• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Penyakit Menular

MISI I : Membangun Masyarakat Yang Berkualitas dan Berdaya Saing

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

B. MORTALITAS/ KEMATIAN

2. Gambaran Penyakit Menular

Gambaran beberapa penyakit menular yang berjangkit di provinsi Jawa Barat, antara lain sebagai berikut :

a. Penyakit Menular Bersumber Binatang 1) Malaria

Penyakit Malaria mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap angka kesakaitan dan kematian ibu, balita dan ibu melahirkan, pada tahun 2014 sistem pencatatan Malaria menggunakan e – SISMAL dimana data penemuan ACD, PCD dan lain-lain hanya meliputi kasus Malaria positif saja. Sehingga pemeriksaan sediaan darah turun tajam jika dibandingkan dengan cakupan sebelum tahun 2014, keadaan ini tergambar pada tabel dan grafik dibawah ini :

Tabel IV.C.1

Proporsi Suspek Penderita Malaria Klinis Yang Diambil Sediaan Darah Malaria di Provinsi Jawa Barat Pada Tahun 2010 – 2014

Tahun

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 39 Dari tabel diatas dilihat adanya kesenjangan antara data tahun 2010 s/d 2013 dengan data tahun 2014. Angka parasite rate pada tahun 2014 sebesar 41

% dari 1.219 sediaan darah dengan lokasi pemeriksaan di 22 Kab/Kota. Terdapat 19 Kabupaten kota dengan Hasil pemeriksaan sediaan Darah Malaria 100 % positif yaitu : Kab Sukabumi dengan pemeriksaan 170 sampel, Kota Cimahi 22 sampel, Kota Bandung 19 sampel, Purwakarta 10 sampel, Pangandaran 9 sampel, Kota Bekasi 9 sampel, Kota Sukabumi 8 sampel, Kota Depok 8 sampel, Kota Tasikmalaya 8 sampel, Kab Cirebon 7 sampel, Kab Sumedang 7 sampel, Kab. Bogor 6 sampel Cianjur 4 sampel, Kab. Bandung 4 sampel, Ciamis 3 sampel, Kuningan 2 sampel, Karawang 2 sampel , Kota Bogor 2 sampel, Kab Subang 1 sampel, dan Kabupaten Garut dari 74 sampel positif 72 Sediaan darah (72 %), Kota Tasikmalaya dari 213 sampel, positif 123 (58%) serta Kota Cirebon dari 631 sampel sediaan darah, Positif 0 (0%). Angka kematian Malaria terjadi di Kab Bogor dari 6 penderita supek malaria meninggal 1 orang (CFR 17%).

Gambar IV.C.2 Parasit Rate (PR) Malaria

di Provinsi Jawa Barat Pada Tahun 2014

Angka kejadian kasus Malaria (Annual Parasit Insiden) pada tahun 2014 per seribu penduduk di Provinsi Jawa Barat sebesar 496 kasus positif, dengan sebaran kasus malaria tersebar di 22 Kabupaten/Kota yang pada umumnya tidak memiliki desa reseftif (desa dengan lingkungan masih terdapat tempat perindukan vektor), sehingga kasus tersebut dipandang sebagai kasus impor, adapun wilayah terjangkit malaria yang masih mempunyai desa reseftif terdapat di Kab Tasikmalaya (API = 0,238%o), Garut (API = 0,406%o), Pangandaran (API = 0,748%o), dan Kab Sukabumi (API = 0,565%o) dengan kasus sebanyak 374 penderita. Berikut kecendrungan/tren Insiden Kejadian malaria daerah reseftif Jawa Barat seperti pada gambar dibawah ini.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 40 Gambar IV.C.3

Annual Parasit Insiden (API) Malaria per 1000 penduduk di Provinsi Jawa Barat Pada Tahun 1997 – 2014

Desa kasus tinggi (HCI ) dengan angka kesakitan > 5 % baik jumlah kabupaten, kecamatan maupun desa dari tahun ke tahun berfluktuatif, pada tahun 2010, 2011 dan 2012 wilayah yang terdapat desa endemis tinggi ada di 2 kabupaten, dimana pada tahun 2010 terdapat di 2 desa 2 kecamatan, pada tahun 2011 terdapat 4 desa 2 kecamatan, dan pada tahun 2012 terdapat 5 desa 4 kecamatan, pada tahun 2013 satu desa HCI yaitu di desa Mandalakasih Kecamatan Pameumpeuk Kabupaten Garut. Pada tahun 2014 ada dua desa HCI yaitu di desa Mandalakasih Kabupaten Garut dan desa Pasirmukti di Kabupaten Tasikmalaya.

Gambar IV.C.4

Sebaran Angka Kejadian Penyakit Malaria di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 dan 2014

Berdasarkan capaian API/1000 penduduk, penyakit Malaria di Jawa Barat selama 10 tahun terakhir (2010 – 2014) relatif terkendali, dapat ditekan dibawa 1/1000 penduduk.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 41 2) Demam Berdarah Dengue (DBD)

Jumlah penderita penyakit DBD di Provinsi Jawa Barat tahun 2014 mencapai 19.138 kasus. lebih rendah dibanding tahun 2013 (23.118 kasus).

demikian juga dengan risiko kejadian DBD di Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan dari 50.5/100.000 penduduk menjadi 39.3/100.000 penduduk.

Gambar IV.C.5

Angka Kejadian dan Angka Kematian Penyakit DBD di Provinsi Jawa Barat Tahun 2009 – 2014

Meskipun pada tahun 2014 di Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan angka kejadian DBD, namun angka tersebut bersifat fluktuasi ada kemungkinan tahun berikutnya akan meningkat cukup signifikan jika kita mengabaikan strategi pemberantasan DBD yang konfrehensif.

Untuk mengetahui perbandingan kabupaten kota di Jawa Barat pada tahun 2013-2014 yang berkontribusi besar terhadap angka kejadian DBD dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar IV.C.6

Angka Kejadian (IR/100.000) Penyakit DBD Provinsi Jawa Barat Tahun 2014

Angka kejadian DBD di wilayah kabupaten dengan kota menunjukan perbedaan yang relatif besar, dimana angka kejadian DBD di kota menunjukan angka yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan bahwa daerah perkotaan mempunyai karakteristik transportasi yang baik, jumlah penduduk, dan pemukiman yang

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 42 padat, merupakan pusat pendidikan, Pusat Pemerintahan, Pusat ekonomi dan perdagangan sehingga dimungkinkan lebih besar pertukaran virus Den1, Den 2, Den 3, dan Den4 antar manusia sebagai penyebab terjadinya kesakitan DBD, DB dan DSS.

Angka Kesakitan DBD tahun 2014 ini Terdapat 12 kabupaten/Kota dengan angka kesakitan diatas Angka Jawa Barat (41,3/100.000) yaitu : Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Cimahi, Kota Banjar Kota Bogor, Kab.Subang, Bandung Barat, Kota Depok, Kuningan dan Kab. Sumedang, dari 12 kabupaten/kota tersebut 2 diantaranya masih dibawah Target Nasional yaitu < 51/100.000 penduduk, yaitu Kab.Kuningan dan Kab.Sumedang.

Angka kejadian DBD tertinggi pada kelompok kabupaten terjadi di Kabupaten Subang (70.32/100.000), pada kelompok kota terjadi di Kota Sukabumi (219.49/100.000). Sedangkan angka kejadian terendah kelompok kabupaten terjadi di Kabupaten Pangandaran (3.43/100.000) dan terendah pada kelompok kota terjadi di Kota Bekasi (32.70/100.000).

Dibandingkan dengan 2013, pada tahun 2014 di Provinsi Jawa Barat terdapat 5 kabupaten kota dengan angka kejadian DBD meningkat, yaitu Kab.

Kuningan, Kab. Sukabumi, Kab. Bogor, Kab. Ciamis, Kab. Garut, Kab.

Indramayu, dan Kota Sukabumi.

Secara keseluruhan Insiden Rate DBD tahun 2014 Menurun akan tetapi Angka kematian (CFR) lebih tinggi dibanding dengan CFR tahun 2013, yaitu dari 0.70% menjadi 0.98%. Sehingga dari sisi tatalaksana kasus DBD di sarana pelayanan kesehatan maupun di masyarakat harus lebih di intensifkan.

Gambar IV.C.7

Angka Kematian (CFR %) Penyakit DBD di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2013 – 2014

Peningkatan angka fatalitas (CFR) DBD tahun 2014 terjadi di 14 kabupaten/kota yaitu Kab. Indramayu, Kab. Cirebon, Kab. Ciamis, Kab.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 43 Sumedang, Kab. Tasikmalaya, Kab. Sukabumi, Bandung Barat, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Banjar, Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kota Depok dan Kota Bandung dan kasus CFR tertinggi terjadi di Pangandaran (7,7%) yang merupakan Kabupaten pengembangan baru yang sebelumnya termasuk dalam wilayah Kab. Ciamis.

Kabupaten/kota dengan angka fatalitas lebih tinggi dari batas toleransi

< 1 % terdapat di 13 Kabupaten/Kota yaitu : Kab Pangandaran, Indramayu, Cirebon, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kab. Bogor, Kota Banjar, Kab. Ciamis, Kab.

Sumedang, Kab.Tasikmalaya, Kab. Sukabumi, Kab. Majalengka, dan Kota Bogor.

Angka kematian tertinggi terjadi di Kabupaten Pangandaran dengan 7.7% dan Kabupaten/Kota bebas kematian Terdapat di 3 kabupaten kota, yaitu Kab. Garut, Kab. Purwakarta dan Kota Cimahi.

Gambar IV.C.8

Pola Penyakit DBD Berdasarkan Rata Rata Kasus Tahun 2009 - 2014 di Provinsi Jawa Barat

Berdasarkan pola penyakit DBD tahun 2009 – 2014 di Jawa Barat mendapatkan gambaran bahwa kasus terendah terjadi pada bulan November dan akan terus meningkat hingga puncaknya pada bulan Januari, hal ini sangat dimaklumi karena curah hujan yang tinggi, terbentuknya tempat perindukan nyamuk, serta suhu udara yang mendorong prercepatan perkembangbiakan nyamuk. Dalam pola ini ternyata dari Januari hingga juni kasus relatif stabil tidak terjadi penurunan, ini menunjukkan kurang intensifnya program pemberantasan dan pengendalian nyamuk di tahun 2014, sehingga perlu langkah-langkah strategis untuk mempercepat penurunan insiden kasus DBD dengan harapkan tidak terjadi out breack di tahun 2016 dan untuk tahun 2015 diasumsikan kasus DBD akan meningkat di bulan Januari s/d Juni.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 44 Diupayakan ada penanggulanan Sebelum Musim Penularan yang harus dilaksanakan pada bulan Nopember 2015 untuk mengantisipasi Musim penularan yang akan di mulai bulan Desember dan puncaknya Januari 2016 paling tidak melakukan Gerakan Bulan Bakti PSN (Bulan Bakti Gerakan 3 M).

3) Rabies

Situasi Rabies di Jawa Barat dari tahun ke tahun terus menunjukkan adanya penurunan, namum belum dapat dinyatakan menjadi daerah bebas secara epidemiologi, walaupun Menteri Pertanian telah menyatakan bahwa Jawa Barat babas rabies melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 566/Kpts/

PD.610/10/2004, tentang Pernyataan Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Banten dan Jawa Barat bebas dari Penyakit Anjing Gila (Rabies), tanggal 6 Oktober 2004.

Perlu penegakan UU No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan UU No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana serta sosialisasi UU No.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan sehingga kegiatan pengendalian rabies dapat berjalan optimal. Dan pada tahun 2011 telah dibentuk Tim koordinasi Zoonosis Jawa Barat.

Jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) di Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu 2005-2013 sebanyak 4.426 kasus dengan ratrat pertahun sebesar 491 kasus gigitan. Dari 491 kasus gigitan HPR terdapat 15 Kasus kematian rabies (Lyssa) , yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Kab. Garut dengan 6 kematian, Kab. Sukabumi dengan 6 kematian, Kab. Tasikmalaya, Kab.

Ciamis, Kab. Cianjur masing masing dengan 1 kematian. Dengan tahun kejadian pada tahun 2005 sebanyak 1 kasus, pada tahun 2006 sebanyak 2 kasus, pada tahun 2007 sebanyak 1 kasus, pada tahun 2008 sebanyak 3 kasus. Pada tahun 2009 sebanyak 0 kasus dan tahun 2010 sebanyak 1 orang kasus, pada tahun 2011 0 kasus, pada tahun 2012 sebanyak 2 kasus dan sampai dengan 2014 tidak ditemukan kasus yang positif hasil pemeriksaan lyssa.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 45 Tabel IV.C.2

Jumlah Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) di Provinsi Jawa Barat tahun 2005-2014

NO TAHUN PENDERITA

GIGITAN LYSSA KAB DENGAN KEM ATIAN RABIES

1 2005 389 1 Kab. Garut (1)

2 2006 453 2 Kab. Tasikmalaya (1)

Kab. Garut (1)

3 2007 528 1 Kabupaten Ciamis (1)

4 2008 619 3 Kab. Cianjur (1)

Kab. Sukabumi (2)

5 2009 388 2 Kab. Garut (2)

6 2010 573 4 Kab. Garut (2)

Kab. Sukabumi (2)

7 2011 549 0

-8 2012 528 2 Kab. Sukabumi (2)

9 2013 399 0

-10 2014 539 0