POTRET KESEHATAN DESA KASIRO
3.6. Gambaran Pelayanan Kesehatan di Desa Kasiro
Ada beberapa pilihan oleh masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan di Desa Kasiro. Di Desa Kasiro sendiri terdapat satu Poskesdes yang terletak di Kawasan Dusun Tinggi. Lokasi Poskesdes ini cukup jauh dari sebaran pemukiman warga. Di pusat kecamatan juga terdapat Puskesmas Batang Asai yang bisa ditempuh dengan perjalanan menggunakan sepeda motor sekitar 45 menit, dengan melewati jalan kecil yang bertebing dan berjurang curam. Di Kabupaten Sarolangun memiliki rumah sakit umum bernama rumah sakit Prof.Dr.H.M Chatib Quzwain yang bisa ditempuh dari Desa Kasiro dengan jarak 100 km dengan waktu perjalanan sekitar 4 jam dengan menggunakan transportasi sungai berupa kretek, dan disambung dengan transportasi umum darat.
Beberapa tenaga kesehatan juga ditempatkan di Kecamatan Batang Asai untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Berdasarkan data monografi tahun 2013 kecamatan Batang Asai, untuk jumlah tenaga kesehatan di Kecamatan untuk Puskesmas Batang Asai antara lain Dokter berjumlah 2 orang, Perawat 4 orang dan bidan 14 orang. Sedangkan dalam level desa (dalam hal ini Desa Kasiro), tenaga kesehatan yang berkerja adalah satu orang bidan yang bertugas di poskosdes. Namun ada juga seorang bidan lagi yang bertempat tinggal di Desa Kasiro meskipun bertugas di desa lain. Bidan yang bertempat tinggal di Desa juga memberikan pelayanan kepada warga.
Di Desa Kasiro sudah memiliki pelayanan kesehatan masyarakat, salah satunya pelayanan kesehatan yang berasal dari pemerintah. Keberadaan pelayanan kesehatan di dea Kasiro juga dibenarkan oleh pihak Puskesmas kecamatan batang asai, dari
hasil wawancara dari perwakilan tenaga Puskesmas batang asai yang berinisial DR, menurutnya desa Kasiro sudah memiliki pelayanan kesehatan masyarakat yaitupelayanan kesehatan yang berasal dari pemerintah, disebut dengan pos kesehatan desa (Poskesdes) yang terletak di Dusun Baru. Bangunan Poskesdes ini berdiri sekitar tahun 2000-an awal.
“Kalau dulu jika sakit, kita harus ke gerabak (pusat kecamatan), dan sekarang sudah ada poseksdes, jadi lebih efisien, apalagi semuanya gratis”, jelas GM
Poskesdes yang beroperasi didesa Kasiro mempunyai jadwal dari pagi sampai dengan sore, dan dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu, bidan yang menempati Poskesdes ini adalah bidan desa yang ditunjukkan oleh pemerintah setempat untuk bertugas didesa Kasiro. Bidan yang bertugas untuk melayani masyarakat di Poskesdes Kasiro seharusnya tinggal di Poskesdes. Namun, bidan desa tersebut memilih untuk tinggal di rumah yang terletak di Dusun Tamsu, dengan alasan bangunan Poskesdes jaraknya cukup jauh dari pemukiman warga, dan fasilitas air bersih kurang memadai.
Di Desa Kasiro juga terdapat alternatif lain untuk memeriksakan kesehatannya ketika jam kerja bidan di Poskesdes sudah selesai. Warga yang memiliki keluhan atas kesehatannya biasa akan datang langsung ke rumah bidan. Bidan sendiri dirumahnya juga memiliki persediaan obat yang dibeli secara pribadi. Pengalaman seorang warga bernama Pak J bisa menjelaskan bagaimana warga langsung berobat ke rumah bidan. Pada Malam hari sekitar pukul 21.00 malam Pak J bersama anak perempuannya datang ke rumah bidan untuk memeriksakan kondisi badan anaknya yang demam. Meskipun bidan tersebut bertugas di desa lain, tapi dia menetap di Desa Kasiro sehingga warga seringkali datang ke rumahnya jika ada persoalan dengan
kesehatan mereka. Bidan pun dengan siaga harus siap setiap saat jika ada warga yang memanggil atau menjemput ketika ada warga yang bermasalah dengan kesehatan. Untuk itu, bidan memberikan nomor telepon selulernya kepada warga agar bisa dihubungi secepatnya jika ada keadaan mendesak.
Dari hasil pengamatan, Poskesdes Desa Kasiro sudah memiliki kader kesehatan yang berjumlah 10 orang. Kader kesehatan membantu bidan desa untuk melakukan pelayanan kesehatan, terutama saat kegiatan Posyandu serta Posyandu lansia berlangsung. Kader kesehatan yang merupakan warga setempat biasanya diberi tugas untuk melakukan sosialisasi sebelum acara Posyandu dilakukan. Sosialisasi biasanya dilakukan oleh kader dengan mengunjungi rumah penduduk, atau memberitahukan warga dengan cara informal, dari ‘mulut ke mulut’. Ketika kegiatan Posyandu berlangsung, kader juga membantu bidan untuk mengurus permasalahan administrasi, seperti mencatat nama peserta kegiatan yang datang. Terkadang kader juga membantu bidan desa untuk menimbang balita atau menggendong balita ketika akan diimunisasi. Dari wawancaranya salah seorang kader Poskesdes desa Kasiro yang berinisial IB mengatakan :
“Saya menjadi kader sudah lebih dari 10 tahun lebih, semenjak Poskesdes ini dipimpin oleh pak wandi. Ia senang menjadi kader karena disini tidak ada yang mau menjadi kader, karena tidak ada honornya, sementara saya menjadi kader tanpa mengharap imbalan atau upah dari siapa pun.”
Berdasarkan wawancara dari FT, Poskesdes Kasiro mempunyai kegiatan tersendiri yaitu kegiatan Posyandu balita dan Posyandu lansia yang dilaksanakan sebulan sekali secara rutin. Dalam operasionalnya kegiatan Posyandu balita dan Posyandu lansia dilaksanakan dengan membagi 2 tempat.
Menurut FT yang merupakan bidan desa yang bertugas didesa Kasiro, dibagi dua tempat bertujuan untuk bisa meng akomodir masyarakat untuk bisa berpartisipasi dan ikut serta dalam kegiatan tersebut, dengan jarak tempuh yang jauh antar dusun, maka dibentuk 2 pos kesehatan, yaitu Posyandu harapan I yang terletak didusun baru dan bisa meng akomodir warga dari Dusun Baru dan Dusun Tinggi, sementara yang satunya lagi bernama Posyandu harapan II yang terletak di Dusun Tamsu dan dapat mengakomodir warga dari dusun Muara Kebunot, Gerabak Benteng dan Tamsu.
Dari pengamatan kegiatan Posyandu balita yang dilakukan di Poskesdes desa Kasiro, terlihat tidak begitu ramai, dan terlihat juga bides tersebut melayani setiap bayi yang datang dibawa oleh ibunya untuk di periksa dan diberikan vaksin, sebelum bayi diperiksa, terlebih dahulu bayi di timbang dan dilihat kartu bagi yang membawanya, kemudian bayi disuntik sesuai dengan kartu kunjungan, dan ada sedikit penyuluhan dengan menggunakan bahasa setempat, sementara pada pemeriksaan ibu hami terlihat setiap ibu hamil diperiksa terlebih dahulu dan diberi obat oleh bidan desa serta disuntik di tangan sebelah kiri.
Berdasarkan pengamatan, dalam implementasinya, kegiatan Poskesdes di Desa Kasiro mendapatkan beragam pendapat, menurut hasil wawancara dengan FT, menurutnya seluruh kegiatan Poskesdes pada dasarnya berjalan dengan lancar, namun terkadang partisipasi masyarakat untuk memanfaatkan Poskesdes ini masih kurang, ini dibuktikan bahwa masih minimnya warga yang datang untuk berkonsultasi apabila terdapat permasalahan kesehatan. Jika warga mendapatkan permasalahan dalam kesehatannya atau sakit, mereka lebih senang menjemput bidan untuk datang ke rumahnya atau mereka lebih suka datang ke praktek bidan. Alasan yang kuat warga masih kurang untuk datang ke Poskesdes menurut FT,
karena obat di Poskesdes belum mampu menyembuhkan penyakit mereka, atau lebih dikenal dengan obat pemerintah, walaupun gratis. Ia mengatakan :
“Iyo... jarang orang mau datang ke Poskesdes, orang ko ndak mau dikasi obat pemerintah, walaupun gratis, mereka masih suka menggunakan obat paten, walaupun harus mengeluarkan dana pribadi, smentara obat paten hanya tersedia di parktek bidan, dan terkadang mereka menjemput kami (bidan) untuk mengobati pasien di rumah.”
Pernyataan ini sejalan dengan yang dialami oleh salah satu warga yang berinisial KD, bapak paruh baya ini mengatakan bahwa kalau dirinya terserang penyakit, ia lebih suka memilih datang ke praktek bidan, karena kalau di praktek bidan diberi obat paten atau obat bagus, walaupun ia rela harus mengeluarkan biaya pribadi.
Begitu juga dengan kegiatan Posyandu baik Posyandu balita maupun Posyandu lansia, partisipasi mereka untuk membawa anaknya ke Poskesdes juga masih kurang. Menurut FT, upaya untuk mengajak masyarakat berpartisipasi membawa anaknya ke Posyandu sudah maksimal, ia mengakui sudah berbagai cara yang dia lakukan, baik memanfaatkan kadernya untuk datang door to door ke seluruh warga, maupun ia langsung berkeliling desa untuk mensosialisasikan kegiatan Posyandu, namun usaha ini juga belum membuahkan hasil yang maksimal. Hal ini juga dibenarkan oleh salah seorang kader Poskesdes yang berinisial IB, dari hasil wawancaranya IB juga sudah maksimal mungkin bekerja untuk memanggil masyarakat dan membawa balitanya untuk di imunisasi, walaupun harus dengan cara mulut ke mulut. Menurut FT kurangnya partisipasi tersebut diakibatkan oleh melekatnya pemikiran masyarakat terhadap dampak negatif
Posyandu, yaitu setiap anak yang disuntik imunisasi dalam Posyandu, maka anak tersebut akan terserang penyakit demam.
Keadaan seperti ini sama halnya dengan perilaku masyarakat menjalankan persalinan. Menurut FT juga Hampir seluruh masyarakat desa Kasiro, jika melahirkan tidak memanfaatkan Poskesdes, mereka lebih suka melahirkan dirumahnya sendiri, dengan alasan jika melahirkan di Poskesdes, terkesan sempit sehinnga terbatasnya sanak keluarga mereka untuk bisa menjenguknya dan ini sudah menjadi tradisi nenek moyang mereka, melahirkan harus dirumah. Apa yang terungkap dari sikap masyarakat tersebut juga berjalan lurus dengan anggapan masyarakat, ini diakui oleh salah seorang informan yang berinisial AP, ia mengatakan,
“Kalau melahirkan tu dirumah, ndak ado urang yang mau melahirkan di Poskesdes, karena tempatnya sempit, dan ndak semua orang bisa masuk, kan disini setiap sanak saudara datang untuk menjenguk jika ada yang melahirkan, dan biasanya ramai, ini suatu kebanggan bagi keluarga yang melahirkan, karena merasa ada yang memperhatikannya,nah bayangkan kalau melahirkannya di Poskesdes, ndak ada orang yang datang, disamping itu pula melahirkan dirumah merupakan salah satu tradisi dari nenek moyang kita dahulu.”
Terkait dengan manajemen Poskesdes, ada sebagian masyarakat masih beranggapan miring. Salah satunya adalah ibu rumah tangga yang berinisial VR,
“Ayuk kurang suka dengan sikap dan pelayanan bidan sekarang selama ini, banyak warga yang tidak suka, karena jika dipanggil mendadak tepatnya pada malam hari biasanya dia tidak mau, bidan ini juga meminta bayaran jika ada warga yang mau berobat dengannya, dan setiap melakukan tindakan selalu lamban.”
Sama hal nya yang dialami oleh salah satu informan yang berinisial NG, ia mengatakan,
“Pernah bapak ayuk kena darah tinggi, dan dia tidak mempunyai uang untuk berobat, dan bapak saya dibawa ke bidan tersebut, di karenakan bapak ayuk tidak ada uang, maka bidannya hanya melakukan tindakan ditensi saja dan tidak di beri obat, ini juga sama dengan pengalaman teman saya yang bekerja sebagai pendompeng, ketika dia sakit harus ngutang terlebih dahulu dan bidan ini harus membuat perjanjian dengannya untuk menentukan waktu pembayaran. Habis tu Bidan ini, Jika ada yang sakit mendadak dan memanggil bidan pada tengah malam, bidan ini jarang mau datang, nah ketika hal ini terjadi pada kami maka kami minta tolong dengan bidan lainnya seperti bidan YN atau bidan terdekat lainnya, mungkin karena ada ikatan persaudaraan, makanya mereka mau nolong.”
Dari hasil wawancara dengan NG pula, menurutnya kurangnya partisipasi masyarakat untuk datang ke Poskesdes karena menurutnya perilaku bidannya kurang bersahabat, dari faktor tersebut, dapat menurunkan minat partisipasi masyarakat menjadi kurang aktif dalam memanfaatkan pelayanan pos kesehatan desa di Kasiro.
Dalam melaksanakan tugasnya bidan terkadang menghadapi kendala dan berusaha mencari jalan keluar untuk tetap bisa melakukan pelayanan kesehatan. Kendala tersebut antara lain ketika bidan memiliki suatu hal yang terkait dengan kegiatan pribadi yang mengharuskannya meninggalkan desa untuk sementara waktu. Meskipun demikian, hal ini tidak menjadi hambatan dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Salah satu bidan, bernama FT, menjelaskan jika bidan tersebut tidak ada ditempat atau sedang dalam
keadaan berhalangan maka bidan tersebut akan menghubungi bidan yang bertugas di desa lain yang bersebelahan untuk sementara waktu membantunya memberikan pelayanan kepada masyarakat Desa Kasiro. Kerja sama antar bidan desa menjadi salah satu strategi agar pelayanan tetap bisa dilakukan. Hal ini dijelaskan oleh bidan FT,
“Jika ambo (saya) tidak ado ditempat atau sedang sakit, maka ambo (saya) bisa wakilkan dengan bidan yang lain yang tersedia, dan biasanya diwakili oleh biban YN dalam melakukan pelayanan kesehatan di Desa Kasiro Ilir, ambo titipkan Poskesdes ini dengannyo.”
Terkait dengan ketersediaan obat, menurut keterangann dari FT, obat di Poskesdes didistribusikan melalui puksesmas, dan biasanya didistribusikan 3 bulan sekali, permintaan obat sesuai dengan laporan kunjungan pasien, sehingga dapat diketahui kebutuhan obat yang menjadi skala prioritas dalam menanggulangi penyakit yang sering terjadi dimasyarakat desa Kasiro. Hal ini juga diakui oleh salah satu kepala Puskesmas yang berinisial DR, dalam wawancaranya. Untuk distribusi obat, pihak Puskesmas akan meng cross chek kebutuhan obat yang paling urgent, dan biasanya merujuk dari data kunjungan masyarakat ke Poskesdes yang diserahkan oleh bidan setempat dalam bentuk laporan bulanan.