• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.2 Gambaran Umum Tanaman Pangan Sumatera Utara

Di daerah Sumatera Utara, terdapat beragam jenis tanaman bahan pangan yang dibudidayakan. Diantaranya yaitu tanaman pangan ubi kayu dan ubi jalar. Ubi kayu dan ubi jalar banyak dibudidayakan di daerah Kabupaten Simalungun, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupatan Dairi dan Kabupaten Karo.

Produksi ubi kayu tertinggi pada tahun 2010 yaitu terdapat di daerah Kabupaten Simalungun sebesar 353.950 Ton, kemudian Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 149.144 Ton, Kabupaten Deli Serdang sebesar 79.551 Ton, Kabupaten Nias Selatan sebesar 51.866 Ton dan Kabupaten Tapanuli Utara sebesar 38.426 Ton. Kabupaten Simalungun merupakan sentra produksi ubi kayu di Sumatera Utara yang dapat dilihat pada tahun 2010 dimana produksi ubi kayu sebesar 39,08 % dari total produksi Sumatera Utara.

Sedangkan produksi ubi jalar pada tahun 2010 di Kabupaten Simalungun 50.736 Ton, kemudian di Kabupaten Nias Selatan sebesar 29.029 Ton, Kabupaten Dairi sebesar 22.266 Ton, Kabupaten Tapanuli Utara sebesar 14.405 Ton dan Kabupaten Karo sebesar 12.809 Ton. Dapat dilihat bahwa

Kabupatan Simalungun bukan hanya sebagai sentra produksi ubi kayu namun juga merupakan daerah yang menghasilkan produksi ubi jalar tertinggi yaitu 28,28 % dari total produksi ubi jalar.

4.3Keadaan Penduduk Sumatera Utara

Menurut data dari Badan Pusat Statistik Sumatera Utara jumlah penduduk Sumatera Utara pada tahun 2000 sebesar 11.513.973 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Sumatera Utara tahun 1990-2000 adalah 1,32 % per tahun, kemudian pada tahun selanjutnya yaitu 2000-2005 menjadi 1,35 % per tahun. Namun pada tahun 2005-2010 laju pertumbuhan penduduk Sumatera Utara turun menjadi 1,2 % per tahun.

Kepadatan penduduk adalah perbandingan jumlah penduduk terhadap luas lahan atau luas daerah. Kepadatan penduduk dinyatakan dengan satuan Jiwa/Km. Sebagai catatan 1 Km2=100 Ha.

Jumlah penduduk Sumatera Utara tahun 2010 sebanyak 12.985.075 jiwa, jika dibandingkan dengan lahan seluas 71.680,92 Km2 dapat digambarkan kepadatan penduduk Provinsi Sumatera Utara adalah sebanyak 181 jiwa/Km2. Angka ini menggambarkan bahwa setiap 1 Km2 terdapat 181 jiwa. Secara rinci, jumlah penduduk dengan kepadatannya masing-masing wilayah di Sumatera Utara beserta luas dari setiap wilayah tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 7. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010

No. Kabupaten/Kota Luas Wilayah (Km2) Penduduk (Jiwa) Kepadatan Penduduk (Km2/Jiwa) 1. Nias 980,32 132.329 135 2. Mandailing Natal 6.620,70 403.894 61 3. Tapanuli Selatan 4.352,86 264.108 61 4. Tapanuli Tengah 2.158,00 310.962 144 5. Tapanuli Utara 3.764,65 278.897 74 6. Toba Samosir 2.352,35 172.933 74 7. Labuhan Batu 2.561,61 414.417 162 8. Asahan 3.675,79 667.563 182 9. Simalungun 4.368,60 818.104 187 10. Dairi 1.927,80 269.848 140 11. Karo 2.127,25 350.479 165 12. Deli Serdang 2.486,14 1.789.243 720 13. Langkat 6.263,29 966.133 154 14. Nias Selatan 1.625,91 289.876 178 15. Humbang Hasundutan 2.297,20 171.687 75 16. Pakpak Barat 1.218,30 40.481 33 17. Samosir 2.433,50 119.650 49 18 Serdang Bedagai 1.913,33 592.922 310 19. Batu Bara 904,96 374.535 414

20. Padang Lawas Utara 3.918,05 223.049 57

21. Padang Lawas 3.892,74 223.480 57

22. Labuhan Batu Selatan 3.116,00 277.549 89 23. Labuhan Batu Utara 3.545.80 331.660 94

24. Nias Utara 1.501,63 127.530 85 25. Nias Barat 544,09 81.461 150 KOTA 26. Sibolga 10,77 89.444 7.841 27. Tanjung Balai 61,52 154.426 2.510 28. Pematang Siantar 79,97 234.885 2.937 29. Tebing Tinggi 38,44 145.180 3.777 30. Medan 265,10 2.109.339 7.957 31. Binjai 90,24 246.010 2.726 32. Padang Sidempuan 114,65 191.554 1.671 33. Gunung Sitoli 469,36 125.566 268 TOTAL 71.680,92 12.985.075 181

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Produksi serta Produktivitas Ubi Kayu dan Ubi Jalar di Sumatera Utara

Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, maka dapat dilihat besarnya produksi serta produktivitas ubi kayu dan ubi jalar untuk wilayah Sumatera Utara (1996-2010) pada tabel-tabel dan grafik-grafik dibawah ini. Untuk produksi ubi kayu di Sumatera Utara (1996-2010) dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 8. Produksi Ubi Kayu di Sumatera Utara (1996-2010)

Tahun Produksi Ubi Kayu (Ton)

1996 421.460 1997 449.026 1998 488.149 1999 490.601 2000 480.128 2001 507.519 2002 441.819 2003 411.990 2004 464.960 2005 509.796 2006 452.450 2007 438.573 2008 736.771 2009 1.007.284 2010 905.571 Total 7.198,81 Rataan 479,92 Sumber : Lampiran 2

Dari Tabel 8 diatas, terlihat bahwa jumlah produksi ubi kayu Sumatera Utara terbesar di sepanjang tahun 1996-2010 terjadi pada tahun 2009

sebesar 1.007.284 Ton dengan jumlah produksi terendah di tahun 2003 sebesar 411.990 Ton. Total produksi ubi kayu di sepanjang tahun 1996- 2010 adalah sebesar 7.198,81 Ton dengan rata-rata produksi sebesar 479,92 Ton per tahun.

Kondisi produksi ubi kayu Sumatera Utara diatas untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5 berikut ini.

Gambar 5. Produksi Ubi Kayu di Sumatera Utara (1996-2010)

Pada Gambar 5, dapat dilihat bahwa perkembangan produksi ubi kayu Sumatera Utara (1996-2010) mengalami keadaan yang fluktuatif, dimana pada tahun 2003 terjadi penurunan produksi ubi kayu dan kemudian terjadi lagi penurunan di tahun 2007 yang sebelumnya sempat mengalami kenaikan pada tahun 2005 yaitu sebesar 509.796 Ton. Kemudian produksi ubi kayu mengalami kenaikan dengan puncak produksi yakni pada tahun 2009. Meskipun kenaikan produksi ubi kayu dapat meningkat dengan

0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Produksi Ubi Kayu (Ton)

kenaikan yang sangat besar, namun pada tahun berikutnya produksi kembali menurun. Sedangkan kondisi produktivitas ubi kayu di Sumatera Utara tahun 1996-2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 9. Produktivitas Ubi Kayu di Sumatera Utara (1996-2010)

Tahun Produktivitas Ubi Kayu (Kw/Ha)

1996 120 1997 120 1998 119 1999 119 2000 119 2001 123 2002 122 2003 123 2004 125 2005 125 2006 126 2007 125,98 2008 194,19 2009 260,88 2010 279,48 Sumber : Lampiran 2

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa produktivitas ubi kayu tertinggi di Sumatera Utara di sepanjang tahun 1996-2010 terjadi pada tahun 2010 yakni sebesar 279,51 Kw/Ha. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa dari tahun 2008-2010 terjadi kenaikan produktivitas. Kenaikan ini tentunya disebabkan oleh campur tangan pemerintah yang melakukan intensifikasi tanaman dengan luas lahan yang berkurang namun produktivitas dapat ditingkatkan. Sedangkan produktivitas terendah terjadi pada tahun 1998 sampai tahun 2000 yakni sebesar 119 Kw/Ha.

Gambar 6. Produktivitas Ubi Kayu di Sumatera Utara (1996-2010)

Dari Gambar 6, tampak bahwa produktivitas ubi kayu sepanjang tahun 1996-2010 mengalami kondisi yang fluktuatif. Dimana, pertumbuhan produksi ubi kayu yang terjadi dapat dikatakan meningkat, yakni dapat dilihat dengan pergeseran angka produktivitas yang meningkat per tahunnya. Berdasarkan kondisi produksi ubi kayu dapat dilihat bahwa disepanjang tahun 1996-2010 produksi ubi kayu di Sumatera Utara tetap mengalami peningkatan, hanya saja pada tahun 1996-2007 angka produktivitas cenderung stabil dengan produksi yang rendah apabila dibandingkan dengan tahun berikutnya. Dimana pada tahun 2008-2010 produksi meningkat sejalan dengan meningkatnya produktivitas ubi kayu. Produksi ubi kayu pada tahun 2003 paling rendah dikarenakan luas panen pada tahun tersebut berkurang dari tahun-tahun sebelumnya dimana luas panen ubi kayu pada tahun 2003 sebesar 33.452 Ha (Lampiran 2). Namun jika dilihat pada tahun 2010 dimana luas panen ubi kayu lebih rendah

0 50 100 150 200 250 300 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Produktivitas Ubi Kayu (kw/Ha)

dibanding tahun 2003 yaitu sebesar 32.402 Ha (Lampiran 2) mampu menghasilkan produksi yang jauh lebih besar.

Produksi ubi kayu dari tahun 1996-2001 mengalami peningkatan sebesar 86.059 Ton atau 20,42%. Peningkatan tersebut berbanding lurus dengan luas panen, dimana luas panen dari tahun 1996-2001 mengalami peningkatan sebesar 5.987 Ha atau 16,98%. Produktivitasnya juga mengalami peningkatan sebesar 3 Kw/Ha atau 2,5%.

Selanjutnya produksi di tahun 2002-2005 mengalami penurunan dimana pada tahun 2003 terjadi penurunan sebesar 95.529 Ton atau 18,82% dari tahun 2001 dan merupakan produksi terendah disepanjang tahun 1996- 2010. Penurunan produksi disebabkan luas panen yang berkurang sebesar 7.781 Ha atau 18,87% dari tahun 2001. Namun produksi kembali meningkat di tahun 2005 sebesar 2.277 Ton atau 0,45% dari tahun 2001. Adapun volume ekspor ubi kayu di tahun 2002, 2003 dan 2004 masing- masing sebesar 7.313,856 Ton, 6.508,744 Ton dan 11.409,803 Ton. Pada tahun 2004 terjadi kenaikan ekspor ubi kayu dimana pada tahun tersebut produksi ubi kayu meningkat yang diikuti peningkatan luas panen.

Produksi dari tahun 2006-2010 mengalami peningkatan. Namun peningkatan produksi baru terjadi di tahun 2008, karena sebelumnya yaitu tahun 2006 dan 2007 produksi menurun, dimana masing-masing 57.346 Ton dan 71.223 Ton atau 11,25% dan 13,97% dari tahun 2005. Penurunan

produktivitas dikarenakan luas panen pada tahun tersebut berkurang sebesar 4.721 Ha dan 5.905 Ha atau sebesar 11,59% dan 14,50% dari tahun 2005.

Untuk produksi tahun 2008 dan 2009 produksi meningkat sangat besar yaitu 226.975 Ton dan 497.488 Ton atau sebesar 44,49% dan 97,59% dari tahun 2005. Namun dapat dilihat bahwa jika dibandingkan dengan tahun 2001 dan 2005 dimana masing-masing luas panennya sebesar 41.233 Ha dan 40.717 Ha sedangkan di tahun 2008 dan 2009 luas panen ubi kayu hanya 37.941 Ha dan 38.611 Ha, mampu menghasilkan produksi yang jauh lebih besar dengan produktivitas 194,19 Kw/Ha dan 260.88 Kw/Ha. Sedangkan untuk produksi ditahun 2010 yang berkurang sebesar 101.713 Ton dari tahun 2009 dikarenakan luas panen yang berkurang sangat besar dan merupakan luas panen terendah disepanjang tahun 1996-2010. Jika dibandingkan tahun 2009, luas panen tahun 2010 berkurang sebesar 6.209 Ha atau 16,08%. Namun produktivitas di tahun 2010 lebih besar jika dibanding 2009 yaitu sebesar 279,48%.

Dari analisis data-data tersebut dapat dilihat bahwa pada tahun 1996 produksi dan produktivitas ubi kayu masing-masing 421.460 Ton dan 120 Kw/Ha dan untuk tahun 2010 masing-masing sebesar 905.571 Ton dan 279,48 Kw/Ha. Ini menunjukkan adanya pertumbuhan atau peningkatan

produksi dan produktivitas ubi kayu disepanjang tahun 1996-2010 sebesar 8,75% dan7,18 Kw/Ha.

Ubi kayu merupakan bahan pangan potensial bagi masa depan dalam tatanan pengembangan agribisnis dan agroindustri. Sejak awal PELITA I sampai sekarang, makanan pokok nomor tiga penghasil karbohidrat di Indonesia ini setelah padi dan jagung, mempunyai peranan yang cukup besar dalam mencukupi bahan pangan nasional dan dibutuhkan sebagai bahan pakan ternak serta bahan baku industri makanan.

Produksi dan produktivitas ubi kayu yang rendah dikarenakan varietas unggul belum banyak digunakan petani dan teknik budidaya yang masih tradisional. Namun langkah yang dapat ditempuh untuk dapat mengatasi hal tersebut adalah dengan menumbuhkan pola agribisnis di daerah-daerah sentra produksi. Disamping itu, untuk memacu penganekaragaman produksi dan stabilitas harga (pasar) perlu ditumbuh kembangkan industri- industri pengolahan hasil yang berwawasan agroindustri berbahan baku ubi kayu.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan tentang komoditi hasil olahan ubi kayu andalan Kabupaten Serdang Bedagai yang telah mampu menopang dan memberikan kontribusi produk dari industri pengolahan skala kecil dan menengah terhadap perekonomian di kabupaten tersebut. Tepung tapioka merupakan

hasil olahan dari ubi kayu yang paling banyak diusahakan di Kabupaten Serdang Bedagai baik dalam segi unit usaha, jumlah tenaga kerja, nilai investasi, kapasitas produksi, maupun dari segi nilai produksi. Hal ini dikarenakan tepung tapioka merupakan salah satu bahan baku yang paling banyak digunakakan di Indonesia.

Peluang pasar untuk tepung tapioka cukup potensial baik pasar dalam negeri maupun luar negeri. Permintaan dalam negeri terutama berasal dari wilayah Pulau Jawa seperti Bogor, Tasikmalaya, Indramayu. Sementara permintaan pasar luar negeri berasal dari beberapa negara ASEAN dan Eropa.

Sedangkan untuk kondisi produksi ubi jalar di Sumatera Utara tahun 1996- 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 10. Produksi Ubi Jalar di Sumatera Utara (1996-2010)

Tahun Produksi Ubi Jalar (Ton)

1996 118.348 1997 111.156 1998 106.618 1999 134.642 2000 126.961 2001 118.183 2002 118.170 2003 135.661 2004 117.295 2005 115.728 2006 102.712 2007 117.641 2008 114.186 2009 140.138 2010 179.388

Total 1.856.83

Rataan 123.79

Sumber : Lampiran 3

Dari Tabel 10 terlihat bahwa di sepanjang tahun 1996-2010, jumlah produksi ubi jalar terbesar di Sumatera Utara terjadi pada tahun 2010 sebesar 179.338 Ton. Sedangkan produksi ubi jalar terkecil terjadi pada tahun 2006 sebesar 102.712 Ton. Dimana Total Produksi Ubi Jalar Sumatera Utara tahun 1996-2010 adalah sebesar 1.856.83 Ton dengan Rataan Total Produksi Ubi Jalar yakni 123,79 Ton per tahunnya. Kemudian dapat dilihat pula grafik kondisi produksi ubi jalar di Sumatera Utara tahun 1996-2010 dari gambar berikut.

Gambar 7. Produksi Ubi Jalar di Sumatera Utara (1996-2010)

Pada Gambar 7, tampak bahwa produksi ubi jalar di Sumatera Utara tahun 1996-2010 juga mengalami kondisi yang fluktuatif. Dimana pada tahun

0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000 180000 200000 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Produksi Ubi Jalar (Ton)

1998 produksi ubi jalar menurun jika dibandingkan dari tahun sebelumnya. Namun pada tahun 1999 produksi ubi jalar meningkat tetapi peningkatan tersebut tidak berlangsung lama karena pada tahun berikutnya produksi kembali menurun hingga tahun 2002. Produksi kembali meningkat pada tahun 2003 namun kondisi ini juga tidak berlangsung lama karena produksi kembali menurun hingga produksi terendah dicapai pada tahun 2006 sedangkan puncak produksi diperoleh pada tahun 2010. Besarnya produktivitas ubi jalar di Sumatera Utara tahun 1996-2010 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 11. Produktivitas Ubi Jalar di Sumatera Utara (1996-2010)

Tahun Produktivitas Ubi Jalar (Kw/Ha)

1996 88 1997 89 1998 89 1999 94 2000 93 2001 95 2002 95 2003 95 2004 95,93 2005 96,33 2006 96,62 2007 96,99 2008 110,69 2009 113,39 2010 120,61 Sumber : Lampiran 3

Dari Tabel 11 tampak bahwa produktivitas ubi jalar di Sumatera Utara disepanjang tahun 1996-2010 mengalami peningkatan. Produktivitas ubi

jalar tertinggi terjadi pada tahun 2010 yakni sebesar 120,61 Kw/Ha. Sedangkan produktivitas ubi jalar terendah terjadi pada tahun 1996 yakni sebesar 88 Kw/Ha.

Gambar 8. Produktivitas Ubi Jalar di Sumatera Utara (1996-2010)

Dari Gambar 8 tampak bahwa produktivitas ubi jalar sepanjang tahun 1996-2010 terus menunjukkan angka peningkatan. Namun jika dibandingkan dengan produksi yang dicapai maka sangat jauh dari harapan. Produksi ubi jalar pada tahun 1996-1998 mengalami penurunan sebesar 11.730 Ton atau 9,9%. Penurunan ini disebabkan berkurangnya luas panen ubi jalar sebesar 1.423 Ha atau 10,59% (Lampiran 3). Namun di tahun berikutnya yaitu tahun 1999 produksi mengalami peningkatan sebesar 16.924 Ton atau 13,77% dari tahun 1996. Peningkatan ubi jalar ini disebabkan bertambahnya luas panen sebesar 866 Ha atau 6,44% dan juga peningkatan produktivitas sebesar 6,8% dari tahun 1996.

0 50 100 150

1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Produktivitas Ubi Jalar (kw/Ha)

Pada tahun 2000-2002 produksi kembali menurun, dimana pada tahun 2000 produksi turun sebesar 7.681 Ton atau 5,7% dari tahun 1999. Penurunan ini disebabkan berkurangnya luas panen sebesar 673 Ha atau 4,7% dan produktivitas 1 Kw/ha atau 1,06%. Begitu juga untuk tahun 2001 dan 2002, produksi menurun masing-masing 16.459 Ton dan 16.472 Ton atau 12,22% dan 12,23% dari tahun 1999. Penurunan disebabkan luas panen berkurang masing-masing 1.840 Ha dan 1.899 Ha atau 12,86% dan 13,28%, sedangkan produktivitas malah meningkat, dimana masing- masing naik 1 Kw/Ha atau 1% dari tahun 1999. Produksi kembali meningkat sebesar 1.019 Ton atau 0,76% pada tahun 2003 jika dibandingkan dengan produksi pada tahun 1999 dengan luas panen yang hampir sama yaitu hanya selisih 24 Ha atau 0,17%, namun dengan produktivitas yang lebih besar yaitu 1 Kw/Ha dari tahun 1999.

Pada tahun 2004-2008 produksi kembali menurun. Dimana pada tahun 2004 menurun sebesar 18.366 Ton atau 13,53% dari tahun 2003. Pada tahun 2006 produksi juga menurun dengan penurunan yang jauh lebih besar yaitu 32.949 Ton atau 24,29% dari tahun 2003. Penurunan ini disebabkan berkurangnya luas panen pada tahun 2004 dan 2006 masing- masing 2.053 Ha dan 3.650 Ha atau 14,38% dan 25,56% dari tahun 2003. Namun produktivitas pada tahun tersebut malah meningkat, dimana masing-masing naik 1,33 Kw/Ha dan 1,62 Kw/Ha atau 1,4% dan 1,7%.

Pada tahun 2007 produksi kembali meningkat dengan jumlah produksi yang tidak jauh beda dengan produksi pada tahun 2004, karena hanya meningkat sebesar 346 Ton atau 0,29% sedangkan luas panen malah berkurang sebesar 98 Ha atau 0,8% dan produktivitas naik sebesar 1,06 Kw/Ha atau 1,1%. Sedangkan produksi di tahun 2008 kembali menurun yaitu sebesar 3.455 Ton atau 2,94% dari tahun 2007, dikarenakan luas panen berkurang sebesar 1.813 Ha atau 14,94% sedangkan produktivitas meningkat sebesar 13,7 Kw/Ha atau 14,12% dari tahun 2007. Penurunan luas panen ubi jalar antara lain disebabkan adanya perbaikan irigasi dan persaingan dengan komoditas lain yang mempunyai nilai ekonomi lebih baik. Dengan tersedianya fasilitas pengairan, pada musim kemarau lahan sawah yang biasanya ditanamai ubi jalar berubah ditanami padi.

Sedangkan untuk tahun 2009 dan 2010 produksi meningkat, dimana masing-masing bertambah sebesar 4.477 Ton dan 43.727 Ton atau 3,3% dan 32,23% dari tahun 2003. Luas panen dan produktivitas maing-masing jika dibanding dengan tahun 2003 yaitu untuk tahun 2009 luas panen berkurang 1.921 Ha atau 13,45% dan untuk tahun 2010 meningkat sebesar 594 Ha atau 4,16%. Dan untuk produktivitas tahun 2009 dan 2010 masing-masing meningkat sebesar 18,39 Kw/Ha dan 25,61 Kw/Ha atau 19,36% dan 26,96% dari tahun 2003.

Dari analisis data tersebut dapat dilihat bahwa produksi dan produktivitas ubi jalar dari tahun 1996-2010 mengalami pertumbuhan dimana masing- masing sebesar 3,87% dan 2,34%. Pada tahun 2004 produktivitas meningkat dengan luas panen yang berkurang sedangkan pada tahun 2010 walaupun luas panen meningkat, namun bersamaan dengan peningkatan produktivitas yang jauh lebih besar jika dibanding pada tahun 1999 dan 2003 dimana luas panen pada tahun tersebut tidak jauh berbeda tetapi produksinya rendah.

Meskipun produktivitas ubi jalar meningkat dari tahun 2004-2010, namun sebenarnya peluang untuk meningkatkan produktivitas ubi jalar di Sumatera Utara masih besar. Produktivitas yang meningkat di tahun 2004- 2010 disebabkan petani telah menggunakan bibit unggul dan melakukan pemupukan pada tanaman ubi jalar. Namun belum menyebarnya penggunaan varietas unggul dan belum tepatnya teknologi budidaya seperti pemupukan yang menyebabkan bahwa produktivitas masih dapat ditingkatkan lagi. Varietas unggul yang sudah digunakan oleh petani di Sumatera Utara adalah Varietas Sari yang memiliki daya hasil 30-35 Ton/Ha yang dilepas pada tahun 2001 tetapi belum banyak ditanam oleh petani di Sumatera Utara.

5.2 Konsumsi Ubi Kayu dan Ubi Jalar di Sumatera Utara

Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, maka dapat dilihat besarnya konsumsi ubi kayu dan ubi jalar untuk wilayah Sumatera Utara tahun 1996-2010 pada tabel-tabel beserta grafik dibawah ini. Untuk konsumsi ubi kayu di Sumatera Utara tahun 1996-2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 12. Konsumsi Ubi Kayu di Sumatera Utara (1996-2010)

Tahun Total Konsumsi Ubi Kayu (Ton)

1996 87.736,88 1997 88.955,98 1998 91.211,82 1999 92.773,90 2000 89.348,43 2001 90.966,97 2002 187.183,78 2003 187.868,30 2004 191.549,09 2005 239.137,55 2006 245.283,78 2007 141.178,08 2008 112.424,77 2009 99.192,96 2010 228.616,61 Total 2.173.428,94 Rataan 144.895,26 Sumber : Lampiran 4

Dari Tabel 12 terlihat bahwa jumlah konsumsi ubi kayu di Sumatera Utara terbesar di sepanjang tahun 1996-2010 terjadi pada tahun 2006 sebesar 245.283,784 Ton dengan jumlah konsumsi terendah di tahun 1996 yakni sebesar 87.736,88 Ton. Total konsumsi ubi kayu di sepanjang tahun 1996- 2010 adalah sebesar 2.173.428,94 Ton dengan rata-rata konsumsi sebesar

144.895,26 Ton per tahunnya. Kondisi konsumsi ubi kayu di Sumatera Utara diatas untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 9. Konsumsi Ubi Kayu di Sumatera Utara (1996-2010)

Pada Gambar 9 tampak bahwa perkembangan konsumsi ubi kayu penduduk Sumatera Utara tahun 1996-2010 mengalami keadaan yang fluktuatif, dimana terjadi lonjakan pertama di tahun 2002 kemudian mengalami kenaikan lagi pada tahun 2006. Namun ditahun berikutnya konsumsi ubi kayu mengalami penurunan hingga tahun 2010 konsumsi dapat meningkat lagi. Dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2001 keadaan konsumsi ubi kayu Sumatera Utara cenderung dalam kondisi yang stabil, sedangkan konsumsi dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2010 mengalami kondisi yang naik turun.

Pada tahun 1996-1999 terjadi peningkatan konsumsi walaupun peningkatannya relatif kecil. Dimana kenaikan konsumsi disebabkan karena jumlah penduduk yang juga meningkat yaitu sebesar 7,26%.

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Total Konsumsi Ubi Kayu (Ton)

Sedangkan pada tahun 2000 konsumsi ubi kayu menurun dimana penurunan tersebut dikarenakan jumlah penduduk juga ikut menurun sebesar 3,69% dari tahun 1999. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997-1998 menyebabkan konsumsi terhadap beras berkurang sehingga masyarakat melakukan subsitusi untuk memenuhi kebutuhannya ke bahan pangan lainnya, salah satunya ubi kayu, sehingga dapat kita lihat pada tahun tersebut konsumsi ubi kayu meningkat.

Konsumsi kembali meningkat di tahun 2001-2006, dimana kenaikan konsumsi lebih besar dari 100% yaitu sebesar 164,38% dari tahun 1999. Kenaikan konsumsi juga dibarengi dengan bertambahnya jumlah penduduk sebesar 5,75% dari tahun 1999. Namun di tahun 2007-2009 konsumsi ubi kayu mengalami penurunan. Dimana masing-masing penurunannya sebesar 42,44%, 54,16% dan 59,56% dari tahun 2006. Penurunan konsumsi ini tidak dibarengi dengan penurunan jumlah penduduk. Jumlah penduduk malah bertambah yaitu sebesar 4,74% dari tahun 2006. Konsumsi ubi kayu menurun pada tahun 2007-2009 diakibatkan karena terjadinya surplus produksi beras yang cukup tinggi pada tahun 2007 dan 2008. Kondisi ini menyebabkan permintaan impor beras mengalami penurunan sehingga harga beras berangsur-angsur menjadi turun dan cenderung stabil dengan keadaan itu masyarakat kembali beralih untuk mengkonsumsi beras sebagai bahan pangan pokok.

Sedangkan pada tahun 2010 konsumsi meningkat, namun tidak sebesar konsumsi di tahun 2005 dan 2006. Kenaikan konsumsi pada tahun 2010 ditandai dengan berkurangnya jumlah penduduk sekitar 1,97% dari tahun 2009.

Untuk konsumsi ubi jalar di Sumatera Utara tahun 1996-2010 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 13. Konsumsi Ubi Jalar di Sumatera Utara (1996-2010)

Tahun Total Konsumsi Ubi Jalar (Ton)

1996 33.127,46 1997 33.587,76 1998 34.439,51 1999 35.029,32 2000 33.735,94 2001 34.347,07 2002 40.280,05 2003 40.427,36 2004 41.219,42 2005 23.420,69 2006 24.022,64 2007 20.534,99 2008 17.085,43 2009 10.462,27 2010 16.617,22 Total 438.337,15 Rataan 29.222,48 Sumber : Lampiran 5

Dari Tabel 13 terlihat bahwa jumlah konsumsi ubi jalar Sumatera Utara terbesar di sepanjang tahun 1996-2010 terjadi pada tahun 2004 sebesar 41.219,42 Ton dengan jumlah konsumsi terendah di tahun 2010 sebesar 16.617,22 Ton. Total konsumsi ubi jalar di Sumatera Utara di sepanjang tahun 1996-2010 adalah sebesar 438.337,14986 Ton dengan rata-rata

konsumsi sebesar 29.222,48 Ton per tahunnya. Kondisi konsumsi ubi jalar Sumatera Utara diatas untuk lebih lanjutnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 10. Konsumsi Ubi Jalar di Sumatera Utara (1996-2010)

Pada Gambar 10 dapat dilihat bahwa kondisi konsumsi ubi jalar di Sumatera Utara tahun 1996-2010 mengalami kondisi yang fluktuatif. Dimana dari tahun 1996-2001 kondisi konsumsi ubi jalar relatif stabil hingga pada tahun 2002 mengalami peningkatan sampai tingkat yang paling tinggi terjadi pada tahun 2004 kemudian konsumsi ubi jalar terus mengalami penurunan hingga tahun 2009 kemudian naik lagi di tahun 2010.

Konsumsi ubi jalar pada tahun 1996-1999 mengalami peningkatan walaupun peningkatannya hanya sebesar 5,7%. Kenaikan konsumsi ini dibarengi dengan kenaikan penduduk pada tahun tersebut. Pada tahun

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Total Konsumsi Ubi Jalar (Ton)

2000 dan 2001 konsumsi mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 1999 yaitu masing-masing sebesar 3,96% dan 1,95%. Jumlah penduduk pada tahun tersebut juga mengalami penurunan sebesar 3,69% dan 1,95% dari tahun 1999.

Di tahun 2002-2004 konsumsi mengalami peningkatan dimana kenaikannya masing-masing konsumsi jika dibandingkan dengan tahun 1999 yaitu sebesar 14,98%, 15,41% dan 17,67%. Kenaikan tersebut dikarenakan jumlah penduduk juga bertambah dari tahun 2002-2004 sebesar 1,40%. Sedangkan pada tahun 2005-2009 konsumsi ubi jalar terus mengalami penurunan yaitu sebesar 74,62% dari tahun 2004. Penurunan ini berbanding terbalik dengan jumlah penduduk yang bertambah yaitu sebesar 9,23%. Konsumsi ubi jalar yang menurun dikarenakan masyarakat kembali beralih untuk mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Hal ini dikarenakan terjadinya surplus pada tahun 2007 yang menyebabkan harga beras turun.

Konsumsi di tahun 2010 dapat dikatakan rendah walaupun jika dibandingkan dengan tahun 2009 dimana ada kenaikan konsumsi sebesar 6.154,95 Ton, namun konsumsi ini masih sangat rendah dari konsumsi di tahun 2004. Dari analisis diatas dapat dilihat bahwa konsumsi ubi jalar dari tahun 1996-2010 hanya mengalami pertumbuhan sebesar 2,04%.

Konsumsi ubi jalar yang cenderung menurun disebabkan oleh beberapa faktor yaitu; (1) Bentuk makanan dari bahan ubi jalar masih sangat

Dokumen terkait