BAB 12 GENDER DAN KESEHATAN
12.5 Gender dan Penyakit TBC
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis), dimana
sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya (Departemen Kesehatan, RI, 2011).
TB paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia.
Penyakit TB paru banyak menyerang kelompok usia produktif dan
berasal dari kelompok sosial ekonomi rendah dan tingkat
pendidikan yang rendah. WHO
(World Health Organization)
melaporkan perkiraan insiden TB paru setiap tahun sebanyak
583.000 kasus dengan angka mortality sekitar 140.000 kasus. TB
paru merupakan penyebab kematian ketiga terbesar di dunia setelah
penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan, serta
merupakan penyebab kematian nomor satu terbesar dalam
kelompok penyakit infeksi.
TB paru adalah penyakit yang erat kaitannya dengan
ekonomi lemah dan diperkirakan 95% dari jumlah kasus TB paru
terjadi di negara berkembang yang relatif miskin. Sejak tahun 1995,
Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia mulai
menerapkan strategi Direcly Observed Treatment, Short Course
(DOTS) dan dilaksanakan di Puskesmas secara bertahap. Sejak
tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh
Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) terutama Puskesmas yang di
integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar (Departemen
Kesehatan RI, 2007).
Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan
pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi
ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian
menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan
menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya
pencegahan penularan TB.
Namun demikian angka DO
(Droup Out) sebutan bagi
kegagalan dalam pengobatan TB di Indonesia masih tetap tinggi.
Hal ini bisa jadi disebabkan oleh belum terpecahkan seluruh faktor
penyebab DO yang tidak hanya terbatas pada masalah rendahnya
status perekonomian, gizi, keterjangkauan masyarakat akan
pelayanan yang berkualitas, tingkat pendidikan, serta masalah
sosial budaya yang termasuk di dalamnya ketimpangan gender
dalam masyarakat kita. Padahal perbedaan sosial termasuk di
dalamnya identitas gender antara laki-laki dan perempuan
merupakan penyebab utama mencuatnya kesenjangan antara
mereka, sehingga pada akhirnya mempengaruhi derajat kesehatan
masyarakat pada umumnya.
Perbedaan pencapaian program penanggulangan TB antara
laki-laki dan perempuan dapat menggambarkan perbedaan biologis
(berdasarkan jenis kelamin) dalam epidemologi penyakit TB.
Namun di sisi lain, perbedaan peran sosial antara laki-laki dan
perempuan (fungsi gender) dapat berpengaruh pula pada faktor
risiko dan dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan
(Departement of Gender and Women’s Health of WHO, 2002).
Perbedaan gender berdampak pada angka kejadian TB baik
pada proses penemuan kasus, diagnosis dan pengobatan (lihat salah
satu studi oleh Rokhmah di Rumah Sakit Paru Kabuapten Jember
Tahun 2010 pada gambar 12.1, 12.2, dan 12.3) berikut ini:
Gambar 12.1 Perbedaan Gender Total Pasien TB Berdasarkan Kategori Umur di RS Paru Jember Tahun 2010
Gambar 12.2 Perbedaan Gender dalam Diagnosis Pasien TB di RS Paru Jember Tahun 2010
Ju m lah k asu s Umur L P Ju m lah Kas u s Diagnosa L P
Gambar 12.3 Perbedaan Gender dalam Hasil Pengobatan Pasien TB Lama atau Pengobatan Ulang di RS Paru Jember Tahun 2010
Pada proses penemuan kasus TB, pada usia 0-34 tahun
jumlah pasien perempuan lebih besar dari total pasien berjemis
kelamin laki-laki. Hal ini berbanding terbalik dengan rentang usia
35-65 tahun atau lebih yang menunjukkan bahwa jumlah pasien TB
perempuan berjumlah lebih kecil dari pasien TB laki-laki.
Selanjutnya pada proses diagnosis, pasien TB laki-laki lebih besar
dari pada pasien perempuan. Dari hasil pengobatan pada pasien TB,
jenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan pasien
perempuan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perempuan masih belum
mendapatkan pelayanan yang optimal. Karena dari sisi penemuan
kasus mereka lebih banyak daripada laki-laki, tetapi memasuki
proses diagnosis dan pengobatan justru laki-laki lebih banyak
daripada perempuan. Hal ini disebabkan oleh stigma dan rendahnya
akses dan kontrol perempuan dalam pengelolaan sumberdaya untuk
kesehatan.
Ju m lah Kas u s Tipe Pasien L PBahan Diskusi
Jelaskan peranan gender dalam kesehatan terutama untuk
menyelesaikan permasalahan kesehatan?
Rangkuman
Konsep gender, yakni suatu sifat yang melekat pada kaum
laki-laki maupun perempuan yang dikontruksi secara sosial maupun
kultural. gender adalah sebuah kontruksi sosial atau tafsir sosial
terhadap peran gender. Sayangnya, terhadap masalah ini, masih
banyak penafsiran yang berkembang secara tidak adil, sehingga
memberikan tafsiran yang kurang pada tempatnya terhadap
masalah-masalah perempuan.
Soal-Soal Latihan
1.
Jelaskan tentang perspektif gender dari beberapa teori ?
2.
Sebutkan dan jelaskan beberapa permasalahan gender dalam
kesehatan ?
Tindak Lanjut
Setelah memahami bab 12 (dua belas) dengan baik maka
mahasiswa dapat mencoba menyusun sebuah aplikasi sederhana
terkait teori sosiologi kesehatan dan permasalahan kesehatan yang
terjadi di masyarakat
Daftar Bacaan
Adib, K. 2011. Peran Buruh Tani Perempuan dalam Pemberdayaan
Ekonomi Keluarga dan perencanaan pendidikan Anak.
Jurnal Ilmiah Pendidikan Gender. Malang: Pusat Studi
wanita Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang.
2011 (1) : 52-61.
Aditya, B., J. 2005. Kerentanan Perempuan dan HIV DAN AIDS.
Jurnal Perempuan. Jakarta : Yayasan Jurnal Perempuan.
Amal, S.,H. 1995.
Beberapa Prespektif Feminis dalam
Menganalisis Permasalahan Wanita dalam Kajian Wanita
dalam Pembangunan. Jakarta: YOB.
Departemen
Kesehatan
RI.
2011.
Pedoman
nasional
penanggulangan tuberkolusis, cetakan ke 8. Jakarta:
Depertemen Kesehatan RI.
Departemen
Kesehatan
RI.
2007.
Pedoman
nasional
penanggulangan tuberkulosis. Edisi Kedua.
Cetakan
Pertama. http://tbcindonesia.or.id/pdf/BUKU_PEDOMAN_
NASIONAL. pdf
Departement of Gender and Women’s Health of WHO.
2002.
Gender and tuberculosis. Geneva : Departement of Gender
and Women’s Health of WHO.
Echol, Jhon M dan Shadily, H. 1996.
Kamus Besar Inggris-
Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.cet.23a.
Fakih, M. 1996.
Analisis Gender dan Transformasi Sosial.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Koentjoro. 2004. Tutur Dari sang Pelacur. Jogjakarta : TINTA
Kelompok Penerbit Qalam (KPQ).
Makarao, N., R. 2009. Gender Dalam Bidang Kesehatan. Bandung:
Alfabeta.
Mufidah Ch. 2003.
Paradigma Gender.
Malang: Banyumedia
Publishing
Rokhmah, D. 2012.
Gender dan Tubercolusis; Implikasinya
Terhadap Kemudahan Akses Layanan pada Masyarakat
Muskin. Jurnal Kesehatan Masyarakat Naional Vol. 7 No.
10 Mei 2013. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia 2013 (7) : 10.
Sudarma, Momon. 2009.
Sosiologi untuk Kesehatan.
Jakarta:
Salemba Medika
Subiyantoro, E. Bambang. Perempuan Miskin di Ujung Negeri.
Jurnal Perempuan. Jakarta : Yayasan Jurnal Perempuan.
2005 (42) : 33-43
Umar, N. 2001.
Argumen Kesetaraan Gender: Perspektif al-
bencana, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 89, 97, 101, 113, 139, 125, 126, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 133, 134, 135, 136, 137, 138 confirmity, 35, 53 deviation, 35, 53, 75 disorganisasi, 75, 76, 81 garis kemiskinan, 101, 102, 104, 107 gender, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 89, 101, 113, 125, 139, 140, 141, 142, 143, 146, 148, 149, 152 generasi muda, 84, 85 interaksi sosial, 3, , 9, 10, 11, 12, 13, 14, 21, 36, 43, 61, 65, 77 kelompok sosial, 6, 16, 24, 29, 31, 32, 34, 35, 36, 38, 39, 44, 45, 46, 50, 54, 55, 80, 81, 88, 104, 148 kemiskinan, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 81, 83, 84, 89, 94, 95, 100, 101, 102, 103, 104, 109, 110, 111, 112, 113, 125, 139, 147 kependudukan, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 89, 99, 100, 101, 113, 125, 139 keseimbangan lingkungan, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 89, 101, 113, 122, 123, 125, 139 kontrol sosial, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64 kriminalitas, 89, 96, 100 masalah lingkungan, 113, 116 masalah sosial, 3, 8, 75, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 86, 87, 88, 89, 90, 99, 149 masyarakat modern, 61, 74, 84 metode sosiologi, 1, 7, 8 migrasi, 89, 91, 97, 98, 100 modernisasi, 65, 74, 75, 76, 77, 78, 85, 98, 126 penanggulangan bencana, 125, 129, 130, 131, 132, 133, 138 pendidikan, 19, 27, 33, 44, 50, 70, 76, 81, 89, 90, 93, 95, 100, 104, 105, 107, 108, 109, 110, 117, 139, 146, 148, 149, 152 perencanaan sosial, 77, 79, 82, 86, 87, 88, 89 pernikahan, 89, 91, 92, 100, 145, 146 perubahan sosial, 1, 4, 9, 23, 35, 57, 65, 66, 71, 72, 73, 74, 77, 79, 89, 101, 113, 125, 139
sarana kontrol sosial, 57
stratifikasi sosial, 23, 24, 27, 33, 34 teori neo-evolusi personian, 77 teori perubahan sosial, 65, 71 transformasi, 74, 75
D
rs. Husni Abdul Gani, M.S. Lahir di Bima Nusa Tenggara Barat pada 10 Agustus 1956. Saat ini Bapak dengan 4 anak ini tinggal di Jalan Kalimantan X/20 Jember. Pendidikan dasar beliau dilalui di Bima mulai dari sekolah dasar samapi sekolah menengah atas. Pendidikan S1 beliau ditempuh di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jember lulus tahun 1981, sedangkan jenjang S2 dilanjutkan di Program Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga lulus tahun 1991.Karir beliau diawali sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Jember tahun 1983-2002. Kemudian pada tahun 2002 beliau menginisiasi pendirian Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, sehingga berpindah homebase
ke Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Pada tahun 2006- 2007 beliau menduduki jabatan sebagai Ketua Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Kemudian pada tahun 2007 sampai sekarang menjadi Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember.
Dalam rangka meningkatkan kompetensi beliau sebagai dosen, maka berbagi penelitian telah dilakukan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah maupun proceeding seminar di tingkat lokal dan nasional. Diantaranya adalah arrikel berjudul : Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penderita TB Paru Putus Berobat dalam Pengobatan Jangka Panjang di RS Paru Jember (1998), Korelasi antara Kemiskinan dengan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan (1999), Pola Kehidupan Wanita Pedagang Sayur Keliling (1999), Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Program Magang (2002), Hubungan Dinamika Pembangunan dan HIV/AIDS (2006), serta Pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Masyarakat Suku Osing Kabupaten Banyuwangi (2013).
D
ewi Rokhmah, S.KM, M.Kes. lahir di Malang, Jawa Timur pada 7 Agustus 1978. Ia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar sampai sekolah menengah (MIN 1, SMPN 1 dan SMAN 3) di Kota Malang. Selanjutnya ia menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya. Gelar Magister kesehatan dengan keahlian bidang promosi kesehatan dan ilmu perilaku dari pascasarjana FKM Universitas Diponegoro Semarang, pada program studi promosi kesehatan yang berkonstrasi pada kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS. Saat ini penulis berprofesi sebagai dosen tetap di Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Jember pada Bagian Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP).Untuk meningkatkan kompetensi penulis, ia aktif melakukan studi dan mengikuti berbagai konferensi baik nasional maupun internasional, diantaranya pada tahun 2014 penulis mendapat beasiswa sebagai oral presentator dalam International Conference on
Environmental and Occupation Health (ICEOH 2014) yang
diselenggarakan oleh University Putra Malaysia (UPM), artikel dalam event tersebut telah terbit pada International Journal of Current
Research and Academic Review (IJCRAR). Selain itu, di tahun yang
sama artikel penulis dalam International Conference on Tropical and
Coastal Region Eco-Development 2014 (ICTCRED 2014) yang
diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro Semarang, telah terbit dalam Procedia Environmental Sciences 23 ( 2015 ) 99 – 104. Karirnya dimulai sebagai staf pengajar di FKM Universitas Jember pada tahun 2009 di bagian PKIP. Tahun 2012 menjadi sekretaris bagian PKIP FKM Universitas Jember serta sebagai sekretaris redaksi Jurnal IKESMA yang diterbitkan oleh FKM Universitas Jember. Selain itu publikasi pada jurnal juga dilakukan oleh penulis baik jurnal lokal maupun jurnal nasional terakreditasi. Salah satunya pada tahun 2012, penulis melakukan publikasi di jurnal KESMAS (Kesehatan Masyarakat Nasional) yang merupakan jurnal terakreditasi nasional yang diterbitkan oleh FKM Universitas Indonesia.
Kesibukan penulis saat ini adalah aktif sebagai peneliti dan menjadi relawan di kegiatan sosial yang bergerak di bidang penanggulangan HIV dan AIDS, serta sedang melanjutkan studi S3 di Program Studi Ilmu Kesehatan FKM Universitas Airlangga Surabaya.