IX. Sistematika Penulisan
3. Gereja dan Internet : Simbiosis Mutualis
budaya media elektronik. Ketika budaya tulisan muncul, masyarakat pun
terdorong untuk melakukan pembakuan-pembakuan dan pencatatan sejarah serta
kearifan lokal yang sebelumnya dituturkan secara lisan. Ajaran dan sejarah agama
pun menjadi baku dan tetap, walau diajarkan dari generasi ke generasi. Begitu
pula ketika mesin cetak ditemukan, proses replikasi dari tulisan-tulisan pun
menjadi lebih cepat dan mudah. Kitab Suci yang sebelumnya hanya dimiliki oleh
kaum klerus pun dapat disebarluaskan dan dimiliki oleh kaum awam. Otoritas
kaum berjubah untuk membaca dan menafsir ayat-ayat suci pun terbuka bagi
semua orang yang memiliki Kitab Suci. Produksi pengetahuan secara masif pun
dapat dilakukan. Buku-buku keilmuan tidak lagi hanya berada di lingkungan
sekolah, tetapi mencapai daerah yang terpencil sekalipun. Ketika masuk ke dalam
era komunikasi elektronik, distribusi pengetahuan dan informasi pun menjadi
lebih cepat dan mudah. Transmisi gelombang radio dan siaran televisi mampu
memangkas jarak yang terbentang cukup jauh dan waktu yang lama untuk
dijangkau oleh ekspedisi pengiriman surat dan barang. Semua orang, di waktu
yang bersamaan dapat mendengarkan berbagai informasi yang diberikan oleh
berita. Agama pun akhirnya menjadi terbuka bagi semua orang, tidak lagi
eksklusif bagi para penganutnya saja karena akses tak terbatas akibat
perkembangan teknologi komunikasi ini.
3. Gereja dan Internet: Simbiosis Mutualis
Gereja dipandang sebagai sebuah lembaga sakral yang di dalamnya setiap
orang dapat berjumpa dengan Tuhan. Gedung gereja ditata dengan sedemikian
39
masuk ke dalam gedung dengan hening dan sikap sempurna mengarahkan hati
kepada Tuhan. Dalam beberapa tradisi gereja, umat bahkan tidak boleh
menggunakan sembarang pakaian ketika masuk ke dalam gedung gereja. Mereka
diwajibkan untuk menggunakan pakaian yang sesuai dengan aturan gereja
setempat.12 Aturan yang mengikat ini tidak dianggap sebagai suatu hal yang
memberatkan umat, karena dengan keteraturan dan kerapihan itu niscaya umat
dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yang Mahakudus.
Emile Durkheim mengatakan bahwa ritual adalah aturan perilaku yang
mengharuskan bagaimana seseorang harus menyesuaikan dirinya di hadapan
Yang Kudus.13 Ritus dan ritual komunal niscaya membuat jemaat mengalami
perjumpaan dengan Yang Kudus dan menbuat kehidupan jemaat tetap berakar
pada Yang Kudus itu. Di dalam kehidupan gereja, ritus dan ritual terwujud dalam
ibadah. Jemaat berbondong-bondong datang setiap minggu untuk beribadah demi
mengalami perjumpaan dengan Yang Kudus itu, sekaligus mengukuhkan
komunalitasnya di dalam suatu gereja. Dalam hal ini, gereja adalah komunitas,
sebuah masyarakat yang terbentuk atas makna fundamental kolektif yang sama.
Di lain pihak, internet adalah ruang di mana semua orang, tanpa melihat
afiliasi keimanannya, dapat menjelajahi dunia tanpa batas. Setiap orang yang
masuk ke dalam dunia internet dapat masuk dan menemukan berbagai macam
informasi yang ia inginkan. Ketika mereka ingin mencari sesuatu yang mereka
tidak tahu, maka mereka cukup masuk ke dalam situs-situs pencari yang dapat
12 Ada beberapa gereja yang masih mengharuskan kaum perempuan untuk menggunakan rok dan melarang mereka menggunakan celana ketika masuk ke dalam gereja. Ada pula gereja yang secara implisit mengharuskan jemaatnya untuk menggunakan pakaian warna tertentu untuk ibadah tertentu. Bahkan ada sebuah gereja di daerah Sulawesi Utara yang mewajibkan seluruh kaum perempuan untuk mengenakan kerudung/hijab ketika mereka memasuki ruang ibadah.
13 Emile Durkheim, Elementary Forms of Religious Life, (London: Allen & Unwin, 1954) hlm. 41.
40
memberikan referensi pranala atas hal yang diinginkan. Misalnya, dengan
menggunakan situs pencari google14, maka jutaan pranala akan keluar ketika
pengguna mengetik satu kata kunci.
Selain itu, internet dapat menghubungkan seseorang di satu waktu dan
tempat dengan orang lain di waktu dan tempat yang berbeda. Fasilitas chat room
yang bertebaran di dunia internet mampu menghubungkan secara langsung antara
pengguna yang satu dengan pengguna yang lainnya, walaupun dipisahkan jarak
yang begitu jauh. Sebelum ada internet, komunikasi hanya dapat dilakukan
dengan pos dan telepon jarak jauh yang tentunya membutuhkan dana yang sangat
besar untuk menggunakannya. Selain itu, kehadiran media sosial di internet pun
membuat setiap orang terhubung satu sama lain. Media sosial membuat setiap
penggunanya melihat aktivitas orang yang berada jauh darinya, sebaliknya juga
membuat dirinya terlihat oleh ”teman-teman mayanya”.
Ada sebuah anekdot yang penulis dengar dari seorang pengkhotbah dalam
ibadah kaum muda di sebuah gereja besar di Jakarta,”Di masa kini kebanyakan umat Tuhan tidak lagi mencari Tuhan ketika mereka berada dalam kebingungan dan butuh jawaban. Mereka lebih suka lari ke tuan google untuk menemukan berbagai jawaban dari setiap persoalan. Dengan satu kali klik, jutaan informasi dan jawaban bisa didapatkan. Lebih cepat dan praktis dari doa yang harus disampaikan dengan cara yang sesuai dan membutuhkan waktu hingga
mendapatkan jawaban dari Tuhan.” Hal ini menggambarkan bahwa teknologi, secara perlahan tapi pasti, mulai menggeser kedudukan Tuhan dan gereja dalam
14
Google adalah salah satu dari situs pencari di dalam jaringan internet. Saat ini google adalah yang terbesar dari antara situs pencari lainnya karena ia mengembangkan diri tidak hanya sekadar mesin pencari (search engine), tetapi juga sebagai penyedia layanan email, cloud storage, peta digital, dan softwa re aplikasi pada platform komputer dan telepon genggam.
41
kehidupan masyarakat modern. Internet yang terus-menerus berkembang dan
memberikan akses yang luas terhadap segala informasi, membuat agama tidak lagi
menjadi satu-satunya acuan hidup manusia. Seorang peneliti dari Massachusetts
Institute of Technology, Allen Downey, membuat kesimpulan terbuka atas
penelitiannya terhadap bertambahnya jumlah orang-orang yang tidak beragama di
AS dari tahun 1990 – 2010. Menurutnya, jumlah ini terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya pengguna internet di negara itu. Tanpa menafikan
keberadaan faktor-faktor lain yang mendukung pertambahan tersebut, internet
sepertinya memang memegang peran yang signifikan dalam hal ini.15
Fakta di atas membuat gereja-gereja yang awalnya bersikap kontra
terhadap kemunculan internet menjadi lebih toleran bahkan adaptif terhadap
internet. Sebuah gereja (Jakarta Praise Community Church) yang bertempat di
sebuah mal besar di Jakarta, telah menggunakan teknologi internet secara baik
dalam kegiatan pelayanannya. Gereja ini mengembangkan sebuah website khusus
bagi anggota jemaatnya, di mana akses masuk hanya diberikan bagi jemaat yang
sudah terdaftar secara administratif di gereja ini. Secara otomatis, para anggota
yang terdaftar akan memiliki akun di website resmi gereja itu yang dapat
digunakan untuk melihat informasi ibadah dan kegiatan yang akan berlangsung.
Yang lebih menarik, akun ini digunakan sebagai sarana penghubung antara jemaat
dengan sekretariat gereja. Akun ini mencatat seluruh data dari jemaat yang
bersangkutan. Selain itu, akun ini juga digunakan untuk mendaftar segala macam
kegiatan yang akan dilangsungkan di gereja ini. Jemaat tinggal mendaftar melalui
15 http://www.technologyreview.com/view/526111/how-the-internet-is-taking-away-americas-religion/ diakses pada 27 April 2014. Beberapa catatan statistikal dari penelitian Downey dapat dilihat di http://arxiv.org/abs/1403.5534.
42
akun ini sehingga tidak perlu menelepon atau mendatangi kantor sekretariat
gereja. Semuanya menjadi all-in-one service.
Seorang jemaat muda yang penulis wawancarai mengakui kecanggihan
teknologi yang digunakan di gereja ini. Dia mengatakan, ”Gereja ini punya teknologi yang canggih. Mereka punya multimedia yang canggih, sound systemnya juga canggih. Mereka juga punya website yang canggih. P endetanya juga gaul dan funky. Itu sebabnya banyak anak muda yang datang gereja di sini. Mereka jadi betah bergereja di sini.” Secara tidak langsung, teknologi menjadi daya tarik bagi jemaat untuk datang dan bergabung dengan gereja ini.
Kenyamanan yang diberikan oleh teknologi canggih membuat jemaat
terakomodasi dan merasa bahwa mereka berada di tempat yang seharusnya.
Eksistensi di dalam media sosial berbasis internet pun tak pelak menjadi
daya tarik gereja ini bagi jemaatnya dan orang luar. Sudah menjadi hal yang
lumrah jika banyak percakapan antar jemaat dan pendeta dilakukan di dalam
media sosial sehingga hampir tidak dibutuhkan perjumpaan fisikal lagi untuk
terciptanya komunikasi. Gembala sidang dan para wakil gembala di gereja ini
memiliki berbagai akun media sosial yang digunakan selain untuk menyebarkan
pesan pastoral, juga menjadi sarana bertegur sapa dengan jemaat. Akun jejaring
sosial terpopuler, seperti Facebook dan Twitter, yang digunakan oleh para
pemimpin gereja juga seolah menjadi tempat yang wajib dikunjungi oleh jemaat.
Sang gembala sidang, Jeffrey Rachmat, tercatat dalam akun Twitternya memiliki
42.170 follower.16 Dan hampir setiap tweet-nya di-retweet oleh puluhan hingga
16 https://twitter.com/JeffreyRachmat/followers diakses pada 1 May 2014. Follower merupakan istilah spesifik dari jejaring sosial Twitter yang berarti pengikut suatu akun. Setiap akun Twitter yang menjadi follower dari akun Twitter lainnya, secara otomatis akan mendapatkan