Meski untuk waktu yang lama pilihan kombinasi jaminan sosial dan sarana pembiayaan pemerintah yang digunakan semata bergantung pada konsensus dan pilihan nasional, tekanan global yang ada sekarang memberikan tanda pada banyak pemilihan kebijakan nasional. Saat ini, tekanan tersebut hanya dapat diringankan–meski tidak seluruhnya–dengan langkah-langkah kebijakan domestik. Pemerintah tidak bisa menggunakan seluruh sarana perundangan untuk meningkatkan pendapatan tanpa langsung mengurangi tingkat perlindungan. Tak hanya itu, langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan juga bisa dilakukan, seperti menaikkan usia pensiun. Pada saat yang bersamaan, proses produksi harus disesuaikan untuk mengakomodasi tenaga kerja yang lebih tua.
24 Sehubungan dengan hal ini perlu dicatat bahwa menurut Konvensi No. 102 setiap negara yang meratifikasi harus menerima tanggungjawab umum untuk penyediaan bantuan; negara tersebut harus menjamin bahwa studi penetapan asuransi tentang keseimbangan finansial dilakukan secara periodis dan setiap sebelum dilakukan perubahan jumlah bantuan, tingkat premi asuransi, ataupun pajak yang dialokasikan untuk menutupi pembiayaan darurat yang berkaitan.
Walaupun demikian, tidaklah sulit untuk melihat bahwa pertambahan keterhubungan pasaran dunia bisa lebih lanjut mengubah struktur pembiayaan perlindungan sosial. Globalisasi finansial telah berkembang dengan cepat, sementara di saat yang sama peran bursa keuangan dalam pembiayaan skema dana pensiun telah meningkat. Skema dana simpanan pensiun pemerintah (seperti yang ada di Kanada, Perancis, dan Irlandia) yang ada saat ini di skema sekunder besar dan skema yang diberlakukan di masa mendatang bisa menjadi pemain terkemuka di bursa keuangan internasional. Karena hasil berbagai bursa tersebut saling berhubungan, maka jatah pensiun pegawai di seluruh dunia menjadi saling bergantung satu dengan lainnya. Apabila suatu bursa saham besar anjlok, atau apabila pasar saham secara kolektif menurunkan harga aset, jutaan pekerja di seluruh dunia akan terpengaruh pada saat yang bersamaan.
Sebaliknya, banyak pekerjaan yang ada bergantung, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada keputusan investasi dana pensiun negara-negara maju. Saat ini makin banyak badan keuangan internasional yang telah meminjamkan uang untuk membentuk atau mereformasi sistem pensiun negara-negara maju. Pinjaman internasional dan dana hibah diserap oleh dana sosial negara dan daerah. Bantuan internasional juga menyediakan dana untuk penanganan bencana hingga subsidi sistem perawatan kesehatan nasional, dan lain lain. Untuk negara-negara yang tergabung dalam Negara Miskin Sarat Hutang (HIPC, Heavily Indebted Poor Countries), IMF dan Bank Dunia menyatukan keringanan hutang dengan penerapan kebijakan pengentasan kemiskinan nasional. Upaya-upaya pembangunan dan inisiatif tersebut saat ini berjalan tanpa koordinasi.
Menurut perkiraan ILO baru-baru ini, hanya diperlukan sebagian kecil PDB dunia untuk mengentaskan sebagian besar orang-orang dengan kemiskinan parah yang ada di negara-negara termiskin. Akan tetapi, mengorganisasi atau menyalurkan transfer dan menyampaikan bantuan masih menjadi tantangan utama di skala global, termasuk bagi sejumlah negara. Dengan kampanye peringanan hutang, badan keuangan internasional telah memuali langkah pertama. Pada 2000, Sesi Khusus Sidang Umum PBB “Social Summit+5” menganjurkan pemerintah negara-negara yang tertarik agar mempertimbangkan pembentukan Dana Solidaritas Dunia yang dibiayai secara sukarela untuk mendukung pemberantasan kemiskinan dan mempromosikan pembangunan sosial di daerah-daerah termiskin di dunia.
Namun demikian, perlu ditekankan bahwa perluasan jaminan sosial tetap secara fundamental menjadi tanggung jawab tiap negara. Meski komunitas internasional bisa menyediakan bantuan sosial terkait krisis (dan bantuan pembangunan), upaya berkelanjutan untuk menyediakan jaminan sosial tetap berada di masing-masing negara.
Kesimpulan
Bagian PDB untuk pengeluaran jaminan sosial, terutama di negara-negara berkembang, saat ini diproyeksikan akan naik, seiring dengan berkembangnya sistem yang ada serta matangnya skema tersebut. Di negara-negara industri, pengeluaran bisa terus naik apabila tidak tercapai stabilisasi rasio ketergantungan manula dengan cara mengikutsertakan lebih banyak perempuan, pemuda, dan pekerja usia tua dalam sistem tenaga kerja yang ada. Tantangan yang sesungguhnya adalah di bursa tenaga kerja. Lapangan kerja yang ada haruslah mencukupi untuk semua tenaga kerja yang ada.
Pada intinya, jaminan sosial adalah bagaimana mengelompokkan risiko, dan secara umum, makin besar kelompok resiko tersebut, makin dapat diandalkan proteksi yang diberikan.
Ketergantungan pada skema yang menangani kelompok kecil atau pada tabungan individual
menciptakan benefit yang besar serta ketidakpastian selama skema tersebut tidak distabilisasi dan disubsidi oleh sumber nasional (bahkan internasional).
Cakupan hingga sejauh mana pinjaman digunakan dan diperlukan untuk pembiayaan pembayaran bantuan, bergantung pada sifat bantuan dan karakteristik skema yang ada. Namun pinjaman saja hampir tidak mungkin menyelesaikan semua masalah struktural finansial jangka panjang di sistem nasional transfer sosial. Dari sudut pandang finansial, fiskal, ekonomi, dan sosial, satu-satunya strategi jangka panjang yang layak untuk memelihara pengeluaran sosial di tingkatan yang bisa diterima adalah dengan menurunkan tingkat ketergantungan.
Perlindungan sosial bisa diadakan melalui skema jaminan sosial maupun oleh swasta.
Pemerintah memegang peranan yang tidak tergantikan sebagai penjamin keuangan skema jaminan sosial dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab, baik eksplisit maupun implisit, dalam hubungannya dengan penyediaan bantuan oleh pihak swasta. Adanya hubungan antara alat pembiayaan nasional bisa dipakai untuk membiayai jaminan sosial. Pada akhirnya, tidak ada aturan umum mengenai batas pajak dan iuran jaminan sosial yang bisa diterima. Level transfer sosial suatu bangsa lebih mencerminkan nilai-nilai sosial daripada batas kemampuan ekonomi.
Meskipun demikian, tantangan jangka panjang dalam membiayai jaminan sosial adalah masalah global maupun nasional. Jika pemain ekonomi global diperbolehkan melemahkan wewenang negara untuk memungut pajak dan iuran jaminan sosial, maka perlindungan sosial, yang mencapai kemajuan hebat di abad ke-20, akan menghadapi ketidakpastian yang besar di abad ke-21. Pemerintah harus bekerja bersama untuk menjaga kedaulatan mereka di area-area penting ini.
Kini terdapat berbagai bentuk perlindungan sosial, tergantung pada kebutuhan dan pola pengembangan sosial dan ekonomi dari bangsa atau masyarakat yang mengembangkannya.
Perlindungan sosial dapat disediakan dalam jaringan keluarga dan komunitas, serta dari lembaga kemasyarakatan, perusahaan serta pasar, dan lembaga publik. Belakangan ini komunitas internasional–sebagaimana dibuat jelas di Pertemuan Dunia untuk Pembangunan Sosial (Social Summit) di Kopenhagen pada 1995 dan “Social Summit+5” di Jenewa pada 2000–lebih memperhatikan kebijakan sosial global.
Bab-bab sebelumnya sudah menunjukkan cakupan perlindungan sosial sudah mulai berkembang dari dunia kerja sektor formal ke wiraswasta dan kerja sambilan di sektor informal.
Oleh karena itu, dibutuhkan keikutsertaan pemegang peranan sosial yang lebih beragam dalam pembiayaan dan pengelolaan jaminan sosial. Karena itu bab ini berusaha meninjau berbagai bentuk kemitraan dan dialog sosial yang dapat meningkatkan efektivitas dan cakupan perlindungan sosial bagi semua.