• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Sejarah Negara Saudi Arabia

4. Genealogi dalam Struktur Masyarakat Saudi Modern

Masyarakat Saudi Arabia berbeda dari masyarakat di negara lain. Pasalnya, mereka meletakkan faktor keturunan (geneologi) sejajar dengan ilmu pengetahuan. Bangsa Saudi begitu mengagungkan aspek keturunannya, karena hal ini berkaitan langsung dengan sebuah kewibawaan, kehormatan dan kemuliaan. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa masyarakat Saudi Arabia cenderung berwatak aristokterat. Mereka memandang dirinya sebagai perwujudan yang unggul, bangsa Saudi Arabia ummat terbaik.48

Sejak masa Jahiliah masyarakat Saudi sangat memperhatikan dan memelihara pengetahuan tentang nasab (genealogi), Ketika itu, genealogi merupakan salah satu cabang pengetahuan yang dianggap penting. Setiap kabilah menghafal silsilahnya.49 Tradisi genealogi pada masyarakat Saudi terus berlanjut pada masa dinasti Arab-Islam. Faktor kesukuan dan keturunan begitu dominan mempengaruhi pembentukan dinasti. Misalnya dinasti Umayyah berdiri atas pondasi keluarga Umayyah bin Abd. Syams bin Abd Manaf bin Quraisy. Dinasti umayyah menjadi dinasti Arab-Islam yang pertama melahirkan sistem pemerintahan monarki heridetis berdasarkan garis keturunan.50

Pada struktur masyarakatnya, masyarakat Arab Saudi telah mengalami perkembangan yang signifikan dari masa pra-Islam hingga masa modern. Pada

46 Kermit Roosevelt, Arab Oil and History (New York: Harper and Brothers, 1949), h. 165.

47 Grant Butler, King and Camels: An American in Saudi Arabia (Reading: Garnet Publishing, 2008), h. 28.

48 Halim Barakat, The World: Society, Culture and State, h. 23.

49 Kabilah merupakan keluarga besar yang anggotanya memiliki rasa keterikatan yang sangat tinggi. Eksistensi kabilah dipertahankan dengan sikap yang fanatik dengan harga setinggi apapun. Sehingga pembelaan terhadap akan dilakukan mati-matian pada saat benar atau salah, menzalimi atau terzalimi. Lihat Abdul Aziz, Chiefdom in Madinah,

(Jakarta: Alvabet, 2011), h. 173.

54

masa pra-Islam, masyarakat Arab Saudi terbagi menjadi dua bagian berdasarkan tempat tinggal , baidawi dan hadlar.51

Sistem pemerintahan monarki berdasarkan garis keturunan terus berlanjut pada masa-masa dinasti-dinasti Arab-Islam yang lain. Contoh yang paling populer, dinasti Abbasiyah sebagai rival utama dinasti Umayyah. Juga didirikan berdasarkan garis keturunan klan dari bani Hasyim.52 Eksistensi faktor keturunan dan genealogi setidaknya masih begitu kuat berpengaruh pada masa masyarakat Saudi Arabia modern. Dinasti Sa‘ud, dapat dijadikan contoh konkret bagaimana sebuah sistem kekerabatan suku mampu memberikan inspirasi dan semangat perjuangan dalam pembentukan sebuah negara di era modern.53

Sebagian besar masyarakat Arab cenderung menganggap diri mereka memiliki peradaban yang besar yang memiliki delapan abad memainkan peran utama dalam sejarah peradaban dunia. Peradaban Arab-Islam yang berkembang dari abad ke-7 sampai abad ke-15 merupakan sumber inspirasi bagi banyak orang Arab.54

Dalam struktur masyarakat Saudi Arabia, kabilah adalah inti dari sebuah komunitas yang lebih besar. Kabilah merupakan organisasi keluarga besar yang memiliki keterikatan hubungan berdasarkan pertalian darah, tetapi terdapat juga hubungan yang didasarkan pada ikatan perkawinan, suaka politik atau karena sumpah setia. Kabilah dalam kehidupan masyarakat Saudi Arabia merupakan ikatan keluarga, sekaligus ikatan politik yang dipimpin oleh kepala yang disebut dengan Syaikh al-Qabi>lah.55

Pada masa Islam, piagam madinah yang dibuat oleh Nabi Muhammad SAW telah mengubah peta struktur masyarakat Arab. Efek perubahan yang dihasilkan oleh piagam tersebut begitu dahsyat dalam menghapus ikatan kesukuan yang begitu kuat pada masyarakat Arab. Ikatan kesukuan telah berubah menjadi ikatan persaudaraan keIslaman. Prinsip piagam madinah yang

51 Orang Baidawi atau badawi adalah masyarakat Arab Saudi yang menduduki wilayah padang pasir. Mereka hidup secara nomaden mencari sumber mata air dan padang rumput baru. Penghidupan mereka ditopang dengan cara beternak. Kondisi kehidupan mereka tersebut tidak banyak memberikan peluang untuk membangun sebuah peradaban. Sedangkan ahl al-Hadlar atau orang hadlar adalah penduduk yang bertempat tinggal di kota-kota atau daerah pemukiman yang subur. Mereka hidup dengan berdagang, bercocok tanam, dan mereka memiliki peluang besar membentuk sebuah peradaban. Lihat Siti Maryam, dkk,

Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern. (Yogyakarta: LESFI, 1987), h. 18.

52 Philip K. Hitti, History of The Arabs, h. 359.

53 Imran n Hosein, The Caliphate the Hejaz and the Saudi-Wahabi Nation State,

(New York: Darul-Quran, 1996), h. 7-12.

54 Bagi masyarakat Arab, tidak ada musibah yang paling dahsyat dan menyakitkan selain putus hubungan dengan sukunya. Seseorang tidak berafiliasi dengan suku manapun, akan menjadi seseorang yang tanpa pelindung keselamatan. Lihat Philip K. Hitti, History of The Arabs, h. 33.

55 Umar Faruk, ‘Arab wa Isla>m fi> H}aud} Syarqi> min Bah}r Abyad} al-Mutawas}itah, (Beirut: Dar-al-Kutub, 1966), h. 19.

55

menekankan pada kesamaan kesamaan status, musyawarah, gotong-royong, dan keadilan mampu menghapus sistem kemasyarakatan Arab pra-Islam.56

Pada masa modern, sekitar 40% masyarakat Arab Saudi tinggal di perkotaan. Hal ini, telah menyebabkan ikatan tradisional keluarga dan suku terputus. Para wanita dan pria memiliki pendidikan yang lebih tinggi dan kesempatan kerja yang lebih besar. Perubahan tersebut menciptakan strata kelas yang baru dalam masyarakat Arab Saudi. Orang perkotaan lebih bersikap terbuka terhadap budaya luar, sehingga budaya dan gaya hidup tradisional Arab Saudi telah bertransformasi ke dalam sebuah identitas kebudayaan kontemporer yang bersifat modern. Akibatnya, ikatan budaya tradisional yang dulu menekankan pada keterikatan suku dan klan telah merenggang dan mengalami pengikisan.

Ada beberapa alasan yang dapat menjawab tercerabutnya sistem kemasyarakatan Arab Saudi tradisional. Pertama, masyarakat Arab Saudi modern mengikuti pola, ukuran, dan konsep Barat. Sehingga perkembangan budaya modern mereka bertentangan dengan khasanah budaya tradisional Arab Saudi. Kedua, masyarakat Arab Saudi modern berusaha menghapus pemikiran tradisional yang sudah lama terbentuk dalam sistem kemasyarakatan Arab Saudi. Ketiga, masyarakat Arab Saudi modern lebih mendominasi kekuasaan dari pada masyarakat tradisional.57

Populasi Arab Saudi secara tradisional terdiri dari pengembara, penduduk desa, dan penduduk kota. Dalam masyarakat Saudi sistem kekerabatan dengan prinsip patrilineal, yang berpusat pada keluarga besar adalah unit sosial yang terkuat . Hal ini masih berlangsung, dapat dilihat dari sistem organisasi dan administrasi yang berpusat pada keluarga kerajaan. Desa-desa merupakan pusat layanan lokal dan berisi anggota lebih dari satu afiliasi suku. Kota-kota tidak terorganisir secara kesukuan, dan urusan lokal cenderung didominasi dan dikelola oleh beberapa keluarga. Stratifikasi sosial lebih jelas dikembangkan di kota-kota daripada di tempat lain. Sebelum dampak minyak dirasakan pada perekonomian, status sosial merupakan masalah garis keturunan. Dengan pesatnya perkembangan industri minyak, kekayaan dan posisi material telah memperoleh nilai sosial tambahan. Teknologi dan industri baru telah menghasilkan kelompok teknokrat ekonomi yang menghasilkan kelas sosial, terutama pada keluarga yang berkuasa dan penduduk lainnya. Hal ini menyebabkan beberapa kasus dan pecahnya kekuatan sipil.58

Kebanyakan masyarakat Saudi terus berpakaian dengan cara tradisional. Untuk pria ini terdiri dari kemeja selutut yang dikenal sebagai thawb (atau

56 Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern, h. 31-32.

57 Yusuf Qardawi, al-Shahwatu al-Islamiyyah: Ru’yatu Nuqodiatumina al-Da>khili,

(Kairo: al-Nasyir, 1990), 34.

58 Lihat, Enciclopedia Britannica, Daily Life and Social Customs, https://www.britannica.com/place/Saudi-Arabia/Daily-life-and-social-customs (diakses 15 Juli 2019).

56

dishdashah), yang biasanya ditenun dari katun putih. Penutup kepala tradisional adalah kaffiyeh (kadang-kadang dikenal sebagai ghuṭrah), kain lebar yang dilipat dan dipegang oleh tali rambut unta yang dikenal sebagai ʿiqāl. Gaun yang dihormati waktu untuk wanita terdiri dari thawb di bawahnya yang dikenakan sepasang longgar longgar yang dikenal sebagai sirwāl. Namun, di depan umum, wanita diharuskan berjilbab penuh, dan jubah hitam panjang yang dikenal sebagai ʿabāyah dipakai. Jilbab yang disebut ḥijāb menutupi kepala, dan selendang lain yang dikenal sebagai niqab menutupi wajah. Di antara orang Badui, pakaian wanita seringkali cukup berornamen dan secara tradisional terdiri dari persenjataan indah perhiasan perak buatan tangan.59

di Arab Saudi, tak satupun perempuan yang boleh pergi tanpa mengenakan abbayah yang setidaknya menutupi tubuh dan rambutnya. Di Riyadh, abbayahhampir selalu berwarna hitam, sepanjang tahun, tak peduli cuaca sedang panas-panasnya. Tak terkecuali abbayah-ku. Hal Ini merupakan ketentuan syariat. Saudi adalah satu-satunya negara arab yang mengklaim hukum islam (dikenal sebagai syariat) sebagai dasar tunggal kode hukum. Meski tanpa bisa dijelaskan, ulama saudi memaksa perempuan non muslim untuk memmakai cadar juga. Di mata ulama, tak ada piilihan bagi seorang peremppuan, menyangkut cadar atau urusan apapaun. Menutup rambut dan mengenakan abbayah sudah diatur berdasarkan hukum syariat versi mereka, tanpa mempertimbangkan kepercayaan masing-masing individu, termasuk keyakinan samawi.60

Di Arab Saudi, hukum syariat terekspresi sebagai dekrityang dikeluarkan oleh ulama wahabi, pengikut golongan islam yang paling ekstrem. Wahabisme adalaha gerakan yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, sekaligus fenomena yang menakutkan da sangat modern yang menyelewengkan ajaran islam melalui tafsiran-tafsiran sempit dan membabi buta. Di tempatnya, abdul wahab menyebarkan pergerakan yang kaku, yang membungkam diskursus pluralistik yang teliti terhadap islam dan penafsiran yang dilandasi ilmu. Padahal, kegiatan itu telah berlangsung selama berabad-abad. Namun wahabi menganggap pengetahuan semacam itu sebagai bid’ah yang melanggar perintah yang maha kuasa.61

Dengan berlalunya waktu, pandangan wahabi terhadap bid’ah (yang sering diekspresikan sebagai tanggapan histerikal terhadap infeksi ideologi dan selera barat) berkembang menjadi seperangkat hukum yang dirancang untuk menundukkan dan menindas perempuan. Dengan kedok syariat, para ulama

59 Enciclopedia Britannica, Daily Life and Social Customs,

https://www.britannica.com/place/Saudi-Arabia/Daily-life-and-social-customs (diakses 15 Juli 2019).

60 Lihat, Qanta A. Ahmed, The Lost Arabian Woman: Fakta Terbaru Wanita-Wanita Saudi Arabia yang Selama ini Ditutupi-Tutupi, (Jakarta Selatan: Ufuk Publishing House, 2009). 50.

61

Qanta A. Ahmed, The Lost Arabian Woman: Fakta Terbaru Wanita-Wanita Saudi Arabia yang Selama ini Ditutupi-Tutupi, 51-52.