I. B.P.U TAMBANG TIMAH
3. GAMBARAN UMUM DAN TINDAKAN 2 PENTING DALAM
BIDANG EXPORT - IMPORT. 1) Keadaan Export- Import.
(I) Adanja inflasi merupakan keadaan jang tidak mengun- tungkan bagi sektor export-import. Dalam keadaan demi- kian, kenaikan2 harga didalam negeri, termasuk harga
barang2 export, menjebabkan adanja disparitas antara har-
ga dalam negeri tsb. dengan harga dunia jang dinjatakan dalam nilai lawan rupiah. Keadaan demikian merupa- kan hambatan terhadap export. Sebaliknja dengan kenai- kan harga barang2 import didalam negeri dan adanja per-
mintaan jang kuat terhadap barang2 import disebabkan
karena redistribusi pendapatan jang menguntungkan golo- ngan ketjil jang bertambah kaja, maka keinginan untuk mengimport, terutama barang2 mewah, tetap tinggi.
Hambatan2 terhadap export dan dorongan terhadap
import telah sangat membahajakan kedudukan devisa. (2) Neratja perdagangan menundjukkan perkembangan jang ti-
dak menguntungkan selama tahun 1964 dengan adanja kemerosotan export, sedangkan import telah meningkat. Hal ini dapat dilihat dari angka2 sbb. ;
Export - Import.
(Tidak termasuk minjak bumi dan hasil2nja )
dalam djutaan rupiah : US $ 1 = Rp. 45,-
Masa Export Import Sisa
1961 23 726 33 980 9 654
1962 20 965 27 324 6 359
1963 19 244 21 185 1 941
1964 13 317 20 477 7 160
(s/d Agustus)
(3) Perkembangan harga2 dalam pasaran dunia menundjukkan
perkembangan2 jang ber-beda2. Dalam bidang karet harga2 dunia ada-
lah umumnja rendah sekali dibandingkan dengan beberapa tahun jang lalu, dan menundjukkan tendens merosot pada waktu achir2 ini. Sam-
pai tahun 1960 harga karet RSS I umumnja berkisar antara c/ 35 (US$) sampai c/ 38 sepon, tetapi sedjak tahun 1963 umumnja berkisar antara c/ 24 sampai e/ 26 sepon. Perkembangan2 ini bisa lebih tidak me-
nguntungkan dalam tvaktu singkat apabila tidak diadakan orientasi baru krpasar luar negeri diluar Inggris dan Amerika Serikat terutama ke- negeri2 Nefo berhubung dengan adanja ramalan2 bahwa ekonomi AS
Sebaliknja harga timah menundjukkan tendens meningkat de- ngan keras, tetapi sajang Indonesia kurang bisa menikmati manfaat dari pada perkembangan itu karena volume export timah telah sangat merosot. Harga kopra djuga achir2 ini berkembang dengan balk tetapi volume export
sekalipun aehir2 ini meningkat, masih djauh dibawah volume jang telah
dapat ditjapai dalam tahun2 1950-an,
Angka2 tentang perkembangan harga adalah
Karet Timah
RSS I New York London £
US c/ lb of long ton sbb.; Kopra London US S long ton 1963 April 26 3/4 886.14 182 Agustus 24 3/8 905.17,6 186.40 Desember 23 3/4 1.009.7,6 195 1964 April 24 1/2 1.043.8,7 194 Agustus 23 1/2 1.275.3 197 ¼ Desember 24 1/2 1.317.19.3 205 1 /2 1965 Djanuari 24 1/2 1.260,12.8 214 Februari 25 1.239.15.9 230 ½ Maret 25 1/2 / 1.308.7.7 240 April 22 1.428.13.2 254 Mei 26 1.548.7.4 266
(4) Disamping masalah2 diatas, sektor export menghadapi
berbagai kesuiitan2 jang menghambat sbb. .
a. Masalah pelabuhan
Dalam tahun2 terachir ini, export dan import semakin dipu-
satkan melalui Tandjung Priok. Hal ini disamping adanja ke- lambatan2 dalam mengeluarkan barang2 import dari gudang di
pelabuhan tsb., telah menjebabkan kongesti sehingga mempersu- lit kelantjaran export.
b. Masalah prosedur :
Prosedur jang harus dilalui dalam pelabuhan umumnja sa- ngat pandjang sehingga merugikan exportir2. Menurut pemerik-
saan, di Surabaja dibutuhkan 13 tanda - tangan dari berbagai kantor sebelum export dapat dikapalkan, sedangkan menurut kabar, di Medan bahkan dibutuhkan 28 tanda tangan.
e. Masalah2.pungutan illegal
Terdapat gedjala jang kuat dalam bidang export untuk me- mungut bajaran jang tidak legal sebagai kompensasi penguru- san export jang dipertjepat. Hal demikian terdjadi baik di- bank2, dikantor2 export, apalagi di-pelabuhan. Hal ini mem-
perlambat export dan menambah ongkos (memperbesar dispari- tas)
d. Masalah izin istimewa.
Dalam hal beberapa barang export tertentu kopra dan karat telah dikeluarkan izin istimewa kepada exportir2 tertentu de-
ngan harga penjerahaa jang lebih menguntungkan. Hal demi- kian meningkatkan harga barang export tsb, didalam negeri sehingga exportir2 lain sulit mengikutinja. Perlu didjelaskan,
bahwa hal ini djuga telah mempersulit persediaan barang jang bersangkutan untuk pasaran dalam negeri.
e. Masalah pengangkutan.
Pengangkutan dari daerah produksi ke pelabuhan umumnja mengalami kemerosoran (kendaraan, keadaan djalan2 dsb.).
5. Kurang lebih 35% dari pada export Indonesia masih tetap be- rada diluar kekuasaan Pemerintah sebagai akibat adanja Kon- trak Karya dengan perusahaan2 minjak jang dalam kenjataan
menjerahkan seluruh pengurusan produksi dan export minjak kepada perusahaan2 asing tersebut. Pada umumnja P.N-2 mi-
njak belum dapat melakukan kegiatan2 jang berarti dalam bi-
dang export.
Kontrak Karya jang diadakan dalam bulan November 1963 menetapkan pembagian 60 : 40 untuk keuntungan fihak R.I. daripada pendapatan perusahaan2 minjak, dibanding dengan
masa "let-alone agreement" dimana bagian ditetapkan 50:50. Na- mur demikian, dalam pelaksanaan ternjata penghasilan devisa untuk fihak R.I. telah merosot karena adanja kesulitan2 da-
lam memeriksa besarnja operating income perusahaan2 asing
jang didjadikan dasar untuk menentukan bagian jang mendjadi hak R.I.. disamping adanja ketentuan bahwa minjak jang di- bell oleh fihak R.I. untuk pasaran dalam negeri harus dibajar sebagian atau seluruhnja dalam devisa ($ dan £).
(6) Menurut sistim import sekarang, pada pokoknja terdapat tiga tjara mengimport dilihat dari sudut sumber pembajaran, jaitu (a) berdasarkan Rentjana Import Barang jang pembajarannja umumnja diambil dari Dana Devisa. (b) dengan SPP, dan (c) dengan deferred payments. RIB untuk tahun ini umum- nja dibatasi pada bahan2 baku dan penolong untuk sektor in-
dustri, tetapi djumlah devisa jang disediakan (US $ 250 djuta) adalah djauh kurang dari kebutuhan2.
Import dengan SPP banjak diarahkan kepada ;barang2 me-
wah ataupun barang2, lain jang dapat membawa keuntungan
besar untuk fihak importir. Importir dengan deferred pay- ments adalah hal jang sangat memberatkan neratja pembajaran R.I. di-tahun2 jad. Disamping itu, dapat diketahui bahwa da-
lam pelaksanaan import dengan deferred payments banjak ter- djadi hal2 jang merugikan negara, mis. harga barang jang di-
import sebenarnja adalah djauh lebih rendah dari pada apa jang. dinjatakan dalam izin deferred payments. (adanja discount jang tidak dilaporkan), tidak adanja penjesuaian dalam hal mutu dan volume import jang merugikan fihak R .I.;dsb. Pada umumnja dapat dirasakan, bahwa karena hal2 tab.
diatas komposisi import belum dapat disesuaikan setjara me- muaskan bagi kebutuhan2 pembangunan jang mendesak.
(7) Peraturan export jang diadakan oleh Pemerintah pada tang- gal 17 April 1964 jaitu peraturan SPP, dimaksudkan untuk mendorong export dengan memberikan incentive kepada ex- portir berupa penerimaan rupiah tambahan dari pendjua- lan SPP jang ditentukan sebanjak 20% daripada penghasilan devisa exportir jang bersangkutan, Dengan sistim demikian exportir diuntungkan dengan kurs SPP tinggi, tetapi hal ini mempunjai pengaruh jang tidak baik terhadap tingkat barang2
import jaitu dengan mendorongnja keatas.
Dari pengalaman2 sedjak peraturan SPP diadakan, adalah
djelas bahwa SPP sering didjadikan objek spekulasi jang sa- ngat merugikan perkembangan harga didalam negeri. Hal de- mikian telah terdjadi pada achir tahun 1964. Pada waktu itu kurs SPP telah meningkat sampai 30 sehingga harga barang2
import ikut meningkat djuga selama beberapa bulan karena adanja liquidity krisis pada awal tahun ini. Tetapi sedjak bulan April spekulasi dalam SPP semakin menghebat. Dapat diketa- tahui mis. bahwa pengadjuan permintaan dalam Call SPP di- Bank Indonesia meningkat dari Rp. 6,8 miljard pada permu- laan bulan April mendjadi Rp. 51 miljard pada awal tgl, 11 Mei, jbl.
Menghadapi keadaan jang demikian Pemerintah telah me- ngeluarkan peraturan2 baru tentang pendjual - helian SPP
dengan maksud menghilangkan faktor spekulasi. terutama de- ngan membatasi djenis barang jang dapat diimport dengan SPP, dan melarang pendjualan SPP dibawah tangan. Tetapi hal ini- pun ternjata belum dapat meredakan keadaan, karena ketentuan bahwa hanja exportir, exportir-produsen dan importir jang dapat ikut membeli SPP dalam Call SPP tersebut diatas de- ngan gampang dapat dielakan dengan tjara : exportir melakukan import atas dasar indent untuk fihak lain tanpa melalui bursa B.I. Dengan demikian masalah adanja kurs SPP, diluar Call masih tetap terdjadi.
(8) Perkembangan spekulalif dalam bursa SPP 'dapat dilihat Dari angka2 sbb : Kurs resmi SPP. 25. V. 1965 17. 0 2.VI. 1965 18. I 8.VI. 1965 20. 2 15.VI. 1965 22. 3
Sedangkan kurs SPP diluar bursa telah mentjapai tingkat lebih dari 30 dalam pertengahan bulan Djuni ini.
(9) Dari uraian diatas, dapat dirasakan bahwa masalah export masih menghadapi banjak kesulitan, baik setjara fisik mau- pun dalam bidang moneter.
2) Tindakan2 Jang Perlu Diambil Untuk Mentjiptakan Iklim Eko-
nomi Jang Baik. Bidang Export-Import.
Perlu segera diambil tindakan untuk menghentikan kemero- sotan dalam bidang export clan untuk mengendalikan bidang im- port agar supaja bisa disesuaikan dengan kebutuhan2 perentjanaan.
Pada pokoknja masalah meningkatkan export (volume maupun ni- lai) sesuai dengan target jang telah ditetapkan oleh Pemerintah, sebesar $ 600 djuta dalam tahun ini, tergantung kepada usaha2
Pemerintah untuk mengatasi keadaan inflasi, karena djustru keadaan an inflasi jang selalu mempersulit export. Sebaliknja. Pula, karena sistem SPP jang diadakan sekarang merupakan salah satu faktor jang mendorong tingkat harga keatas, maka apabila peraturan SPP bisa diganti dengan peraturan jang tepat, maka hal ini akan ikut membantu usaha2 Pemerintah dalam mengatasi inflasi.
(1). Bidang Export.
i. Sistim. SPP perlu dihapuskan. Sebagai gantinja, perlu di-
adakan sistem jang sepenuhnja melepaskan penghasilan sektor export perlu- diberikan pembajaran dalam bentuk rupiah sadja, sesuai dengan ongkos2 produksi jang njata ditambah. dengan
keuntungan jang lajak. Perlu diadakan tindakan2 untuk men-
djamin agar sektor produksi export memperoleh bahan2 jang
perlu diimport dari luar negeri. tetapi tidak dengan sistem pemberian hak2. istimewa atas penggunaan devisa.
ii. Dengan mendjamin kebutuhan sektor export dalam rupiah sa- dja maka penerimaan. devisa harus sepenuhnja di tangan Peme- rintah. Ini. berarti, bahwa disamping menghapuskan sistem SPP,
Undang2 Lalu Lintas, Devisa tahun 1964 jang memungkinkan
exportir memperoleh devisa pelengkap djuga perlu ditindjau kembali.
iii. Export barang2 terpenting harus diserahkan sepenuhnja kepada
sektor negara (karet, kopra, timah, minjak sawit dsb.) Export barang2 lain dapat didjalankan oleh pengusaha2 swasta asal me-
reka merupakan exportir-produsen sesuai dengan ketetapan M.P.R.S. No. VI. 1965, pasal 9, ajat 2.
iv. Mengenai barang2 export jang dihasilkan oleh petani2 Rakjat,
collecting perlu diatur sepenuhnja oleh koperasi sehingga mem- perpendek saluran jang dilalui barang2 export tsb. Untuk ini,
perlu segera diambil tindakan untuk menertibkan sektor koperasi supaja koperasi2 jang bergerak dalam bidang ini benar2 me-
wakili kepentingan2 produksi produsen dan disamping membe-
li hasil2nja dengan harga jang lajak, djuga menjediakan ba-
han2 kebutuhan produsen, baik kebutuhan konsumsi maupun
produksi. Koperasi2 hendaknja hanja bergerak dibidang collec-
ting dan tidak dibidang export.
v. Perlu segera ditertibkan keadaan di pelabuhan dengan tindakan2
a.l. mentjairkan tumpukan barang2 import, meluaskan kegiatan2
export-import setjara merata disemua pelabuhan-samudera, mem- perbaiki dan menambahkan alat2 pemuatan dalam pelabuhan,
memperbesar djumlah tongkang menurut kebutuhan, dsb.
vi. Perlu segera diadakan tindakan untuk menjederhanakan prose- dur export terutama peraturan pabean, Djuga perlu diberantas pungutan2 illegal jang banjak terdjadi dalam bidang export, per-
bankan dsb.
vii. Perlu diambil tindakan2 untuk memperbesar produksi bahan2 ex-
port, terutama timah, dengan mengadakan penertiban2 dan pe-
nanaman modal seperlunja.
viii. Tentang masalah kopra perlu diadakan perentjanaan jang dje- las tentang penggunaan kopra dari berbagai daerah penghasil untuk kebutuhan export dan untuk kebutuhan dalam negeri. ix. Politik kredit harus ditudjukan untuk membantu sektor pro-
duksi dengan memberikan kredit berbunga rendah dan dengan sjarat2 jang mudah untuk membiajai usaha2 peningkatan pro-
duksi barang ekport. (2) Bidang import.
i. Perentjanaan penggunaan seluruh devisa untuk import perlu segera diadakan sesuai dengan kebutuhan2 pembangunan, dan
harus diambil langkah2 untuk mendjamin bahwa semua apara-tur
ii. Mengingat kekurangan devisa jang.- sangat dirasakan, import
perlu dibatasi hanja kepada barang2 jang dibutuhkan untuk
projek2 pembangunan jang diberikan prioritas, dan untuk me-
menuhi kebutuhan industri dalam negeri jang ada. Import ba- rang mewah perlu dibatasi.
iii. Import hares dilaksanakan oleh sektor negara (P.N.N.2) dan sesuai dengan Ketetapan M.P.R.S. No. 6/1965, importir swasta hanja boleh mengimport atas nama Pemerintah. Hal terachir ini hanja dapat dilakukan dalam hal barang2 import
untuk sektor bukan pemerintah, dan harus sepenuhnja sesuai dengan rentjana import jang telah ditetapkan.
iv. Sistem import dengan deferred payment perlu dihapuskan. Import dengan kredit perlu dibatasi hanja kepada import ba- rang2 modal dalam rangka melaksanakan projek pembangu- nan jang telah diberi prioritas.
(3) Aparatur Export Import.
Tindakan2 diatas berarti bahwa masalah penertiban dalam apa-
ratur export-import, terutama P.N.N,2 perlu segera diadakan. Djuga penertiban dibidang bank sangat dibutuhkan.
Perbaikan2 dalam sektor Export-Import pada pokoknja hanja
akan bisa didjalankan apabila segera dibentuk Dewan Pimpi nan Ekonomi Nasional sesuai dengan Ketetapan No. VI/MP -RS/I965 jang a.l. memimpin serta merentjanakan pelaksanaan tahunan daft mengawasi .sektor export-import tsb.
4. GAMBARAN UMUM TENTANG PERKEMBANGAN HARGA