• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.3. Good Corporate Governance

Good Corporate Governance merupakan sistem yang mengatur serta mengendalikan perusahaan guna menciptakan nilai tambah (value added) untuk pemegang sahamnya. Situasi eksternal dan internal perusahaan manufaktur semakin kompleks sehingga risiko kegiatan usaha manufaktur pun kian beragam dan secara tidak langsung menuntut praktek tata kelola perusahaan yang sehat.

Penerapan prinsip good corporate governance selain meningkatkan daya saing juga memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Risiko dalam usaha atau bisnis adalah sesuatu yang alamiah dan selalu akan dihadapi oleh perusahaan. Meniadakan sama sekali risiko tersebut juga merupakan hal yang tidak realistis. Sistemgoodcorporate governance memberikan perlindungan efektif bagi pemegang saham dan kreditor sehingga mereka yakin akan memperoleh return atas investasinya dengan benar. Good corporate governance juga membantu menciptakan lingkungan kondusif demi terciptanya pertumbuhan yang efisien dan sustainable di sektor korporat. Good corporate governance dapat didefinisikan sebagai susunan aturan yang menentukan hubungan antara pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah, karyawan, dan stakeholder internal dan eksternal yang lain sesuai dengan hak dan tanggung jawabnya (FCGI, 2003).

Nasution dan Setiawan (2007) menyatakan Good corporate governance merupakankonsep yang diajukan demi peningkatan kinerja perusahaan melalui supervisi ataumonitoring kinerja manajemen dan menjamin akuntabilitas manajemen terhadapstakeholder dengan mendasarkan pada kerangka peraturan.

2.1.3.1.Tujuan Pedoman Good Corporate Governance

Ada beberapa maksud dan tujuan penyusuna Pedoman Good Corporate Governance Indonesia yaitu pedoman GCG merupakan acuan bagi perusahaan untuk melaksanakan GCG dalam rangka: 1) Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan. 2) Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing

organperusahaan, yaitu Dewan Komisaris, Direksi dan Rapat Umum Pemegang Saham. 3) Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. 4) Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan. 5) Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan lainnya. 6) Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan (KNKG, 2006).

2.1.3.2.Manfaat Good Corporate Governance

Manfaat good corporate governance adalah meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders, mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat meningkatkan corporate value, mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, dan pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholder value dan dividen(FCGI, 2003).

2.1.3.3.Prinsip Pokok Good Corporate Governance

Komite Nasional Kebijakan Governance atau KNKG (2006) menyatakan bahwa setiap perusahaan harus memastikan bahwa prinsip-prinsip pokok good corporategovernanceyaitu: 1) Transparency (Keterbukaan Informasi) yaitu

prinsipuntuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. 2) Accountability (Akuntabilitas) yaitu prinsipperusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. 3) Responsibility (Pertanggungjawaban) yaitu prinsip perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen. 4) Independency (Independensi) yaitu prinsip untuk melancarkan pelaksanaan asas good corporate governance dimana perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

5) Fairness (Kesetaraan dan kewajaran) yaitu prinsip dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.

Dalam KNKG (2006), agar pelaksanaan tugas dewan komisaris dapat berjalan secara efektif perlu dipenuhi beberapa prinsip. Pertama, komposisi dewan komisaris harus memungkinkan pengambilan keputusan secara efektif, tepat dan cepat, serta dapat bertindak independen. Kedua, anggota dewan komisaris harus profesional, yaitu berintegritas dan memiliki kemampuan sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan baik termasuk memastikan bahwa direksi telah memperhatikan kepentingan semua pemangku kepentingan, dan yang ketiga

fungsi pengawasan dan pemberian nasihat dewan komisaris mencakup tindakan pencegahan, perbaikan, sampai kepada pemberhentian sementara.

Jumlah dari dewan komisaris dapat disesuaikan dengan keadaan perusahaan. Dewan komisaris dapat terdiri dari komisaris yang tidak berasal dari pihak terafiliasi yang dikenal sebagai komisaris independen dan komisaris yang terafiliasi. Pihak yang terafiliasi adalah pihak yang mempunyai hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan pemegang saham pengendali, anggota direksi dan dewan komisaris lain, serta dengan perusahaan.Jumlah komisaris independen harus dapat menjamin agar mekanisme pengawasan berjalan secara efektif dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (KNKG, 2006).

Dalam melaksanakan tugasnya, dewan komisaris dapat membentuk komite. Salah satu komite penunjang dewan komisaris adalah adanya komite audit dimana komite audit disini bertugas membantu dewan komisaris untuk memastikan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik, pelaksanaan audit internal maupun eksternal dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku, dan tindak lanjut temuan hasil audit dilaksanakan oleh manajemen. Jumlah anggota komite audit harus disesuaikan dengan kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan efektiitas dalam pengambilan keputusan. Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, komite audit diketuai oleh

komisaris independen dan anggotanya dapat terdiri dari komisaris dan atau pelaku profesi dari luar perusahaan.(KNKG, 2006).

Dokumen terkait