• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia salah satu negara demokrasi yang memposisikan DPR-RI sebagai lembaga perwakilan untuk menampung dan menyuarakan aspirasi dan harapan masyarakat. Sebagai perwakilan rakyat, Anggota DPR-RI kekuasaan sangat strategis dan memiliki hak-hak yang cukup istimewa. Banyak angota masyarakat yang berkeinginan menjadi anggota DPR-RI. Hal ini terbukti dari beberapa kali pelaksanaan pemilihan anggota legislatif yang dilakukan, banyak peserta dan sangat bersaing.

Calon Anggota DPR-RI dihadapkan pada tanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat sehingga mampu menyatakan pendapat, memilih wakilnya, berani menyampaikan aspirasi, serta turut dalam pengawasan pemerintahan. Sehubungan dengan itu, anggota DPR-RI dituntut melakukan pendekatan-pendekatan komunikasi politik kepada masyarakat sehingga aspirasi masyarakat dan konstituen dapat terserap dan menjadi masukan dalam pelaksanaan fungsi DPR-RI.

Dewan Perwakilan Rakyat adalah representasi masyarakat dalam sistem pemerintahan demokrasi. Dewan Perwakilan Rakyat menjadi penyambung lidah masyarakat agar kebijakan yang dirumuskan pemerintah berpihak kepada kepentingan rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat di Indonesia pada tahun 2009- 2014 telah terpilih melalui pemilihan legisltif sebanyak 560 orang (Kompas 2010:ix) . Mereka inilah yang menjadi perwakilan dari sekitar 237 juta jiwa penduduk Indonesia. Mereka inilah yang akan menyuarakan kepentingan rakyat Indonesia sehingga arah kebijakan pemerintahan memperhatikan kepentingan masyarakat.

Anggota DPR-RI priode 2009-2014 adalah hasil pemilihan dari 11.219 calon legislatif dan 77 daerah pemilihan. Bila dibandingkan penduduk Indonesia tahun 2010 sebanyak 237,641,326 dengan jumlah anggota DPR-RI 2009-2014 sebanyak 560 orang, maka setiap anggota DPR-RI mewakili sekitar 424.360 penduduk, (BPS 2011)

Distribusi anggota DPR-RI terpilih berdasarkan fraksi atau partai dapat dilihat pada Tabel berikut ini:

Tabel 2 Sebaran anggota DPR-RI 2009-2014 berdasarkan fraksi (dalam persen)

Fraksi Jumlah

Fraksi Partai Demokrat 26,40

Fraksi Partai Golkar 18,92

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 16,78

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera 10,17

Fraksi Partai Amanat Nasional 8,21

Fraksi Partai Persatuan Pembangunan 6,78

Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa 5,00

Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya 4,64

Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat 3,04

N=560

Sebagai representasi rakyat, kewajiban anggota DPR-RI adalah menyerap aspirasi masyarakat yang dijadikan masukan dalam menjalankan tugas sebagai pengawas pemerintah. Penyerapan aspirasi masyarakat dapat dilakukan dengan berkunjung ke daerah pemilihan atau menunggu pengaduan masyarakat yang datang ke DPR Senayan. Atas dasar aspirasi tersebut, dapat dijadikan bahan dalam melaksaakan tugas dan fungsi DPR-RI.

Tugas dan wewenang anggota DPR-RI terdiri dari tiga, yaitu legislasi, anggaran dan pengawasan. Sebagai mana ditetapkan dalam Tata Tertib, DPR-RI mempunyai tugas dan wewenang:

a. Membentuk undang-undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama;

b. Memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap peraturan pemerintah pengganti undang-undang yang diajukan oleh Presiden untuk menjadi undang-undang;

c. Menerima rancangan undang-undang yang diajukan oleh DPD berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;

d. Membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam huruf c bersama Presiden dan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden;

e. Membahas rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden atau DPR yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah, dengan mengikutsertakan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden;

f. Memperhatikan pertimbangan DPD atas rancangan undang-undang tentang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama;

g. Membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan memberikan persetujuan atas rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden;

h. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan APBN; i. Membahas dan menindaklanjuti hasil pengawasan yang disampaikan oleh

DPD terhadap pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama;

j. Memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain, serta membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang- undang;

k. Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pemberian amnesti dan abolisi;

l. Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam hal mengangkat duta besar dan menerima penempatan duta besar negara lain;

m. Memilih anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD;

n. Membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang disampaikan oleh BPK;

o. Memberikan persetujuan kepada Presiden atas pengangkatan dan pemberhentian anggota Komisi Yudisial;

p. Memberikan persetujuan calon hakim agung yang diusulkan Komisi Yudisial untuk ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden;

q. Memilih 3 (tiga) orang hakim konstitusi dan mengajukannya kepada Presiden untuk diresmikan dengan keputusan Presiden;

r. Memberikan persetujuan terhadap pemindahtanganan aset negara yang menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan dan terhadap perjanjian yang berakibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara;

s. Menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat; dan

t. Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam undang-undang. Dalam pelaksanaan fungsi pengawasan, DPR-RI mengawasi eksekutif dalam menjalankan atau melaksanakan UU dan APBN serta pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah. Pelaksanaan fungsi pengawasan dilakukan melalui rapat kerja dan RDP komisi dengan mitra kerja masing-masing atau rapat gabungan komisi, kunjungan kerja, dan membentuk kepanitiaan, seperti

Panitia Khusus dan Panitia Kerja untuk menanggapi permasalahan yang berkembang di masyarakat.

Kunjungan kerja dilakukan untuk melihat pelaksanaan pembangunan dan menyerap aspirasi masyarakat di daerah pemilihan anggota. Kunjungan kerja dilakukan ke daerah pemilihan paling sedikit satu kali setiap dua bulan atau enam kali dalam satu tahun, dengan waktu paling lama lima hari, yang dilaksanakan di luar masa reses dan di luar sidang-sidang DPR-RI. Hasil kunjungan kerja dapat dijadikan bahan dalam rapat kerja, RDP, RDP umum. Selain itu anggota dalam satu daerah pemilihan dapat membentuk rumah aspirasi. Rumah aspirasi berfungsi untuk menerima dan menghimpun aspirasi masyarakat. Aspirasi masyarakat menjadi bahan untuk melaksanakan fungsi DPR-RI.

DPR-RI RI juga membuka kesempatan luas bagi publik untuk menyampaikan informasi. Masyarakat dapat menyampaikan aspirasi dan pengaduan baik secara langsung maupun pengaduan secara tertulis. Delegasi masyarakat yang langsung datang ke DPR-RI dan diterima Pimpinan Dewan untuk menyampaikan aspirasinya selama periode 2004-2009 terbagi atas beberapa bidang dan asal delegasi. Masyarakat juga dapat menyampaikan pengaduan atau aspirasi melalui surat, faksimili, atau e-mail yang ditujukan kepada pimpinan DPR-RI atau pimpinan komisi yang terkait.

Ketiga fungsi DPR-RI, legislasi, anggaran dan pengawasan bagian dari satu kesatuan tugas yang tidak dipisahkan. Karena antara fungsi tersebut dapat berlangsung secara bersamaan. Namun fungsi DPR-RI yang lebih dekat dengan penelitian ini adalah fungsi pengawasan. Karena dalam RDP antara komisi DPR- RI dengan pemerintah bahan yang sering dibahas adalah hasil temuan DPR-RI yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Fungsi legislasi dapat juga dilakukan komisi DPR-RI dalam menyusun draft Undang-Undang dengan mengundang pemerintah atau kementerian terkait. Sedangkan fungsi anggaran dapat dilakukan oleh komisi DPR-RI dengan mengundang pemerintah atau kementerian terkait.

Agar kedudukan Anggota DPR-RI kuat sebagai representasi masyarakat DPR-RI diberikan hak-hak istimewa seperti. hak interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan pendakat serta hak-hak lainnya yang diatur oleh undang-undang.

Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada Pemerintah mengenai kebijakan Pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang- undangan.Hak menyatakan pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat atas: (a) Kebijakan Pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau di dunia internasional (b) Tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket (c) Dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum baik berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, maupun perbuatan tercela, dan/atau Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Hak istimewa yang diberikan kepada anggota DPR agar dalam menjalankan fungsi dan tugasnya tidak terkendala oleh birokrasi dan hukum.

Profil Anggota DPR-RI 2009-2014

Sebagai representasi masyarakat, banyak masyarakat menggantungkan harapan kepada DPR-RI. Sebagai wakil yang dipilih oleh rakyat, Anggota DPR- RI membawa kepentingan rakyat untuk dijadikan masukan dalam merumuskan kebijakan pemerintahan. Karena itu, pemerintahan dan pembangunan Indonesia berpihak kepada masyarakat tergantung kepada kinerja anggota DPR-RI yang berpihak kepada rakyat. Kinerja diharapkan lebih baik karena Anggota DPR sekarang menunjukkan karakteristik yang lebih baik. Sebagai gambaran umum misalnya tingkat pendidikan meningkat dari priode sebelumnya. Tingkat pendidikan Anggota DPR-RI 2009-2014 adalah sebagai berikut:

Tabel 3 Sebaran Anggota DPR-RI 2009-2014 berdasarkan tingkat pendidikan (dalam persen)

Tingkat Pendidikan Jumlah

SMA dan sederajat 5.89

Diploma 2.32

Sarjana (S1) 47.32

Magister (S2) 34.64

Doktor (S3) 7.68

Tidak menyebutkan 2.15

N=560 Sumber : Diolah dari Renstra DPR-RI 2009-2014

Dengan, komposisi tingkat pendidikan Anggota Dewan periode 2009-2014 yang didominasi sarjana pelaksanaan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan semakin bekualitas. Dalam fungsi legislasi, Anggota Dewan akan membuat Undang-undang yang memiliki jauh ke depan dan berpihak kepada rakyat. Menyusun anggaran yang akan lebih memperhatikan prioritas dan perimbangan. Dalam melakukan pengawasan yang lebih kritis dan komprehensif.

Representasi Perempuan

Representasi perempuan Anggota Dewan DPR-RI periode 2009-2014 terdapat 98 orang atau sekitar 17,7%. Hal tersebut diharapkan dapat mengaktualisasikan permasalahan kaum perempuan. Walaupun representasi yang diharapkan sekitar 30 % belum terpenuhi, keadaan ini telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada kaum perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka dalam pemerintahan. Namun jika dibandingkan dengan proporsi penduduk Indonesia secara umum, maka representasi perempuan pada lembaga perwakilan perlu ditingkatkan.

Pekerjaan Awal

Sebagaimana data yang diperoleh DPR-RI dari KPU, Anggota Dewan pada periode ini yang berasal dari DPR-RI periode sebelumnya sekitar 165 orang atau 29,7%. Sedangkan sisanya, sekitar 70% adalah anggota baru. Di antara anggota baru tersebut, 183 atau 33% menyatakan pekerjaan awalnya sebagai pegawai swasta, 13% adalah wirausahawan, dan 8% merupakan PNS. Kelompok lain sebanyak 52 orang berprofesi sebagai dokter, pimpinan pesantren, dan profesi

lainnya. Anggota baru ini diharapkan dapat membawa suara realitas masyarakat dan memberi warna baru dalam pelaksanaan fungsi DPR-RI.

Umur

Profil Anggota DPR-RI dari komposisi kelompok umur sebagian besar atau 41% berusia 41-50 tahun. Jika diasumsikan bahwa Anggota Dewan menjalani karir politiknya sejak bergelar sarjana, maka sebagian besar merupakan politisi kelompok usia menengah. Sedang 38% Anggota lainnya berusia lebih dari 50 tahun. Dengan demikian Anggota DPR-RI didominasi oleh politisi usia menengah dan dewasa yang sudah dapat mengontrol perilaku komunikasinya.

Citra

Sesaat menerima tanggunggjawab sebagai Anggota Dewan priode 2009- 2014, citra negatif telah menjadi beban yang perlu dikikis habis. Perilaku kurang terpuji Anggota DPR-RI terdahulu tidak akan terulang pada anggota baru. Perilaku negatif Anggota DPR-RI terdahulu umumnya tidak dapat diterima oleh masyarakat umum. Menurut hasil penelitian barometer Korupsi Global 2009 sebagaimana dikutip oleh Rencana Strategis DPR-RI 2009-2014, citra buruk DPR-RI yang diberitakan oleh media massa adalah:

a. Anggota DPR-RI acapkali tidak hadir dalam rapat Dewan, kurang disiplin terhadap jadwal rapat, dan bahkan tertidur pada saat rapat dan persidangan berlangsung.

b. Kualitas pertanyaan dan pernyataan Anggota Dewan tidak tajam dan tidak fokus.

c. Anggota Dewan mudah tersinggung, tidak dapat menahan emosi, beradu mulut, dan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak menurut ukuran etika umum.

d. Kunjungan Anggota Dewan ke luar negeri dinilai kurang efektif.

Perilaku Anggota Dewan priode 2009-2014 masih ada yang seperti diberitakan. Hasil penelitian Lembaga LSI (Lingkaran Survei Indonesia) bulan September 2011 menunjukkan sebagian besar (76,6%) masyarakat tidak percaya pada politisi, (Suara Anda Metro TV 3 Oktober 2011 pukul 19.00).

Walaupun masih ditermukan kinerja anggota DPR-RI yang kurang sesuai terpuji, harapan masyarakat kepada DPR-RI tetap digantungkan. Karena lembaga DPR-RI sebagai perwakilan rakyat tempat masyarakat menggantungkan harapan.

Bila lembaga ini tidak lagi amanah pada tugas dan fungsinya, dapat diduga program dan kebijakan pembangunan pemerintah tidak mensejahterakan rakyatnya. Sebagaimana fungsinya Anggota DPR-RI penyalur aspirasi rakyat, akan membawa pemerintahan ke arah kepentingan rakyat.

Badan Kelengkapan

Berkaitan dengan penguatan dan pengefektifan kelembagaan DPR-RI RI dalam menjalankan fungsinya, DPR membentuk alat kelengkapan. Pembentukan alat kelengkapan DPR-RI agar dapat menampung semua persoalan kenegaraan. Alat kelengkapan DPR-RI adalah; Pimpinan, Badan Musyawarah, Komisi, Badan Legislasi, Badan Anggaran, Badan Urusan Rumah Tangga, Badan Kerja Sama Antar Parlemen, Badan Kehormatan, Badan Akuntabilitas Keuangan Negara, Panitia Khusus, dan Komisi. (Tata Tertib DPR-RI 2009-2014)

Pimpinan

Pimpinan DPR-RI adalah alat kelengkapan DPR-RI dan merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat kolektif dan kolegial yang terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 4 (empat) orang wakil ketua yang berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPR-RI. Masa jabatan pimpinan DPR-RI sama dengan masa keanggotaan DPR-RI.

Pimpinan DPR-RI bertugas:

1. Memimpin sidang DPR-RI dan menyimpulkan hasil sidang untuk diambil keputusan;

2. Menyusun rencana kerja pimpinan;

3. Melakukan koordinasi dalam upaya mensinergikan pelaksanaan agenda dan materi kegiatan dari alat kelengkapan DPR-RI;

4. Menjadi juru bicara DPR-RI;

5. Melaksanakan dan memasyarakatkan keputusan DPR-RI;

6. Mewakili DPR-RI dalam berhubungan dengan lembaga negara lainnya; 7. Mengadakan konsultasi dengan Presiden dan pimpinan lembaga negara

lainnya sesuai dengan keputusan DPR-RI; 8. Mewakili DPR-RI di pengadilan;

9. Melaksanakan keputusan DPR-RI berkenaan dengan penetapan sanksi atau rehabilitasi anggota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; 10. Menyusun rencana anggaran DPR-RI bersama Badan Urusan Rumah Tangga

yang pengesahannya dilakukan dalam rapat paripurna; dan

11. Menyampaikan laporan kinerja dalam rapat paripurna DPR-RI yang khusus diadakan untuk itu.

Selanjutnya dalam melaksanakan tugasnya, Pimpinan DPR-RI bertanggung jawab kepada Rapat Paripurna DPR-RI.

Badan Musyawarah

Badan Musyawarah dibentuk oleh DPR-RI dan merupakan alat kelengkapan DPR-RI yang bersifat tetap. DPR-RI menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Musyawarah pada permulaan masa keanggotaan DPR-RI dan permulaan tahun sidang. Anggota Badan Musyawarah berjumlah paling banyak 1/10 (satu persepuluh) dari jumlah anggota berdasarkan perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi yang ditetapkan oleh rapat paripurna.

Ketua dan/atau sekretaris fraksi karena jabatannya menjadi anggota Badan Musyawarah. Pimpinan DPR-RI karena jabatannya juga sebagai pimpinan Badan Musyawarah dan dalam hal ini Pimpinan DPR-RI tidak merangkap sebagai anggota dan tidak mewakili fraksi.

Badan Musyawarah bertugas:

1. Menetapkan agenda DPR-RI untuk 1 (satu) tahun sidang, 1 (satu) masa persidangan, atau sebagian dari suatu masa sidang, perkiraan waktu penyelesaian suatu masalah, dan jangka waktu penyelesaian rancangan undang-undang, dengan tidak mengurangi kewenangan rapat paripurna untuk mengubahnya;

2. Memberikan pendapat kepada pimpinan DPR-RI dalam menentukan garis kebijakan yang menyangkut pelaksanaan tugas dan wewenang DPR-RI; 3. Meminta dan/atau memberikan kesempatan kepada alat kelengkapan DPR-RI

yang lain untuk memberikan keterangan/penjelasan mengenai pelaksanaan tugas masing-masing;

4. Mengatur lebih lanjut penanganan suatu masalah dalam hal undang-undang mengharuskan Pemerintah atau pihak lainnya melakukan konsultasi dan koordinasi dengan DPR-RI;

5. Menentukan penanganan suatu rancangan undang-undang atau pelaksanaan tugas DPR-RI lainnya oleh alat kelengkapan DPR-RI;

6. Mengusulkan kepada rapat paripurna mengenai jumlah komisi, ruang lingkup tugas komisi, dan mitra kerja komisi yang telah dibahas dalam konsultasi pada awal masa keanggotaan DPR-RI; dan

7. Melaksanakan tugas lain yang diserahkan oleh rapat paripurna kepada Badan Musyawarah.

Badan Legislasi

Badan Legislasi dibentuk oleh DPR-RI dan merupakan alat kelengkapan DPR-RI yang bersifat tetap. DPR-RI menetapkan susunan dan keanggotaan

Badan Legislasi pada permulaan masa keanggotaan DPR-RI dan permulaan tahun sidang. Jumlah anggota Badan Legislasi ditetapkan dalam rapat paripurna menurut perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa keanggotaan DPR-RI dan pada permulaan tahun sidang.

Pimpinan Badan Legislasi merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat kolektif dan kolegial, yang terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota Badan Legislasi berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi.

Badan Legislasi bertugas:

1. Menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar urutan dan prioritas rancangan undang-undang beserta alasannya untuk satu masa keanggotaan dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR-RI dengan mempertimbangkan masukan dari DPD;

2. Mengkoordinasikan penyusunan program legislasi nasional antara DPR-RI dan Pemerintah;

3. Menyiapkan rancangan undang-undang usul DPR-RI berdasarkan program prioritas yang telah ditetapkan;

4. Melakukan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota, komisi, gabungan komisi, atau DPD sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan kepada pimpinan DPR-RI;

5. Memberikan pertimbangan terhadap rancangan undang-undang yang diajukan oleh anggota, komisi, gabungan komisi, atau DPD di luar prioritas rancangan undang-undang tahun berjalan atau di luar rancangan undang-undang yang terdaftar dalam program legislasi nasional;

6. Melakukan pembahasan, pengubahan, dan/atau penyempurnaan rancangan undang-undang yang secara khusus ditugaskan oleh Badan Musyawarah; 7. Mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap pembahasan

materi muatan rancangan undang-undang melalui koordinasi dengan komisi dan/atau panitia khusus;

8. Memberikan masukan kepada pimpinan DPR-RI atas rancangan undang- undang usul DPD yang ditugaskan oleh Badan Musyawarah; dan

9. Membuat laporan kinerja dan inventarisasi masalah di bidang perundang- undangan pada akhir masa keanggotaan DPR-RI untuk dapat digunakan oleh Badan Legislasi pada masa keanggotaan berikutnya.

Badan Anggaran

Badan Anggaran dibentuk oleh DPR-RI dan merupakan alat kelengkapan DPR-RI yang bersifat tetap. DPR-RI menetapkan susunan dan

keanggotaan Badan Anggaran menurut perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa keanggotaan DPR-RI dan pada permulaan tahun sidang. Susunan dan keanggotaan Badan Anggaran terdiri atas anggota dari tiap-tiap komisi yang dipilih oleh komisi dengan memperhatikan perimbangan jumlah anggota dan usulan fraksi. Pimpinan Badan Anggaran merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat kolektif dan kolegial.

Badan Anggaran bertugas:

1. Membahas bersama Pemerintah yang diwakili oleh menteri untuk menentukan pokok-pokok kebijakan fiskal umum dan prioritas anggaran untuk dijadikan acuan bagi setiap kementerian/lembaga dalam menyusun usulan anggaran; 2. Menetapkan pendapatan negara bersama Pemerintah dengan mengacu pada

usulan komisi terkait;

3. Membahas rancangan undang-undang tentang APBN bersama Presiden yang dapat diwakili oleh menteri dengan mengacu pada keputusan rapat kerja komisi dan Pemerintah mengenai alokasi anggaran untuk fungsi, program, dan kegiatan kementerian/lembaga;

4. Melakukan sinkronisasi terhadap hasil pembahasan di komisi mengenai rencana kerja dan anggaran kementerian/lembaga;

5. Membahas laporan realisasi dan prognosis yang berkaitan dengan APBN; dan 6. Membahas pokok-pokok penjelasan atas rancangan undang-undang tentang

pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.

Badan Anggaran hanya membahas alokasi anggaran yang sudah diputuskan oleh komisi. Anggota komisi dalam Badan Anggaran harus mengupayakan alokasi anggaran yang diputuskan komisi dan menyampaikan hasil pelaksanaan tugas kepada komisi.

Badan Urusan Rumah Tangga

Badan Urusan Rumah Tangga, yang selanjutnya disingkat BURT, dibentuk oleh DPR-RI dan merupakan alat kelengkapan DPR-RI yang bersifat tetap. DPR-RI menetapkan susunan dan keanggotaan BURT pada permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. Jumlah anggota BURT ditetapkan dalam rapat paripurna menurut perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang.

Pimpinan BURT merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat kolektif dan kolegial, yang terdiri atas 1 (satu) orang ketua yang dijabat oleh

ketua DPR-RI dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota BURT berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi.

Dokumen terkait