DERAJAT KESEHATAN
2. Gambaran Penyakit Tidak Menular (PTM)
Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes, kanker, asma dan PPOK serta penyakit PTM lainnya saat ini menjadi perhatian yang sangat penting pada sektor kesehatan. PTM memiliki predikat sebagai penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian. Berdasarkan Double burden of diseases & WHO NCD Country Profil 2014 Kematian akibat penyakit menular terus meningkat, tercatat tahun 1990 sebanyak 37 % menjadi 57 % pada tahun 2015 dan sebagian besar terjadi di negara berkembang seperti Indonesia.
Peningkatan kejadian PTM berhubungan dengan peningkatan faktor risiko akibat perubahan gaya hidup seiring dengan perkembangan dunia yang makin modern, pertumbuhan populasi dan peningkatan usia harapan hidup. Terdapat 5 faktor
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 38 risiko umum pada PTM seperti perilaku merokok,kurang aktivitas fisik/olahraga, diet tidak sehat, stress dan alqohol. Berdasarkan Riskesdas 2013 faktor risiko PTM tersebut cenderung meningkat.
Sejalan dengan upaya pengendalian faktor risiko PTM berdasarkan instruksi presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang disingkat GERMAS mengandung pengertian Suatu tindakan yang sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Kegiatan tersebut mendorong peningkatan pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular. Germas mengarahkan masyarakat akar perilaku sehat sehingga terhindar dari risiko PTM.
Strategi pengendalian diarahkan pada 4 penyakit PTM utama dan 4 faktor risiko bersama yang menjadi penyebab dari 60%
kematian akibat PTM.
Empat penyakit PTM utama yaitu :
1. Penyakit Jantung (Cardiovascular disease) 2. Penyakit Kanker (Cancer)
3. Penyakit Paru Kronis (Chronic Respiratory disease) 4. Diabetes
Empat faktor risiko bersama yang dapat dicegah yaitu : 1. Penggunaan Tembakau/rokok
2. Diet Tidak Sehat (Unhealthy Diet)
3. Kurang aktifitas Fisik (Physical inactivity)
4. Penyalahgunaan Alkohol (Harmful use of alcohol)
Kementerian Kesehatan membuat program unggulan, intervensi dan terobosan dalam rangka pengendalian penyakit tersebut.
Program unggulan meliputi :
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 39 Adapun intervensi program yang dilakukan meliputi :
1. Monitoring, deteksi dini dan tindak lanjut faktor risiko PTM 2. Pelayanan PTM terpadu dengan pendekatan faktor risiko
PTM di FKTP
3. Implementasi KTR di sekolah dan 6 tatanan lainnya
4. Pencantuman informasi kandungan GGL dan pesan kesehatan pada pangan olahan dan pangan siap saji
5. UBM di FKTP dan skrining merokok pada anak sekolah serta konseling UBM
6. Deteksi dini kanker leher rahim dan payudara 7. Pencatatan pelaporan dan tindak lanjut
Yang termasuk program terobosan pengendalian penyakit tidak menular meliputi :
1. Perluasan Posbindu PTM melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)
2. Integrasi Posbindu PTM melalui Rumah Sehat Desa 3. Pandu PTM di FKTP
4. Deteksi dini faktor risiko PTM berdasarkan siklus kehidupan Adapun indikator program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dalam RPJMN tahun 2015-2019 sebagi berikut :
NO
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 40 Sedangkan dalam Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut :
No yang melaksanakan kegiatan Posbindu PTM
10% 20% 30 % 40% 50 %
3
Persentase perempuan usia 30- 50 tahun yang dideteksi Kawasan Tanpa Rokok/KTR, (minimal 50% sekolah)
10% 20% 30% 40% 50%
a. Proses Kegiatan Pengendalian Penyakit tidak menular
Upaya pengendalian penyakit tidak menular di Kabupaten Garut diimplementasikan dalam program kegiatan di puskesmas.
Program–program tersebut dikoordinasikan oleh 67 orang pengelola program PPTM yang tersebar di 67 puskesmas se-Kabupaten Garut. Kegiatan P2PTM juga melibatkan Posbindu-Posbindu PTM yang tersebar di 442 desa/kelurahan. Tujuan posbindu PTM adalah untuk meningkatkan jejaring pengendalian faktor risiko PTM serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit.
Adapun posbindu-posbindu PTM tersebut berjumlah 488 posbindu PTM yang terdiri dari :
1. Posbindu PTM Umum sebanyak 400 posbindu
2. Posbindu PTM Khusus sebanyak 86 posbindu meliputi :
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 41 - Posbidndu PTM di sekolah sebanyak 59 posbindu
- Posbindu PTM pada tempat kerja sebanyak 13 posbindu - Posbindu PTM di KBIH/pesantren sebanyak 11 posbindu - Posbindu PTM di terminal sebanyak 2 posbindu
- Posbindu PTM di terminal sebanyak 1 posbndu
Adapun sarana dan prasarana yang menunjang dalam kegiaatan tersebut berupa alat pemeriksaan diantaranya body fat analyzer, tensi meter, alat pemeriksaan gula darah, kolesterol, alat ukur TB dan BB, buku pencatatan dan pelaporan serta media pelaporan secara online melalui portal web.pptm Kementerian Kesehatan dan laporan manual.
b. Hasil Kegiatan Pengendalian Penyakit tidak menular
Adapun hasil kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di Kabupaten Garut diantaranya :
- Persentase Puskesmas yang melaksanakan pengendalian PTM terpadu di Kabupaten Garut sebanyak 100 % yaitu di 67 puskesmas, Hal tersebut melebihi IKK yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Namun masih membutuhkan adanya optimalisasi kegiatan untuk menyentuh sasaran-sasaran program, peningkatan sarana dan prasarana pendukung seperti Posbindu PTM kit, peningkatan sumber daya tenaga dan dukungan dana.
- Persentase desa / kelurahan yang melaksanakan kegiatan Posbindu PTM sebanyak 400 posbindu PTM, artinya bahwa kegiatan posbindu PTM telah ada hampir pada setiap desa/kelurahan di Kabupaten Garut. Hal tersebut melebihi IKK yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
Upaya pengendalian penyakit tidak menular di dalam Permenkes 43 tahun 2016 tentang standar pelayanan minimal menitik beratkan diantaranya pada pengendalian penyakit hipertensi, diabetes mellitus dan kanker servik.
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 42 Gambaran hipertensi pergolongan umur di Kabupaten Garut Tahun 2017 sebagai berikut :
Grafik 4.5
Persentase Hipertensi Berdasarkan Kelompok Umur Di Kabupaten Garut Tahun 2017
Sumber : Seksi P2PTM dan Keswa Tahun 2017
Berdasarkan grafik di atas bahwa penyakit hipertensi terbanyak pada kelompok umur 20-54 tahun sebanyak 36,5%, kelompok umur 55-69 tahun sebanyak 36,0 % dan umur diatas 70 tahun sebanyak 14.4%. Kondisi tersebut menunjukan bahwa hipertensi terjadi pada kelompok usia produktif. Oleh sebab itu, perlu penanganan yang komprehensif, penanganan dengan cara pengendalian faktor risiko dan pengobatan secara teratur untuk menghindari penurunan derajat kesehatan dan produktifitas masyarakat.
Gambaran diabetes mellitus berdasarkan kelompok umur di Kabupaten Garut tahun 2017 :
Grafik 4.6
Persentase Diabetes Melitus Berdasarkan Kelompok Umur Di Kabupaten Garut Tahun 2017
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 43 Sumber : Seksi P2PTM dan Keswa Tahun 2017
Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa penyakit Diabetes Melitus terbanyak terjadi pada kelompok umur 20 – 54 tahun sebnayak 40.57 % dan kelompok umur 55 – 69 tahun sebanyak 42.64% dan kelompok umur diatas 70 tahun sebanyak 11.67 %.
Kondisi tersebut menunjukan tingginya kasus penyakit diabetes pada kelompok usia produktif sehingga diperlukan sinergisitas program dalam rangka pengendalian penyakit tersebut.
Kegiatan dideteksi dini kanker serviks dan payudara tahun 2017 baru dapat dilakukan di 15 puskesmas yang telah terlatih pemeriksaan kanker servik metode IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan deteksi dini kanker payudara metode SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis). Adapun Puskesmas tersebut adalah :
1. Puskesmas Leuwigoong 2. Puskesmas Sukamerang 3. Puskesmas Cihurip 4. Puskesmas Cisompet 5. Puskesmas Sindangratu 6. Puskesmas Sukawening 7. Puskesmas Cisurupan 8. Puskesmas Mekarmukti 9. Puskesmas Cipanas
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 44 10. Puskesmas Maroko
11. Puskesmas Talegong 12. Puskesmas Haurpanggung 13. Puskesmas Pasundan 14. Puskesmas Bayongbong 15. Puskesmas Maripari
16. Puskesmas Pembangunan
Puskesmas Pasundan menerima rujukan Cryo Terapy karena merupakan satu satunya puskesmas di Kabupaten Garut yang memiliki alat tersebut. Selama tahun 2017 kegiatan deteksi dini kanker leher rahim dan payudara dengan melibatkan lintas program dan lintas sektor,SKPD dan BUMN yang ada di Kabupaten Garut.
Kegiatan tersebut untuk meningkatkan kesadaran dan jejaring pada masyarakat.
Berdasarkan hasil rekapitulasi kegiatan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim di Kabupaten Garut Tahun 2017 dapat dilihat dalam tabel berikut :
Hasil kegiatan deteksi dini dalam rangka pencegahan dan pengendalian kanker payudara :
Sumber : Seksi P2PTM dan Keswa Tahun 2017
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 45 Hasil kegiatan deteksi dini dalam rangka pencegahan dan pengendalian kanker leher rahim :
Klmpk Umur
Jml Diperiksa
Hasil Pemeriksaan Tumor Curiga
Kanker
Kelainan Ginekologi
lainnya
Kanker leher rahim
< 30 thn 1.172 23 0 14 0
30-39 thn 1.380 36 0 12 0
40-50 thn 917 18 2 18 0
>50 thn 349 3 0 11 0
Jumlah 3.914 80 2 55 0
Sumber : Seksi P2PTM dan Keswa Tahun 2017
Grafik 4.7
Kasus PTM berdasar Jenis Penyakit dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Garut Tahun 2017
Sumber : Seksi P2PTM dan Keswa Tahun 2017
Berdasarkan grafik diatas menunjukan bahwa penyakit hipertensi merupakan penyakit yang dominan diantara 10 penyakit PTM lainnya,selanjutnya penyakit diabetes mellitus dan asma. Penyakit
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 46 PTM lebih sering terjadi pada jenis kelamin perempuan dibandingkan pada laki-laki.
Tingginya prevalensi penyakit tersebut membutuhkan upaya penanganan yang komprehentif meliputi upaya pencegahan pada faktor risiko dan keteraturan dalam pengobatan, selan itu perlu peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
c. Gambaran Upaya Kesehatan Jiwa
Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi setiap individu, keluarga dan masyarakat dengan pendekatan promotive, preventif, kuratif dan rehabilitative yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan oleh pemerintah dan atau masyarakat (UU RI nomor 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa). Seseorang dikatakan mempunyai gangguan kejiwaan apabila terjadinya suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran social.
Dibawah ini adalah gambaran umum permasalahan kesehatan jiwa di kabupaten Garut tahun 2017, berdasarkan laporan dari puskesmas dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Pada tahun 2017 di Kabupaten Garut Total kunjungan ODGJ yang datang ke Puskesmas sebanyak 4841 orang, di temukan 1956 orang dengan gangguan jiwa berat, 35 kasus pemasungan yang tersebar di 67 UPT Puskesmas, rata-rata kasus orang dengan gangguan jiwa berat yang ditangani UPT Puskesmas sebesar 24 %, kasus tertinggi di UPT Puskesmas Sukamerang 73 kasus (122 %) dari Prevalensi ODGJ Berat. Dan cakupan terendah yaitu di UPT Puskesmas campaka 11kasus (16%).
Profil Kesehatan Kab. Garut Tahun 2017 | 47 4.4 Gambaran Penyakit yang dapat Dicegah dengan Imunisasi
(PD3I)