• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

2.1.5 Gaya Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPS

Ada beberapa prinsip kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) salah satunya yaitu kegiatan yang berpusat pada siswa.Prinsip ini merupakan prinsip yang pertama. Pendidikan pada dasarnya adalah proses mengembangkan potensi peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran hendaknya dirancang untuk mengembangkan potensi tersebut.Siswa terlahir dengan memiliki potensi rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah berTuhan.Rasa ingin tahu dan imajinasi merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif.Sementara fitrah berTuhan merupakan cikal bakal untuk bertakwa kepada Tuhan.Mendorong siswa untuk mengungkapkan pengalaman, pikiran, perasaan, bereksplorasi, dan berekspresi merupakan wujud upaya pengembangan potensi tersebut. Di sisi lain, siswa berbeda dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman dan cara belajar. siswa tertentu lebih mudah belajar melalui dengar-baca (auditif), siswa lain melalui melihat (visual), sementara yang lain lagi melalui bergerak (kinestetik). Oleh karena itu, KBM perlu beragam sesuai karakteristik siswa tersebut.Ketika guru berceramah, hanya siswa dengan tipe auditiflah yang mengalami pembelajaran secara optimal.Supaya semua siswa mengalami peristiwa belajar, guru perlu menyediakan beragam pengalaman belajar.dengan cara ini perbedaan individual terakomodasi. Pada dasarnya, semua anak memiliki potensi untuk mencapai kompetensi.Jika sampai mereka tidak mencapai

kompetensi, hal itu bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi lebih banyak karena meraka tidak disediakan pengalaman belajar yang cocok dengan keunikan masing-masing karakteristik individu. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam sesuai karakteristik siswa. KBM perlu menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Artinya KBM memperhati-kan bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar, motivasi belajar, dan latar belakang sosial siswa. KBM perlu mendorong siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal. (Masnur Muslich, 2012:48)

Menurut peraturan menteri pendidikan nasional republik Indonesia nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam KTSP disebutkan bahwa prinsip penyusunan RPP harus memperhatikan perbedaan individu peserta didik yaitu RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik. Sudah jelas bahwasanya guru perlu mengetahui gaya belajar peserta didik agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif.

Dalam KTSP menyebutkan bahwa untuk pelaksanaan proses pembelajaran dalam mengelola kelas guru mengatur tempat duduk sesuai

karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, serta keaktivan pembelajaran yang akan dilakukan.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.

Berdasarkan beberapa kajian yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat dipahami bahwa gaya belajar siswa adalah cara yang dimiliki siswa untuk mendapatkan, mengolah, dan mempertahankan informasi dalam belajar, dimana cara tersebut berbeda-beda antara siswa satu dengan siswa yang lain sehingga menjadi karakter siswa tersebut. Mengetahui gaya belajar siswa sangat penting agar proses belajar mengajar dapat berjalan lebih efektif. Gaya belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas V adalah kebiasaan belajar siswa kelas V dalam menerima dan mengolah informasi baik dengan visual, auditori, dan kinestetik (vak) dalam pembelajaran IPS KD 2.2 Menghargai jasa dan peranan perjuanagan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, materi tentang persiapan kemerdekaan Indonesia dan perumusan dasar negara dan KD 2.3

menghargai jasa dan peranan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan, materi proklamasi kemerdekaan indonesia. Guru perlu mengetahui gaya belajar siswa agar metode mengajar yang diterapkan guru sesuai dengan gaya belajar siswa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

2.2 KAJIAN EMPIRIS

Penelitian analisis karakteristik gaya belajar ini diperkuat oleh jurnal penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Siti Nuryanti dan Indarini Dwi Pursitasari Vol 3 No 2 Tahun 2015 dengan ISSN 2302-2027 yang berjudul Hubungan Gaya Belajar dengan Keterampilan Berpikir Kritis dan Kemampuan Kognitif Siswa pada Mata Pelajaran Kimia di Kelas X SMKN 1 Bungku Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan secara positif antara gaya belajar dengan keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran kimia kelaas X SMKN 1 Bungku Tengah. Pengaruh yang diberikan variabel gayabelajar terhadap keterampilan berpikir kritis siswa adalah sebesar 11, 1%. (2) terdapat hubungan secara positif antara gaya belajar dengan kemampuan kognitif siswa pada mata pelajaran kimia kelas X SMKN 1 Bungku Tengah. Pengaruh yang diberikan terhadap variabel gaya belajar terhadap kemampuan kognitif siswa adalah sebesar 8,1 %.

Penelitian yang dilakukan oleh Ariesta Kartika Sari Vol. 1 No. 1 Tahun 2014 dengan ISSN 2407-4489 yang berjudul Analisis Karakteristik Gaya Belajar VAK (Visual, Auditorial, Kinestetik) Mahasiswa Pendidikan

Informatika Angkatan 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan gaya belajar mahasiswa angkatan 2014 prodi pendidikan informatika didominasi gaya belajar visual dikelas A yaitu 53%, auditori sebanyak 35% dikelas B, dan Visual di kelas C sebanyak 29%.

Penelitian yang dilakukan oleh Jumardi. Vol. 3 No. 1 Tahun 2014 yang berjudul Pengaruh Pendekatan Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar Sejarah Siswa. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data tentang pengaruh pendekatan pembelajaran dan gaya belajar terhadap hasil belajar sejarah. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa hasil pembelajaran siswa dengan gaya belajar visual lebih tinggi dari gaya belajar auditori. Ada interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan gaya belajar.

Penelitian yang dilakukan oleh Khosiyah Vol 9, No 1 Tahun 2012 yang berjudul Pengaruh Strategi Pembelajaran dan gaya Belajar terhadap Hasil Belajar Pendidikan agama Islam Siswa SD Inti No. 060873 Medan. Hasil belajar PAI siswa dengan gaya belajar visual lebih tinggi dibandingkan dengan auditori dan kinestetik. Terdapat interaksi antara srategi pembelajaran dengan gaya belajar siswa terhadap hasil belajar PAI.

Penelitian yang dilakukan oleh Sarvenaz Hatami, seorang kandidat Program TESL di Departemen Pendidikan Psikologi Universitas Albert, Kanada, yang berjudul Leraning Styles tertera bahwa gaya belajar dapat diukur dan digunakan sebagai alat penilaian belajar di dalam kelas.

Jurnal pendidikan yang ditulis oleh Abbas Pourhossein Gilakjani, Departemen Bahasa Inggris, Universitas Islam Azad, Lahijan, Iran, Vol. 2 No. 1 dengan ISSN 2162-6952 berjudul Visual, Auditory, Kinesthetic Learning Styles and Their Impacts on English Language Teaching. Dalam jurnal tersebut tertera bahwa guru hendaknya bisa mengajar dengan multi-gaya mengingat multi-gaya belajar setiap anak berbeda-beda. Hal ini bertujuan agar siswa sebagai pelajar dapat menerima informasi dan materi dengan baik.

Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Beth A. Rogowsky, dkk yang berjudul Matching Learning Style to Instructional Method: Effects on Comprehension vol 107 no 1 hasil penelitian menunjukkan bahwa belajar yang optimal terjadi jika diajarkan sesuai dengan gaya belajar mereka.

Dokumen terkait