KAJIAN PUSTAKA
2.3 Good Corporate Governance
Corporate Governance (CG) dianggap sebagai salah satu mekanisme untuk
meminimalisir terjadinya manajemen laba yang dapat merugikan pihak lain. Lemahnya CG di Indonesia juga terbukti berdasarkan penelitian McGee (2008),
9
yang meneliti tentang perbandingan CG di Asia. Hasil penelitiannya ditampilkan dalam gambar di bawah ini:
Gambar 2.1
Tingkat Corporate Governance di Asia
Sumber: Robert McGee, 2008
Berdasarkan tabel di atas CG di Indonesia menempati peringkat kedua terbawah sebelum Vietnam yang berarti bahwa CG di Indonesia masih tergolong buruk dibandingkan negara lain di Asia. CG berkaitan erat dengan kepercayaan, baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun terhadap iklim usaha di suatu negara. Dengan sistem CG yang baik maka perlindungan yang efektif dapat diberikan kepada para pemegang saham dan pihak kreditur, sehingga mereka bisa meyakinkan dirinya akan perolehan kembali investasi dengan wajar dan bernilai tinggi. Oleh karena itu, perusahaan harus menyadari bahwa sistem CG yang baik sangat berarti bagi kepentingan pemegang sahamnya, penyandang dana serta karyawannya, dan bagi perusahaan itu sendiri. Keputusan Menteri BUMN Nomor Kep-117/M-MBU/2002, mendefinisikan Corporate Governance sebagai suatu
10
proses dan struktur yang digunakan oleh suatu organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan
stakeholders lainnya berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai
etika. Syakhroza (2003) mendefinisikan good corporate governance sebagai suatu mekanisme tata kelola organisasi secara baik dalam melakukan pengelolaan sumber daya organisasi secara efisien, efektif, ekonomis ataupun produktif dengan prinsip-prinsip terbuka, akuntabilitas, pertanggung jawaban, independen, dan adil dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Surat Edaran Bank Indonesia No. 9/12/DPNP/2007 bagian penjelasan umum memberikan prinsip-prinsip GCG sebagai berikut:
“Pertama transparansi (transparency) diartikan sebagai keterbukaan dalam
mengemukakan informasi yang materil dan relevan serta keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan. Kedua, akuntabilitas
(accountability) yaitu kejelasan fungsi dan pertangungjawaban bank sehingga
pengelolaannya berjalan efektif. Ketiga, pertanggungjawaban (responsibility) yaitu kesesuaian pengelolaan bank dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip pengelolaan bank yang sehat. Keempat, independensi
(independency) yaitu pengelolaan bank secara profesional tanpa pengaruh atau
tekanan dari pihak manapun. Kelima, kewajaran (fairness) yaitu keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
11
Dalam sektor perbankan kewajiban penerapan GCG tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 Tentang Pelaksanaan Good
Corporate Governance bagi Bank Umum yang merupakan salah satu upaya untuk
memperkuat kondisi internal perbankan nasional sesuai dengan Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Mekanisme CG dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
(1) internal mechanism (mekanisme internal) yang terdiri dari komposisi dewan
direksi atau komisaris, kepemilikan manajerial, dan kompensasi eksekutif, (2)
external mechanism (mekanisme eksternal) seperti pengendalian oleh pasar dan
debt financing (Barnhart dan Rosenstein, 1998).
Menurut Utama (2003) dalam Herawati (2008) prinsip-prinsip GCG yang telah diterapkan memberikan beberapa manfaat, diantaranya:
1) Meminimalkan agency cost dengan mengontrol konflik kepentingan yang mungkin terjadi antara prinsipal dengan agen.
2) Meminimalkan cost of capital dengan menciptakan sinyal positif kepada para penyedia modal.
3) Meningkatkan citra perusahaan.
4) Meningkatkan nilai perusahaan yang dapat dilihat dari cost of capital yang rendah.
5) Peningkatan kinerja keuangan dan persepsi stakeholder terhadap masa depan perusahaan yang lebih baik.
2.3.1 Kepemilikan Manajerial
Dari sudut pandang teori akuntansi, manajemen laba sangat ditentukan oleh motivasi manajer perusahaan. Motivasi yang berbeda akan menghasilkan besaran
12
yang berbeda pula, seperti antara manajer yang juga sekaligus sebagai pemegang saham dan manajer yang tidak sebagai pemegang saham. Dua hal tersebut akan mempengaruhi manajemen laba, sebab kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang dikelolanya.
Secara umum dapat dinyatakan bahwa persentase tertentu kepemilikan saham oleh pihak manajemen (kepemilikan manajerial) cenderung mempengaruhi tindakan manajemen laba (Boediono, 2005). Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa praktek manajemen laba dapat diminimumkan dengan menyelaraskan perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajemen dengan cara memperbesar kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen (managerial
ownership). Dalam kepemilikan saham yang rendah, maka insentif terhadap
kemungkinan terjadinya perilaku oportunistik manajer akan meningkat (Shleifer dan Vishny, 1997). Warfield et al. (1995) dalam Midiastuty dan Machfoedz (2003) menyatakan adanya kepemilikan manajerial dapat mengurangi dorongan manajer untuk melakukan tindakan manipulasi sehingga laba yang dilaporkan merefleksikan keadaan ekonomi yang sebenarnya dari perusahaan tersebut.
2.3.2 Kepemilikan Institusional
Konsentrasi kepemilikan institusional merupakan saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga. Masalah keagenan utama dalam perusahaan dengan kepemilikan seperti ini adalah konflik antara pemegang perusahaan dengan pemegang saham minoritas. Apabila tidak terdapat hukum yang memadai, pemegang saham pengendali dapat melakukan aktivitas yang menguntungkan
13
dirinya sendiri dan merugikan pemegang saham lain (Tarjo, 2008). Penelitian La Porta et al. (1999) menunjukkan bahwa kepemilikan semua perusahaan publik di hampir semua negara adalah terkonsentrasi, kecuali di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. La Porta et al. (1999) menunjukkan bahwa struktur kepemilikan yang terkonsentrasi terjadi di negara-negara dengan tingkat corporate governance yang rendah.
Investor institusional sering disebut sebagai investor yang canggih
(sophisticated) seharusnya lebih dapat menggunakan informasi periode sekarang
dalam memprediksi laba masa depan dibandingkan dengan investor non institusional. Balsam et al. (2002) dalam Veronica dan Utama (2006) menyatakan bahwa kepemilikan institusional yang tinggi dapat meminimalisir earnings
management tergantung pada tingkat kecanggihan investor tersebut. Persentase
saham tertentu yang dimiliki oleh institusi dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai kepentingan pihak manajemen (Boediono, 2005). Pernyataan ini sesuai dengan Ujiyantho dan Pramuka (2007) yang menyatakan bahwa kepemilikan saham oleh institusional karena mereka dianggap sebagai
sophisticated investor dengan jumlah kepemilikan yang cukup signifikan dapat
memonitor manajemen yang berdampak mengurangi motivasi manajer untuk melakukan earnings management.
2.3.3 Proporsi Dewan Komisaris Independen
Dewan komisaris merupakan organ perusahaan yang memiliki tanggung jawab dan kewenangan penuh atas pengurusan perusahaan. Fungsi dewan
14
komisaris termasuk di dalamnya komisaris independen antara lain: melakukan pengawasan terhadap direksi dalam pencapaian tujuan perusahaan dan memberhentikan direksi untuk sementara bila diperlukan (Warsono et al., 2009). Dalam Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 proporsi dewan komisaris independen sekurang-kurangnya 50 persen (lima puluh perseratus) dari jumlah anggota dewan komisaris. Proporsi dewan komisaris dapat memberikan kontribusi yang efektif terhadap hasil dari proses penyusunan laporan keuangan yang berkualitas atau kemungkinan terhindar dari kecurangan laporan keuangan. Dapat dikatakan bahwa proporsi dewan komisaris yang terdiri dari anggota yang berasal dari luar perusahaan mempunyai kecenderungan mempengaruhi manajemen laba. Pemikiran ini didukung hasil penelitian Klein (2006), Chtourou et al. (2001), dan Midiastuty dan Machfoedz (2003).
2.3.4 Komite Audit
Komite audit mempunyai peran penting dan strategis dalam memelihara kredibilitas penyusunan laporan keuangan seperti menjaga sistem pengawasan yang memadai. BAPEPAM melalui Surat Edaran No. SE-03/PM/2000 menghimbau perusahaan publik untuk membentuk komite audit. Anggota komite audit diangkat dari anggota dewan komisaris yang tidak melaksanakan tugas eksekutif dan terdiri paling sedikit tiga anggota yang independen. Komite audit mengadakan rapat tiga sampai empat kali setahun untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya. Komite audit memberi pendapat profesional kepada dewan komisaris untuk meningkatkan kualitas kerja dan mengurangi penyimpangan pengelolaan perusahaan.
15
Komite audit sebagai komponen mekanisme corporate governance, memiliki hubungan yang erat dengan masalah keagenan. Apabila fungsi komite audit berjalan secara efektif, kontrol terhadap perusahaan akan semakin baik sehingga diharapkan mengurangi agency problems. Midiastuty dan Machfoedz (2003) menyatakan bahwa keberadaan komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini memberi bukti bahwa keberadaan komite audit dapat meningkatkan efektifitas kinerja perusahaan.