• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gaya Kepemimpinan

Dalam dokumen perilaku organisasi (Halaman 132-142)

dan Manajemen Konflik

2.1 Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan adalah suatu gaya (style) yang digunakan oleh pemimpin dalam berhadapan dengan bawahan yang berorientasi pada tugas dan pada karyawan. (Stoner, 1992:362)

Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu pemimpin mempunyai gaya (style) atau tingkah laku sendiri yang

akan mewarnai perilaku dan tipe kepemimpinannya.

Fred Fliedler telah mengidentifikasikan tiga dimensi kemungkinan yang mendefinisikan faktor situasional utama (kunci) yang menemukan keefektifan kepemimpinan, Robins (1996:47) diterjemahkan oleh Hadyana Pujaatmaka. Itulah

hubungan pemimpin – anggota, struktur tugas, dan kekuasaan jabatan. Semua didefinisikan sebagai berikut :

1. Hubungan Pemimpin – Anggota

Tingkat kenyakinan, kepercayaan dan respek bawahan terhadap pemimpin mereka

2. Struktur Tugas

Sampai tingkat mana penugasan pekerjaan diprosedurkan (yakni struktur atau tidak struktur)

3. Kekuatan Posisi

Tingkat pengaruh yang dimiliki seorang pemimpin ada variabel kekuasaan seperti mempekerjakan, memecat, mendisiplinkan, mempromosikan dan menaikkan gaji.

Paul Hersey Ken Blanchard telah mengembangkan suatu model kepemimpinan yang disebut teori kepemimpinan situasional, yaitu suatu teori kemungkinan yang memusatkan perhatian pada kesiapan para pengikut Robins S.P (1995:50) terjemahan oleh Hadyana Pujaatmaka.

Kepemimpinan situasional menggunakan dua dimensi kepemimpinan yaitu :

1. Perilaku Tugas

Adalah kadar sejauhmana pimpinan menyediakan arahan kepada orang-orang dengan memberitahu mereka apa yang harus dilakukan, kapan melakukannya, dimana dan bagaimana melakukannya. Hal ini berarti pemimpin menyusun tujuan dan menetapkan peranan mereka.

2. Perilaku hubungan

Adalah kadar sejauhmana pimpinan melakukan hubungan dua arah dengan orang-orangnya seperti menyediakan dukungan, dorongan, gambaran-gambaran psikologi dan memudahkan perilaku.

Dalam menerapkan suatu gaya kepemimpinan ada anggapan bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan yang dianggap paling sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena gaya kepemimpinan pada situasi tertentu belum tentu sesuai dengan situasi lain.

Hersey dan Blanchard yang diterjemahkan oleh Agus Dharma (1995-187) memberikan definisi tentang tingkat kematangan bawahan yang terdiri dari dua dimensi sebagai berikut :

1. Kematangan pekerjaan merupakan kemampuan dalam hal pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan sesuatu. Orang-orang yang memiliki kematangan pekerjaan yang tinggi dalam bidang tertentu memiliki pengetahuan kemampuan dan pengalaman untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu tanpa arahan dari orang lain.

2. Kematangan psikologis merupakan kemauan untuk melakukan sesuatu. Hal inierat kaitannya dengan rasa yakin dan berikatan, orang-orang yang sangat matang dalam bidang psikologis tanggungjawab merupakan hal yang penting serta memiliki rasa yakin terhadap diri sendiri dan mereka tidak memerlukan dorongan ekstensif untuk mau melakukan hal-hal dalam bidang tersebut.

Menurut Sukanto (1982:290) ada empat gaya kepemimpinan yaitu :

1. Tipe Direktif

Tipe ini ditandai dengan adanya komunikasi satu arah. Pimpinan membatasi peran bawahan dengan menunjukkan kepada bawahan apa, kapan, dimana, dan bagaiman suatu

tugas yang hasur dilaksanakan. Pelaksanaan pekerjaan diawasi dengan ketat oleh pimpinan.

2. Tipe Konsultatif

Pimpinan tipe ini masih memberikan direktif yang cukup besar serta menetapkan keputusan-keputusan. Tipe ini mempergunakan komunikasi dua arah dan memberikan suportif terhadap bawahan, pimpinan mau mendengarkan saran dan keluhan bawahan mengenai keputusan yang diambil. Pelaksanaan keputusan tetap ada pada pimpinan 3. Tipe Partisipatif

Kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan antara pimpinan dan bawahan dalam keadaan seimbang. Pemimpin dan bawahan sama-sama terlibat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang ditandai dengan makin meningkatnya komunikasi dua arah. Pimpinan makin mendengarkan secara presentif terhadap bawahannya. Keikutsertaan bawahan dalam mengambil dan memecahkan masalah makin bertambah karena pemimpin berpendapat bahwa bawahan memiliki kecakapan dan pengetahuan yang cukup untuk penyelesaian tugas

4. Tipe Delegatif

Pemimpin mendiskusikan masalah yang dihadapi dengan bawahan dan selanjutnya mendelegasikan pengambilan keputusan seluruhnya kepada bawahan. Bawahan diberi wewenang untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan keputusannya sendiri. Sebab mereka dianggap telah memiliki kecakapan dan dipercaya untuk memikul tanggungjawab untuk mengarahkan dan mengelola dirinya sendiri.

III. Penutup

3.1 Evaluasi :

1. Gaya Kepemimpinan yang bagaimana yang tepat untuk staf administrasi (tenaga kerja tidak langsung) dan sebaliknya? Juga gaya kepemimpinan yang bagaimana untuk tingkat penyelia, dan manajer

2. Apa keterkaitan antara gaya kepemimpinan dengan semangat kerja maupun produktivitas?

Soal Latihan UAS :

1. Jelaskan pernyataan sebagai berikut “Perilaku adalah suatu fungsi dari interaksi individu dengan lingkungannya”

2. Pada model umum perilaku dalam organisasi merupakan interaksi karakteristik individu dengan karakteristik organisasi, jelaskan.

3. Jelaskan pernyataan sebagai berikut : Manusia berbeda perilakunya, karena :

a. Kemampuannya tidak sama.

b. Manusia mempunyai kebutuhan berbeda

c. Orang berpikir tentang masa depan dan membuat pilihan bagaimana bertindak

d. Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan pengalaman masa lalu dan kebutuhannya

e. Seseorang mempunyai reaksi senang dan tidak senang

4. Jelaskan dasar-dasar daya tarik antar orang (Interpersonal Atraction), seperti : kesempatan berinteraksi, status, kesamaan latar belakang, kesamaan sikap.

5. a. Jelaskan keterkaitan teori motivasi Herzgerg, Adelfer, dan Maslow

b. Kekuatan motivasi dari seseorang itu dapat berubah sewaktu-waktu. Hal ini disebabkan oleh faktor apa saja?

6. a. Kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi orang lain. Untuk mempengaruhi, membutuhkan kekuasaan. Bagaimana pendapat anda.

b. Salah satu tugas pemimpin adalah berani membuat keputusan – bagaimana pendapat anda.

c. “Ikan membusuk mulai dari kepala”

7. Bagaimanakah kriteria efektivitas organisasi bagi perguruan tinggi swasta (PTS)

8. Persepsi sangat mempengaruhi sikap, kepribadian seseorang, bagaimana pendapat anda?

9. a. Suatu pernyataan Steven R Covey ‘Behavior is Predicts future’. Bagaimana pendapat anda – dihubungkan dengan perilaku individu dalam organisasi.

b. Steven R. Covey juga menuliskan ‘if you want to small change work on your behavior, but if you want to quantum leap change ypur paradigms’. Bagaimana pendapat anda.

c. Ary Ginanjar Agustian dalam buku ESQ menuliskan salah satu pendapatnya ‘kecerdasan emosi (EO) memiliki peran yang jauh lebih penting dibandingkan kecerdasan intelektual (IQ), oleh karena itu maka manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelegensia yang baik (EQ plus IQ), dan penting pula penguasaan ruhiyah vertikal atau Spiritual Quotient (SQ)’ Bagaimana pendapat anda?.

10.Bagaimana mengubah budaya suatu organisasi, dapatkah budaya diubah? Jawabnya adalah dapat!

Mengubah budaya suatu organisasi adalah suatu hal yang luar biasa sukarnya, tetapi budaya itu dapat diubah. Misalnya, Lee Iacocca masuk Chrysler Corp. dalam tahun 1978 ketika

perusahaan tersebut tampaknya tinggal beberapa pekan lagi bangkrut. Diperlukan waktu lima tahun tetapi ia menerima budaya Chrysler yang konservatis, melihat kedalam (in ward looking), dan berorientasi rekayasa, dan kemudian dia mengubahnya menjadi budaya yang berorientasi – tindakan, tanggap pasar. Cerita ini telah diketahui banyak orang.

Perubahan itu perlu ~ perubahan kearah lebih baik. Karena harus kita sadari perubahan tak datang sendiri namun orang-orang yang bersangkutanlah yang mengusahakan perubahan tersebut.

Bukti-bukti yang ada mengemukakan bahwa perubahan budaya paling mungkin terjadi bila kebanyakan atau semua kondisi berikut ini ada, seperti:

Situasi kritis dramatis, Pergantian kepemimpinan, Organisasi yang muda dan kecil Budaya lemah.

a. Bagaimana pendapat anda untuk pernyataan bahwa budaya itu dapat diubah ?

b. Bagaimana komentar anda tentang kondisi untuk terjadinya perubahan?

c. Jika kondisi mendukung perubahan budaya, pertimbangan dan saran apa yang akan saudara rekomendasikan; pada poin berikut ini :

- figur/model peran

- penciptaan simbol, cerita, lambang dan ‘ritual’ organisasi

- sosialisasi nilai baru

- pergantian norma tak tertulis menjadi pengaturan format yang dijalankan dengan ketat

- tim kerja

Daftar Pustaka:

A. Robbins, Stephen P., 2001, Perilaku Organisasi, Jilid 1, Alih Bahasa oleh Hadyana Pujaatmaka dan Benyamin Molan, Penyunting Tanty Tarigan, Edisi Kedelapan, PT. Prehallindo, Jakarta.

B. ---, 2001, Perilaku Organisasi, Jilid 2, Alih Bahasa oleh Hadyana Pujaatmaka dan Benyamin Molan, Penyunting Tanty Tarigan, Edisi Kedelapan, PT. Prehallindo, Jakarta.

C. ---, 1994, Teori Organisasi: Struktur, Desain dan Aplikasi, terjemahan oleh Udaya Yusuf, Edisi Ketiga, Jakarta. Penerbit Arcan.

D. Gibson, James L., et.al., Organization : Behavior, Structure, Process, BPI, Plano.

E. ---, et.al., 1997, Organisasi, Alih Bahasa Djakarsih, Agus Dharma, Cetakan Ke Sepuluh, Penerbit Erlangga, Jakarta.

F. Agustian, Ary Ginanjar, 2003, ESQ, Cetakan ke Sepuluh, Penerbit Arga, Jakarta.

G. ---, 2004, ESQ Power, Cetakan ke Enam, Penerbit Arga, Jakarta.

H. Sulaksono, Hary, 2003, Modul Kuliah Perilaku Organisasi, STE. Mandala-Jember, Tidak dipublikasikan.

I. Thoha, Miftah, 1993, Perilaku Organisasi – Konsep Dasar dan Aplikasinya, Cetakan Ke Enam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

J. Nimran, Umar, 1999, Perilaku Organisasi, Edisi Revisi, Cetakan Kedua, CV, Citra Media, Surabaya.

K. Greenberg, J. & Baron, R.A., 2000, Behavior in Organizations : Understanding and Managing the Human Side or Work., 7th Edition, Upper Saddle River, NY : Prentice Hall.

Disarankan membaca buku Rhenald Kasali; Change dan RE-CODE YOUR CHANGE DNA

I. Pendahuluan

1.1 Deskripsi Singkat

Bab 13 ini dimaksudkan untuk memberi pengertian dasar tentang Perilaku Organisasi kepada para mahasiswa. Hal-hal yang dibicarakan antara lain studi kasus dalam Perilaku Organisasi.

1.2. Standar Kompetensi

Setelah mengikuti kuliah selama satu semester secara aktif mahasiswa mampu memiliki bekal pengetahuan konseptual dan teoritis tentang perilaku organisasi, mengembangkan cara pikir (analitis dan integratif) dalam mengevaluasi dan memanfaatkan teori-teori dan konsep-konsep tersebut dalam berbagai situasi pengambilan keputusan yang menyangkut sumber daya manusia organisasi; memiliki pengetahuan konseptual yang memadai untuk melakukan evaluasi terhadap hasil penelitian dan/atau perkembangan teori dibidang perilaku organisasi.

1.3 Kompetensi Dasar

Setelah mengikuti kuliah dengan materi ini (pada pokok & sub pokok bahasan) mahasiswa mampu mempraktekkan dan menganalisis teori yang diperoleh dalam bedah studi kasus.

II. Penyajian

2.1 Studi Kasus Perilaku Organisasi

Dalam dokumen perilaku organisasi (Halaman 132-142)

Dokumen terkait