• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran program HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Timur; Kota

Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo

5.3.1 Provinsi Jawa Timur

Penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Timur diatur dalam Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/84/KPTS/013/2009 Tentang Komisi

Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jawa Timur. Program HIV dan AIDS, dan IMS di Jawa Timur tahun 2014, antara lain:

1. LKB ( Layanan Komprehensif Berkesinambungan ) 2. SUFA ( Strategic Use For ARV )

3. IPT (Isoniazid Preventive Therapy)

4. PPIA ( Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak ) 5. Perencanaan LOGISTIK

Layanan komprehensif berkesinambungan IMS dan HIV (LKB) merupakan layanan terintegrasi dengan layanan yang ada. LKB meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Layanan ini melibatkan seluruh sektor terkait, masyarakat termasuk swasta, LSM, TOMA, TOGA. LKB merupakan layanan yang berkesinambungan karena layanan diberikan sejak dari rumah atau komunitas, hingga ke fasyankes dan kembali ke rumah/masyarakat. Hal ini dapat meningkatkan retensi pada perawatan dan pengobatan, peningkatan hidup meningkat, serta penurunan pada penularan.

Program IPT (Isoniazid Preventive Therapy) adalah program pengobatan pencegahan TB pada ODHA dengan pemberian Isoniazid. Program telah melakukan uji pendahuluan di empat (4) RS (RSCM,RSP, RSHS, RSMM). IPT direncanakan akan dikembangkan pada di delapan (8) Provinsi yang ditentukan sesuai kriteria.

Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) diatur dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan No.GK/MENKES/001/I/2013 Tentang Layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA). Pelayanan PPIA untuk diintegrasikan pada layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), konseling remaja ditiap jenjang pelayanan kesehatan. Jawa Timur merupakan daerah dengan epidemi HIV terkonsentrasi sehingga tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan wajib menawarkan tes HIV kepada semua ibu hamil secara inklusif pada pemeriksaan laboratorium rutin lainnya saat pemeriksaan antenatal atau menjelang persalinan. Setiap ibu hamil yang positif HIV wajib diberi obat ARV dan mendapatkan pelayanan perawatan, dukungan dan pengobatan lebih lanjut (PDP). Kepala Dinas Kesehatan merencanakan ketersediaan logistik (obat dan pemeriksaan tes HIV) berkoordinasi dengan Ditjen

P2PL, Kemenkes. Capaian hasil kegiatan PMTCT 2009 -2013 dan kondisi Januari s/d Juni 2014 dijelaskan pada tabel 5.1.

Tabel 5.1 Capaian Hasil Kegiatan PMTCT 2009-2013 dan Kondisi Januari s/d Juni 2014

Tahun Bumil HIV + Yang ARV Bayi lahir Bayi dites Bayi HIV

2009 76 49 53 15 5

2010 31 19 28 9 3

2011 65 36 48 7 7

2012 321 211 228 32 15

2013 192 186 143 82 47

2014 53 48 22 0 0

Jumlah 738 549 522 145 77

(Sumber: KPA Provinsi Jawa Timur, 2014)

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan jumlah Bumil dengan HIV positif dari tahun 2010 ke tahun 2012 mengalami peningkatan namun terjadi penurunan di tahun 2013. Sedangkan jumlah bayi dengan HIV mengalami dari tahun 2010 sampai tahun 2013.

Kebijakan Logistik Program antara lain tentang obat ARV yang 100%

ditanggung pemerintah pusat berdasarkan Surat Kep. Menteri Kesehatan No.

1190/Menkes/SK/X/2004. Kelangsungan pemberian OAT & ARV gratis oleh pemerintah pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal P2PL melalui APBN dan dana hibah luar negeri. Berdasarkan Surat edaran Dit. Jen P2PL NO.

HK.02.03/D/III.2/823/2013 tentang alokasi pembiayaan logistik program pengendalian HIV AIDS & IMS, alokasi Reagensia HIV (Rapid Diagnostic Test) sebanyak 45% dari kebutuhan nasional dan 55% dari kebutuhan masing-masing wilayah.

Pada kegiatan VCT di Jawa Timur memiliki hasil capaian kumulatif periode 2005 sampai dengan Juni 2014 untuk klien yang melakukan tes HIV sebanyak 267.605 orang dengan HIV positif sebanyak 22.643 orang. Hasil kegiatan ART pada 36 Rumah Sakit Rujukan ODHA di Jawa Timur per Mei 2014 yakni sebanyak 20.953 kasus masuk perawatan HIV postif yang memenuhi syarat

medis untuk di-ART sebesar 67%. Dari kasus yang memenuhi syarat medis untuk di ART sebesar 72,3% sudah pernah menerima ART.

5.3.2 Kota Surabaya

Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Surabaya diatur dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 4 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV dan AIDS. Maksud dilaksanakannya penanggulangan HIV dan AIDS untuk menekan laju penularan HIV dan AIDS, serta meningkatkan kualitas hidup ODHA. Tujuan dilaksanakannya penanggulangan HIV dan AIDS untuk memutus mata rantai penularan HIV dan AIDS guna melindungi masyarakat. Sasaran penanggulangan HIV dan AIDS mencakup seluruh lapisan masyarakat yang berada di wilayah Kota Surabaya, sesuai dengan maksud dan tujuan kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS yang ditetapkan. Dalam rangka pelaksanaan penanggulangan HIV dan AIDS secara terpadu, efektif dan efisien di Kota Surabaya, telah dibentuk Komisi Penanggulangan AIDS Kota Surabaya berdasarkan Keputusan Walikota Surabaya Nomor 188.45/156/ 436.1.2/2009.

Program penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Surabaya berdasarkan Rencana Aksi Penangggulangan HIV dan AIDS tahun 2012-2015 secara rinci dapat dilihat dalam Lampiran 2.

Layanan HIV dan AIDS di Kota Surabaya sudah ada di layanan kesehatan berupa; VCT, PMPCT, PTRM, LAJSS dan CST di beberapa layanan primer. Peta layanan HIV dan AIDS di Kota Surabaya dapat dilihat pada gambar 5.4

Gambar 5.4 Layanan HIV dan AIDS di Kota Surabaya (Sumber: KPA Kota Surabaya, 2012)

Gambar 5.4 mengambarkan bahwa jenis layanan metadhon terdapat di empat (4) Kecamatan. LJASS tersebar di 5 Kecamatan di Kota Surabaya. Layanan IMS terdapat di empat (4) Kecamatan. Layanan VCT ada di sebelas (11) Kecamatan. Layanan CST terdapat di enam (6) Kecamatan dan layanan PMTCT tersebar di tujuh (7) Kecamatan.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya diperoleh hasil bahwa pada tahun 2012 jumlah orang yang berkunjung di pelayanan VCT sebanyak 18.190 orang. Jumlah orang yang diberi pretest konseling sebanyak 16.327 orang. Jumlah orang yang ditesting HIV sebanyak 16.351 orang. Jumlah orang di post konseling dan menerima hasil sebanyak 16.039 orang. Diperoleh hasil jumlah orang yang positif HIV sebanyak 952 orang.

Pada tahun 2013 Dinas Kesehatan Kota Surabaya mencatat jumlah ODHA yang memenuhi syarat untuk ART sebanyak 5.495 orang. Jumlah ODHA yang pernah memulai ART 3.538 orang. Sedangkan jumlah ODHA yang masih ART sebanyak 1.593 orang.

5.3.3 Kabupaten Sidoarjo

Kabupaten Sidoarjo melalui KPA dan jajarannya telah melakukan berbagai program penanggulangan HIV dan AIDS. Dasar hukum yang digunakan oleh KPA dalam menjalankan tugasnya adalah Keputusan Bupati Sidoarjo No: 188 Tahun 2011, Tentang Pembentukan KPA Kab. Sidoarjo. Visi KPA Sidoarjo adalah terciptanya masyarakat Sidoarjo yang peduli terhadap pencegahan penyebaran HIV dan AIDS dan peningkatan kualitas hidup pada ODHA serta pengurangan dampak sosial ekonomi akibat HIV dan AIDS. Salah satu misi KPA Sidoarjo adalah meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AID secara lintas sektoral, menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi.

KPA Kabupaten Sidoarjo telah melakukan berbagai program penanggulangan HIV dan AIDS. Kegiatan tersebut berupa kampanye, pencegahan, pengobatan dan mitigasi dampak. Kegiatan kampanye yang telah dilakukan adalah peringatan hari-hari besar HIV dan AIDS, penyuluhan kepada masyarakat, sekolah (tingkat SMP, SMA dan Perguruan Tinggi) serta penjangkauan terhadap kelompok risiko tinggi.

Program pencegahan yang telah dilakukan adalah program Harm Reduction (HR) bagi Penasun, Condom Use 100% kepada kelompok risiko tinggi dan peningkatan kualitas pengetahuan dan keterampilan khususnya bagi kelompok risiko tinggi. Program pengobatan dan mitigasi dampak juga dilakukan oleh KPA Kabupaten Sidoarjo. Program pengobatan yang telah dilakukan adalah tes darah HIV atau VCT serta Perawatan Dukungan dan Pengobatan (CST).

Program mitigasi dampak yang dilakukan meliputi pendampingan ODHA dan OHIDHA, pemberdayaan bagi ODHA dan OHIDHA, Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), pembantukan PE (Peer Educater) pada kelompok risiko tinggi, penyuluhan kepada masyarakat untuk menekan stigma dan diskriminasi serta pembentukan WPA Kecamatan.

Layanan VCT di Puskesmas dilakukan oleh 5 Puskesmas dan di RSUD Sidoarjo. Puskesmas yang memiliki layanan VCT adalah Puskesmas Sidoarjo, Krian, Porong, Taman dan Puskesmas Waru. Kegiaan LKB di Sidoarjo dilakukan di Kecamatan Sidoarjo, Krian, Taman, Porong dan Kecamatan Waru.

Beberapa kegiatan pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS yang ada di Kabupaten Sidoarjo antara lain:

a. Deteksi dini penyakit HIV dan AIDS melalui VCT dan Mobile VCT b. Care Support and Treatment (CST)

c. Pencegahan penyakit melalui program condom use dan LJSS

d. Penanggulangan kasus dengan melakukan kolaborasi misalnya TB-HIV dan HIV-Diare.

e. Deteksi dini khusus melalui PMTCT (PPIA) dan PITC.

f. Kegiatan LKB (Layanan Konprehensif Berkesinambungan) di lima (5) Kecamatan (Sidoarjo, Krian, Porong, Taman, Waru).

g. Behavior Change Communication misalnya sosialisasi, penyuluhan, pembentukan Duta Stop AIDS, WPA , ABAT.

Warga Peduli AIDS (WPA) terdapat di 13 Kecamatan dari 18 Kecamatan di Sidoarjo, 3 Kecamatan dibentukan berdasarkan SK Camat, yakni; Kecamatan Porong, Kecamatan Krian, dan Kecamatan Taman. Tugas WPA adalah bekerjasama dengan LSM melakukan sosialisasi tentang HIV dan AIDS kepada masyarakat.

Paguyuban Remaja Peduli AIDS Sidoarjo (PARPAS) berdiri sejak 2008.

Diawali dari kegiatan Duta Peduli AIDS yang diadakan oleh KPA dan Dinkes untuk siswa SMA yang beranggotakan siswa SMA di Sidoarjo. Kegiatan yang dilakukan meliputi edukasi HIV dan AIDS pada siswa SMA, pemilihan putra putri peduli AIDS, peringatan hari AIDS, bakti sosial, renungan bersama ODHA.

Anggaran kegiatan diperoleh dari KPA yang bersumber dari APBD dan Global Fund. Selain PARPAS juga bekerjasama dengan LSM yakni LSM Plato.

Komunitas Mahasiswa Peduli AIDS Sidoarjo (KOMMPAS) beranggotakan mahasiswa dari lima universitas di Sidoarjo yakni Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Universitas Sunan Giri (UNSURI), WPN, Akbid Insan Unggul, Akbid Siti Khadijah. Kegiatan yang dilakukan adalah melakukan edukasi HIV dan AIDS pada mahasiswa. Dana untuk KOMMPAS berasal dari anggaran dari KPA.

Berdasarkan Peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Rencana Aksi Daerah Percepatan Pencapaian Target Miliennium Development Goals Kabupaten Sidoarjo Tahun 2013 – 2015 ada program terkait target Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV dan AIDS hingga tahun 2015 di Kabupaten Sidoarjo yakni Program Peningkatan Penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV dan AIDS dan Program Pendidikan Non Formal.

Kegiatan dari program peningkatan penanggulangan narkoba, PMS termasuk HIV dan AIDS yaitu penyuluhan penanggulangan narkoba, PMS termasuk HIV dan AIDS. Indikator atau output dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan generasi muda tentang Narkoba dan HIV dan AIDS.

Target capaian untuk tahun 2015 sebanyak 300 orang. Pelaksana dari kegiatan ini adalah Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, dan Keluarga Berencana.

Kegiatan dari program pendidikan non formal adalah pengembangan pendidikan kecakapan hidup. Kegiatan ini memiliki output terlaksananya kegiatan kursus pembina mahir dasar perkemahan dan sosialisasi pendidikan tentang HIV dan AIDS. Capaian di tahun 2013 sebanyak dua kegiatan. Target di tahun 2014 sebanyak satu kegiatan dan di tahun 2015 sebanyak enam kegiatan. Pelaksana dari kegiatan ini Dinas Pendidikan Sosialisasi Pendidikan HIV dan AIDS kepada siswa dan juga tenaga pendidik (2015).

Dalam pelaksanaan program upaya pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS perlu adanya manajemen program. Manajemen program upaya pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS melalui pembagian wilayah kerja baik dari segi sasaran maupun bentuk kegiatan. Manajemen program penting untuk pemerataan dan meminimalisir tumpang tindih kegiatan maupun sasaran. Manajemen program upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dijelaskan pada tabel 5.2

Tabel 5.2 Manajemen Program Upaya Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS

No Instansi / Lembaga Kegiatan Sasaran

1 Dinas Kesehatan CST ODHA

2 Dinas Sosial Mitigasi dampak ODHA & OHIDHA 3 Delta Crisis Center Pendampingan ODHA & OHIDHA 4 Yayasan Bina Hati,

Yayasan Orbit

Penjangkauan Kelompok Resiko Tinggi 5 Parpas, Kommpas Kampanye &

Sosialisasi

Pelajar & Mahasiswa 6 Pramuka, WPA, Karang

Taruna

Kampanye &

Sosialisasi

Anggota Pramuka &

Masyarakat Umum 7 SAS & INSIGHT Kampanye dan

Pencegahan

Penasun (Sumber: KPA Kab. Sidorajo, 2014)

5.4 Analisis Pemangku Kepentingan Penanggulangan HIV Dan AIDS Di