• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.10 Jadwal Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Penelitian

Langkah pertama yang dilakukan peneliti untuk melaksanakan penelitian mengenai penggunaan metode role playing sebagai upaya peningkatan keaktifan dan prestasi belajar IPS siswa kelas V SD Negeri Plaosan 1 Mlati adalah dengan meminta ijin kepada kepala sekolah SD Negeri Plaosan 1 Mlati untuk keperluan melakukan penelitian tindakan kelas di SD Negeri Plaoosan 1 Mlati. Setelah mendapat ijin dari kepala sekolah kemudian peneliti menemui guru kelas V untuk meminta ijin dan meminta bantuan melakukan penelitian di kelas V. Setelah mendapat ijin untuk melakukan penelitian di kelas V kemudian peneliti bersama guru kelas V membicarakan mengenai penelitian yang akan dilaksanakan. Untuk memperoleh gambaran awal permasalahan belajar siswa kelas V peneliti melakukan wawancara dan tanya jawab dengan guru kelas V mengenai masalah

belajar yang dialami siswa selain itu peneliti juga melihat nilai-nilai yang didapat siswa pada semua mata pelajaran di kelas V SD Negeri Plaosan 1. Hasil wawancara, tanya jawab, dan data nilai semua mata pelajaran didapatkan masalah belajar siswa kelas V pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial(IPS).

Pemilihan metode atau model pembelajaran yang tepat untuk mengatasi permasalahan belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPS adalah dengan cara peneliti meminta ijin kepada guru untuk mengumpulkan data awal penelitian, yaitu dengan observasi di kelas V saat proses pembelakjaran IPS. Selain pengumpulan data awal dari observasi, peneliti juga melakukan wawancara dan melihat data nilai-nilai yang didapatkan siswa pada mata pelajaran IPS. Setelah melakukan pengumpulan data awal seperti wawancara, data nilai, dan observasi mengenai mata pelajaran IPS peneliti menemukan sebuah metode yang tepat untuk menagatasi masalah belajar siswa pada mata pelajaran IPS, yaitu dengan menggunakan metode role playing. Penggunaan metode role playing diharapkan sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar IPS siswa kelas V di SD Negeri Plaosan 1.

Masalah belajar siswa kelas V dalam mata pelajaran IPS dicari dan dianalisis oleh guru kelas bersama peneliti dengan melakukan diskusi untuk menentukan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang akan digunakan untuk pelaksanaan penelitian. Hasil diskusi antara guru kelas bersama peneliti diputuskan untuk memilih SK 2 yaitu menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan KD 2.3 yaitu menghargai jasa dan peranan tokoh dalam

memproklamasikan kemerdekaan. Pemilihan SK dan KD tersebut dilakukan oleh guru kelas dan peneliti dengan mencari SK dan KD pada mata pelajaran IPS yang paling sulit dipahami siswa kelas V. Setelah mendapat SK dan KD peneliti membuat perangkat pembelajaran berupa silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa, rubrik penilaian, kisi-kisi soal, dan soal evaluasi yang disesuaikan dengan penggunaan metode role playing dalam proses pembelajaran IPS. Selain itu peneliti bersama kelompok studi keaktifan menyusun lembar observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi keaktifan belajar siswa saat proses pembelajaran.

Perangkat pembelajaran tersebut kemudian divalidasiksan ke validator. Validasi perangkat pembelajaran dengan melakukan content validity dan construct validity yang dilakukan oleh para validator, yaitu dosen ahli, kepala sekolah, dan guru. Sedangkan untuk face validity soal evaluasi dilakukan dengan siswa kelas VI SD Negeri PLaosan 1 dengan pertimbangan bahwa mereka telah mendapatkan materi pelajaran IPS di kelas V. Peneliti juga melakukan validitas empiris soal evaluasi ke siswa kelas V di SD Negeri Tlogoadi, dikarenakan siswa kelas V di SD Negeri Tlogoadi sudah mendapatkan materi yang akan saya berikan di SD Negeri Plaosan 1 Mlati. Validitas empiris dilaksanakan di kelas V SD Negeri Tlogoadi dengan mempertimbangkan berbagai kesamaan antara SD Negeri Tlogoadi dan SD Negeri Plaosan 1 yaitu kedua SD tersebut berada di wilayah yang berdekatan yaitu di kelurahan Tlogoadi, kondisi siswa yang hampir sama karena dikesehariannya siswa dari kedua SD ini sering bermain bersama, dan

lingkungan siswa dari kedua SD ini sama yaitu di pedesaan selain itu kelas V di SD Negeri Tlogoadi sudah mendapatkan materi yang akan saya ujikan.

Setelah semua perangkat pembelajaran telah divalidasikan, peneliti melakukan revisi silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa, materi ajar, rubrik penilaian, soal evaluasi, dan lembar observasi keaktifan. Setelah melakukan revisi perangkat pembelajaran kemudian peneliti menggunakannya untuk melaksanakan penelitian sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disisun sebelumnya.

4.1.1.2 Tindakan

Penelitian mulai dilaksanakan pada semester genap (II) pada tahun ajaran 2012/2013 di SD Negeri Plaosan 1 yang beralamat di dusun Plaosan, Tlogoadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan di kelas V SD Negeri Plaosan 1 dengan jumlah siswa sebanyak 25 siswa yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Penelitian siklus I ini dilaksanakan dalam 3 pertemuan yang dimulai dari tanggal 25 Maret 2013 sampai dengan tanggal 20 April 2013. Pertemuan I dilaksanakan tanggal 25 Maret 2013 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit, sedangkan pertemuan 2 dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2013 dengan alokasi waktu 3 x 35 menit, dan pertemuan 3 disertai evaluasi dilaksanakan pada tanggal 20 April 2013 dengan alokasi waktu 3 x 35 menit.

Pelaksanaan proses pembelajaran dari pertemuan 1 sampai dengan pertemuan 3 hampir semuanya berjalan sesuai dengan rencana yang telah direncanakan sebelumnya dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pertemuan 1 dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2013, di pertemuan pertama ini

peneliti memberikan materi mengenai menghargai jasa dan peranan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan dengan peneliti memakai kostum salah satu tokoh penting dalam proklamasi kemerdekaan indonsesia yaitu Ir. Soekarno. Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan I ini peneliti menggunakan model belajar kelompok, dengan siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 siswa yang dalam pemberian nama kelompok menggunakan nama tokoh-tokoh penting dalam proklamasi kemerdekaan indonsesia seperti Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ibu Fatmawati, Ahmad Soebarjo, dan laksamana Maeda. Selain menggunakan kostum Ir. Soekarno juga guru menggunakan media gambar foto-foto tokoh penting dalam proklamasi kemerdekaan indonsesia yang kemudian siswa menyebutkan nama-nama tersebut dan menempelkan foto-foto tokoh penting dalam proklamasi kemerdekaan indonsesia di lembar kerja kelompok. Selain itu siswa dalam kelompok diberikan tugas untuk membuat naskah drama dari artikel-artikel peristiwa penting dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diberikan guru. Pemberian artikel-artikel tersebut bertujuan agar mempermudah siswa dalam membuat naskah drama dan siswa dapat menggunakan arikel tersebut sebagai sumber untuk membuat naskah drama serta siswa juga dapat mencari tahu informasi dari artikel-artikel yang diberikan guru.

Pertemuan 2 dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2013 dengan masih menggunakan model belajar kelompok yang sama pada pertemuan 1, hanya dalam pertemuan 2 ini kegiatan siswa ditambah dengan menggunakan media papan target. Papan target adalah sebuah media inovatif untuk mempermudah siswa

menentukan sikap yang akan dilakukan untuk menghargai jasa dan peranan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Penggunaan media papan target dipakai untuk membantu siswa mencari dan menentukan 6 sikap apa yang akan dilakukan untuk menghargai jasa para tokoh proklamasi kemerdekaan. Kemudian siswa menentukan prioritas dari sikap yang paling penting hingga paling tidak penting yang akan siswa lakukan untuk menghargai jasa dan peranan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan. Setelah itu siswa mulai berlatih melakukan kegiatan role playing menggunakan naskah drama yang sudah dibuat dipertemuan 1.

Pertemuan terakhir di siklus I yaitu pertemuan ke 3 dilaksanakan pada tanggal 20 April 2013. Pertemuan 3 ini mempunyai jarak waktu yang lama dengan pertemuan 2 dikarenakan terdapat latihan-latihan ujian nasional untuk siswa kelas VI dari tanggal 1 april sampai 19 april 2013, sehingga siswa kelas V diliburkan karena ruangan kelas V dipakai untuk latihan ujian nasioanal siswa kelas VI. Pertemuan 3 ini guru memberikan sedikit materi, yaitu mengingatkan materi-materi sebelumnya yang sudah pernah disampaikan dalam pertemuan 1 dan 2. Alasan pemberian sedikit materi adalah bahwa pada pertemuan 3 ini siswa akan melakukan kegiatan role playing yang menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum proklamasi kemerdekaan republik Indosesia yang memerlukan alokasi waktu yang banyak. Setiap kelompok melakukan kegiatan role playing

dengan mempertunjukan peristiwa yang berbeda-beda pada setiap kelompoknya. Setelah satu kelompok selesai melakukan kegiatan role playing kemudian kelompok yang lain memberikan tanggapan dan evaluasi bagi kelompok yang

sudah selesai melakukan kegiatan role playing. Setelah semua kelompok selesai melakukan kegiatan role playing kemudian guru memberikan soal evaluasi yang akan dikerjakan siswa. Proses pembelajaran pada siklus I yang terdiri dari 3 pertemuan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6.

4.1.1.3 Observasi

Observasi siswa kelas V SD Negeri Plaosan 1 dilakukan dengan cara menggunakan lembar observasi keaktifan. Lembar obsevasi kekatifan dipergunakan untuk mengetahui keaktifan belajar siswa kelas V SD Negeri Plaosan 1 pada mata pelajaran IPS. Lembar observasi dibuat sesuai dengan indikator keaktifan yang telah disusun peneliti bersama kelompok studi keaktifan yang menghasilkan 3 indikator keaktifan, ketiga indikator keaktifan tersebut adalah: (1) bertanya kepada guru dan teman tentang materi pembelajaran IPS saat proses pembelajaran yang ditandai dengan tingkah laku/aktivitas seperti: siswa yang bertanya kepada guru bila tidak memahami persoalan, siswa bertanya kepada siswa lain bila tidak memahami persoalan, dan siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, (2) mengemukakan pendapat ketika berdiskusi kelompok yang ditandai dengan tingkah laku/aktivitas siswa seperti: mengemukakan gagasan secara spontan, dan melaksanakan diskusi kelompok sesuai petunjuk guru, serta (3) mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dala proses pembelajaran IPS yang ditandai dengan tingkah laku/aktivitas seperti: turut serta dalam mengerjakan tugas, dan mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan persoalan. Ketiga indikator tersebut akan diamati oleh observer dari

sikap siswa selama proses pebalajaran berlangsung, observer mengamati sikap siswa menggunakan lembar observasi keaktifan yang telah disediakan.

Peneliti tidak bisa mengisi lembar keaktifan karena peneliti bertindak sebagai guru sehingga peneliti kurang mampu mengamati secara optimal sikap siswa selama proses pembalajaran IPS berlangsung selain itu guru kelas tidak mendampingi peneliti saat proses pembelajaran. Oleh sebab itu peneliti meminta bantuan kepada 4 teman sejawat untuk menjadi observer saat proses pembelajaran IPS pada siklus I, sehingga 4 teman sejawat dapat membantu peneliti dalam mengamati sikap siswa selama proses pebalajaran berlangsung. Setiap observer mengamati 5-6 siswa kelas V menggunakan lembar observasi yang telah disediakan peneliti.

Pengisian lembar observasi keaktifan dalam bentuk turus sesuai dengan sikap siswa yang terlihat sesuai dengan indikator keaktifan yang telah ditentukan. Observer mengisi lembar observasi keaktifan selama 10 menit setelah proses pembelajaran dimulai. Setelah 10 menit mengisi lembar observasi keaktifan di menit selanjutnya, yaitu menit ke 20 observer mengganti lembar observasi keaktifan yang baru, begitu seterusnya sampai proses pembelajaran selesai. Sehingga jumlah semua lembar observasi keaktifan untuk satu observer menjadi 7 lembar (70 menit). Setelah ke empat observer selesai mengobservasi dan memberikan lembar observasi keaktifan kepada peneliti, kemudian peneliti menjumlahkan semua turus yang diperolah dari setiap observer. Setelah itu peneliti menghitung keaktifan belajar siswa menggunakan rumus mean/rata-rata (Masidjo, 2010: 123).

Keterangan rumus: M = Mean N = Jumlah siswa

ΣX = Jumlah semua skor Σ = Jumlah total

Setelah melakukan perhitungan keaktifan belajar siswa peneliti dapat mengategorikan siswa dalam kategori aktif dan tidak aktif, sehingga dapat diketahui keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I dari jumlah siswa yang aktif dalam proses pembelajaran. Suparno (2008) mengatakan

“melalui observasi ini peneliti dapat mengetahui beberapa permasalahan yang

terjadi di dalam kelas saat proses pembelajaran dan untuk mengamati bagaimana keberhasilan setiap siklus yang dilaksanakan”.

4.1.1.4 Refleksi

Siklus I dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan yang mulai dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2013 dan selesai pada tanggal 20 April 2013. Pertemuan 1 yang dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2013 diikuti oleh seluruh siswa kelas V yang berjumlah 25 siswa terdiri 9 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Proses pembelajaran di pertemuan 1 ini peneliti menggunakan model belajar kerja kelompok, yaitu dengan membagi siswa dalam 5 kelompok kecil dan dalam pemberian nama kelompok menggunakan nama tokoh-tokoh penting dalam peristiwa proklamasi seperti: Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ibu Fatmawati, Ahmad Soebarjo, dan Laksamana Maeda. Penggunaan nama-nama tokoh tersebut membuat siswa tertarik untuk mengikuti proses pembalajaran. Proses pembelajaran pada pertemuan 1 ini peneliti juga menggunakan media foto tokoh-tokoh penting dalam peristiwa proklamasi. Siswa diminta menebak siapa nama

tokoh-tokoh yang foto-fotonya ditunjukan oleh guru. Sehingga siswa menjadi aktif mencari jawaban dari berbagai sumber yang dimiliki siswa seperti buku paket IPS dan LKS. Hal tersebut yang membuat siswa sangat tertarik dan antusias dengan pembelajaran IPS yang diajarkan guru.

Selain itu guru juga memberikan lembar kerja kelompok. Kegiatan kelompok ini adalah menempel foto tokoh tokoh-tokoh penting dalam peristiwa proklamasi dan kemudian memberi nama tokoh-tokoh penting tersebut. Selain menempel dan menamai tokoh-tokoh penting tersebut siswa juga diminta membuat naskah drama untuk kegiatan role playing. Lembar kerja kelompok ini membuat siswa aktif berdiskusi dan mengerjakan tugas kelompok. Peneliti dalam pertemuan 1 ini juga memperlihatkan sebuah video siswa SD saat melakukan kegiatan role playing agar siswa mendapatkan gambaran cara melakukan kegiatan

role playing. Proses pembelajaran di pertemuan 1 ini tidak mengecewakan karena sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disediakan sebelumnya. Siswa kelas V sangat aktif saat proses pembelajaran seperti dengan bertanya, menjawab pertanyaan, berdiskusi, mengerjakan tugas kelompok, dan mencari jawaban dari berbagai sumber.

Meskipun pelaksanaan pertemuan 1 ini terkesan lancar, peneliti mengalami sedikit kendala. Proses pembelajaran tidak menggunakan ruang kelas V sebagaimana mestinya tetapi menggunakan ruang kelas II dikarenakan ruang kelas V akan dipakai latihan ujian oleh siswa kelas VI. Hal tersebut terjadi karena kurangnya koordinasi antar guru kelas V dan VI. Karena ruang kelas V akan dipakai untuk latihan ujian, siswa kelas V dipindah ke ruang kelas II yang

siswanya sedang berolahraga diluar kelas. Oleh sebab itu peneliti bersama siswa kelas V perlu menata ruangan agar bisa digunakan untuk bekerja kelompok, kegiatan persiapan ini memakan cukup banyak waktu, selain itu saat siswa kelas II sudah selesai berolahraga dan akan mengambil bajunya di ruang kelas mereka keluar masuk kelas yang membuat suasana kelas tidak kondusif lagi untuk proses pembelajaran. Peneliti mengatasi masalah tersebut dengan meminta siswa melanjutkan pekerjaan kelompok di rumah/menjadikan tugas pekerjaan rumah, karena saat itu siswa dalam kelompok sedang membuat naskah drama.

Pertemuan 2 dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2013. Pada pertemuan 2 ini diikuti oleh 24 siswa kelas V dikarenakan ada 1 siswa yang tidak berangkat dikarenakan sakit, sehingga ada 9 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan yang mengikuti proses pembelajaran. Proses pembelajaran di pertemuan 2 ini peneliti masih menggunakan model belajar yang sama dengan pertemuan 1 yaitu menggunakan model belajar kerja kelompok dengan siswa bergabung kedalam kelompoknya masing-masing. Proses pembelajaran pada pertemuan 2 ini peneliti menggunakan media papan target, media tersebut digunakan setiap kelompok untuk menentukan sikap yang akan diambil untuk menghargai jasa dan peran para tokoh proklamasi kemerdekaan dari sikap yang terpenting hingga sikap tidak terpenting. Siswa menulis sikap yang akan diambil untuk menghargai jasa dan peran para tokoh proklamasi kemerdekaan pada lembaran-lembaran kertas kemudian ditempelkan pada papan target dari sikap yang terpenting hingga sikap tidak terpenting. Setelah selesai mengerjakan tugas dengan papan target setiap perwakilan kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas.

Penggunaan media tersebut membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran seperti saat mengemukakan pendapat, bertanya, menjawab pertanyaan, berdiskusi, mengerjakan tugas kelompok, dan mencari jawaban dari berbagai sumber.

Proses pembelajaran di pertemuan 2 ini tidak mengecewakan karena sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disediakan sebelumnya. Namun dalam pelaksanannya sedikit melebihi waktu yang telah ditentukan sebelumnya dikarenakan dua hal, hal yang pertama adalah pada penggunaan media papan target saat siswa menempel lembaran kertas yang berisi sikap yang akan diambil untuk menghargai jasa dan peran para tokoh proklamasi kemerdekaan siswa tidak bisa cepat dan cekatan. Serta hal yang ke dua adalah saat peneliti meminta siswa berlatih melakukan kegiatan role playing menggunakan naskah drama yang dibuat ternyata sebagian besar kelompok belum menyelesaikan naskah dramanya, sehingga peneliti harus meminta siswa menyelesaikan naskah drama yang sudah dibuat serta peneliti juga mendampingi kelompok dalam menyelesaikan naskah drama. Setelah semua kelompok selesai membuat naskah drama barulah siswa bisa berlatih melakukan kegiatan role playing.

Pertemuan terakhir atau pertemuan 3 dilaksanakan pada tanggal 20 April 2013. Pada pertemuan 3 ini diikuti oleh 24 siswa kelas V dikarenakan ada 1 siswa yang tidak berangkat dikarenakan sakit, sehingga ada 8 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan yang mengikuti proses pembelajaran. Proses pembelajaran di pertemuan 3 ini peneliti menggunakan metode role playing dalam proses pembelajarannya. Siswa bergabung kedalam kelompoknya masing-masing dan

akan melakukan kegiatan role playing mengenai peristiwa-peristiwa penting sebelum proklamasi kemerdekaan nagara republik Indonesia dan antara kelompok satu dengan kelompok lainya melakukan kegiatan role playing peristiwa yang berbeda-beda sehingga semua siswa dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran. Sebelum memulai melakukan kegiatan role playing siswa diperbolehkan mempersiapkan diri selama 10 menit. Saat ada kelompok melakukan kegiatan role playing mengenai peristiwa penting sebelum proklamasi kemerdekaan nagara Indonesia kelompok yang lain memperhatikan dan tenang, serta setelah kelompok selesai melakukan kegiatan role playing kemudian kelompok lain memberikan evaluasi berupa masukan, kritik, maupun pendapat mengenai kegiatan role playing yang telah dipertunjukan. Hal tersebut dilakukan sampai semua kelompok telah melakukan kegiatan role playing.

Proses pembelajaran di pertemuan 3 ini juga tidak mengecewakan karena proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disediakan sebelumnya. Namun ada sedikit kendala yaitu tidak adanya pengeras suara/mix saat akan melaksanakan proses kegiatan role playing

dikarenakan guru yang membawa kunci ruang untuk menaruh pengaras suara/mix tidak berangkat, sehingga terpaksa tidak menggunakan pengeras suara/mix yang mengakibatkan suara siswa saat melakukan kegiatan role playing kurang begitu keras. Masalah tersebut diatasi peneliti dengan meminta bantuan salah seorang teman sejawat yang suaranya keras untuk menjadi moderator supaya suara terdengar keras dan jelas. Selain itu siswa saat akan melakukan kegiatan role playing masih kurang persiapan.

Jam terakhir pada pertemuan 3 ini peneliti memberikan lembar soal evaluasi kepada siswa, yang akan dikerjakan secara individu oleh siswa kelas V. Peneliti tidak melakukan wawancara dengan guru kelas V SD Negeri Plaosan 1 pada pertemuan terakhir dikarenakan guru tidak mendampingi peneliti saat mengajar di kelas V, sehingga guru tidak tahu bagaimana terjadinya proses pembalajaran IPS yang terjadi di dalam kelas dan akibatnya guru tidak bisa membandingkan antara kondisi kelas V sebelum diberi perlakuan dan sesudah diberikan perlakuan oleh peneliti.

Dokumen terkait