• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gender dan Penyakit TBC

Dalam dokumen Buku Ajar SOSIOLOGI KESEHATAN (Halaman 161-171)

BAB 12 GENDER DAN KESEHATAN

12.5 Gender dan Penyakit TBC

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang

disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis), dimana

sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga

mengenai organ tubuh lainnya (Departemen Kesehatan, RI, 2011).

TB paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia.

Penyakit TB paru banyak menyerang kelompok usia produktif dan

berasal dari kelompok sosial ekonomi rendah dan tingkat

pendidikan yang rendah. WHO

(World Health Organization)

melaporkan perkiraan insiden TB paru setiap tahun sebanyak

583.000 kasus dengan angka mortality sekitar 140.000 kasus. TB

paru merupakan penyebab kematian ketiga terbesar di dunia setelah

penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan, serta

merupakan penyebab kematian nomor satu terbesar dalam

kelompok penyakit infeksi.

TB paru adalah penyakit yang erat kaitannya dengan

ekonomi lemah dan diperkirakan 95% dari jumlah kasus TB paru

terjadi di negara berkembang yang relatif miskin. Sejak tahun 1995,

Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia mulai

menerapkan strategi Direcly Observed Treatment, Short Course

(DOTS) dan dilaksanakan di Puskesmas secara bertahap. Sejak

tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh

Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) terutama Puskesmas yang di

integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar (Departemen

Kesehatan RI, 2007).

Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan

pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi

ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian

menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan

menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya

pencegahan penularan TB.

Namun demikian angka DO

(Droup Out) sebutan bagi

kegagalan dalam pengobatan TB di Indonesia masih tetap tinggi.

Hal ini bisa jadi disebabkan oleh belum terpecahkan seluruh faktor

penyebab DO yang tidak hanya terbatas pada masalah rendahnya

status perekonomian, gizi, keterjangkauan masyarakat akan

pelayanan yang berkualitas, tingkat pendidikan, serta masalah

sosial budaya yang termasuk di dalamnya ketimpangan gender

dalam masyarakat kita. Padahal perbedaan sosial termasuk di

dalamnya identitas gender antara laki-laki dan perempuan

merupakan penyebab utama mencuatnya kesenjangan antara

mereka, sehingga pada akhirnya mempengaruhi derajat kesehatan

masyarakat pada umumnya.

Perbedaan pencapaian program penanggulangan TB antara

laki-laki dan perempuan dapat menggambarkan perbedaan biologis

(berdasarkan jenis kelamin) dalam epidemologi penyakit TB.

Namun di sisi lain, perbedaan peran sosial antara laki-laki dan

perempuan (fungsi gender) dapat berpengaruh pula pada faktor

risiko dan dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan

(Departement of Gender and Women’s Health of WHO, 2002).

Perbedaan gender berdampak pada angka kejadian TB baik

pada proses penemuan kasus, diagnosis dan pengobatan (lihat salah

satu studi oleh Rokhmah di Rumah Sakit Paru Kabuapten Jember

Tahun 2010 pada gambar 12.1, 12.2, dan 12.3) berikut ini:

Gambar 12.1 Perbedaan Gender Total Pasien TB Berdasarkan Kategori Umur di RS Paru Jember Tahun 2010

Gambar 12.2 Perbedaan Gender dalam Diagnosis Pasien TB di RS Paru Jember Tahun 2010

Ju m lah k asu s Umur L P Ju m lah Kas u s Diagnosa L P

Gambar 12.3 Perbedaan Gender dalam Hasil Pengobatan Pasien TB Lama atau Pengobatan Ulang di RS Paru Jember Tahun 2010

Pada proses penemuan kasus TB, pada usia 0-34 tahun

jumlah pasien perempuan lebih besar dari total pasien berjemis

kelamin laki-laki. Hal ini berbanding terbalik dengan rentang usia

35-65 tahun atau lebih yang menunjukkan bahwa jumlah pasien TB

perempuan berjumlah lebih kecil dari pasien TB laki-laki.

Selanjutnya pada proses diagnosis, pasien TB laki-laki lebih besar

dari pada pasien perempuan. Dari hasil pengobatan pada pasien TB,

jenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan pasien

perempuan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perempuan masih belum

mendapatkan pelayanan yang optimal. Karena dari sisi penemuan

kasus mereka lebih banyak daripada laki-laki, tetapi memasuki

proses diagnosis dan pengobatan justru laki-laki lebih banyak

daripada perempuan. Hal ini disebabkan oleh stigma dan rendahnya

akses dan kontrol perempuan dalam pengelolaan sumberdaya untuk

kesehatan.

Ju m lah Kas u s Tipe Pasien L P

Bahan Diskusi

Jelaskan peranan gender dalam kesehatan terutama untuk

menyelesaikan permasalahan kesehatan?

Rangkuman

Konsep gender, yakni suatu sifat yang melekat pada kaum

laki-laki maupun perempuan yang dikontruksi secara sosial maupun

kultural. gender adalah sebuah kontruksi sosial atau tafsir sosial

terhadap peran gender. Sayangnya, terhadap masalah ini, masih

banyak penafsiran yang berkembang secara tidak adil, sehingga

memberikan tafsiran yang kurang pada tempatnya terhadap

masalah-masalah perempuan.

Soal-Soal Latihan

1.

Jelaskan tentang perspektif gender dari beberapa teori ?

2.

Sebutkan dan jelaskan beberapa permasalahan gender dalam

kesehatan ?

Tindak Lanjut

Setelah memahami bab 12 (dua belas) dengan baik maka

mahasiswa dapat mencoba menyusun sebuah aplikasi sederhana

terkait teori sosiologi kesehatan dan permasalahan kesehatan yang

terjadi di masyarakat

Daftar Bacaan

Adib, K. 2011. Peran Buruh Tani Perempuan dalam Pemberdayaan

Ekonomi Keluarga dan perencanaan pendidikan Anak.

Jurnal Ilmiah Pendidikan Gender. Malang: Pusat Studi

wanita Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang.

2011 (1) : 52-61.

Aditya, B., J. 2005. Kerentanan Perempuan dan HIV DAN AIDS.

Jurnal Perempuan. Jakarta : Yayasan Jurnal Perempuan.

Amal, S.,H. 1995.

Beberapa Prespektif Feminis dalam

Menganalisis Permasalahan Wanita dalam Kajian Wanita

dalam Pembangunan. Jakarta: YOB.

Departemen

Kesehatan

RI.

2011.

Pedoman

nasional

penanggulangan tuberkolusis, cetakan ke 8. Jakarta:

Depertemen Kesehatan RI.

Departemen

Kesehatan

RI.

2007.

Pedoman

nasional

penanggulangan tuberkulosis. Edisi Kedua.

Cetakan

Pertama. http://tbcindonesia.or.id/pdf/BUKU_PEDOMAN_

NASIONAL. pdf

Departement of Gender and Women’s Health of WHO.

2002.

Gender and tuberculosis. Geneva : Departement of Gender

and Women’s Health of WHO.

Echol, Jhon M dan Shadily, H. 1996.

Kamus Besar Inggris-

Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.cet.23a.

Fakih, M. 1996.

Analisis Gender dan Transformasi Sosial.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Koentjoro. 2004. Tutur Dari sang Pelacur. Jogjakarta : TINTA

Kelompok Penerbit Qalam (KPQ).

Makarao, N., R. 2009. Gender Dalam Bidang Kesehatan. Bandung:

Alfabeta.

Mufidah Ch. 2003.

Paradigma Gender.

Malang: Banyumedia

Publishing

Rokhmah, D. 2012.

Gender dan Tubercolusis; Implikasinya

Terhadap Kemudahan Akses Layanan pada Masyarakat

Muskin. Jurnal Kesehatan Masyarakat Naional Vol. 7 No.

10 Mei 2013. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Indonesia 2013 (7) : 10.

Sudarma, Momon. 2009.

Sosiologi untuk Kesehatan.

Jakarta:

Salemba Medika

Subiyantoro, E. Bambang. Perempuan Miskin di Ujung Negeri.

Jurnal Perempuan. Jakarta : Yayasan Jurnal Perempuan.

2005 (42) : 33-43

Umar, N. 2001.

Argumen Kesetaraan Gender: Perspektif al-

bencana, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 89, 97, 101, 113, 139, 125, 126, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 133, 134, 135, 136, 137, 138 confirmity, 35, 53 deviation, 35, 53, 75 disorganisasi, 75, 76, 81 garis kemiskinan, 101, 102, 104, 107 gender, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 89, 101, 113, 125, 139, 140, 141, 142, 143, 146, 148, 149, 152 generasi muda, 84, 85 interaksi sosial, 3, , 9, 10, 11, 12, 13, 14, 21, 36, 43, 61, 65, 77 kelompok sosial, 6, 16, 24, 29, 31, 32, 34, 35, 36, 38, 39, 44, 45, 46, 50, 54, 55, 80, 81, 88, 104, 148 kemiskinan, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 81, 83, 84, 89, 94, 95, 100, 101, 102, 103, 104, 109, 110, 111, 112, 113, 125, 139, 147 kependudukan, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 89, 99, 100, 101, 113, 125, 139 keseimbangan lingkungan, 1, 9, 23, 35, 57, 65, 79, 89, 101, 113, 122, 123, 125, 139 kontrol sosial, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64 kriminalitas, 89, 96, 100 masalah lingkungan, 113, 116 masalah sosial, 3, 8, 75, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 86, 87, 88, 89, 90, 99, 149 masyarakat modern, 61, 74, 84 metode sosiologi, 1, 7, 8 migrasi, 89, 91, 97, 98, 100 modernisasi, 65, 74, 75, 76, 77, 78, 85, 98, 126 penanggulangan bencana, 125, 129, 130, 131, 132, 133, 138 pendidikan, 19, 27, 33, 44, 50, 70, 76, 81, 89, 90, 93, 95, 100, 104, 105, 107, 108, 109, 110, 117, 139, 146, 148, 149, 152 perencanaan sosial, 77, 79, 82, 86, 87, 88, 89 pernikahan, 89, 91, 92, 100, 145, 146 perubahan sosial, 1, 4, 9, 23, 35, 57, 65, 66, 71, 72, 73, 74, 77, 79, 89, 101, 113, 125, 139

sarana kontrol sosial, 57

stratifikasi sosial, 23, 24, 27, 33, 34 teori neo-evolusi personian, 77 teori perubahan sosial, 65, 71 transformasi, 74, 75

D

rs. Husni Abdul Gani, M.S. Lahir di Bima Nusa Tenggara Barat pada 10 Agustus 1956. Saat ini Bapak dengan 4 anak ini tinggal di Jalan Kalimantan X/20 Jember. Pendidikan dasar beliau dilalui di Bima mulai dari sekolah dasar samapi sekolah menengah atas. Pendidikan S1 beliau ditempuh di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jember lulus tahun 1981, sedangkan jenjang S2 dilanjutkan di Program Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga lulus tahun 1991.

Karir beliau diawali sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Jember tahun 1983-2002. Kemudian pada tahun 2002 beliau menginisiasi pendirian Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, sehingga berpindah homebase

ke Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Pada tahun 2006- 2007 beliau menduduki jabatan sebagai Ketua Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Kemudian pada tahun 2007 sampai sekarang menjadi Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember.

Dalam rangka meningkatkan kompetensi beliau sebagai dosen, maka berbagi penelitian telah dilakukan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah maupun proceeding seminar di tingkat lokal dan nasional. Diantaranya adalah arrikel berjudul : Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penderita TB Paru Putus Berobat dalam Pengobatan Jangka Panjang di RS Paru Jember (1998), Korelasi antara Kemiskinan dengan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan (1999), Pola Kehidupan Wanita Pedagang Sayur Keliling (1999), Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Program Magang (2002), Hubungan Dinamika Pembangunan dan HIV/AIDS (2006), serta Pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Masyarakat Suku Osing Kabupaten Banyuwangi (2013).

D

ewi Rokhmah, S.KM, M.Kes. lahir di Malang, Jawa Timur pada 7 Agustus 1978. Ia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar sampai sekolah menengah (MIN 1, SMPN 1 dan SMAN 3) di Kota Malang. Selanjutnya ia menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya. Gelar Magister kesehatan dengan keahlian bidang promosi kesehatan dan ilmu perilaku dari pascasarjana FKM Universitas Diponegoro Semarang, pada program studi promosi kesehatan yang berkonstrasi pada kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS. Saat ini penulis berprofesi sebagai dosen tetap di Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Jember pada Bagian Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP).

Untuk meningkatkan kompetensi penulis, ia aktif melakukan studi dan mengikuti berbagai konferensi baik nasional maupun internasional, diantaranya pada tahun 2014 penulis mendapat beasiswa sebagai oral presentator dalam International Conference on

Environmental and Occupation Health (ICEOH 2014) yang

diselenggarakan oleh University Putra Malaysia (UPM), artikel dalam event tersebut telah terbit pada International Journal of Current

Research and Academic Review (IJCRAR). Selain itu, di tahun yang

sama artikel penulis dalam International Conference on Tropical and

Coastal Region Eco-Development 2014 (ICTCRED 2014) yang

diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro Semarang, telah terbit dalam Procedia Environmental Sciences 23 ( 2015 ) 99 – 104. Karirnya dimulai sebagai staf pengajar di FKM Universitas Jember pada tahun 2009 di bagian PKIP. Tahun 2012 menjadi sekretaris bagian PKIP FKM Universitas Jember serta sebagai sekretaris redaksi Jurnal IKESMA yang diterbitkan oleh FKM Universitas Jember. Selain itu publikasi pada jurnal juga dilakukan oleh penulis baik jurnal lokal maupun jurnal nasional terakreditasi. Salah satunya pada tahun 2012, penulis melakukan publikasi di jurnal KESMAS (Kesehatan Masyarakat Nasional) yang merupakan jurnal terakreditasi nasional yang diterbitkan oleh FKM Universitas Indonesia.

Kesibukan penulis saat ini adalah aktif sebagai peneliti dan menjadi relawan di kegiatan sosial yang bergerak di bidang penanggulangan HIV dan AIDS, serta sedang melanjutkan studi S3 di Program Studi Ilmu Kesehatan FKM Universitas Airlangga Surabaya.

Dalam dokumen Buku Ajar SOSIOLOGI KESEHATAN (Halaman 161-171)

Dokumen terkait