• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. HIV/AIDS

2.1.4. Gejala Klinis

Masa inkubasi 6 bulan sampai 5 tahun, Window period selama 6-8 minggu adalah waktu saat tubuh sudah terinfeksi HIV tetapi belum terdeteksi oleh pemeriksaan laboratorium, seorang dengan HIV dapat bertahan sampai dengan 5 tahun, jika tidak diobati maka penyakit ini akan bermanifestasi sebagai AIDS, Gejala

klinis muncul sebagai penyakit yang tidak khas seperti : Diare, Kandidiasis mulut yang luas, Pneumonia interstisialis limfositik, Ensefalopati kronik.

Ada beberapa gejala dan tanda mayor (menurut WHO) antara lain :kehilangan berat badan (BB) > 10%, Diare Kronik > 1 bulan, Demam > 1 bulan. Sedangkan tanda minornya adalah : Batuk menetap > 1 bulan, Dermatitis pruritis (gatal), Herpes Zoster berulang, Kandidiasis orofaring, Herpes simpleks yang meluas dan berat, Limfadenopati yang meluas. Tanda lainnya adalah : Sarkoma Kaposi yang meluas, Meningitis kriptokokal.

Gejala AIDS timbul 5-10 tahun setelah terinfeksi HIV. Beberapa orang tidak mengalami gejala saat terinfeksi pertama kali. Sementara yang lainnya mengalami gejala-gejala seperti flu, termasuk demam, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, lemah dan pembengkakan saluran getah bening. Gejala-gejala tersebut biasanya menghilang dalam seminggu sampai sebulan, dan virus tetap ada dalam kondisi tidak aktif (dormant) selama beberapa tahun. Namun, virus tersebut secara terus menerus melemahkan sistem kekebalan, menyebabkan orang yang terinfeksi semakin tidak dapat bertahan terhadap infeksi-infeksi oportunistik.

2.1.5. Penularan

Penyakit ini menular melalui berbagai cara. Antara lain melalui cairan tubuh seperti darah, cairan genitalia, cairan sperma dan ASI. Virus terdapat juga pada saliva, air mata dan urin tapi dengan konsentrasi yang sangat rendah. HIV tidak dilaporkan terdapat dalam air mata dan keringat.

Terdapat tiga cara penularan HIV yaitu :

a. Hubungan seksual; baik secara vagina, oral, maupun anal dengan seorang pengidap. Ini adalah cara yang paling umum terjadi, meliputi 70-80% dari total kasus sedunia. Penularan lebih mudah terjadi apabila terdapat lesi penyakit kelamin dengan ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes genitalis, sifilis, gonorea, klamidia, kankroid, dan trikomoniasis.

Dari penelitian para pakar ( Yasmin, 1987 dalam Nasution R., 1990) ternyata bahwa pria homoseks penderita AIDS mempunyai pasangan seksual yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pria homosekseks sehat, dalam penelitian ini juga ditunjukkan bahwa pria yang melakukan hubungan seksual melalui anus lebih mudah terinfeksi. Tampaknya hubungan homoseksual merupakan cara yang paling berbahaya karena ternyata 90% mitra seksual orang-orang dengan HIV positif mengalami penularan (Montagnier, 1987 dalam Nasution R., 1990).

Risiko pada seks anal lebih besar dibanding seks vagina, dan risiko lebih besar pada receptive daripada insertive. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Cáceres & van Griensven, (1994); Ostrow, DiFranceisci, Chmeil, Wagstaff, & Wesch (1995) bahwa risiko yang ditimbulkan kepada mitra insertif selama hubungan anal jauh lebih rendah dari risiko terhadap mitra reseptif. Diantara beberapa pola penularan yang biasa terjadi, yang paling sering adalah hubungan seksual (95%) (Kalicchman 1998).

Secara teoritis cara penularan melalui hubungan seksual yang paling rawan adalah dengan teknik anal-penis (ano genital), karena teknik ini memungkinkan

terjadinya luka pada rektum. Teknik ini pada dunia barat diperkirakan lebih sering dilakukan oleh kaum homoseksual, ditambah lagi bila tidak memakai pelindung (kondom) dalam praktek hubungan seksualnya. . Di berbagai macam sampel dan metodologi penelitian, studi menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari pria melaporkan melakukan hubungan seks anal terakhir tanpa kondom (Kelly, St Lawrence, & Brasfield, 1991; Lemp et al, 1994;.. Ostrow et al, 1995 dalam Kalicchman 1998). sehingga dapat dimengerti jika insiden pada kelompok ini relatif tinggi

b. Kontak langsung dengan darah atau produk darah/jarum suntik;

b.1 Tranfusi darah/produk darah yang tercemar HIV, risikonya sangat tinggi sampai 90%. Ditemukan sekitar 3-5% dari total kasus sedunia

b.2 Pemakaian jarum suntik tidak steril/pemakaian bersama jarum suntik dan sempritnya pada para pecandu narkotika suntik. Risikonya sekitar 0,5-1% dan terdapat 5-10% dari total kasus sedunia

b.3 Penularan lewat kecelakaan, tertusuk jarum pada petuga kesehatan, risikonya kurang dari 0,5% dan telah terdapat 0,1% dari total kasus sedunia c. Secara vertikal;, dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya, baik selama hamil,

saat melahirkan, atau setelah melahirkan. Risiko sekitar 25-40% dan angka transmisi melalui ASI dilaporkan lebih dari sepertiga.

2.1.6. Diagnosis

Diagnosis dini untuk menemukan infeksi HIV dewasa ini diperlukan mengingat kemajuan-kemajuan yang diperoleh dalam hal pathogenesis dan perjalanan penyakit dan juga perkembangan pengobatan.

Keuntungan menemukan diagnosis dini ialah:

a. Intervensi pengobatan fase infeksi asimtomatik dapat diperpanjang b. Menghambat perjalanan penyakit ke arah AIDS

c. Pencegahan infeksi oportunistik, Konseling dan pendidikan untuk kesehatan umum d. Penyembuhan (bila mungkin) hanya dapat terjadi bila pengobatan pada fase dini.

Pada orang yang akan melakukan tes HIV atas kemauan sendiri atau karena saran dokter, terlebih dahulu perlu dilakukan konseling sebelum dilakukan tes. Bila semua berjalan baik, maka tes HIV dapat dilaksanakan pada individu tersebut dengan persetujuan yang bersangkutan.

Diagnosis dini ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium dengan petunjuk dari gejala-gejala klinis atau dari adanya perilaku risiko tinggi individu tertentu. Diagnosis laboratorium dapat dilakukan dengan 2 metode:

a. Langsung: yaitu isolasi virus dari sampel, umumnya dilakukan dengan menggunakan mikroskop elektron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara deteksi antigen virus yang makin populer belakangan ini ialah polymerase chain reaction (PCR).

b. Tidak langsung: dengan melihat respon zat anti spesifik, misalnya dengan ELISA, Western Blot immunofluorescent assay (IFA), atau radioimmunoprecipitation assay (RIPA).

AIDS merupakan stadium akhir infeksi HIV, penderita dinyatakan sebagai AIDS bila dalam perkembangan infeksi HIV selanjutnya menunjukkan infeksi-infeksi dan kanker oportunistik yang mengancam jiwa penderita, selain infeksi dan kanker dalam penetapan CDC 1993, juga termasuk ensefalopati, sindrom kelelahan yang berkaitan dengan AIDS dan hitungan CD4 <200/ml. CDC menetapkan kondisi dimana infeksi HIV sudah dinyatakan sebagai AIDS.

2.1.7. Pencegahan

Pada prinsipnya pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah penularan virus HIV melalui perubahan perilaku seksual yang terkenal dengan istilah “ABC” yang telah terbukti mampu menurunkan percepatan penularan HIV, terutama di Uganda dan beberapa negara Afrika lain. Prisnip „ABC” ini telah dipakai dan dibakukan secara internasional, sebagai cara paling efektif mencegah HIV lewat hubungan seksual. Prinsip “ABC” itu adalah :

“A” : Anda jauhi seks sampai anda kawin atau menjalin hubungan jangka panjang dengan pasangan (Abstinesia)

“B” : Bersikap saling setia dengan pasangan dalam hubungan perkawinan atau hubungan jangka panjang tetap (Be faithful)

“C” : Cegah dengan memakai kondom yang benar dan konsisten untuk penjaja seks atau orang yang tidak mampu melaksanakan A dan B (Condom)

Untuk penularan non seksual berlaku prinsip “D” dan “E” yaitu : “D” : Drug; “say no to drug” atau katakan tidak pada napza/narkoba

“E” : Equipment; “no sharing” jangan memakai alat suntik secara bergantian

Belum ada pengobatan untuk infeksi ini. Obat-obat anti retroviral digunakan untuk memperpanjang hidup dan kesehatan orang yang terinfeksi. Obat-obat lain digunakan untuk melawan infeksi oportunistik yang juga diderita.

Konsekuensi yang mungkin terjadi pada orang yang terinfeksi yaitu hampir semua orang yang terinfeksi HIV akhirnya akan menjadi AIDS dan meninggal karena komplikasi-komplikasi yang berhubungan dengan AIDS

Konsekuensi yang mungkin terjadi pada janin dan bayi yaitu 20-30% dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan terinfeksi HIV juga dan gejala-gejala dari AIDS akan muncul dalam satu tahun pertama kelahiran. Dua puluh persen dari bayi-bayi yang terinfeksi tersebut akan meninggal pada saat berusia 18 bulan. Obat antiretroviral yang diberikan pada saat hamil dapat menurunkan risiko janin untuk terinfeksi HIV dalam proporsi yang cukup besar.

Kehamilan pada ibu-ibu dengan HIV positif akan berpengaruh buruk bagi bayinya, karena itu Ibu penderita AIDS atau HIV positif, dianjurkan untuk tidak hamil atau bila hamil perlu dipertimbangkan secara hukum peraturan yang memperbolehkan dilakukannya pengguguran kandungan (indikasi medis), hal ini dengan sendirinya akan menurunkan morbiditas pada anak (Nasution,R., 1990)

Berdasarkan situasi epidemic yang dijelaskan sebelumnya, kita ketahui bahwasannya Indonesia telah memasuki epidemik terkonsentrasi maka dalam

rangka meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS yang lebih intensif, menyeluruh, terpadu, dan terkoordinasi, dibentuklah Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) (Peraturan Presiden/Perpres RI no.75 tahun 2006). Komisi Penanggulangan AIDS Nasional berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden.

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional bertugas :

a. Menetapkan kebijakan dan rencana strategis nasional serta pedoman umum pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan AIDS.

b. Menetapkan langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan.

c. Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan penyuluhan, pencegahan, pelayanan, pemantauan, pengendalian, dan penanggulangan AIDS.

d. Melakukan penyebarluasan informasi mengenai AIDS kepada berbagai media massa, dalam kaitan dengan pemberitaan yang tepat dan tidak menimbulkan keresahan masyarakat.

e. Melakukan kerjasama regional dan internasional dalam rangka pencegahan dan penanggulangan AIDS.

f. Mengkoordinasikan pengelolaan data dan informasi yang terkait dengan masalah AIDS.

g. mengendalikan, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan AIDS.

h. memberikan arahan kepada Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam rangka pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan AIDS.

Dalam melaksanakan tugasnya, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan instansi Pemerintah Pusat maupun instansi Pemerintah Daerah, dunia usaha, organisasi non pemerintah, organisasi profesi, perguruan tinggi, badan Internasional, dan/atau pihak-pihak lain yang dipandang perlu, serta melibatkan partisipasi masyarakat.

Kecenderungan epidemic HIV ke depan menggambarkan perubahan penularan HIV, dimana selain populasi kunci (WPS, Pelanggan, LSL dan Penasun) yang ditangani selama ini, penting pula memperhatikan peningkatan HIV pada LSL, dengan adanya Perpres no.75 tahun 2006 tersebut menandai terjadinya intensifikasi penanggulangan AIDS. Keanggotaan KPA Nasional diperluas dengan mengikutsertakan masyarakat sipil. Perkembangan kebijakan-kebijakan yang terjadi mendorong berkembangnya layanan pencegahan serta perawatan, dukungan serta pengobatan. Cakupan program meningkat , namun ternyata masih ada kesenjangan yang besar untuk mencapai target universal acces. Dengan adanya dukungan dana tambahan baik di tingkat pusat maupun daerah dan bantuan internasional seperti Global Fund, tampaknya universal acces diharapkan akan dapat dicapai sekalipun setelah tahun 2010.

Dalam rangka menghadapi tantangan dimana cakupan dan efektifitas program untuk mencapai universal access belum memadai, keberlangsungan program belum

dapat dipastikan, sistem layanan kesehatan dan komunitas masih lemah, masih perlu peningkatan tata kelola kepemerintahan yang baik, masih perlu peningkatan lingkungan kondusif. Maka KPAN menyusun suatu Strategi dan Rencana Aksi Nasional (SRAN) penanggulangan HIV/AIDS 2010-2014, Strategi ditujukan untuk mencegah dan mengurangi resiko penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup, serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat, agar individu dan masyarakat menjadi produktif dan bermanfaat untuk pembangunan. Skenario SRAN ini pada 2014 adalah bahwa 80% populasi kunci terjangkau oleh program yang efektif dan 60% populasi kunci berperilaku aman.

Kerangka program SRAN penanggulangan HIV dan AIDS tahun 2010-2014 terdiri atas empat area yaitu :

a. Pencegahan. Kegiatan pokok : Pencegahan penularan HIV melalui transmisi seksual, melalui alat suntik, pencegahan penularan di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan, pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi, pencegahan penularan dikalangan pelanggan pekerja seks melalui tempat kerja, pencegahan penularan HIV pada pelanggan di kalangan pekerja imigran dan orang muda beresiko usia 15-24 tahun.

b. Perawatan, dukungan dan Pengobatan. Kegiatan pokok : Penguatan dan pengembangan layanan kesehatan serta koordinasi antar layanan, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, pengobatan antiretroviral (ARV), dukungan psikologis dan sosial, serta pendidikan dan pelatihan ODHA.

c. Program mitigasi dampak. Kegiatan pokok : Mitigasi dampak.

d. Program peningkatan lingkungan yang kondusif. Kegiatan pokok : Penguatan kelembagaan dan manajemen, manajemen program meliputi kegiatan perencanaan, implementasi dan evaluasi program dengan memegang prinsip keterbukaan informasi, peran serta dan partisipasi, sinkronisasi kebijakan, pengembangan kebijakan baru dan mitigasi kebijakan.

Dalam SRAN juga telah diperhitungkan jumlah kebutuhan prasarana pencegahan, perawatan dan pengobatan yang meliputi outlet kondom, layanan VCT, layanan IMS, layanan KTS (Konselling Test Sukarela), layanan KTPK (Konselling Test yang diprakarsai oleh Petugas Kesehatan), LJJS (Layanan Jarum Suntik Steril) dan layanan PTRM (Program Terapi Rumatan Metadon).

Sampai dengan bulan Desember 2011, sudah tersedia layanan HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 500 layanan KTS termasuk layanan KTPK,. 74 layanan PTRM, 194 LJJS, 643 layanan IMS dan VCT, 90 layanan Pencegahan penularan dari ibu ke anak dan layanan 223 layanan kolaborasi TB-HIV.

Layanan konselling dan tes HIV di Sumatera Utara ada 43 layanan, diantaranya ada 11 layanan di kota Medan, salah satunya adalah Klinik Veteran Medan. Penanganam masalah HIV/AIDS juga harus berdasarkan pendekatan kesehatan masyarakat melalui upaya pencegahan primer, sekunder dan tertier. Pemerintah sendiri dalam hal ini sudah melakukan banyak program dalam penanggulangan HIV/AIDS baik untuk kabupaten/kota yang bekerjasama dengan WHO dan sejumlah LSM (Lembaga Sosial Masyarakat).

Ada 6 (enam) program yang dilaksanakan untuk menanggulangi permasalahan HIV/AIDS yaitu Program KIE (Knowledge, Information dan Education) = BCC (Behaviour Change Communication) = KPP (Komunikasi Perubahan Perilaku), Program Kondom 100%, Program Klinik IMS (Infeksi Menular Seksual), Program Harm Reduction, Program VCT (Voluntary Counselling & Testing), dan Program CST (Care, Support & Treatment Nasional, 2006).

Salah satu program tersebut yang juga merupakan kerjasama antara pemerintah dan LSM yang sangat populer di seluruh Indonesia dan sampai saat ini terus dikembangkan adalah program pengadaan Klinik IMS dan VCT. Salah satunya adalah Klinik Veteran Medan. Layanan kesehatan IMS merupakan kegiatan pemeriksaan dan pengobatan rutin masalah IMS bagi pekerja seks perempuan, pria dan waria. Program ini dilaksanakan di Puskesmas atau klinik yang sudah ada di wilayah terdekat dengan konsentrasi sebaran populasi beresiko. Layanan kesehatan IMS memiliki fungsi kontrol terhadap penularan IMS agar penularan IMS dapat dipersempit dan untuk mengendalikan laju penularan IMS-HIV/AIDS (Depkes RI, 2004). Layanan VCT mencakup pre-test konselling, testing HIV, dan post-test konselling. Kegiatan tes dan hasil tes pasien harus dijalankan atas dasar prinsip kerahasiaan (KPA Nasional, 2006).

Klinik Veteran sebagai klinik IMS dan VCT dibawah naungan Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, dalam kegiatannya selain memberi pelayanan di Klinik juga secara rutin melakukan kegiatan mobile ke lokasi lokasi prostitusi di wilayah kerjanya, rata-rata 2 kali dalam sebulan, dan bila ada suatu program yang

mengharuskan datang ke lokasi prostitusi misalnya program pemberian ARV pada orang-orang yang berisiko. Klinik Veteran juga memberikan kondom gratis kepada orang-orang yang berisiko.

Layanan klinik IMS pada klinik Veteran mencakup pencegahan seperti promosi kondom dan seks aman, konselling, pemeriksaan dan pengobatan, kegiatan penapisan untuk IMS asymptomatic, menjalankan sistem monitoring dan surveilans serta memberikan layanan KIE tentang mitos penggunaan obat-obat bebas untuk mencegah atau mengobati IMS.

Tujuan konselling IMS yang dilakukan Agar penderita patuh minum obat/mengobati sesuai ketentuan, agar kembali untuk follow up secara teratur sesuai jadwal yang ditentukan, untuk menyakinkan pentingnya pemeriksaan mitra seksual, serta turut berusaha agar mitra tersebut bersedia diperiksa dan diobati bila perlu, untuk mengurangi resiko penularan dengan cara abstinensia selama pemeriksaan terakhir selesai serta tanggap dan memberikan respon cepat terhadap infeksi atau hal lain yang mencurigakan setelah berhubungan seks.

Layanan VCT yang dilaksanakan oleh klinik Veteran mencakup pre-test konselling, testing HIV dan post-test konselling, dengan maksud dan tujuan program VCT untuk membantu masyarakat terutama populasi berisiko dan anggota keluarganya untuk mengetahui status kesehatan yang berkaitan dengan HIV dimana hasilnya dapat digunakan sebagai bahan motivasi upaya pencegahan penularan dan mempercepat mendatangkan pertolongan kesehatan sesuai kebutuhan.

2.2. Perilaku Kesehatan

2.2.1. Pengertian Perilaku Kesehatan

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon. Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :

a. Perilaku tertutup (covert behavior)

Perilaku tertutup adalah respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

b. Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

Berdasarkan pembagian domain oleh Bloom, dan untuk kepentingan pendidikan praktis, dikembangkan menjadi tingkat ranah perilaku sebagai berikut (Notoatmodjo, 2010) :

a. Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya).

b. Sikap (Attitude)

Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.

c. Tindakan atau praktik (Practice)

Seperti telah disebutkan di atas bahwa sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana.

Dokumen terkait