NO URAIAN TAHUN
2010 2011 2012 2013 2014
1. Pembebasan Bersyarat 25.737 20.262 24.802 34.533 38.710
2. Cuti Menjelang Bebas 310 1.024 622 600 305
3. Cuti Bersyarat 4971 11.017 7.527 14.225 7.376
4. Assimilasi 2.011 2.282 4.397 2.738 1.949
5. Cuti Mengunjungi Keluarga 68 109 38 13 30
Jumlah 33.097 34.694 37.386 52.109 48.370
3. Rehabilitasi narapidana pengguna narkoba ke Panti Rehabilitasi
Melakukan rehabilitasi terhadap narapidana pengguna narkoba merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh negara. Pada sisi lain, rehabilitasi pengguna narkoba di panti rehabilitasi berdampak langsung pada menurunnya tingkat hunian Lapas/Rutan. Terapi rehabilitasi narapidana pengguna narkoba di Panti Rehabilitasi juga merupakan salah satu kegiatan dalam kerangka untuk assimilasi.
4. Penambahan kapasitas hunian dengan melakukan pembangunan infrastruktur (rehabilitasi dan pembangunan Lapas/Rutan)
Penanganan masalah over crowded dapat dilakukan dengan pemenuhan sarana dan prasarana pada lapas/rutan dengan melakukan rehabilitasi dan pembangunan UPT Pemasyarakatan. Langkah ini diperkirakan secara signifikan akan mengurangi permasalahan over crowded.
5. Penguatan koordinasi dengan Instansi terkait dalam hal Restoratif Justice.
Peran Pembimbing Kemasyarakatan (PK) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Pengadilan Anak sangat penting yaitu dalam melaksanakan penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan terhadap anak di dalam dan di luar proses peradilan pidana. Setiap anak yang berhadapan dengan hukum harus dilakukan pendampingan semenjak diduga melakukan tindak pidana dalam pemeriksaan di kepolisian sampai dengan putusan hakim sidang pengadilan. Karena sarandan rekomendasi PK sangat mempengaruhi putusan hakim dalam memutus perkara anak jika putusan hakim tanpa Penelitian Kemasyarakatan (Litmas) maka putusan tersebut batal demi hukum.
Untuk melengkapi deskripsi kinerja PK Bapas dibawah ini disajikan tabel/grafik anak yang mendapatkan pendampingan dalam sidang anak adalah sebagai berikut:
Tabel Data Jumlah Anak yang Mendapatkan Pendampingan dalam Sidang Anak
Tahun
Diversi Putusan Pidana
Jumlah Akot Sosial Akot Panti
Sosial Bersyarat Penjara
2011 98 11 - 41 384 2217 2.751
2012 392 20 420 104 666 3.712 5.314
2013 132 31 138 37 275 1.520 2.133
2014 139 14 191 108 255 2069 2.776
Capaian strategis lainnya di bidang pemasyarakatan yang juga sangat bersinergi dengan percepatan program reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dapat disebutkan berupa :
1. Program Getting to zero HALINAR di LAPAS/ RUTAN.
2. Pengendalian Isi Hunian Lapas/Rutan.
3. Pelaksanaan Layanan Pemasyarakatan berbasis Informasi dan Teknologi (IT).
4. Program Penguatan Pengawasan Internal Pemasyarakatan dan Penegakan Kode Etik.
5. Implementasi Undang-Undang No 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
6. Program Getting to zero HIV/AIDS di Lapas, Rutan dan Bapas.
7. Program Bengkel Kerja Produktif.
g. Direktorat Jenderal Hak Asasi Manusia
1. Pelayanan Komunikasi Masyarakat, yaitu pelayanan penanganan dugaan pelanggaran baik yang diadukan ataupun yang belum diadukan oleh masyarakat.
Pelayanan Komunikasi Masyarakat ini memberikan pelayanan terhadap masyarakat yang merasa terlanggar HAM-nya melalui telaahan permasalahan yang dihadapi baik secara langsung maupun melalui focus group discussion (FGD).
Hasil telaahan permasalahan tersebut ada yang di file (bukan merupakan pelanggaran HAM) dan ada yang ditindaklanjuti. Hasil telaahan dan/atau FGD tersebut ditindaklanjuti dengan melakukan koordinasi dengan instansi/lembaga terkait yang diduga melanggar HAM untuk dilakukan klarifikasi dan mendorong penyelesaiannya.
Capaian pelayanan komunikasi masyarakat tersebut sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 dapat digambarkan pada grafik di bawah ini.
0 200 400 600 800 1000 1200
TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013
1075 1100
558
819
335
245
12 235 130
625
165
636
411 450
265 130 53
48 12 0
Grafik Pelayanan Komunikasi Masyarakat
SURAT PENGADUAN TELAAHAN FILE KOORDINASI/REKOMENDASI TINDAK LANJUT
2. Pelayanan dibidang Informasi HAM
Pelayanan dibidang Informasi HAM dimulai dengan melakukan pengumpulan dan pengolahan data implementasi HAM dari Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta kondisi perkembangan HAM yang terjadi di Indonesia. Informasi HAM ini memberikan pelayanan kepada masyarakat/pemangku kepentingan terkait dengan informasi HAM. Informasi HAM ini dipublikasikan baik melalui media cetak, media elektronik dan web site Direktorat Jenderal HAM dengan alamat www.ham.go.id. Pada tahun 2015 pelayanan informasi HAM akan menyusun Indikator pembangunan HAM di Indonesia sehingga memudahkan dalam menyusun profil pembangunan HAM di Indonesia sebagaimana Indikator yang akan disusun. Dengan demikian, diharapkan informasi HAM yang dipublikasikan oleh Ditjen HAM ini akan menjadi acuan bagi pemangku kepentingan baik di dalam dan luar negeri.
3. Pelayanan kepada Apatur Pemerintah dan masyarakat dengan memberikan/
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman nilai-nilai HAM melalui kegiatan Diseminasi HAM dan Penguatan HAM. Diharapkan dengan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman HAM akan memberikan dampak bagi keseimbangan hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh Aparatur Pemerintah dan Masyarakat. Aparatur Pemerintah dapat menyusun kebijakan dan regulasi bernuansa HAM dan masyarakat mengerti hak dan kewajiban dalam bermasyarakat dan bernegara. Capaian pelaksanaan Diseminasi HAM dan Penguatan HAM sejak Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2013 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
0 500 1000 1500 2000
JML PESERTA 1700
1020 1020
1470
Grafik Capaian Kegiatan Diseminasi HAM Tahun 2010-2013
TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013
4. Memberikan pedoman atau acuan bagi penyusunan dan perancangan produk hukum.
Saat ini telah dikeluarkan Peraturan Bersama Menteri Hukum dan HAM dengan Menteri Dalam Negeri Nomor Nomor 20 Tahun 2012/77 Tahun 2012 tentang Paramater HAM dalam penyusunan Produk Hukum Daerah.
5. Memberikan acuan dalam mempercepat pelaksanaan HAM di Indonesia kepada Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota melalui pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM). Saat ini RANHAM di Indonesia telah memasuki periode ke tiga.
a. RANHAM generasi pertama periode 1998-2003; program aksi lebih pada pengesahan sejumlah instrumen HAM Internasional
b. RANHAM generasi kedua periode 2004-2009, disusun dengan 6 (enam) pilar utama dan RANHAM ini didukung dengan adanya Kelembagaan HAM di Daerah, sehingga RANHAM dapat tersosialisasikan lebih baik dibandingkan pada periode sebelumnya.
c. RANHAM generasi ketiga periode 2011-2014, disusun dengan mengidentifikasi permasalahan pada 10 kelompok hak dasar manusia yang mengacu pada UU39/tahun1999, serta menyelaraskan pada: RPJMN 2010-2014, MDG’s, dan Strategis Nasional terhadap Akses Keadilan dan Kebijakan Nasional tentang Pro Growth, Pro Poor and Pro Job. Adapun RANHAM generasi ketiga terdiri dari program:
1) pembentukan dan penguatan institusi pelaksana RANHAM;
2) persiapan pengesahan instrumen HAM internasional;
3) harmonisasi rancangan dan evaluasi peraturan perundang-undangan;
4) pendidikan HAM;
5) Penerapan norma dan standar HAM;
6) Pelayanan komunikasi masyarakat; dan 7) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan.
0 100 200 300 400
JML PESERTA 400
300 330 363
Grafik Capaian Kegiatan Penguatan HAM Tahun 2010-2013
TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013
Sampai dengan Tahun 2013 telah terbentuk Panitia RANHAM Nasional, Kelompok Kerja Panitia RANHAM Kementerian/Lembaga sebanyak 40 K/L dari 48 K/L (83%), 33 Panitia RANHAM Provinsi (100%), dan 339 Panitia RANHAM Kabupaten dan 94 Panitia RANHAM Kota (90%).
6. Memberikan motivasi kepada Pemerintah Kabupaten/kota dengan memberikan penghargaan Kabupten/Kota peduli HAM yang dinilai berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 25 tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 11 Tahun 2013 tentang Kriteria Kabupaten/Kota Peduli HAM.
h. Badan Pembinaan Hukum Nasional
Kementerian Hukum dan HAM memiliki fungsi strategis dalam tahapan legislasi.
Badan Pembinaan Hukum Nasional memiliki kewenangan yang cukup besar dalam dua lingkup yakni tahap pra legislasi dan pasca legislasi.
Pembinaan Hukum Nasional memiliki fungsi pembentukan hukum sekaligus juga fungsi pelayanan hukum. Fungsi-fungsi tersebut dilakukan melalui serangkaian tugas yang saling berkaitan. Fungsi pembentukan hukum dilakukan melalui perencanaan hukum serta analisa dan evaluasi hukum, sedangkan fungsi pelayanan hukum dilakukan melalui dokumentasi dan informasi hukum serta penyuluhan dan bantuan hukum.
1. Perencanaan Hukum
Perencanaan hukum merupakan kegiatan pembenahan/pembaruan hukum agar arah pembangunan hukum selaras dengan arah pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur.Pelaksanaan perencanaan hukum tidak hanya ditujukan untuk hukum dalam arti positif berupa peraturan perundang-undangan namun juga sistem hukum dalam arti luas yang mencakup pembenahan pada aspek substansi hukum, kelembagaan hukum, budaya hukum dan pelayanan hukum.
Perencanaan hukum dilakukan melalui kegiatan:
a. Penyusunan Perencanaan Pembangunan Hukum Nasional.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan masukan mengenai konsep dan strategi pembangunan hukum nasional untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.Penyusunan perencanaan pembangunan hukum nasional memperhatikan/mengakomodasi perkembangan hukum nasional, perkembangan hukum internasional danperkembangan kebutuhan hukum didaerah.
b. Penyusunan Program Legislasi Nasional usulan Pemerintah, Program Pembentukan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden.
Perencanaan pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan bagian dari perencanaan hukum pada aspek substansi hukum. Kegiatan ini adalah pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Kemenkumham memiliki kedudukan sebagai koordinator penyusunan perencanaan pembentukan UU (Prolegnas) usulan Pemerintah, Program Pembentukan Peraturan Pemerintah dan Program Pembentukan Peraturan Presiden .
c. Monitoring dan Evaluasi penyusunan Program Legislasi Nasional usul Pemerintah, Program Pembentukan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden.
Data Prolegnas 2010 – 2014
Disahkan 8UU : 4 UU Prakarsa DPR 4 UU Prakarsa Pemerintah
Disahkan 19 UU : 13 UU Prakarsa DPR 6 UU Prakarsa Pemerintah
REALISASI PROLEGNAS JANGKA MENENGAH 2010 - 2014
Disahkan 10 UU : 6 UU Prakarsa DPR 4 UU PrakarsaPemerintah Disahkan 12 UU:
7 UU Prakarsa DPR 5 UU PrakarsaPemerintah Disahkan 22 UU : 11 UU Prakarsa DPR 11 UU PrakarsaPemerintah
2010-2014 (247 RUU + 11
RUU NON PROLEGNAS)
2010 73 RUU (70 RUU+3 RUU
pengalihan)
2011 91 RUU (70 RUU + 21 RUU
yang Pembahasannya
diluncurkan)
69 RUU2012 (64 RUU+ 5
Tambahan)RUU 2013
75 RUU (70 RUU + 5
Tambahan)RUU 2014 69 RUU (66 RUU + 3
Tambahan)RUU