• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budidaya Paprika di Desa Pasir Langu

DAFTAR LAMPIRAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Budidaya Paprika di Desa Pasir Langu

Budidaya paprika membutuhkan modal yang relatif besar yaitu minimal 25 juta rupiah untuk menanam 1.000 pohon paprika. Sarana produksi paprika cukup mahal, mulai dari bibit, green house, pupuk dan pestisida.

a. Budidaya Paprika

Proses budidaya paprika hidroponik di Desa Pasir Langu, yaitu terdiri dari proses persiapan tanam, persemaian dan pembibitan, penanaman, penyiraman dan pemberian nutrisi, perawatan dan pemeliharaan serta panen dan pasca panen. Budidaya paprika ditunjukkan dalam Gambar 6.

Gambar 6. Proses budidaya paprika 1). Persiapan Tanam

Lahan untuk penanaman paprika merupakan lahan datar yang dibuat bedengan-bedengan dengan ditutupi mulsa. Pembuatan bedengan dimaksudkan untuk menghindari pengaruh buruk lantai penanaman. Bedengan yang lebih tinggi akan memudahkan keluarnya kelebihan air sehingga tidak menggenangi lantai. Selain itu, kotoran atau bibit penyakit yang tertular lewat tanah tidak terkumpul atau

Persiapan tanam

Persemaian dan pembibitan

Penanaman

Pemberian nutrisi Perawatan pemeliharaan Panen dan pasca panen

terbawa ke polybag tetapi mengumpul di selokan antar bedengan. Penutupan bedengan dengan mulsa bertujuan agar lahan bersih dari gulma. Bedengan umumnya dibuat dengan lebar 90-120 cm, tinggi 20-40 cm dengan jarak antar bedengan 80-100 cm, dan panjang bedengan disesuaikan dengan luas lahan.

Polybag diletakkan di atas bedengan di dalam green house yang terbuat dari plastik ultraviolet (UV) untuk menjaga suhu dan kelembaban. Lahan harus bebas dari gulma, hama maupun bibit penyakit lainnya. Sebelum melakukan kegiatan penanaman, petani melakukan sterilisasi green house dengan menggunakan formalin yang dicampur dengan kapur yang bertujuan untuk memberantas gulma yang tumbuh

2). Persemaian dan Pembibitan

Kegiatan persemaian dan pembibitan dilakukan di green house tersendiri. Sebelum penyemaian dilakukan, sekam yang akan digunakan harus disemprot dengan air hangat. Benih direndam dengan air hangat terlebih dahulu. Setelah itu, benih diletakkan dalam media semai berupa tray plastik dengan menggunakan pinset. Setelah semua benih disemai dalam media, tray tersebut kemudian ditutup dengan menggunakan plastik mulsa hitam perak dan disusun dengan menggunakan rak persemaian. Suhu yang baik untuk persemaian adalah antara 25-300 C dan kelembabannya 70-85 persen.

Pengontrolan dilakukan setiap saat untuk menjaga kelembaban media semai dengan menyemprotkan air bila media semai tersebut mulai kering. Benih yang disemai mulai berkecambah dalam waktu sembilan hari dan kemudian kecambah tersebut dipindahkan ke dalam polybag untuk disimpan dalam green house pembibitan. Kegiatan pembibitan berlangsung selama 28-30 hari, dimana bibit paprika yang sehat akan memiliki daun sekitar lima helai. Bibit ini siap untuk dipindahkan ke green house penanaman.

3). Penanaman

Bibit paprika yang sudah siap tanam akan ditanam pada polybag besar yang sudah diisi arang sekam. Masing-masing polybag dibasahi air tanpa diberi air nutrisi. Air nutrisi dapat diberikan bila umur tanaman di green house penanaman kurang lebih tiga hari. Pada masing-masing media dibuat lubang tanaman sesuai ukuran bibit. Bibit tanaman dilepaskan dari polybag semai bersama dengan medianya. Bibit tersebut ditanam dalam polybag tanam. Satu polybag tanam berisi satu tanaman dengan jarak antar tanaman 30 X 30 cm atau 25 X 25 cm.

4). Penyiraman dan Pemberian Nutrisi

Penyiraman dan pemberian nutrisi pada budidaya paprika dengan sistem hidroponik merupakan kegiatan yang penting, karena di dalam media tanam arang sekam tidak terdapat media penunjang air dan unsur hara seperti pada media tanah. Nutrisi dilarutkan dalam air pada bak penampungan yang berkapasitas 1.000-3.000 liter, kemudian diberikan secara manual setiap hari yaitu disiramkan ke tanaman menggunakan selang air. Volume dan frekuensi pemberian nutrisi disesuaikan dengan kondisi cuaca dan umur tanaman. Apabila kondisi cuaca normal (22-270 C) pemberian nutrisi dilakukan tiga kali sehari, jika cuaca sangat panas (28-350C) pemberian nutrisi mencapai empat kali, sedangkan jika cuaca mendung (18-220C) pemberian nutrisi cukup dua kali sehari.

5). Perawatan dan Pemeliharaan

Perawatan dan pemeliharaan tanaman akan menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perawatan dan pemeliharan tanaman adalah pengajiran dan pelilitan, pembentukan dan pemilihan batang produksi, pewiwilan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Pengajiran dilakukan pada usia tanaman mencapai 1-2 minggu setelah tanam. Ajir yang digunakan dari tali rami atau benang kasur yang dililitkan pada batang tanaman dan bagian atasnya

diikatkan pada kawat-kawat yang melintang pada bagian atas green house. Pemberian ajir ini harus hati-hati agar tidak merusak tanaman tapi tetap dapat menopang tanaman dengan kuat. Tanaman paprika akan terus tumbuh tinggi mengikuti ajir. Agar tali ajir tetap melekat pada batang tanaman, maka setiap dua hari dilakukan pemutaran atau pelilitan tali pada cabang utama.

Tiga minggu setelah penanaman, pada batang utama muncul tiga sampai empat cabang. Batang tersebut tidak dibiarkan tumbuh semuanya tetapi hanya dipilih 2-3 cabang utama yang dipelihara. Cabang yang dipilih adalah cabang yang kuat dan membentuk sudut paling lebar. Cabang yang tidak diinginkan dipotong di titik percabangannya. Hal ini dimaksudkan agar luka pada titik percabangan tersebut seolah-olah terjadi secara alami dan diharapkan akan pulih kembali.

Pewiwilan dilakukan terhadap tunas air, cabang yang rusak, bunga yang terkena hama dan penyakit, maupun buah yang kurang bagus. Pewiwilan menghasilkan buah yang terseleksi dan berkualitas baik, karena tanaman tidak harus membagi nutrisinya pada bagian tubuh yang jelek tersebut. Kegiatan pewiwilan dilakukan setiap dua hari sekali.

Tanaman paprika merupakan tanaman yang sensitif terhadap hama dan penyakit. Hama dan penyakit akan sangat berpengaruh pada umur tanaman paprika dan kualitas buah yang dihasilkan. Hama yang paling sering menyerang diantaranya hama thrips, kutu daun, ulat penggorok daun, dan virus layu daun. Pengendalian hama dan penyakit terdiri dari pengendalian secara kimia melalui penggunaan pestisida, dan pengendalian secara mekanik dengan membuang dan menjebak hama dengan kertas penjebak berwarna kuning, hijau dan biru.

6). Panen dan Pasca Panen

Setelah 60 hari sejak masa tanam, paprika hijau sudah dapat dipanen. Sedangkan untuk menghasilkan paprika berwarna merah

atau kuning dapat dipanen jika tanaman telah berumur 85-90 hari. Paprika yang siap panen ditandai dengan warna buah yang merata dan mengkilap, serta daging buah yang keras dan tebal. Paprika dipanen secara manual, dengan menggunakan tangan atau pisau. Hasil panen biasanya dimasukkan ke dalam plastik bening dengan kapasitas 18-20 kg.

Petani yang merupakan anggota Koperasi Mitra Sukamaju akan menjual seluruh hasil panennya kepada koperasi. Proses sortasi, grading, penimbangan, pencatatan dan pengemasan dilakukan oleh koperasi sesuai dengan pesanan dan tujuan penjualan. Sedangkan untuk petani non anggota koperasi, hal tersebut dilakukan sendiri, atau di tempat bandar besar.

b. Sarana Produksi

Sarana produksi budidaya paprika hidroponik terdiri dari green house, benih, media tanam dan nutrisi. Sarana produksi utama adalah green house. Persiapan green house meliputi pembangunan green house dan kegiatan penyempurnaan berupa pembuatan saung, pemasangan kawat untuk benang ajir, pemasangan benang ajir dan pemasangan mulsa. Green house dibagi menjadi dua yaitu green house persemaian dan green house penanaman. Luas green house disesuaikan dengan luas lahan yang tersedia dan jumlah tanaman yang akan dibudidayakan.

Syarat terpenting dari green house adalah aliran udara harus sebaik mungkin dan bangunan harus kokoh sehingga tidak rusak bila diterpa angin kencang. Instalasi lainnya adalah bak penampungan air, bak penampungan air dengan kapasitas 1.000 – 3.000 liter harus berada di dekat green house, karena air yang telah dicampur pupuk merupakan sumber nutrisi dalam pertanian hidroponik

Benih paprika terdiri dari berbagai varietas. Para petani di Desa Pasir Langu umumnya menggunakan benih varietas Edison dan Capino. Edison menghasilkan paprika berwarna merah sedangkan Capino menghasilkan paprika berwarna kuning. Kemasan dengan

masing-masing benih tersebut terdiri dari dua ukuran, yaitu isi 250 benih dan isi 1.000 benih. Harga benih adalah Rp. 1.600./benih - Rp.2.400/benih tergantung pada varietas yang digunakan.

Media tanam yang digunakan adalah arang sekam. Kebutuhan arang sekam tergantung pada jumlah tanaman. Ukuran arang sekam adalah karung karena kadar air dalam sekam pada umumnya tidak sama sehingga sulit mengukur dalam satuan berat. Satu karung arang

sekam dapat digunakan untuk 10 polybag dengan ukuran 35 cm X 40 cm.

Nutrisi berupa pupuk dalam bentuk serbuk yang mengandung unsur-unsur penting yang dibutuhkan tanaman. Unsur unsur tersebut terdiri dari unsur makro yaitu KH2PO4, CaNO3, KNO3, MgSO4 dan FeSO4 sedangkan unsur mikro terdiri dari MnSO4, BrSO4, CuSO4, dan ZnSO4. Nutrisi tanaman dilarutkan dalam air dan disiramkan ke tanaman paprika 2-3 kali setiap harinya. Saat ini pola penyiraman nutrisi yang dilakukan petani di Desa Pasir Langu masih menggunakan pola penyiraman manual.

Nutrisi yang digunakan petani di Desa Pasir Langu berasal dari Koperasi Mitra Sukamaju, toko Buana Tani dan PT. Joro di Lembang dengan harga per paket Rp.430.000. Anggota Koperasi Mitra Sukamaju dapat membeli pupuk secara kredit, yaitu pembayaran dipotong dari hasil penjualan paprika. Sedangkan petani non anggota koperasi dapat membeli pupuk dari koperasi, bandar atau dari toko Buana Tani.

4.2.2. Struktur Rantai Pasokan 1. Anggota Rantai Pasok

Struktur rantai pasok sayuran dataran tinggi di Indonesia memiliki alur rantai yang berbeda-beda. Hal ini terjadi karena adanya aturan dan sistem yang berbeda diantara pihak yang terlibat dalam rantai pasok tersebut. Namun yang mendorong terjadinya perbedaan utama sistem distribusi sayuran yaitu jenis sayuran dan kualitas yang dihasilkan.

Model rantai pasokan sayuran yang ditemukan pada sentra paprika di Desa Pasir Langu kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat, umumnya mengikuti pola seperti ditunjukkan dalam Gambar 7.

Gambar 7. Model rantai pasokan paprika di Desa Pasir Langu

Aliran komoditas paprika pada model rantai pasokan diatas dibagi menjadi beberapa rantai, sebagai berikut:

a. Struktur Rantai Pasokan 1

Petani Koperasi Pedagang grosir tradisional Pasar Tradisional

Pada rantai ini kualitas paprika yang dipasok beragam tetapi umumnya produk yang berkualitas rendah (grade C dan TO). Koperasi secara rutin akan mengirim paprika ke pedagang grosir tradisional sesuai dengan permintan atau pesanan yang diterimanya setiap hari. Pedagang grosir berasal dari Desa Pasir Langu atau dari tempat lainnya seperti Lembang dan Cisarua. Pedagang tradisional biasanya menggambil paprika dengan jumlah kecil dan menjualnya di pasar tradisional di sekitar Lembang dan Bandung.

Petani Anggota Koperasi

Koperasi

Petani Non Anggota Koperasi Bandar

Pasar Tradisional

Super Market Negara

Tujuan Hotel/Restoran

Pedagang Pemasok hotel/ Restoran Pemasok Supermarket Eksportir Konsumen Batasan penelitian

b. Struktur Rantai Pasokan 2

Petani Koperasi Pemasok Hotel/Restoran Hotel/Restoran

Pada rantai ini, kualitas paprika yang dipasok adalah paprika berwarna merah, kuning dan hijau kualitas A dan B. Pemasok ke hotel dan restoran biasanya merupakan unit-unit packaging house yang dimiliki oleh perorangan atau perusahaan. Pemesanan ke koperasi dilakukan setiap hari dengan jumlah kebutuhan yang beragam. Para pemasok ini biasanya berada di Bandung dan Lembang, sedangkan mereka akan memasarkan paprika untuk wilayah Bandung dan Jakarta.

c. Struktur Rantai Pasokan 3

Petani Koperasi Pemasok Supermarket Supermarket

Pemasok untuk supermarket tidak berbeda jauh dengan pemasok untuk hotel dan restoran. Pemasok merupakan unit-unit packaging house seperti pada pemasok untuk hotel dan restoran, hanya saja menjual produknya ke supermarket terutama untuk di wilayah Jabotabek.

d. Struktur Rantai Pasokan 4

Petani Koperasi Eksportir Pasar luar negeri

Kualitas produk yang dipasok untuk eksportir adalah kualitas A. Eksportir biasanya mengambil paprika secara langsung ke koperasi tiga kali dalam seminggu. Produk yang tidak sesuai dengan kualitas yang diinginkan atau rusak akan dikembalikan ke koperasi sebagai barang yang ditolak. Biasanya jumlah barang yang ditolak berkisar antara 8-10% setiap kali pengiriman.

e. Struktur Rantai Pasokan 5

Petani Bandar Pedagang grosir tradisional Pasar tradisional

Pada rantai ini hampir sama dengan rantai a) tetapi petani menjual barangnya kepada bandar. Bandar menyediakan sarana produksi dan peminjaman modal dengan konsekuensi petani harus menjual barangnya kepada bandar, dengan harga yang telah ditentukan oleh bandar. Pedagang grosir memesan paprika yang dibutuhkan kepada bandar dan menjualnya di sekitar Lembang, Cimahi dan Bandung.

f. Struktur Rantai Pasokan 6

Petani Bandar Pemasok Hotel dan Restoran Hotel dan restoran Pemasok untuk hotel dan restoran merupakan packaging house yang biasanya berada di sekitar Lembang dan Bandung. Seperti pada model rantai b), pemesanan dilakukan kepada bandar setiap hari sesuai kebutuhan yang diinginkan. Bisanya masing masing bandar ataupun koperasi telah memiliki pelanggan yang berbeda satu sama lainnya.

g. Struktur Rantai Pasokan 7

Petani Bandar Pemasok Supermarket Supermarket

Pemasok Supermarket akan melakukan pesanan kepada bandar kemudian melakukan penyortiran, pengemasan dan pelabelan produk kemudian mengirim produk tersebut ke supermarket di sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Proses lainnya hampir sama seperti pada rantai pasokan c) yang melalui koperasi.

h. Struktur Rantai Pasokan 8

Petani Bandar Eksportir Pasar luar negeri

Sama halnya dengan koperasi para bandar besar yang ada di Desa Pasir Langu juga menjalin kerjasama dengan eksportir. Perusahaan eksportir yang bekerjasama dengan bandar dan koperasi di Desa Pasir Langu adalah PT Alamanda (Emeralindo) dan PT Momenta (Amazing Farm). Dua perusahaan eksportir ini memasarkan paprika ke Singapura. Paprika dikirim ke Singapura tiga kali dalam seminggu. Eksportir dan bandar/koperasi telah memiliki kontrak kerja sama dalam jangka panjang. Kontrak tersebut memuat jumlah pesanan, kualitas dan harga. Tetapi pada kenyataannya, kontrak tersebut kurang bisa berjalan karena untuk produk pertanian terutama masalah pesanan sangat fleksibel dengan kondisi panen petani. Jika kontrak itu dijalani dengan kaku, maka kerjasama antara beberapa pihak tidak akan berjalan dengan baik.

Setiap anggota rantai pasokan paprika mempunyai peran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Peran masing-masing anggota dalam model rantai pasokan paprika di atas dijelaskan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Anggota rantai pasokan paprika

Tingkatan Anggota Proses Aktivitas

Produsen Petani (anggota koperasi dan non anggota koperasi) •Pembelian •Budidaya •Distribusi •penjualan Melakukan pembelian bibit dan sarana produksi dari pemasok, budidaya paprika, dan penjualan ke distributor (koperasi/bandar) Distributor • Koperasi • Bandar/tengkulak • Pedagang pasar • Pemasok Hotel • Pemasok supermarket • Eksportir •Pembelian •Sortasi •Grading •Penyimpanan •Penjualan Melakukan pembelian paprika dari petani, melakukan proses sortasi dan grading, melakukan penjualan ke ritail ataupun end user

Retail Supermarket • Pembeliaan

• Penyimpanan

• Penjualan

Melakukan pembelian dari distributor, dan menjual lagi ke konsumen (end user) Konsumen • Hotel

• Restoran

• Masyarakat umum

Pembelian Melakukan pembelian

paprika dari

distributor dan ritail Pada model rantai pasokan paprika diatas, anggota rantai yang memiliki andil paling besar adalah petani. Petani memiliki andil besar dalam budidaya paprika, membentuk kelompok-kelompok tani sampai melakukan penjualan ke konsumen. Bandar/tengkulak juga merupakan petani paprika dengan modal yang besar dan jaringan yang luas.

Dokumen terkait