4. BAB IV ANALISIS DAMPAK MEA
4.2. Posisi Indonesia Dalam Daya Saing Global
4.2.1. Global Competitiveness Index
Performance Index, dan Index of Economic Freedom. Laporan tersebut dapat menjadi
dasar untuk mengetaui bagaimana posisi daya saing Indonesia, khususnya dalam kawasan Asean. Dari laporan tersebut dapat diketahui apa kekuatan dan kelemahan daya saing Indonesia, sehingga dapat segera dilakukan upaya-upaya perbaikan untuk mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain, khususnya negara-negara dalam kawasan Asean.
4.2.1. Global Competitiveness Index
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep daya saing telah muncul sebagai paradigma baru dalam pembangunan ekonomi. Competitiveness menangkap adanya peluang dan tantangan yang ditimbulkan dalam suatu persaingan global, respon pemerintah dalam keterbatasan anggaran, serta peran sektor swasta dalam persaingan di pasar domestik dan internasional. World Economic Forum mendefinisikan daya saing sebagai "seperangkat
institusi, kebijakan, dan faktor-faktor yang menentukan tingkat produktivitas suatu negara". 2
Sejak tahun 2004, World Economic Forum telah menyusun Global
Competitiveness Index (GCI) yang merupakan laporan peringkat daya saing negara-negara
di dunia. Laporan peringkat tersebut didasarkan pada penelitian yang terdiri dari lebih dari 110 variabel, dimana dua per tiga berasal dari primer berasal dari survei para eksekutif, dan sepertiga berasal dari sumber data sekunder dari publikasi resmi.
Terdapat tiga pilar utama dalam peringkat daya saing suatu negara yang dapat dikelompokkan dikelompokkan menjadi 3 pilar utama yaitu: (i) Basic requirments; (ii)
Efficiency enhancers; dan (iii) Innovation and sophitication factors. Pilar Basic requirements diberikan bobot 40 persen; pilar Efficiency enhancers diberikan bobot 50
persen; dan pilar Innovation and sophitication factors diberikan bobot sebesar 10 persen. Ketiga pilar utama tersebut dirinci lagi menjadi 12 (dua belas pilar), yang masing-masing pilar yang sebagai penentu penting dari daya saing. Keduabelas pilar tersebut adalah:(1) Kelembagaan; (2) infrastruktur; (3) stabilitas makro ekonomi; (4) kesehatan dan pendidikan dasar; (5) pendidikan tinggi dan pelatihan; (6) pasar barang yang efisien; (7) pasar tenaga kerja yang efisien; (8) pengembangan pasar keuangan; (9) pemanfaatan teknologi; (10) ukuran pasar, baik domestik maupun internasional; (11) kecanggihan proses produksi; dan (12) inovasi. Untuk lebih jelasnya, pilar-pilar penyusun indeks daya saing global disajikan pada Gambar di bawah ini. 3
2 http://www.weforum.org/reports/global-competitiveness-report-2014-2015
45
Gambar 4.1. Komponen Global Competitiveness Index
Sumber : The Global Competitiveness Report 2014–2015 (2014)
Pada tahun 2014, World Economic Forum telah mengeluarkan laporan peringkat daya saing dalam Global Competitiveness Index (GCI) 2014-2015. Laporan tersebut memberikan peringkat pada 144 negara. Negara yang mempunyai daya saing baik diberi peringkat 1 (satu). Peringkat tersebut berdasarkan hasil dari skor dari 12 pilar.
Dari 10 negara-negara anggota Asean, pada GCI 2014-2015, Burnei Darusalam tidak dimasukkan dalam negara yang di survei. Sedangkan untuk Laos dan Myanmar, pemberian peringkat baru ada selama 2 tahun terakhir, sehingga belum dapat dilihat pergerakan series mulai tahun 2004.
Berdasarkan laporan tersebut, dari 9 (sembilan) negara yang tergabung dalam Komunitas Ekonomi ASEAN (diluar Burnei Darusalam), peringkat daya saing paling tinggi diraih oleh oleh Singapore yang menduduki peringkat 2 dari 144 negara di dunia. Peringkat berikutnya adalah Malaysia (20) dan Thailand (31), sementara itu Indonesia menduduki peringkat 34. Peringkat daya saing Indonesia ini mengalami kenaikan 4 peringkat dibanding daya saing Indonesia tahun lalu yang berada di peringkat 38. Sementara itu, pada 2 tahun sebelumnya Indonesia masih menduduki peringkat 50 dunia. Daya saing Indonesia yang terus meningkat ini tentu merupakan sebuah prestasi dalam menyambut AEC.
46
Gambar 4.2. Peringkat daya saing Negara-Negara ASEAN
Sumber : GCI 2014-2015 (2014)
Dilihat dari skor nilai daya saing, skor daya saing Indonesia sebesar 4,57 yang masih diatas rata-rata skor daya saing negara-negara ASEAN yang nilainya 4,41. Rata-rata skor daya saing dari 144 negara yang dilaporkan sebesar 4,21. 4 Dengan melihat angka skor ini, secara umum daya saing negara-negara kawasan ASEAN masih lebih baik dari rata-rata daya saing dunia. Sehingga daya saing ASEAN Economic Community (AEC) sebagai suatu kesatuan masih diatas rata-rata daya saing dunia. Secara series, peringkat daya saing negara-negara kawasan Asean dari tahun 2006 sampai dengan 2014 dapat dilihat pada Gambar 4.3. Walaupun peringkat Indonesia sempat mengalami kemerosotan (2010-2012), namun kembali membaik setelah dua tahun terakhir.
Skor Daya Saing Peringkat
Gambar 4.3. Skor dan Peringkat daya saing Negara ASEAN 2006 – 2014
Sumber; GCI, beberapa terbitan
Dalam suatu persaingan, selain identifikasi peta kekuatan negara pesaing, tidak kalah pentingnya adalah identifikasi kekuatan dan kelemahan daya saing Indonesia. Identifikasi ini kekuatan dan kelemahan ini penting untuk memperbaiki kinerja pada indikator yang masih berdayasaing rendah, serta mempertahankan indikator yang telah baik daya saingnya.
4 Skor daya saing dalam GCI berada pada rentang : 1 (Rendah) sampai dengan 7 (tinggi)
Singapore Malaysia Thailand Indonesia Philippines Vietnam Lao PDR Myanmar Cambodia Rank 2014-12015 2 20 31 34 52 68 93 134 95 Rank 2013-2014 2 24 37 38 59 70 81 139 88 Skor 2014-2015 5.65 5.16 4.66 4.57 4.40 4.23 3.91 3.24 3.89 4.57 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 0 20 40 60 80 100 120 140 160
Skor dan Peringkat Daya Saing Negara-Negara Asean
0 20 40 60 80 100 2006 -2007 2007 -2008 2008 -2009 2009 -2010 2010 -2011 2011 -2012 2012 -2013 2013 -2014 2014 -2015 Indonesia Cambodia Malaysia Philippines Singapore Thailand Vietnam 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 5.50 6.00 2006 -2007 2007 -2008 2008 -2009 2009 -2010 2010 -2011 2011 -2012 2012 -2013 2013 -2014 2014 -2015
Indonesia Cambodia Malaysia Philippines
47
Dengan kenaikan daya saing kenaikan peringkat daya saing ini tentu merupakan capaian yang menggembirakan. Diidentifikasi lebih jauh masing-masing unsur kekuatan dan kelemahan Indonesia perlu dilakukan untuk membaiki yang masih rendah serta mempertahankan yang sudah baik kinerjanya. Selama 3 tahun berturut-turut, skor pilar daya saing Indonesia yang lemah dan yang cukup kuat relatif belum mengalami banyak perubahan. Skor pilar yang lemah adalah pada Labor market efficiency, Technological
readiness, dan Innovation. Dari ketiga pilar skor daya saing yang lemah tersebut, pilar Innovation telah menunjukkan perbaikan. Dari tahun 2012 sebesar 3,6, naik menjadi 3,8
pada tahun 2013, dan naik lagi menjadi 3,9 pada tahun 2014. Sementara itu, Skor yang cukup kuat adalah Macroeconomic environment, Health and primary education dan
Market size. Skor Macroeconomic environment yang pada tahun 2013 mencapai skor
paling tinggi (5,8), pada tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 5,7.
Gambar 4.4. Skor Daya Saing Indonesia Tahun 2012-2014
Sumber : GCI, beberapa terbitan
Untuk lebih jelasnya, skor pilar daya saing Indonesia pada tahun 2012 – 2014 disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.9. Skor Daya Saing Indonesia Tahun 2012-2014
Pilar 2012-2013 2013-2014 2014-2015
Institutions 3.9 4.0 4.1
Infrastructure 3.7 4.2 4.4
Macroeconomic environment 5.7 5.8 5.5
Health and primary education 5.7 5.7 5.7
Higher education and training 4.2 4.3 4.5
Goods market efficiency 4.3 4.4 4.5
Labor market efficiency 3.9 4.0 3.8
Financial market development 4.1 4.2 4.5
Technological readiness 3.6 3.7 3.6
Market size 5.3 5.3 5.3
Business sophistication 4.3 4.4 4.5
Innovation 3.6 3.8 3.9 Sumber : GCI, beberapa terbitan
Walaupun secara skor pilar daya saing Indonesia tidak begitu banyak berubah, namun apabila dilihat dari peringkat/ranking daya saing Indonesia dimata dunia, secara
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 Institutions Infrastructure Macroeconomic environment
Health and primary education
Higher education and training Goods market efficiency Labor market efficiency Financial market development Technological readiness Market size Business sophistication Innovation 2012-2013 2013-2014 2014-2015
48
relatif cukup menunjukkan perubahan yang cukup berarti. Pilar Macroeconomic
environment pada tahun 2012 menempati urutan ke 25, turun menjadi 26 pada tahun 2013,
dan turun lagi menjadi urutan 34 pada tahun 2014. Dengan penurunan ini, secara relatif pilar Macroeconomic environment Indonesia menunjukkan kemerosotan. Sementara itu, pilar Innovation walalupun menjukkan skor yang rendah, tetapi secara peringkat terus menunjukkan perbaikan peringkat. Dari peringkat 39 pada tahun 2012, naik menjadi urutan 33 pada tahun 2013, dan naik lagi menjadi peringkat 31 pada tahun 2014.
Tabel 4.10. Peringkat Daya Saing Indonesia Tahun 2012-2014
Pilar 2012-2013 2013-2014 2014-2015
Institutions 72 67 53
Infrastructure 78 61 56
Macroeconomic environment 25 26 34
Health and primary education 70 72 74
Higher education and training 73 64 61
Goods market efficiency 63 50 48
Labor market efficiency 120 103 110
Financial market development 70 60 42
Technological readiness 85 75 77
Market size 16 15 15
Business sophistication 42 37 34
Innovation 39 33 31
GCI (Total) 50 38 34 Sumber : GCI, beberapa terbitan
Efisiensi dan fleksibilitas pasar tenaga kerja penting untuk memastikan bahwa para pekerja dialokasikan secara paling efektif dalam perekonomian dan diberi insentif untuk memberikan upaya terbaik mereka dalam pekerjaan mereka. Oleh karena itu, pasar harus memiliki fleksibilitas untuk pergeseran pekerja dari satu kegiatan ekonomi yang lain dengan cepat dan dengan biaya rendah. Pasar tenaga kerja yang kaku itu merupakan penyebab dari pengangguran angkatan kerja baru, sehingga dapat memicu kerusuhan sosial. Pasar tenaga kerja yang efisien harus memberikan insentif yang jelas bagi karyawan, jenjang promosi yang jelas, meritokrasi, serta persamaan gender. Secara bersama-sama faktor-faktor ini memiliki efek positif dan meningkatkan kinerja para pegawai.
Upah buruh menjadi kendala utama dalam efisiensi tenaga kerja Indonesia. Buruh yang masih digaji secara mingguan serta susahnya kesepakatan penentuan upah minimum menjadi kelemahan utama dalam efisiensi pasar tenaga kerja. Hubungan antara pekerja dan pemberi kerja yang masih lemah seperti adanya outsourcing akan mengakibatkan mudahnya terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak.
Dari sisi kesiapan teknologi, dalam dunia global, teknologi semakin penting bagi perusahaan untuk bersaing. Pilar kesiapan teknologi mengukur flesibilitas ekonomi dalam mengadopsi teknologi yang sudah ada untuk meningkatkan produktivitas industri. Pemanfaatkan informasi dan teknologi komunikasi (TIK) dalam kegiatan sehari-hari dan proses produksi akan meningkatkan efisiensi dan memungkinkan inovasi untuk kompetitif.