• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : MAKNA YANG TERSIRAT DALAM ARSITEKTUR MASJID

G. Gapura

Gapura berasal dari bahasa Arab yang berarti “Ghafura” yang memiliki arti Tempat pengampunan, dimana bisa digambarkan bahwa pintu kematian dapat terbuka kapan saja. sehingga ketika kita membuka pintu ini

(Gerbang) umat muslim terpanggil untuk melakukan ibadah serta dapat berdo’a

di dalam masjid ini.

Gapura pada Masjid Agung Lamongan ini berada disebelah timur Masjid menghadap alon-alon yang merupakan bangunan dengan bentuk Gapura China, sampai sekarang bangunan Gapura tetap terlihat kokoh.

H.Ragam Hias

Dengan diterimanya ajaran Islam sebagai penuntun hidup yang baru di Jawa, lahirlah beberapa ragam hias baru, yaitu kaligrafi dan penggayaan terhadap ragam hias.12 Hiasan-hiasan yang terdapat pada Masjid Agung ini merupakan sebuah ilustrasi dari cerita-cerita yang terdapat di dalam kitab-kitab agama. Ukiran-ukiran yang terdapat pada dinding dipahat sebagai bas-relief, yaitu pahatan yang menampilkan perbedaan bentuk dan gambar dari permukaan rata disekitarnya.13 Banyak ragam hias yang dihasilkan atau diperkaya oleh peradaban Islam. Namun, jika dipilah-pilah maka secara garis besar hanya ada beberapa jenis ragam hias Islam. Yaitu:

1. Huruf kaligrafi

12

Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, 33.

13

Meity Taqdir Qodratillah, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2011), 452.

66

2. Motif geometris 3. Motif tetumbuhan 4. Motif alam

Adapun motif manusia dan hewan apalagi lukisan mengenai Nabi dan Allah tidak boleh atau dihindarkan adanya di dalam Masjid. Karena untuk menghindari dari sikap dan kegiatan kemuyrikan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwasannya tiap daerah umumnya memiliki potensi ragam hias tersendiri, dan tidak ada keharusan untuk mencontoh ke tempat lain. Kehadiran ragam hias juga harus diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga suasana kekhidmatan dan

kekhusyu’an dalam beribadah tidak terganggu. 14

Di dalam masjid agung ini terdapat 44 tiang kayu polos, dan 8 kayu ukir. Yang mana dulunya kayu berukir ini hanyalah lapisan saja pada tahun 1980 an. Disisi lain terdapat juga bentuk lengkungan yang ada pada masjid agung ini, dengan jumlah 54 lengkungan. Juga terdapat 7 buah jam lonceng yang cukup besar dengan berbagai macam bentuk.

Dalam bab empat ini, terdapat empat kal dalam perkembngannya yaitu pada awal pembangunan (1908) kedua (1970) pembangunan menara qiblatain, ketiga (1982) pelebaran masjid sebelah timur dan utara, serta penambahan ukir- ukiran kaligrafi diatas dan disamping kanan kiri mihrab, keempat (2011) pembangunan dua menara kembar yang berada di depan Masjid tepatnya disisi kanan dan kiri Masjid.

14

BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

Sebagai penutup skripsi ini, penulis akan menyampaikan beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:

1. Sejarah berdirinya Masjid Agung Lamongan

Sejarah berdirinya Masjid Agung Lamongan ini didirikan pada tahun 1908 oleh Mbah Yai Mahmoed, Kemudian diwakafkan kepada Bpk Mastoer Asnawi yang merupakan seorang ulama besar waktu itu. Jika ditinjau dari struktur vertikal dan horizontal bangunan Masjid Agung Lamongan meliputi: a). Horizontal : menara, liwan, mihrab, pagar, perpustakaan, tempat wudhu laki- laki dan perempuan. b). Vertikal : pondasi, atap dan dinding.

2. Perkembangan arsitektur Masjid Agung Lamongan

Masjid Agung Lamongan mengalami empat kali pemugaran, yaitu pada tahun 1908 yang merupakan awal bangunan masjid Agung. Kemudian pada tahun 1970 dibangunlah menara yag sama persis dengan menara Qiblatain. Pada tahun 1982 masjid mengalami pelebaran di sebelah timur dan utara dan penambahan ukir-ukiran kaligrafi di atas mihrab yang bertuliskan ayat Al-

qur’an surat Ali Imran ayat 144, dan disisi kanan kiri terdapat tulisan Asmaul Husnah. Pada tahun 2011dibangunlah dua menara menara kembar dengan tinggi mencapai 53 meter yang dinisbatkan pada usia Nabi Muhammad Saw ketika hijrah dari Makkah ke Madinah.

68

Makna yang tersirat pada arsitektur Masjid Agung Lamongan dapat dilihat pada atap, kubah, tiang penyangga, mihrab, gapura, dan menara. Tegaknya menara kembar ini melambangkan kekuatan percaya diri dan memiliki kelebihan, karena dari dasarnya yang kokoh sehingga tidak mudah terombang- ambingkan angin meskipun sngat kencang.

B.Saran-saran

Dengan mengamati Arsitektur pada Masjid Agung Lamongan serta beberapa kajian persoalan yang muncul dari penelitian penulis, maka ada beberapa hal yang dapat penulis kemukakan sebagai saran antara lain:

1. Dari fakta dan data yang penulis dapatkan dalam kearsitekturan Masjid Agung Lamongan tidak hanya sekedar berwisata saja, melainkan mencobalah berwawancara dengan para pengurus-pengurus tentang arsitektur-arsitektur yang ada, agar kita dapat lebih memahami hubungan arsitek tersebut dengan budaya-budaya lain.

2. Mengharap kepada seluruh pengurus Masjid ini untuk tetap mengoptimalkan peran dan fungsi masjid dalam pembinaan keagamaan sehingga dapat berperan dan berfungsi sebagaimana mestinyan serta dapat makmur dan ramai para jamaahnya.

3. Penulis mengharap kepada masyarakat serta menyarankan kepada pengurus Masjid Agung Lamongan, agar selalu dapat menjaga kelestarian dan keindahan Masjid, baik dalam lingkungan maupun arsitekturnya. Karena dengan menjaganya nilai lebih dari masyarakat pasti akan lebih tampak.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

Al-Makassary, Ridhwan, et al. Masjid dan Pembangunan Perdamaian. Jakarta: CSRC, 2001.

Amin, Darori. Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media, 2000.

Arifin, Syamsul. “Pesantren Sebagai Saluran Mobilitas Sosial” Suatu Pengantar Penelitian. Universitas Muhammadiyah Malang, 2010.

Atmadi, Parmono, et al. Perkembangan Arsitektur Masjid dan Pendidikan Arsitek di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1997.

Azrohalh.blogspot.com/p/blog-page.html?m=1 (13 juni 2017).

Budihardjo, Eko. Menuju Arsitektur Indonesia. Bandug: Penerbit Alumni, 1996. Chamami, M. Rikza, et al. Diklat Kuliah Islam dan Kebudayaan Jawa .Semarang:

UIN Walisongo, 2015.

Djarwanto. Pokok-Pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknik Penelitian Skripsi. Jakarta: Liberty, 1990.

Faried, Mohammad. Lamongan Memayu Raharjaning Praja. Lamongan: Pemerintah Kabupaten Lamongan, 1994.

Fuad, Hasan. Ensiklopedia. Jakarta : Cipta Adi Pustaka, 1990.

Geoku Indo, “Arti dan pengertian Letak Geografis Indonesia”. Dalam http://indo

geografi.blogsport.co.id /2011/11 /arti-dan-pengertian Letak - geografis. html (20 Maret 2017).

Ghani, Abdul. dan M, Ilyas. Sejarah Madinah Munawwarah Bergambar. (Terj.). Madinah: Al Rasheed Printers, 2005.

Hambali, Achmad. Enam Figur ketua DPRD Kab. Lamongan (1951-2004). Lamongan: Sanggar Pustaka Lamongan, 2003.

Hamidah, Nur. “Arsitektur Masjid Yoni Al-Mubarok di Berbek Ngajuk”. Fakultas Adab : SPI, 2002.

Hendraningsih, et al. Peran Kesan dan Pesan Bentuk-Bentuk Arsitektur. Jakarta: Djambatan, 1982.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lamongan.(14 Juni 2017).

Ismunandar. Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Semarang: Dahara Prize, 1997. Juliadi. Masjid Agung Banten : Nafas Sejarah dan Budaya. Yogyakarta: Ombak,

2007.

Mardalis. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: PT Bumi Aksara, 1995.

Maryono, Irawan. Pencerminan Nilai Budaya dalam Arstektur di Indonesia. Jakarta: Djambatan, 1982.

Masfuk. Visi Misi dan Rencana Kebijakan Pembangunan Kab. Lamongan Lima Tahun ke Depan (1999-2004). Lamongan: 1999.

Maulana, Muhammad Robi. “Masjid Agung Baturrahman Kabupaten Banyuwangi, Studi tentang Sejarah dan Bentuk Arsitekturnya”. Fakultas Adab : SPI, 2002. Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Besar Bahasa Idonesia. Jakarta: PT. Gramedia

Pustaka Utama, 1991.

Poesponegoro, Djoened Marwati. dan Nugroho, Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia III Jakarta: Balai Pustaka 1993.

Poesponegoro, Marwati. Djoened, dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka 1993.

Prijotomo, Josef. Kembara Kawruh Arsitektur Jawa. Surabaya: Wastu Lanas Grafika, 2004.

Profil Masjid Agung Lamongan Jawa Timur Tahun 2014.

Qodratillah, Meity Taqdir. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2011.

Rachmawati, Aulia Dwi. “Masjid Sabilun Najah di Bebekan Timur Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo”. Fakultas Adab : SPI, 2015.

Rifa’i, A.Bachrun. Manajemen Masjid: Mengoptimalkan Fungsi Sosial Ekonomi Masjid. Bandung: Benang Merah Press, 2005.

Situmorang, Oloan. Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya. Angkasa Bandung, 1993.

Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Kansius, 1981. Spradley, P.James. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1997.

Sulistyowati, Indah. “Arsitektur Masjid Agung Lamongan (Studi tentang Akulturasi Budaya Dalam Arsitektur Masjid)”. Fakultas Adab: SKI, 2015.

Sumalyo, Yulianto. Arsitektur dan Monumen Sejarah Muslim. Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Press, 2000.

Sumintardja, Djauhari. Kompendium Sejarah Arsitektur. Bandung: Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan 1978.

Suryanegara, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah Wacana pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1996.

Susanta, Gatut. Membangun Masjid dan Mushola. Jakarta: Penebar Swadaya, 2007. Syafwandi. Menara Masjid Kudus dalam Tinjauan Sejarah dan Arsitektur. Jakarta:

Bulan Bintang, 1985.

Syamsudin, Agus. Profil Pelayanan Publik Kab. Lamongan. Lamongan: Bupati Lamongan, 2005.

Wiryoprawiro, Zein. M. Perkembangan Arsitektur Masjid di Jawa Timur. Surabaya : pt bina ilmu, 1986.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Penerbit PT Raja grafindo Persada, 2007.

Dokumen terkait