorida (HCl) berfungsi untuk mengaktifkan enzim-enzim proteolitik yang dihasilkan oleh sel-sel utama dan berperan sebagai antiseptik, bakterisidal, dan hidrolisis sukrosa (Trautmann dan Fiebiger 1957). Hal ini sejalan dengan pernyataan Marcone (2004) bahwa biji kopi luak memiliki total protein yang rendah sehingga mengindikasikan selama proses pencernaan terdapat pemecahan protein dalam biji kopi oleh enzim-enzim proteolitik. Distribusi sel

Dokumen terkait