TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
3. Gaya Kepemimpinan Transformasional
a. Pengertian gaya kepemimpinan transformasional
Menurut O’Leary (Martha Andy Pradana, 2013), kepemimpinan transformasional adalah gaya keopemimpinan yang digunakan oleh seseorang manajer bila dia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo organisasi mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.
Menurut bass (Yukl.2010), kepemimpinan transformasional adalah suatu keadaan dimana para pengikut dari seseorang pemimpin transformasional merasa adanya kepercayaan, kekaguman kesetiaan, dan hormat terhadap pemimpin tersebut, dan mereka termotivasi untuk
melakukan lebih dari pada yang awalnya diharapkan mereka.
Menurut Robbins dan Judge (2010), pemimpin transformasional adalah pemimpin yang menginspirasi para pengikutnya untuk menyampaikan kepentingan pribadi mereka demi kebaikan organisasi dan mampu memiliki pengaruh yang luar biasa pada diri para pengikutnya.
b. Ciri ciri gaya kepemimpinan transformasional
Ciri ciri pemimpin transformasional menurut Robbins dan Judge “2010”, 1. Pengaruh ideal adalah perilaku pemimpin yang memberikan visi dan
misi, memenculkan rasa bangga, serta mendapatkan respek dan kepercayaan bawahan.
2. Motivasi inspirasional adalah perilaku pemimpin yang mampu mengkomunikasikan harapan yang tinggi, menyampaikan vivi bersama secara menarik dengan menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan upaya bawahan dan menginspirasi bawahan untuk mencapai tujuan yang menghasilakan kemajuan penting bagi organisasi.
3. Stimulasi intelektual adalah perilaku pemimpin yang mampu meningkatkan kecerdasan bawahan untuk meningkatkan kecerdasan bawahan dan inovasi mereka, meningkatkan rasionalitas dan pemecahan masalah secara cermat.
4. Pertimbangan individual adalah perilaku pemimpin yang memberikan perhatian pribadi, memperlakukan masing-masing bawahan secara
individual sebagai seorang individu dengan kebutuhan, kemampuan dan aspira yang berbeda, serta melatih dan memberikan saran.
c. Prinsip prinsip gaya kepemimpinan transformasional
1. Simplifikasi, keberhasilan dari kepemimpinan diawali dengan sebuah visi yang akan menjadi cermin dan tujuan bersama.
2. Motivasi, Kemampuan untuk mendapatkan komitmen dari setiap orang yang terlibat terhadap visi yang sudah dijelaskan adalah hal kedua yang perlu kita lakukan.
3. Fasilitas, dalam pengertian kemampuan untuk secara efektif memfasilitasi “pembelajaran” yang terjadi di dalam organisasi secara kelembagaan, kelompok, ataupun individual. Hal ini akan berdampak pada semakin bertambahnya modal intektual dari setiap orang yang terlibat di dalamnya.
4. Inovasi, yaitu kemampuan untuk secara berani dan bertanggung jawab melakukan suatu perubahan bilamana diperlukan dan menjadi suatu tuntutan dengan perubahan yang terjadi.
5. Mobilitas, yaitu pengerahan semua sumber daya yang ada untuk melengkapi dan memperkuat setiap orang yang terlibat di dalamnya dalam mencapai visi dan tujuan. Pemimpin transformasional akan selalu mengupayakan pengikut yang penuh dengan tanggung jawab.
6. Siap siaga, yaitu kemampuan untuk selalu siap belajar tentang diri mereka sendiri dan menyambut perubahan dengan paradigma baru yang positif.
7. Tekad, yaitu tekad bulat untuk selalu sampai pada akhir, tekad bulat untuk menyelesaikan sesuatu dengan baik dan tuntas.
Untuk ini tentu perlu pula didukung oleh pengembangan disiplin spiritualitas, emosi, dan fisik serta komitmen.
d. Indikator gaya kepemimpinan transformasional
1. Kepercayaan, adalah suatu sikap yang ditujukan oleh manusia saat ia merasa cukup tau dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran.
2. Menciptakan rasa aman, adalah menciptakan atau menjamin keamanan individu dan orang lain
3. Bersikap menghargai, adalah dimana mampu menghargai seseorang tanpa membeda bedakan.
e. Macam-macam Gaya Kepemimpinan
1. Demokratis, Gaya ini sebenarnya mencoba mengambil masukan dari setiap anak buahnya agar mampu mendapatkan keputusan terbaik dan paling banyak didukung.
2. Visioner, mampu memberikan ide dan rencana yang dapat dimanfaatkan untuk masa depan perusahaan.
3. Multikultular, diaplikasikan dalam perusahaan dengan karyawa yang memiliki lintas budaya.
4. Strategis, identk dengan tim riset karena mampu merancang pola dinamis agar sesuai perkembangan pasar.
5. Suportif, memiliki berbagai ciri-ciri serta mampu menguntungkan
pihak bawahan juga.
6. Otokratis, memiliki kuasa penuh didalam memimpin. Akan mengambil keputusan secara mutlak tanpa meminta masukan dari bawahan.
7. Transaksional, berfokus pada aturan atau kontrak kerja yang telah disetujui pihak karyawan.
4. Kinerja
a. Pengertian Kinerja
Menurut Sutrisno (2012), kinerja adalah hasil kerja yang telah dicapai seseorang dari tingkah laku kerjanya dalam melaksanakan aktivitas kerja. Menurut (Mathis dan Jackson,2011) menjelaskan bahwa kinerja adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan.
Selain itu (Mathis dan Jackson,2011) menjelaskan ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan tersebut, tingkat usaha yang dicurahkan dan dukungan organisasi yang diterimanya. Kinerja seseorang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan karyawan, inisiatif, pengalaman kerja dan motivasi. Hasil kerja seseorang akan memberikan umpan balik bagi orang itu sendiri untuk selalu aktif melakukan kerjasamanya secara baik.
Kinerja diharapkan menghasilkan mutu pekerjaan yang baik serta jumlah pekerjaan yang sesuai dengan standar. Tingkat pendidikan karyawan sangatlah mempengaruhi kinerjanya, karena dengan pendidikan orang lebih mempunyai wawasan yang lebih luas dan umumnya tingkat pergaulannya juga lebih luas. Selain itu kemampuan
seseorang untuk berinisiatif dan berinovasi sangat berpengaruh terhadap kinerjanya (Simamora,2012).
Untuk mengetahui kinerja karyawan, maka perlu dilakukan proses penilaian kinerja. Mathis dan Jackson (2010) mendefinisikan penilaian kinerja sebagai proses mengevaluasi seberapa baik karyawan melakukan perkerjaan mereka jika dibandingkan dengan seperangkat standar dan kemudian mengkomunikasikan informasi tersebut kepada karyawan.
merupakan cerminan yang paling sederhana dari motivasi.
b. Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja adalah alat yang berguna untuk tidak hanya untuk mengevaluasi kinerja dari para karyawan tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi kalangan karyawan.Teknik paling tua yang digunakan oleh manajemen untuk meningkatkan kinerja adalah penilaian (appraisal).Motivasi karyawan untuk bekerja, mengembangkan kemampuan pribadi, dan meningkatkan kemampuan dimasa mendatang dipengaruhi oleh umpan balik mengenai kinerja masa lalu dan pengembangan. Penilaian kinerja (performappraisal) adalah proses dengannya organisasi mengevaluasi pelaksanaan kerja individu (Simamora,2012).
Menurut Simamora (2012) ada beberapa faktor yang mempengaruhi penilaian kinerja antara lain :
Karakteristik situasi
Deskripsi pekerjaan, spesifikasi pekerja dan standar kinerja
pekerjaan
Tujuan-tujuan penilaian kinerja.
Sikap para karyawan dan manajer terhadap evaluasi Menurut Bernardin Jhon (1976) dalam Rivai dan Ella (2011) terdapat tiga kriteria hasil kinerja yang dapat digunakan yaitu :
1. Kualitas, tingkat dimana hasil aktivitas yang dilakukan mendekati sempurna.
2. Kuantitas, jumlah yang dihasilkan dan dinyatakan dalam istilah.
3. Ketepatan waktu, tingkat suatu aktivitas diselesaikan pada awal yang di inginkan.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Menurut Mahmudi (2012) bahwa kinerja merupakan suatu konstrukmultidimensional yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya.Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah:
1. Faktor Personal/Individu, meliputi pengetahuan, keterampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu.
2. Faktor Kepemimpinan, meliputi; kualitas dalam memberikan dorongan, semangat arahan, dan dukungan yang memberikan manajer dan tean leader.
3. Faktor Tim, meliputi; kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan dan keeratan anggota tim.
4. Faktor Sistem, meliputi; sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi, dan kultur kinerja dalam organisasi.
5. Faktor Kontekstual (situasional) meliputi; tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal.
Pada sistem penilaian kinerja tradisional, kinerja hanya dikaitkan dengan faktor personal, namun dalam kenyataannya kinerja sering diakibatkan oleh faktor-faktor lain diluar faktor personal, seperti sistem, situasi, kepemimpinan,atau tim.