• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN

B. Hasil Penelitian

8) Gaya Belajar Assimillator

Kombinasi dari berpikir dan mengamati (thinking and watching). Anak dengan tipe Assimillator memiliki kelebihan memiliki kelebihan dalam memahami berbagai sajian informasi serta merangkumkannya dalam suatu format

yang logis, singkat dan jelas. Biasanya anak tipe ini kurang perhatian pada orang lain dan lebih menyukai ide serta konsep yang abstrak, mereka juga cenderung lebih teoritis.103

Dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’allim terdapat beberapa bagian yang menggambarkan karakter gaya belajar Assimillator ini, diantaranya:

a. Pelajar hendaknya memperhatikan tata-krama ketika berada satu

ruangan dengan pendidik, baik di tempat belajar maupun di tempat

lainnya.

Pelajar hendaknya duduk di hadapan pendidik dengan penuh tata krama. Misalnya duduk bersimpuh di atas kedua lututnya; duduk layaknya duduk tasyahud (posisi tahiyat dalam shalat) namun tanpa meletakkan kedua tangannya di atas kedua lutut; atau duduk bersila dengan sikap tawadhu’, tunduk, tenang dan khidmat.

Pelajar tidak menoleh ke sana-sini tanpa ada alasan yang penting (darurat); bahkan pelajar hendaknya menghadapkan diri secara penuh kepada pendidik, mendengarkan pendidik sambil memandangnya; mencerna (memahami) perkataan pendidik sehingga tidak perlu mengulangi perkataannya untuk kali kedua. 104

Di hadapan pendidik, pelajar tidak boleh meludah dan berdehem selagi memungkinkan; tidak membuang riak dari mulut, melainkan mengambil riak dengan sapu tangan ataupun bagian tepi baju. Jika bersin, pelajar sebaiknya melirihkan suara semaksimal mungkin dan menutupi wajahnya dengan sapu

103 Kolb, 132.

104 Hasyim Asy’ari, Pendidikan Pesantren Khas Pesantren, terjm, Rosidin, (Tangerang: Tsmart, 2017), hlm. 70

tangan. Jika menguap, sebaiknya pelajar menutupi mulutnya setelah berusaha menahannya semaksimal mungkin. 105

Diantara bentuk peghormatan kepada pendidik adalah pelajar tidak duduk di samping pendidik, di tmpat shalat ataupun di tempat tidur pendidik. Jika pendidik emerintah pelajar untuk duduk di tempat-tempat itu, pelajar tidak boleh langsung mnempatinya, kecuali jika pendidik memaksanya dengan paksaan yang sulit untuk ditolak, maka dalam kondisi seperti itu tidak mengapa pelajar menuruti perintah pendidik; namun dia harus kembali bersikap tata-krama kepada pendidik.106

Para ulama’ mendiskusikan dua hal, manakah yang lebih utama, menuruti perintah pendidik atau menetapi tata krama kepada pendidik? Pendapat yang unggul adalah memerinci jawaban, yaitu jika pendidik memerintahkan pelajar dengan paksaan yang tegas, maka yang lebih utama adalah melaksanakan perintah tersebut; namun jika tidak demikian, maka yang lebih utama adalah menetapi tata-krama terhada pendidik (yaitu pelajar tidak duduk di tempat-tempat khusus pendidik). Karena bisa jadi pendidik Cuma ingin menunjukkan penghormatan dan perhatian kepada pelajar; oleh karena itu, sudah sepantasnya pelajar mengimbangi sikap pendidik itu dengan sikap penuh penghormatan dan tata-krama terhadap pendidik.

b. Memberi catatan pada buku pelajaran tentang hal-hal yang dinilai penting. Serta memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar dengan semangat.

105 Hasyim Asy’ari, Pendidikan Pesantren Khas Pesantren, terjm, Rosidin, (Tangerang: Tsmart, 2017), hlm. 58

106 Hasyim Asy’ari, Pendidikan Pesantren Khas Pesantren, terjm, Rosidin, (Tangerang: Tsmart, 2017), hlm. 48

Apabila pelajar menjelaskan kitab-kitab ringkasan yang dihafal ( تاظوفحم تارصتحملا) dan menandai bagian-bagian yang sulit maupun materi-materi pelajaran yang penting, maka pelajar sebaiknya berpindah pada kitab-kitab yang isinya lebih luas (تاطوسبم) disertai belajar yang rutin dan memberi keterangan (catatan kaki) ketika membaca atau mendengar materi-materi pelajaran yang bagus; permasalahan-permasalahan yang rumit; masalah-masalah furu’ yang langka (ةبيرغ); solusi (jawaban) masalah-masalah yang rumit; maupun perbedaan-perbedaan di antara hokum-hukum yang kelihatan mirip (تاهباشتم ماكحا نيب قورفلا) dari seluruh bidang studi.107

Hendaknya semangat belajar (cita-cita) pelajar dalam mencari itu tinggi, sehingga tidak merasa puas dengan ilmu yang sedikit, jika memungkinkan untuk memperoleh ilmu lebih banyak. Pelajar tidak rela hanya menerima sedikit dari warisan para Nabi (yakni ilmu) serta tidak menunda-nunda untuk meraih faidah (ilmu pengetahuan) yang mungkin diraih, karena sikap menunda-nunda itu banyak dampak negatifnya. Karena sesungguhnya jika pelajar sudah meraih faidah tersebut pada saat ini, maka dia akan memperoleh faidah lain pada waktu berikutnya.

Pelajar hendaknya memanfaatkan waktu ketika dia senggang, bersemangat, sehat dan masih muda sebelum datangnya hal-hal yang menghalanginya (untuk belajar ilmu). Pelajar jangan sampai memandang dirinya dengan pandangan sempurna dan merasa tidak butuh kepada para endidik, karena yang demikian itu adalah pandangan yang bodoh dan tolol. Tokoh Tabi’in terkemuka, Sa’id bin Jubair RA berkata: “Seseorang masih disebut orang alim

107 Hasyim Asy’ari, Pendidikan Pesantren Khas Pesantren, terjm, Rosidin, (Tangerang: Tsmart, 2017), hlm. 69

selama dia belajar; ketika dia sudah tidak belajar dan merasa cukup (dengan ilmunya), maka sungguh dia itu bodoh sekali”. 108

c. Pelajar tidak boleh malu untuk bertanya maupun meminta penjelasan tentang materi palajaran yang tidak dipahami

Pelajar tidak boleh malu untuk bertanya perihal materi pelajaran yang sulit dipahami; atau meminta penjelasan tentang materi pelajaran yang tidak dimengerti, dengan lemah lembut, tutur kata yang bagus dan penuh tata-krama.

Pelajar tidak boleh bertanya tentang sesuatu yang bukan pada tempatnya, kecuali ada kepentingan (hajat) atau meyakini bahwa pendidik memperkenankan hal itu. Apabila pendidik tidak menjawab (pertanyaan yang diajukan), maka pelajar tidak boleh memaksanya, jika pendidik menjawab kyrang tepat (salah), maka pelajar tidak boleh menyanggah seketika itu juga.

Sebagaimana pelajar tidak boleh merasa malu untuk bertanya, pelajar tidak boleh malu untuk berkata: “Saya tidak paham”, ketika ditanya oleh pendidik, “Apakah engkau sudah paham”, jika pelajar memang belum paham. 109

d. Pelajar hatus mentaati ututan giliran (antrian) dan tidak boleh mendahului giliran orang lain tanpa seizinnya

Pelajar harus mentaati urutan giliran (antrian), sehingga tidak boleh mendahului giliran orang lain dengan tanpa seizin yang bersangkutan. Diriwayatkan bahwa ada shahabat Anshar datang kepada Rasulullah SAW yang bertanya kepada beliau, kemudian datanglah seseorang dari Bani Tsaqif untuk

108 Hasyim Asy’ari, Pendidikan Pesantren Khas Pesantren, terjm, Rosidin, (Tangerang: Tsmart, 2017), hlm. 70

109 Hasyim Asy’ari, Pendidikan Pesantren Khas Pesantren, terjm, Rosidin, (Tangerang: Tsmart, 2017), hlm. 58

bertanya kepada beliau juga. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Wahai saudaraku dari saqif, sesungguhnya orang Anshar ini telah mendahuluimu untuk bertanya, maka duduklah terlebih dahulu agar aku bisa memenuhi terlebih dahulu kebutuhan orang Anshar ini sebelum (memenuhi) kebutuhanmu”.

Al-Khatib al-Baghdadi berkata: “Bagi orang yang lebih dulu (datangnya) disunnahkan untuk mendahulukan orang asing atau berasal dari tempat yang jauh untuk menghormati orang itu”. Demikian juga jika ada orang yang lebih akhir datang itu memiliki kebutuhan yang mendesak (darurat), sedangkan orang yang lebih awal datangnya mengetahui hal tersebut, maka hendaknya dia mempersilahkan orang yang datang lebih akhir lebih akhir.110

Urutan giliran (antrian) didasarkan pada waktu kehadiran pelajar di majlis pendidik atau tempat belajar; dan hak giliran itu tidak gugur sebab kepergian pelajar yang bersangkutan untuk suatu keperluan mendesak, misalnya: buang hajat atau memperbaharui wudhu’, jika pelajar tersebut bermaksud kembali sesudah itu. Apabila ada dua pelajar yang sama-sama lebih dahulu datangnya dan mereka betengkar, maka harus diadakan pengundian; atau pendidik mendahulukan salah satu dari keduanya jika rekannya memang rela.

Dokumen terkait