IX KESIMPULAN DAN SARAN
5.2. Gambaran Umum Penduduk dan Matapencaharian
Desa Kertawinangun memiliki jumlah penduduk 5.514 jiwa pada tahun 2010 yang terdiri atas 2.908 jiwa penduduk laki-laki dan 2.606 jiwa penduduk perempuan dengan kepadatan penduduk 106 jiwa perkm2 (Kantor Desa Kertawinangun 2011). Berdasarkan usia dan jenis kelamin, penduduk Desa Kertawinngun dapat dikelompokkan seperti pada tabel 6. Berdasarkan data total penduduk pada buku Profil Desa Kertawinangun dan hasil perhitungan manual pada data penduduk berdasarkan usia pada buku yang sama terdapat perbedaan jumlah penduduk. Terdapat kemungkinan ada kesalahan penulisan pada salah satu data ataupun terdapat kesalahan penulis dalam membaca data profil desa dikarenakan pendokumentasiannya dilakukan menggunakan tulisan tangan dan alat tulis pensil. Berdasarkan komposisi penduduk Desa Kertawinangun berdasarkan usia dan jenis kelamin, terlihat bahwa sebagian besar penduduk berada pada usia produktif (16-55 tahun).
39 Tabel 6. Komposisi Penduduk Desa Kertawinangun Berdasarkan Usia dan Jenis
Kelamin Tahun 2010 Usia
(tahun)
Jenis Kelamin
Pria (Jiwa) Persentase (%) Perempuan (Jiwa) Persentase (%)
0-15 792 28,08 782 27,12
16-55 1.651 58,53 1.663 57,68
>56 378 13,40 438 15,19
Total 2.821 100 2.883 100
Sumber: Kantor Desa Kertawinangun 2011, diolah
Komposisi penduduk Desa Kertawinangun berdasarkan matapencaharian dan jenis kelamin, sebagian besar penduduk baik pria maupun wanita bekerja sebagai buruh tani. Penduduk desa menjadi buruh tani lepas dengan sistem borongan dengan mematok harga tertentu untuk berbagai jenis kegiatan bertani. Terdapat kemungkinan ada perhitungan ganda pada tabel 7 karena terdapat penduduk yang memiliki pekerjaan ganda, misalnya sebagai TNI yang juga mengolah sawah sehingga dapat dikatakan sebagai seorang petani.
Berdasarkan pengelompokan kepala keluarga (KK) Desa Kertawinangun tahun 2010 memiliki total 1.664 KK dengan 1.464 anggota keluarga petani, sedangkan jumlah keluarga buruh tani sebanyak 602 keluarga. Data menunjukan sektor utama matapencaharian penduduk Desa Kertawinangun adalah petanian. Pendapatan perkapita dari sektor pertanian tahun 2010 untuk setiap keluarga pertanian adalah Rp.12.455.295. Tidak terdapat keterangan lebih lanjut mengenai definisi dari pendapatan perkapita dari sektor pertanian yang dilakukan oleh Kantor Desa Kertawinangun. Proses penilaian ataupun pengumpulan data serta pengolahan data mengenai pendapatan perkapita dari sektor pertanian untuk setiap keluarga pertanian juga tidak diketahui lebih lanjut. Interpretasi penulis, definisi dari pendapatan perkapita dari sektor pertanian untuk setiap keluarga pertanian adalah nilai nominal rata-rata yang diperoleh setiap keluarga yang mengusahakan pertanian atau matapencahariannya dari sektor pertanian.
40 Tabel 7. Komposisi Penduduk Desa Kertawinangun Berdasarkan
Matapencaharian dan Jenis Kelamin Tahun 2010 Matapencaharian Jenis Kelamin Pria (Orang) Persentase (%) Perempuan (Orang) Persentase (%) Petani 119 10,09 100 8,83 Buruh Tani 481 40,80 750 66,25
Pegawai Negeri Sipil 10 0,85 14 1,24
Pedagang Keliling 15 1,27 20 1,77
Peternak 6 0,51 0 0,00
Montir 332 28,16 0 0,00
Dokter Swasta 5 0,42 0 0,00
Pembantu rumah Tangga 0,00 50 4,42
TNI 1 0,08 0 0,00
Pensiunan PNS/TNI/Polri 1 0,08 0 0,00
Pengusaha kecil dan
menengah 5 0,42 4 0,35
Dukun kampung terlatih 0 0,00 1 0,09
Guru Swasta 9 0,76 1 0,09
Karyawan Swasta 145 12,30 139 12,28
Pedagang 50 4,24 53 4,68
Total 1179 100 1132 100
Sumber: Kantor Desa Kertawinangun 2011, diolah 5.3. Karakteristik Decision Making Unit
Jumlah decision making unit yang diwawancarai dalam penelitian ini sebanyak 73 orang. Terdapat beberapa decision making unit yang memiliki lahan yang terfragmentasi di beberapa lokasi namun masih terdapat dalam satu hamparan yang menjadi objek penelitian. Terdapat beberapa decision making unit
yang mengolah lahan yang terfragmentasi dalam cakupan penelitian dengan menanam varietas yang sama, sehingga penulis mengasumsikan beberapa lahan terfragmentasi yang diolah oleh satu decision making unit dianggap sebagai satu
41 satu fragmen lahan yang ditanami satu jenis varietas merupakan satu decision making unit . Sedangkan asumsi yang digunakan pada decision making unit yang melakukan budidaya pada beberapa lahan terfragmentasi dalam cakupan penelitian dengan varietas yang berbeda disetiap fragmen lahannya sebagai satu
decision making unit dengan beberapa decision making unit. Fragmen lahan yang dianggap sebagai decision making unit tersendiri adalah fragmen dengan varietas yang berbeda. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa varietas memiliki pengaruh terhadap produktivitas dan memiliki karakteristik seperti kebutuhan hara, ketahanan hama dan penyakit, dan lain sebagainya yang berbeda, sehingga penulis tidak dapat mengasumsikan beberapa fragmen dengan varietas yang berbeda sebagai satu decision making unit sehingga pada penelitian ini terdapat 73
decision making unit yang diwawancara, dengan 77 decision making unit.
Alasan terdapat decision making unit yang mengolah lahan yang terfragmentasi adalah karena sebagian besar decision making unit hanya petani penggarap dengan sistem sewa sehingga mereka tidak dapat memastikan mendapatkan lahan yang berada dalam satu hamparan. Simpulan yang diambil dari pernyataan para decision making unit yang menggunakan satu varietas meskipun lahannya terfragmentasi diantaranya: (a) meningkatkan efisiensi.
Decision making unit hanya cukup mengkalkulasikan luas lahannya dan menghitung kebutuhan dari masukan (input) yang harus disediakan. Apabila membudidayakan lebih dari varietas, terdapat kemungkinan reponden harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memperhitungkan inventori yang harus dikeluarkan. (b) memudahkan menghitung pendapatan bersih. (c) memudahkan dalam proses penjualan. Hal ini disebabkan setiap varietas memiliki karakteristik yang berbeda sehingga terdapat kemungkinan pasar memiliki harga yang berbeda. Terdapat beberapa alasan decision making unit membudidayakan lebih dari satu varietas dalam satu musim tanam, diantaranya: (a) coba-coba, pada alasan ini decision making unit mengatakan mencoba varietas baru dan pada akhirnya akan membandingkan hasilnya untuk menjadi referensi pada musim tanam selanjutnya. Decision making unit tidak dapat mengandalkan hasil panen
42 karakteristik tersendiri dalam mengelola usahataninya, sehingga decision making unit perlu merasa harus langsung menguji hasil dari suatu varietas. (b) mengikuti varietas yang digunakan oleh petani sekitar lahan. Misalkan decision making unit
X mengolah lahan yang dikelilingi petani yang menggunakan padi B. Meskipun
decision making unit X lebih menyukai padi A, akan tetapi pada akhirnya petani X mengikuti petani lain menanam padi B. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terkena hama dan penyakit karena perbedaan varietas. (c) adanya perjanjian dengan pemilik lahan. Misalkan pemilik lahan menghendaki lahannya ditanami padi varietas tertentu dikarenakan alasan tertentu misalnya sejarah lahan. Hal ini menyebabkan petani penggarap mengikuti varietas sesuai dengan yang diinginkan pemilik lahan.
Karakteristik decision making unit yang akan dibahas meliputi jenis kelamin, usia, lama bertani padi sawah, lama pendidikan formal, matapencaharian utama, status kepemilikan lahan garapan, dan sumber modal usahatani. Matapencaharian utama didefinisikan sebagai pekerjaan yang dianggap menjadi sumber penghasilan utama decision making unit. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat 58 dari 73 decision making unit atau sebanyak 79,46 persen decision making unit mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pekerjaan lain selain bertani. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki keahlian lain selain bertani. Berdasarkan usia pada kategori decision making unit yang menyatakan bertani sebagai matapencaharian utama, hanya terdapat satu decision making unit yang berusia tidak produktif (diatas 65 tahun) dengan rataan pengalaman bertani 22 tahun. Meskipun banyak decision making unit yang masih berusia produktif, namun mereka hanya menggantungkan pendapatan dari bertani dengan alasan bertani adalah satu-satunya keahlian yang dimiliki. Banyaknya pengalaman menjadi petani juga menjadikan decision making unit menjadikan bertani sebagai sumber penghasilannya.
Berdasarkan lama menempuh pendidikan, decision making unit rata-rata menempuh pendidikan formal selama 6,5 tahun dengan 22 decision making unit
yang menempuh pendidikan dibawah enam tahun, sehingga mereka tidak memiliki cukup banyak pilihan untuk mencari pekerjaan lain. Kedekatan dengan
43 dunia pertanian sejak kecil membuat mereka merasa bertani adalah jalan hidupnya meskipun memiliki pendapatan yang tidak pasti. Berdasarkan usia, rataan
decision making unit berusia 44 tahun, dengan pengalaman bertani 22 tahun sehingga mereka menjadi lebih memilih bertani sebagai satu-satunya pekerjaan yang dimiliki.
Terdapat 15 dari 73 decision making unit atau sebanyak 20,54 persen
decision making unit memiliki pekerjaan lain selain bertani. Meskipun memiliki pekerjaan lain, sebagian besar decision making unit menganggap bertani adalah matapencaharian utama. Hal ini disebabkan besarnya penghasilan yang diperoleh dari bertani. Selain itu terdapat beberapa decision making unit yang tidak memiliki penghasilan tetap dari pekerjaan diluar bertani sehingga menganggap bertani adalah matapencaharian utama. Hanya terdapat lima decision making unit
yang menganggap bertani bukan matapencaharian utama. Alasan kelima decision making unit menyatakan bertani bukan matapencaharian utama karena mereka mendapatkan penghasilan tetap setiap periode tertentu dari pekerjaannya, ataupun mereka mendapatkan pendapatan yang besar dari pekerjaan lain selain bertani. Data decision making unit yang memiliki pekerjaan lain selain bertani terdapat pada tabel 8.
Usia rataan decision making unit yang memiliki pendapatan lain diluar usahatani adalah 43 tahun dengan rataan lama bertani 22 tahun, dan seluruh
decision making unit masih berada pada usia produktif. Masih produktifnya usia
decision making unit dapat menjadi penunjang sehingga decision making unit
masih dapat menjalankan beberapa pekerjaan dalam waktu yang sama. Berdasarkan lama menempuh pendidikan formal, rataan yang diperoleh adalah 7,66 tahun dengan rincian delapan decision making unit menempuh pendidikan lebih dari 12 tahun yang memiliki pekerjaan sebagai TNI dan guru (baik PNS maupun honorer), satu decision making unit tidak menempuh pendidikan formal dan bekerja sebagai pedagang, dan enam decision making unit bekerja sebagai pedagang, supir, dan tukang servis.
44 Tabel 8. Sebaran Decision Making Unit Berdasarkan Jenis Pekerjaan Selain
Bertani Tahun 2010
Pekerjaan Selain Bertani Jumlah Decision Making Unit Persentase (%) Tukang Servis 1 6,67 Guru Honorer 3 20 PNS 2 13,33 Pedagang 7 46,67 Supir 1 6,67 TNI 1 6,67 Jumlah 15 100
Sumber: Kantor Desa Kertawinangun 2011, diolah
Berdasarkan luasan lahan, terdapat 34 decision making unit yang menggarap lahan dibawah satu hektar. Meskipun luasan yang digarap tidak terlalu besar, akan tetapi decision making unit merasa mendapatkan keuntungan karena sebagian besar menggarap lahan pribadi sehingga apabila gagal panen tidak dibebankan untuk membayar sewa lahan. Hanya dua decision making unit
yang menggarap lahan diatas lima hektar, dan hanya terdapat satu decision making unit yang menggarap lahan diatas lima hektar dan milik sendiri. Sebagian besar decision making unit yang menggarap lahan antara satu hingga lima hektar menggarap lahan yang terfragmentasi di beberapa tempat namun masih dalam satu hamparan yang menjadi area pengamatan. Hal ini dikarenakan terdapat
decision making unit yang hanya menjadi petani penggarap sehingga ketika menyewa tanah tidak dapat memastikan mendapat lahan yang berada disatu area. Terdapat dua cara pembayaran sewa yang ada di daerah pengamatan, yaitu sistem biaya sewa yang telah ditentukan sebelumnya, yang berkisar sembilan hingga dua belas juta rupiah untuk lahan seluas 0,7 hektar selama satu tahun. Sistem bayar yang lain adalah 2. 500 kg gabah untuk luasan dan masa sewa yang sama. Apabila terjadi gagal panen, maka decision making unit memiliki hutang kepada
45 pemilik lahan dengan menggunakan harga gabah pada saat decision making unit membayar.
Berdasarkan sumber modal usahatani, sebagian besar decision making unit
tidak menggantungkan dari satu sumber modal saja. Kurang dari sepuluh decision making unit hanya memiliko satu sumber. Rataan modal yang dibutuhkan
decision making unit untuk menjalankan usahatani sebesar lima juta rupiah untuk lahan 0,7 hektar. Meskipun tidak terdapat akses terhadap lembaga perbankan di desa, petani dapat mengakses lembaga bank di desa lain yang berjarak sekitar 5 km dari desa tersebut, sehingga terdapat beberapa petani yang dapat mengakses perbankan sebagai sumber modal. Berdekatannya desa pengamatan dengan desa lain di tepi pantai menyebabkan petani yang memiliki akses ke KUD Mina sehingga meskipun bukan nelayan, namun petani tetap mendapat akses modal dari KUD tersebut.