• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ANALISA DATA DAN INTERPRETASI

A. Responden I

1. Gambaran Umum Responden I

Nama : Lina (bukan nama sebenarnya)

Usia : 53 tahun

Suku : Tionghoa

Agama : Buddha

Pendidikan terakhir : SD

Urutan dalam keluarga : anak ke 3 dari 7 bersaudara Metode bunuh diri : meminum obat serangga

Lina dilahirkan dalam keluarga yang latar belakang ekonominya lemah. Sejak kecil Lina dan saudara-saudaranya sudah diharuskan bekerja demi sesuap nasi. Mereka hanya mengecap pendidikan hingga SD. Ayahnya memiliki pekerjaan yang tidak tetap dan sering menganggur. Uang hasil kerja mereka akan

diberikan kepada ibunya untuk kemudian menjadi uang makan sekeluarga. Lina selalu berharap untuk bisa merasakan kehidupan yang bahagia setelah menikah.

Pada awalnya hubungan Lina dengan pacarnya (suaminya sekarang) ditentang oleh orang tuanya. Ayahnya mengatakan dia bukan laki-laki pekerja keras dan nanti Lina akan menjalani kehidupan yang susah jika menikah dengannya. Meskipun demikian, Lina sudah terlanjur cinta kepada pacarnya dan bersikeras menikahinya.

Kehidupan awal pernikahan mereka menurut Lina “tidak sebahagia yang diharapkan”. Hidup mereka sangat sederhana. Mereka dikarunia 4 anak laki-laki dengan usia yang berdekatan. Suaminya bekerja di pabrik dan sanggup menafkahi hingga anak laki-laki keempat mereka lahir. Meskipun kehidupan mereka pas- pasan saja, suaminya juga membantu biaya hidup orang tuanya (mertua Lina).

Barulah ketika suaminya terkena penyakit kelamin dan tidak sanggup bekerja lagi, keadaan ekonomi mereka merosot. Bukan hanya biaya pengobatan penyakit suaminya yang harus dibayar, tetapi juga keempat anaknya yang butuh makan. Saat itu, anak-anaknya masih berusia 7 tahun, 6 tahun, 5 tahun, dan 6 bulan. Menghadapi kondisi ini, Lina mulai bekerja untuk menghidupi keluarganya. Pada mulanya Lina berjualan sayur di depan rumahnya agar bisa tetap menjaga anak-anaknya, tetapi usaha itu tidak bertahan lama karena sayur yang tidak habis terjual tidak dapat disimpan lagi. Lina lalu meminjam uang ke tetangga-tetangganya. Pinjaman akhirnya menggunung dan Lina ditawari oleh salah seorang tetangganya untuk bekerja sebagai penjaga lansia di rumahnya. Tak sampai sebulan bekerja, lansia tersebut meninggal dan Lina kembali menjalani

harinya dengan meminjam uang ke tetangganya. Tetangga tersebut lalu menawari Lina untuk bekerja di pabrik konveksi. Sambil membawa anaknya yang paling kecil, Lina bekerja sebagai pemotong kain di pabrik. Meskipun telah bekerja, upah hasil kerjanya sedikit dan tidaklah cukup untuk makan berenam. Oleh sebab itu, Lina meminjam uang lagi dengan pabrik tempatnya bekerja dan dikenai bunga pinjaman. Hari-hari dilaluinya dengan dikejar oleh utang yang tak kunjung habis.

Sementara itu, suaminya masih pengangguran meskipun telah sembuh dari penyakitnya. Hanya Lina sendirilah yang bekerja demi kelangsungan hidup anak- anaknya selama hampir 1 tahun. Bantuan dari saudara terdekat mereka pun tidak ada. Hubungan dengan keluarganya, baik dari pihak suami maupun pihaknya sendiri, memburuk seiring melemahnya keadaan ekonomi. Bahkan ayah mertua Lina menjelek-jelekkan anaknya karena tidak memberi uang lagi. Tidak hanya itu, Lina sekeluarga juga diremehkan oleh keluarga suaminya sampai-sampai cucunya sendiri tidak boleh lagi masuk ke kamar kakeknya dan dilarang menyentuh barang elektronik yang ada. Dari keluarganya sendiri yang juga lemah ekonominya, Lina hanya dibantu sedikit pinjaman untuk membeli beras. Beberapa kali ketika hendak meminjam uang dengan orang tuanya, dia dihina oleh adiknya sendiri yang mengatakan “Dasar tak tahu malu, biarin aja dia mati.”

Masalah keuangan ini diperburuk oleh kenyataan bahwa usia anak- anaknya masih kecil dan menuntut perhatian dari ibunya. Hal itu menyebabkan Lina tidak bisa bekerja lama. Suami yang pengangguran, anak yang butuh makan, dan hubungan dengan keluarga yang memburuk membuat Lina sering marah. Tak jarang ketika dia marah, anak-anak menjadi pelampiasannya, terutama jika anak-

anak berebut makanan. Lina yang tidak tahan lagi dengan semua tekanan yang dihadapi mencari solusi dengan mencoba bunuh diri.

Upaya bunuh diri dengan meminum obat serangga yang dilakukan Lina tidak berhasil. Lina dibawa ke rumah sakit dan diopname selama seminggu dengan bantuan uang pensiun dari ayahnya. Setelah keluar dari rumah sakit, Lina dirawat oleh ibunya di rumah orang tuanya. Meskipun telah mencoba bunuh diri, keluarga suami dan saudara kandungnya tetap memperlakukan dia dengan istilah yang sering digunakan Lina yaitu “meremehkan”. Adiknya yang ketiga selalu mengatakan kejelekkan Lina ke tetangga. Tidak hanya itu, adiknya juga memarahi ibunya yang tidak sanggup mengontrol urine dikarenakan penyakit diabetes yang diderita. Berselang tiga bulan setelah Lina mencoba bunuh diri, Ibu Lina juga melakukan upaya bunuh diri dengan meminum pembersih lantai dan meninggal. Lina yang saat itu masih lemah karena pengobatan racun obat serangga di tubuhnya sangatlah sedih dan tidak bisa menghadiri pemakaman ibunya sendiri. Setelah Lina cukup kuat, dia pergi ke makam ibunya untuk meminta maaf karena telah memberi contoh untuk bunuh diri.

Sebulan setelah ibunya meninggal, Lina hamil anaknya yang kelima, seorang perempuan. Lina kemudian ditawari kerja oleh sepupunya di restoran sebagai pelayan. Dia bekerja sambil membawa bayi yang baru dilahirkannya. Kehidupannya berangsur-angsur membaik karena suaminya telah mendapatkan pekerjaan.

Saat ini, anak-anaknya telah mandiri meskipun Lina hanya mampu memberi anaknya pendidikan hingga SMP. Lina sangat membanggakan anak

keempatnya, satu-satunya anak yang bisa melanjutkan pendidikan hingga kuliah sekarang ini. Lina telah mempunyai seorang cucu perempuan dari anak keduanya yang tinggal bersamanya. Anak-anaknya membantu biaya hidup dengan memberi uang bulanan untuk biaya rumah tangga. Tak jarang Lina mengingat masa-masa susah dalam hidupnya dulu. Ketika dia mulai sedih memikirkan kejadian masa lalu, anaknya akan menghiburnya dengan menyuruhnya untuk melupakan saja. Walaupun kehidupan telah membaik, Lina menyatakan hidupnya tidak begitu bahagia, hanya cukup makan dan pangan.

Dokumen terkait