• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 RIBA, GHARAR DAN MAYSIR DALAM EKONOMI

B. Gharar

Gharar menurut bahasa artinya keraguan, tipuan atau ketidakpastian

dalam sesuatu, yang akan merugikan pihak lain. Suatu akad mengandung unsur penipuan, karena tidak ada kepastian baik mengenai ada atau tidak ada obyek akad, besar kecil jumlah maupun menyerahkan obyek akad tersebut. Pengertian gharar menurut para ulama fikih Imam al-Qarafi, Imam Sarakhsi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al Jauziyah, Ibnu Hazam, sebagaimana dikutip oleh M. Ali Hasan68 adalah sebagai berikut: Imam al-Qarafi mengemukakan gharar adalah suatu akad yang tidak diketahui dengan tegas, apakah efek akad terlaksana atau tidak. Seperti melakukan jual-beli ikan yang masih dalam air (tambak). Pendapat al-Qarafi ini sejalan dengan pendapat Imam Sarakhsi dan Ibnu Taimiyah yang memandang

gharar dari ketidakpastian akibat yang timbul dari suatu akad.

Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan, bahwa gharar adalah suatu obyek akad yang tidak mampu diserahkan, baik obyek itu ada maupun tidak ada, seperti menjual sapi yang sedang lepas. Ibnu Hazam memandang gharar dari segi ketidaktahuan salah satu pihak yang berakad tentang apa yang menjadi akad tersebut.

Dari beberapa definisi di atas dapat diambil pengertian bahwa gharar adalah jual beli yang mengandung ketidakpastian, samar dan tipu daya yang merugikan salah satu pihak karena barang yang diperjual-belikan tidak dapat dipastikan adanya, atau tidak dapat dipastikan jumlah dan ukurannya, atau karena tidak mungkin dapat diserah-terimakan.

2. Dasar Hukum Gharar

Hukum jual beli gharar dilarang dalam Islam berdasarkan al-Qur’an dan hadis. Larangan jual beli gharar didasarkan pada ayat-ayat al-Qur’an yang melarang memakan harta orang lain dengan cara batil, karena

68 M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003, hlm. 147-148.

beli itu pada dasarnya harus jelas dan terhindar dari suatu ketidakpastian. sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat : 29

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta kamu di antara kamu dengan jalan yang bathil kecuali dengan jalan perniagaan yang berdasarkan kerelaan di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh diri kamu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang Kepadamu.”

Surat Al-Baqarah ayat: 188

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.69

Rasulullah SAW bersabda “Rasulullah telah melarang melakukan

jual-beli hashah (melempar kerikil) dan jual-jual-beli barang secara gharar.

69 Tafsir al-Jalalain mengenai surat Al-Baqarah: 188 adalah Dan janganlah kamu memakan harta sesama kamu), artinya janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain (dengan jalan yang batil), maksudnya jalan yang haram menurut syariat, misalnya dengan mencuri, mengintimidasi dan lain-lain (Dan) janganlah (kamu bawa) atau ajukan (ia) artinya urusan harta ini ke pengadilan dengan menyertakan uang suap (kepada hakim-hakim, agar kamu dapat memakan) dengan jalan tuntutan di pengadilan itu (sebagian) atau sejumlah (harta manusia) yang bercampur (dengan dosa, padahal kamu mengetahui) bahwa kamu berbuat kekeliruan.

3. Praktik Jual-Beli Gharar

Praktik jual-beli gharar dalam masyarakat sudah banyak terjadi.

Gharar dapat terjadi dalam empat hal, yaitu:70 a. Kuantitas

b. Kualitas c. Harga

d. Waktu penyerahan

Pada zaman modern yang sangat kompleks ini, para pelaku bisnis sering bersinggungan dengan gharar. Karena cakupan itu tidak hanya dilihat dari sisi kualitas dan kuantitas suatu objek yang diperdagangkan saja, melainkan meliputi harga dan waktu penyerahannya. Gharar dalam kuantitas terjadi apabila dalam jual beli borongan, dimana pihak penjual menginginkan untuk menjual hasil panen singkong yang masih berada dalam kebun dengan taksiran harga sekian, hal ini sering disebut ijon. Karena jual-beli tersebut belum terlihat secara pasti berapa jumlah sebenarnya hasil panen singkong tersebut. Dalam hal ini dikhawatirkan ada salah-satu pihak yang dirugikan. Gharar dalam segi kualitas terjadi apabila terdapat kasus jual-beli anak kambing yang masih dalam kandungan induknya. Dalam praktik jual-beli ini dikhawatirkan akan terjadi

gharar karena tidak ada yang bisa menjamin anak kambing tersebut lahir

secara sempurna, tidak cacat. Hal ini dimungkinkan akan menimbulkan kerugian pada salah satu pihak yang melakukan transaksi tersebut.

Gharar dalam segi harga bisa terjadi apabila, petani menjual hasil

panen seharga Rp. 4000 perkilogram, apabila pembeli bersedia membayar pada saat itu, akan tetapi, jika pembeli tidak sanggup membayar pada saat akad, maka harus membayar sejumlah Rp. 5000 perkilogram dengan jangka waktu yang ditangguhkan. Dari persoalan ini terjadi suatu ketidakpastian harga yang mana terdapat dua akad dalam satu transaksi.

Gharar dalam waktu penyerahan, terjadi apabila seseorang menjual

barang yang hilang, disetujui oleh pembeli. Dalam transaksi ini akan terjadi ketidakpastian mengenai waktu penyerahannya karena penjual dan pembeli sama-sama tidak tahu kapan barang tersebut ditemukan.

70 Adiwarman A. Karim. Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2006). Hlm. 33.

4. Contoh Jual-Beli yang Mengandung Gharar

a. Jual-Beli Munabadzah

jual-beli antara dua orang yang melempar bajunya masing-masing tanpa berpikir panjang dan saling mengatakan “baju ini dijual dengan baju ini.” Contoh selanjutnya adalah bentuk jual-beli yang mana penjual berkata kepada pembeli “setiap baju yang aku lempar padamu, maka harganya adalah Rp. 15,000, padahal harga ditempat lain berbeda. Jual-beli seperti ini dilarang, sesuai dengan Hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri ra, bahwa Rasulullah SAW melarang jual-beli

munabadzah, yaitu seseorang yang melempar bajunya untuk dijual kepada

orang lain. Sebelum ia melihat atau memperhatikan kualitas baju tersebut, beliau juga melarang jual-beli mulamasah, yaitu jual-beli dengan sentuhan, atau meraba baju tanpa melihatnya.

b. Jual-Beli Mulamasah

Jual-beli ini merupakan jual-beli dengan menyentuh atau meraba baju tanpa melihat baju tersebut, atau menjual barang pada malam hari, sehingga bagian yang cacat tidak bisa diketahui oleh pembeli.

c. Jual-Beli Dengan Sistem Lempar Kerikil

Yaitu penjual atau pembeli kerikil kearah barang yang dijual, lalu barang yang terkena kerikillah yang menjadi objek jual-beli. Tanpa melihat kualitas barang tersebut. Pelarangan jual-beli ini terdapat pada Hadits Rasulullah SAW “bahwa Rasulullah melarang jual-beli dengan sistem lempar kerikil dan jual-beli yang mengandung unsur gharar (penipuan). d. Jual-Beli Berdasarkan Kelahiran Cucu Unta

Yaitu jual-beli dengan harga yang ditangguhkan berupa anak dari anak unta, atau dengan kata lain sampai unta melahirkan. Artinya seekor unta melahirkan anak unta, kemudian anak unta ini bunting dan melahirkan anak, dan cucu unta ini yang akan menjadi objek jual beli. Jual beli ini tidak sah karena menjual dengan pembayaran sampai batas waktu yang tidak diketahui. Selain itu, jual-beli ini tidak ada barangnya dan tidak ada kejelasan keberadaannya, tidak dimiliki si penjual, tidak bisa dilakukan

serah terima, mengandung unsur penipuan, dan menjual hewan yang belum diciptakan.

e. Jual-Beli Mudlamin

Yaitu jual-beli janin yang masih berada dalam perut induknya. Jual-beli ini tidak diperbolehkan, sebagaimana jual-beli anak unta yang masih dalam kandungan induknya.

f. Jual-Beli Malaqih

Yaitu jual-beli embrio binatang yang masih dalam tulang punggung hewan.

g. Jual-Beli Sperma Pejantan

Asb’Fahl adalah pejantan yang mampu membuntingi betina dari

semua binatang, baik kuda, kambing, unta dan lain sebagainya. Objek yang dilarang dalam transaksi ini adalah pengambilan ongkos atas penyewaan pejantan. Jika seseorang menyewakan pejantan tanpa adanya birahi, maka ini tidak diperbolehkan, karena mengandung penipuan. Terkadang pejantan enggan membuntingi betina.

h. Jual-Beli Buah yang Belum Matang (Muawamah) dan Masih Hijau/Mentah (Mukhadarah)

Mukhadarah adalah menjual buah-buahan dan biji-bijian sebelum

matang. Sedangkan muawamah adalah menjual buah-buahan dalam jangka beberapa tahun. Inilah yang dideskripsikan para petani sebagai si A membeli kebun si B selama beberapa tahun dalam kondisi masih berupa pepohonan.

i. Menjual Barang yang Belum Diketahui

Menjual barang yang tidak diketahui hukumnya tidak boleh dan dilarang oleh Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, berkata “Rasulullah melarang penjualan buah-buahan sampai bisa

dimakan, juga bulu wol yang masih menempel di punggung hewan, samin yang ada di susu, dan susu yang masih ada di tulang rusuk.” 71

5. Hikmah Dilarangnya Jual-Beli Gharar

Hikmah dilarangnya jual-beli gharar adalah disebabkan adanya unsur spekulasi, atau yang mengandung unsur ketidakpastian karena mengakibatkan seseorang memakan harta orang lain dengan cara yang haram. Rasulullah SAW memperingatkan tentang larangan menjual buah-buahan yang belum layak dikonsumsi atau belum tumbuh. “Bagaimana kalau Allah tidak mengizinkan buah itu tumbuh, dengan alasan apa si penjual memakan harta pembelinya”84

dan bukan hanya buah yang belum layak untuk dikonsumsi. Tetapi semua jual-beli yang mengandung unsur kesamaran, baik barang, harga dan pelaksanaannya harus ditinggalkan, karena bisa merugikan salah satu pihak.

Jual-beli ini juga akan menimbulkan perselisihan dalam masyarakat dan rusaknya ekonomi yang sudah di syariatkan.

C. MAYSIR

Dalam dokumen KEMASLAHATAN EKONOMI ISLAM DI INDONESIA (Halaman 71-76)