BAB III. Gambaran Hidup Beriman Umat Lingkungan Paulus
A. Gambaran Umum Lingkungan Paulus Andreas Paroki
1. Gambaran Umum Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti
a. Sejarah Singkat Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan Dalam menguraikan sejarah ini penulis mengacu pada buku Memaknai Sejarah, Menapaki Masa Depan 80th Paroki Marganingsih Kalasan karya Tim Sejarah Paroki Marganingsih Kalasan dan buku Narasi Gereja Tyas Dalem Macanan karya Dewan Harian Gereja Tyas Dalem Macanan. Pada awalnya, ada seorang bapak bernama Yusup Wagiyo yang mempunyai keinginan dan semangat untuk mendirikan stasi di desa Dinginan dan mengambil tempat di rumah Bapak Mangundikrama, ayahnya. Setiap seminggu sekali Bapak Yusup Wagiyo mengadakan pelajaran agama. Beliau merupakan murid dari salah satu sekolah Katolik yang didirikan di Kalasan yaitu Standard School. Semula pelajaran agama ini hanya diikuti oleh beberapa orang saja, namun lama-kelamaan berkembang dan meluas ke desa tetangga yaitu desa Trukan, Ketandan, dan Macanan. Romo Strarter, SJ. dari Kota Baru, Yogyakarta sebulan sekali datang untuk mengajar agama. Buah dari perjuangan dari pelajaran agama ini adalah semakin banyak orang yang dipermandikan (Tim Sejarah 80th Paroki Kalasan, 2012: 267).
Sekitar tahun 1925, umat Katolik di Wilayah Macanan dan sekitarnya yang sering disebut umat Katolik Wetan Opak ke gereja Kota Baru dengan berjalan kaki setiap minggunya. Hal ini dikarenakan hanya ada misa satu bulan sekali di Kalasan bertempat di Standard School. Itu bukanlah suatu tantangan yang berarti bagi umat, justru menjadi motivasi untuk mengembangkan umat. Terbukti dengan
40 munculnya stasi-stasi baru yaitu Dinginan, Trukan, Ketandan, Macanan,
Gangsiran, Kembang, dan Jamusan. Selanjutnya, ada gagasan mencari tempat untuk dijadikan kapel, dan pada akhirnya umat memilih rumah Bapak Karijosudarmo, ayah dari Bapak Hardjosudarmo (Katekis) di Macanan. Setiap satu minggu sekali diadakan pelajaran agama, dan sebulan sekali diadakan misa oleh Romo dari Kota Baru. Umat yang mengikuti misa semakin lama bertambah banyak. Mereka berasal dari Macanan, Ketandan, Klenisan, Dinginan, Trukan, Serut, Candibang, Grembyangan dan Jamusan. Romo Strarter, SJ. Romo Tjiptakusuma, SJ. dan Romo Sukiman, SJ. mengadakan pendalaman iman setiap sebulan sekali (Tim Sejarah 80th Paroki Kalasan, 2012: 267).
Pada pendudukan Jepang (1942-1945) umat Katolik Wetan Opak yang berjumlah kira-kira seratus orang akan dipermandikan. Saat itu perkembangan Gereja Katolik tersendat karena adanya penjajahan. Setelah Indonesia merdeka, pelajaran agama mulai berjalan lagi. Pada tahun 1950, perkembangan umat Katolik sangat baik, stasi-stasi mulai hidup kembali. Ada banyak stasi di wilayah Prambanan bagian Selatan ini, yaitu Stasi Konden, Kembang, Mutihan, Jamusan, Kebondalem, Nagasari, Gangsiran, Potrojayan, Macanan, Dinginan, Ketandan, Candisingo, Sorogedug, Kenaran, dan Groyokan. Kemudian umat mendirikan sebuah SD Kanisius yang dikenal dengan SD Kanisius Totogan. Setelah itu, umat mendirikan pula SMP dengan nama SMP Katolik Berdikari. Pada awalnya SMP ini menempati rumah Bapak Kramasentono dan Bapak Martosudarmo di Macanan (Tim Sejarah 80th Paroki Kalasan, 2012: 268).
41 Setelah SMPK Berdikari memiliki gedung sendiri di atas tanah hibah dari
Bapak Lurah Hardjoprawiro, dimulailah sejarah baru. Kapel Macanan kemudian dipindah ke gedung SMPK Berdikari yang baru. Setelah itu, setiap minggu genap Romo dari Kalasan menyelenggarakan Ekaristi. Sedangkan untuk minggu ganjil umat diperkenankan mengadakan Ibadat Sabda yang dipimpin oleh prodiakon yang berasal dari Prambanan Selatan yaitu Bapak Al. Suryoprabowo, Bapak VJ. Suyono, Bapak Ag. Sayudi, Bapak E.S. Widyasusanto, Bapak FX. Ciptosuwarno, Bapak J Rahmadi, Bapak Y.E Sugiman, Bapak H. Slamet dan Bapak Hadiwasito. Stasi Prambanan Selatan (sebutan untuk Stasi Macanan pada saat itu) dibagi menjadi 10 kring yaitu Dinginan, Ketandan, Macanan, Nagasari-Gangsiran, Kebondalem, Jamusan, Mutihan, Kembang, Groyokan, Sorogedug dan Jragung (Tim Sejarah 80th Paroki Kalasan, 2012: 268).
Beberapa tahun kemudian, pada waktu Bapak F.S. Widyasusanto menjadi ketua stasi, muncul gagasan untuk mendirikan tempat ibadah yang terpisah dari SMPK Berdikari. Lalu didirikanlah kapel di sebelah timur SMPK Berdikari karena masih ada lahan yang bisa dipakai. Penggalangan dana untuk mendirikan kapel diperoleh dari sumbangan umat yang sudah memiliki penghasilan. Bulan Juni 1981, Kardinal Yustinus Darmojuwono, Uskup Agung Semarang kala itu memberkati gereja Prambanan Selatan yang diberi nama Tyas Dalem. Nama yang cukup dikenal untuk gereja di wilayah Prambanan Selatan adalah Stasi Macanan. Karena letak gereja sangat dekat dengan desa Macanan. Pengelolaan keuangan dan kegiatan Gereja Stasi Macanan sejak awal sudah mandiri sedangkan
42 pengelolaan administrasinya masih dilaksanakan Gereja Paroki Kalasan (Tim
Sejarah 80th Paroki Kalasan, 2012: 269).
Pada tahun 2000 dan 2001 muncul lingkungan baru yaitu lingkungan Antonius Boko dan lingkungan Thomas Jragung dimekarkan menjadi lingkungan Paulus Tamansari, lingkungan Maria Asumpta dan lingkungan Sang Timur. Lingkungan lain yang juga dimekarkan adalah lingkungan Gregorius menjadi lingkungan Gregorius dan lingkungan Mikael kemudian lingkungan Andreas menjadi lingkungan Maria kemudian lingkungan Andreas digabung dengan lingkungan Paulus. Pada akhir tahun 2007, lingkungan Brayat Minulya juga dimekarkan menjadi lingkungan Brayat Minulya dan lingkungan Brayat Nasaret. Pemekaran tersebut dilakukan sebagai upaya penataan lingkungan di Gereja Tyas Dalem Macanan, seiring dengan munculnya Pedoman Dasar Dewan Paroki (PDDP) Keuskupan Agung Semarang (Tim Sejarah 80th Paroki Kalasan, 2012: 270).
Sebelum munculnya PDDP yang baru di Paroki Kalasan, terjadi pergantian istilah untuk memudahkan pengelolaan dan lebih mengembangkan umat yang jauh dari Gereja Paroki. Romo Priyambono, Pr Pastor Kepala Kalasan pada saat itu, mengambil kebijakan menyeragamkan istilah pada tahun 2002, tidak lagi digunakan istilah stasi tetapi wilayah. Masing-masing wilayah diberi kewenangan untuk mengelola keuangan dan kegiatannya sendiri, namun belum sempat terealisasi beliau sudah dipindah tugaskan. Kemudian pengelolaan Paroki dikembalikan seperti sebelum Romo Priyambono, Pr namun istilah stasi tetap disebut wilayah (Tim Sejarah 80th Paroki Kalasan, 2012: 270-271).
43 Setelah diterbitkan PDDP KAS, wilayah Tyas Dalem Macanan
memproyeksikan diri menjadi stasi, mengingat jumlah lingkungan jauh melebihi ketentuan PDDP. Jika lingkungan-lingkungan tidak dinaungi dalam sebuah stasi, terbayang adanya kesulitan dalam mengelola gedung gereja karena setiap minggunya sudah ada misa dan kegiatan-kegiatan lainnya. Selain itu, dalam hal sarana dan prasarana sudah mencukupi. Gedung bekas SMPK Berdikari yang tidak lagi beroperasi sejak kekurangan murid, dapat dimanfaatkan dalam kegiatan gereja seperti rapat dewan, pelajaran komuni I, sekolah minggu dan pengobatan gratis. Untuk mempersiapkan menjadi stasi, Gereja Tyas Dalem Macanan sudah mengelompokkan lingkungan-lingkungan menjadi 3 wilayah (Tim Sejarah 80th Paroki Kalasan, 2012: 271).
Model kepengurusan hampir sama dengan model kepengurusan Paroki, yang terdiri dari pengurus harian dibantu seksi-seksi. Pengurus harian terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara. Seksi-seksi terdiri dari seksi liturgi, seksi pewartaan, seksi rumah tangga dan seksi sosial. Pada saat KAS memberlakukan PDDP baru, tidak ada lagi istilah seksi-seksi dalam kepengurusan tetapi tim kerja. Kompleks gereja yang menempati tanah seluas 3324 m2 dan sudah bersertifikat di situ telah berdiri bangunan gereja dan gedung eks-SMPK Berdikari yang sekarang digunakan untuk kegiatan-kegiatan umat (Dewan Harian Gereja Tyas Dalem Macanan, 2017: 6).
Dari segi keuangan, wilayah Tyas Dalem mengelolanya secara mandiri, sumber utamanya yakni kolekte II pada saat misa. Ada pula amplop persembahan umat yang diserahkan ke Paroki, sebagian untuk kepentingan kehidupan Pastoran
44 dan sebagian lagi untuk Seminari. Kebijakan keuangan untuk
kepentingan-kepentingan khusus diarahkan pada kemampuan umat dengan menumbuhkan semangat sukarela (Dewan Harian Gereja Tyas Dalem Macanan, 2017: 6).
Pada bulan Juni 2017 lalu KAS melakukan visitasi ke Gereja Tyas Dalem dan hasilnya pada bulan Februari 2018, wilayah Tyas Dalem Macanan resmi menjadi Paroki Administratif dengan nama pelindung Tyas Dalem Gusti Yesus (Hati Kudus Tuhan Yesus). Wilayah Prambanan dan Payak kemudian bergabung menjadi bagian dari Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan. Peresmian wilayah Macanan menjadi Paroki Administratif dilakukan oleh Romo Vikjen KAS yakni Romo Sukendar, Pr yang juga menjadi selebran utama pada saat misa tanggal 11 Februari 2018. Kemudian yang ditunjuk untuk menjadi Romo Paroki adalah Romo Lambertus Issri P, Pr.
b. Letak dan Batas Teritorial Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan
Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan meliputi 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Prambanan, Kecamatan Berbah dan Kecamatan Piyungan. Kecamatan Prambanan meliputi Kelurahan Madurejo, Bokoharjo, Sumberharjo dan Sambirejo. Kecamatan Berbah meliputi 2 dusun di Kelurahan Jogotirto. Sedangkan di Kecamatan Piyungan meliputi Kelurahan Srimartani. Dengan bergabungnya wilayah Prambanan dan wilayah Payak maka bertambah pula daerah yang masuk dalam wilayah Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan (Dewan Harian Gereja Tyas Dalem Macanan., 2017: 1).
45 Adapun yang menjadi batas teritorial Paroki Administratif Tyas Dalem
Gusti Yesus Macanan sebagai berikut:
Utara : Wilayah Manisrengga Paroki Marganingsih Kalasan Selatan: Paroki Pringgolayan
Timur : Paroki Dalem
Barat : Wilayah Berbah Paroki Marganingsih Kalasan
c. Visi dan Misi Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus, mempunyai visi dan misi yang juga merupakan sasaran untuk lebih melayani umat, adapun visi dan misi tersebut yakni:
Visi: Terwujudnya peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman (Dewan Harian Gereja Tyas Dalem Macanan, 2017: 22).
Sejalan dengan ARDAS KAS, Paroki Administratif Macanan ingin mewujudkan umat yang mempunyai peradaban kasih dalam setiap tindakan yang dilakukannya dalam hidup sehari-hari dengan masyarakat.
Misi:
1) Meningkatkan mutu kehidupan bersama umat terutama kaum KLMTD. 2) Meningkatkan partisipasi umat dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih
adil dan bermartabat.
3) Mewujudkan lingkungan sekitar sebagai rumah bersama dan pelestarian nilai-nilai budaya setempat.
46 4) Menyelenggarakan formasio iman yang integral, berjenjang dan
berkelanjutan yang bercirikan cerdas, tangguh, missioner dan dialogal. 5) Mengembangkan kerjasama dengan masyarakat di berbagai tingkat dan
bidang kehidupan yang menyangkut kesejahteraan dan martabat manusia. (Dewan Harian Gereja Tyas Dalem Macanan, 2017: 22).
Misi yang pertama dan kedua mengungkapkan bahwa Paroki Administratif Macanan ingin umatnya tidak hanya peduli dengan sesama umat Kristiani melainkan kepada masyarakat di sekitarnya sekalipun berbeda agama atau keyakinan. Kemudian misi yang ketiga bertujuan agar umat tidak melupakan aspek budaya setempat tetapi berusaha melestarikannya. Umat Paroki Administratif Macanan mayoritas adalah suku Jawa dan hal ini mengharuskan umat untuk melestarikan budaya Jawa yang telah melekat dalam kehidupan mereka (Dewan Harian Gereja Tyas Dalem Macanan, 2017: 22-24).
Misi yang keempat lebih kepada pembinaan iman umat, supaya dapat berkembang dan menjadi umat yang cerdas, tangguh dan missioner. Misi yang kelima, paroki mengajak umat untuk berinteraksi dalam masyarakat dengan baik. Umat dapat menjalin relasi yang baik dengan umat beragama lain supaya dapat tercapai kerukunan dan dapat bekerjasama dengan baik dalam membentuk masyarakat yang bermartabat (Dewan Harian Gereja Tyas Dalem Macanan, 2017: 22-24).
47 d. Karya-karya Pastoral Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus
Macanan