TINJAUAN PUSTAKA
2.5. GoodCorporate Governance
Istilah corporate governance pertamakali diperkenalkan oleh Cadbury Committee, Inggris pada tahun 1922 dalam laporannya yang bertajuk Cadbury Report
(dalam sukrisno Agoes, 2006), yang mendefenisikan corporate governance sebagai seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka; atau dengan kata lain suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.
Dari defenisi yang dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Good Corporate Governance merupakan suatu sistem yang berfungsi untuk mengawasi dan
mengendalikan perusahaan dalam mewujudkan tujuan untuk meningkatkan laba
antara shareholder dan stakeholder dan menjaga hubungan baik diantara pemegang saham serta dapat menjalankan perusahaan sesuai dengan prosedur perusahaan dan
etika perusahaan.
2.5.1 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
Dalam undang-undang No 40 Tahun 2007 prinsip-prinsip good
corporate governance harus mencerminkan pada hal-hal sebagai berikut:
1. Transparency (keterbukaan informasi)
Keterbukaan yang diwajibkan oleh undang-undang seperti misalnya mengemukakan pendirian PT dalam tambahan Berita Negara Republik Indonesia ataupun surat kabar. Serta keterbukaan yang dilakukan oleh perusahaan menyangkut masalah keterbukaan informasi ataupun dalam hal penerapan manajemen keterbukaan, informasi kepemilikan perseroan yang akurat, jelas dan tepat waktu baik kepada shareholders maupun stakeholder.
2. Accountability (dapat dipertanggungjawabkan)
Akuntabilitas menekankan pada pentingnya penciptaan sistem pengawasan yang efektif berdasarkan pembagian kekuasaan antara komisaris, direksi, dan pemegang saham yang meliputi monitoring, evaluasi, dan pengendalian terhadap manajemen untuk meyakinkan bahwa manajemen bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham dan pihak-pihak berkepentingan lainnya.
3. Responsibility (pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian didalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku.Peraturan yang berlaku disini berkaitan dengan masalah pajak, hubungan industrial, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan/keselamatan kerja, standar penggajian, dan persaingan yang sehat.
4. Fairness (kewajaran)
Kewajaran bisa di defenisikan sebagai perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku.Fairness diharapkan membuat seluruh asset perusahaan
dikelola secara baik dan prudent (hati-hati), sehingga muncul perlindungan kepentingan pemegang saham secara fair (jujur dan adil).
Berdasarkan dari prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas dapat
ditarik kesimpulan bahwa Good Corporate Governance adalah sistem yang dijalankan sesuai pada prinsip-prinsipnya, untuk memaksimalkan kinerja
perusahaan dan untuk menjalankan prinsip-prinsip tersebut dibutuhkan kerja
sama yang baik antara shareholder dan stakeholder.
2.5.2 Tujuan dan Manfaat Diterapkannya Good Corporate Governance
Menurut Sutojo (2005 : 5) corporate Governance memiliki lima
macam tujuan utama, yaitu:
1) Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham
2) Melindungi hak dan kepentingan para anggota stakeholders non-pemengang saham
3) Meningkatkan nilai perusahaan dan para pemegang saham
4) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja dewan pengurus atau Board of Directors dan manajemen perusahaan, dan
5) Meningkatkan mutu hubungan Board of Directors dengan manajemen senior perusahaan.
Selain daripada tujuan-tujuan tersebut, corporate Governance juga memiliki beberapa manfaat seperti yang dirumuskan oleh FCGI (Forum for Corporate Governance in Indonesia) (2001) adalah:
1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik sehingga pencapaian efisiensi operasional perusahaan tercapai dan meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.
2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga meningkatkan Corporate Value.
3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia sehingga membantu perusahaan untuk mengembangkan dana memperluas usahanya, dan
4. Pemegang saham akan puas dengan kinerja perusahaan karena akan meningkatkan shareholders value dan deviden.
2.5.3 Ukuran Dewan Komisaris
Mizruchi (1983) menjelaskan bahwa dewan merupakan “pusat dari
pengendalian dalam perusahaan, dan dewan ini merupakan penanggung jawab
utama dalam tingkat kesehatan dan keberhasilan perusahaan secara jangka
panjang”.Dewan komisaris merupakan organ penting dalam
pengimplementasian good corporate governance di suatu perusahaan yang mengawasi kebijaksanaan direksi dalam menjalankan perusahaan serta
memberikan nasihat kepada direksi.Dalam ukuran dewan komisaris ini dapat
diketahui melalui komposisi dari seluruh dewan komisaris yang ada dalam
perusahaan tersebut.
Ukuran dewan komisaris yang tepat dipengaruhi oleh berbagai hal
antara lain:
1. Ukuran dewan direksi
2. Industri dan jenis keahlian yang dibutuhkan
3. Overall risk yang dihadapi
4. Komite yang ada.
Sembiring (2005) menyatakan bahwa “semakin besar jumlah anggota
dewan komisaris, maka semakin mudah untuk mengendalikan CEO dan
2.5.4 Dewan Direksi
Direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung
jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan, sesuai
dengan maksud dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan, baik di dalam
maupun diluar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar
(M.Yusrizal, 2011).Menurut Undang-undang Perseroan Terbatas, direksi
merupakan organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan
perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan
baik di dalam maupun di luar pengadilan dengan ketentuan anggaran
dasar.Dapat disimpulkan bahwa dewan direksi berperan dan bertanggung
jawab dalam memastikan perusahaan telah menjalankan ketentuan dalam
anggaran dasar dan perundang-undangan yang berlaku.
2.5.5 Komite Audit
Komite audit merupakan organ tambahan yang diperlukan dalam
melaksanakan Good Corporate Governance, yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk membantu komisaris melakukan pemeriksaan atau penelitian
yang dianggap perlu terhadap pelaksanaan fungsi direksi dalam pengelolaan
suatu perusahaan serta memastikan bahwa operasional perusahaan berjalan
sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan di dalam perusahaan. Tugas
dan tanggung jawab komite audit juga akan menentukan kinerja dan
keberhasilan di dalam suatu perusahaan. Menurut Komite Nasional Kebijakan
yang beranggotakan satu atau lebih anggota Dewan Komisaris dan dapat
meminta kalangan luar dengan berbagai keahlian, pengalaman, dan kualitas
lain yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan Komite Audit.”
Tujuan komite audit sebenarnya sudah ada dalam definisi komite audit
itu sendiri yang tujuannya untuk membantu dewan komisaris untuk memenuhi
tanggungjawab dalam memberikan pengawasan secara menyeluruh. Menurut
Jati (2009) Komite audit merupakan
sebuah komite yang ditunjuk oleh perusahaan sebagai penghubung antara dewan direksi dan audit eksternal, internal auditor serta anggota independen. Komite audit ditugaskan untuk memberikan pengawasan pada auditor perusahaan internal dan eksternal, serta memastikan manajemen tersebut melakukan tindakan korektif yang tepat secara berkala dan dapat mengontrol kelemahan, ketidak sesuaian dengan kebijakan, hukum dan regulasi.