• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORI

B. Komunikasi Kelompok

9. Groupthink Theory (Teori Pemikiran Kelompok)

Hipotesis pemikiran kelompok dikembangkan oleh Irving Janis dan yang lainnya berasal dari sebuah pengujian keefektifan proses pengambilan keputusan secara mendetail. Menekankan pemikiran kritis, Janis menunjukkan bagaimana kondisi tertentu dapat membawa kepuasan bagi kelompok, tetapi dengan hasil yang tidak efektif. “Pemikiran kelompok adalah sebuah hasil langsung terhadap kepaduan kelompok yang telah dibahas beberapa bagian oleh Kurt Lewin pada tahun 1930-an dan semenjak dilihat sebuah variabel penting dalam keefektifan kelompok.72

Beberapa asumsi penting dari groupthink yaitu sebagai berikut:

a. “Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas yang tinggi.”

b. “Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses menyatu.”

c. “Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok seringkali bersifat kompleks.73

Asumsi pertama dari groupthink berhubungan dengan karakteristik kehidupan kelompok yaitu kohesivitas. Kohesivitas adalah batas dimana anggota-anggota suatu kelompok bersedia untuk bekerja sama dan merupakan rasa kebersamaan dari kelompok tersebut. Kohesi berasal dari sikap, nilai dan pola perilaku kelompok; kelompok dimana anggotanya saling tertarik dengan sikap, nilai dan perilaku anggota lainnya cenderung dapat dikatakan kohesif.”

“Asumsi kedua menyatakan bahwa persoalan pemecahan masalah yang terjadi dalam kelompok merupakan kegiatan yang selalu ada dalam kelompok

72 Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi. Terj. Muhammad Yusuf

Hamdan (Jakarta : Salemba, 2009), h. 346.

73 Richard West dan Lynn H. Turner, Teori Komunikasi Analisa Aplikasi (Jakarta:

kecil. Anggota-anggota di dalam kelompok kecil akan berusaha untuk saling berhubungan satu sama lainnya. Setiap anggota kelompok akan benar-benar berpartisipasi karena sesungguhnya mereka takut mengalami penolakan. Kondisi ini membuat anggota kelompok cenderung menahan masukan dari orang lain karena mereka takut mengalami penolakan. Mereka memiliki kecenderungan untuk memelihara hubungan antar anggota kelompok daripada memfokuskan perhatiannya pada isu-isu yang masih dipertimbangkan oleh kelompok.”

“Asumsi ketiga mengacu pada situasi yang terjadi pada kelompok pengambilan keputusan dan kelompok yang berorientasi pada tugas. Proses pengambilan keputusan pada kelompok kecil seringkali bersifat kompleks. Perbedaan usia, sifat kompetitif, ukuran kelompok, kecerdasan, komposisi gender dan gaya kepemimpinan adalah beberapa hal yang menjadi penyebab kompleksnya pengambilan keputusan tersebut. Selain itu latar belakang budaya yang dimiliki oleh masing-masing anggota turut membuat proses pengambilan keputusan menjadi tidak mudah. Kelompok dan keputusan kelompok akhirnya menjadi proses yang sulit dan menantang, tetapi melalui kerja kelompok orang dapat mencapai tujuannya dengan lebih baik dan efesien.74

Janis menemukan dalam penelitiannya bahwa pemikiran kelompok dapat menghasilkan sesuatu yang negatif sebagai berikut:

a. “Kelompok membatasi diskusi hanya untuk beberapa alternatif tanpa mempertimbangkan kemungkinan kreatif.”

b. “Posisi awal diberikan oleh sebagian besar anggota tidak pernah dikaji kembali untuk mencari hal yang tidak dapat diduga.”

c. “Kelompok gagal untuk menguji kembali semua alternatif yang bukan dari mayoritas. Pendapat minoritas dengan cepat diabaikan, tidak hanya oleh mayoritas tetapi oleh semua yang awalnya sepihak.”

d. “Pendapat ahli tidak dicari. Kelompok puas dengan pendapat dan kemampaunnya sendiri untuk membuat keputusan dan mungkin merasa terancam dari luar.”

74 Syaiful Rohim, Teori Komunikasi: Perspektif, Ragam, dan Aplikasi (Jakarta: Rineka

e. “Kelompok sangat selektif dalam mengumpulkan informasi yang ada. Anggota cenderung memusatkan hanya pada informasi yang mendukung rencana.”

f. “Kelompok begitu percaya diri dengan ide-idenya yang tidak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan dari rencana yang dapat diprediksi atau kemungkinan rencana gagal.75

Iriving Janis menanggap bahwa hasil temuannya tersebut merupakan dari hasil pemikiran yang kurang kritis dan dari kelompok yang terlalu percaya diri. Selanjutnya Iriving Janis menyebutkan delapan gejala utama kelompok pemikir sebagai berikut76 :

a. Para anggota bersama-sama membangun kesan aman, memberikan dorongan untuk mengambil risiko yang amat besar seraya gagal melihat tanda awal bahaya.

b. Peringatan dan umpan balik negatif lainnya disingkirkan.

c. Para anggota yakin bahwa mereka adalah orang-orang bermoral, dengan demikian dapat mengabaikan akibat-akibat etis atas perbuatan mereka. d. Pemimpin kelompok lain dianggap jahat, jadi mereka bukan orang-orang

yang layak diajak berunding.

e. Para anggota menyimpang dari keyakinan kelompok, dipaksa untuk patuh. f. Para anggota menghidari pembicaraan yang tidak sesuai dengan tindakan

kelompok, jadi sensor diri mengantikan sensor kelompok. g. Para anggota berbagi ilusi bahwa kesepakatan adalah bulat.

h. Para anggota terutama ketuanya menghindarkan kelompok dari informasi yang tidak sesuai.

Aplikasi teori dari kelompok pemikir (groupthink theory) ini terus berkembang dan menjadi kajian dalam bentuk penelitian dan menguji kembali teori ini. Berikut beberapa hasil penelitian yang menggunakan teori kelompok pemikir yaitu:

a. Brian Mullen, Tara Anthony, Eduardo Salas, dan James E. Driskel, 1994:

“Group Cohesiveness and Quality of Decision Making: An Integration of Tests of the Groupthink Hypothesis.” Hasil penelitian mereka

75 Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Teori…, h. 346.347

menunjukkan bahwa secara keseluruhan, tidak ada pengaruh kekompakan yang signifikan pada kualitas keputusan kelompok. Namun, kelompok yang lebih kohesif memberikan keputusan kualitas yang lebih buruk pada kelompok yang sebelumnya hadir.77

b. Ahlfinger, Noni Richardson, Esser dan James K, 2001: “Testing The

Groupthink Model: Effects Of Promotional Leadership And Conformity Predisposition”. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa kelompok

dengan pemimpin promosi menghasilkan lebih banyak gejala pemikiran kelompok, membahas lebih sedikit fakta, dan mencapai keputusan lebih cepat daripada kelompok dengan pemimpin nonpromosi.78

c. Ardiansyah Prima dan Ahmad Rudy Fardiyan, 2017: “Pemikiran

Kelompok Dalam Komunitas Untuk Pengembangan Skill Anggota (Studi Pada Komunitas Instameet Di Bandar Lampung”. Hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa Komunitas Instameet Lampung menggunakan komunikasi kelompok kecil dalam membangun pemikiran kelompok sehingga menciptakan kohesivitas dan solidaritas yang kuat di dalam kelompok. Hal ini membuat anggota mengorbankan kepentingan individu demi kepentingan kelompok. Meningkatnya skill anggota Komunitas Instameet Lampung terlihat dari intensitas partisipasi anggota. Namun demikian, terdapat dominasi pengaruh dari anggota mayoritas yang menentukan keputusan keputusan di dalam kelompok.79

Dari beberapa aplikasi teori dalam bentuk penelitian diatas, dapat dijelaskan bahwa kelompok pemikir memiliki pengaruh yang besar terhadap anggota kelompok. Peneliti meyakini bahwa masih banyak lagi hasil penelitian yang menggunakan teori kelompok pemikir ini. Teori ini terbukti terus berkembang dari waktu ke waktu. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti menilai bahwa teori ini sesuai digunakan dalam mengkaji komunikasi kelompok

77

Brian Mullen, Tara Anthony, Eduardo Salas, dan James E. Driskel, Group Cohesiveness

and Quality of Decision Making: An Integration of Tests of the Groupthink Hypothesis, dalam

Sage Journal, Vol. 25. No 2, 1994.

78 Ahlfinger, Noni Richardson, Esser dan James K, Testing The Groupthink Model: Effects

Of Promotional Leadership And Conformity Predisposition, dalam Social Behavior and

Personality: an International Journal, Volume 29, No 1, 2001.

79 Ardiansyah Prima dan Ahmad Rudy Fardiyan, “Pemikiran Kelompok Dalam

Komunitas Untuk Pengembangan Skill Anggota (Studi Pada Komunitas Instameet Di Bandar Lampung”, dalam Jurnal Metakom, Vol. 1 No 2, 2017.

teman sebaya siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Pancur Batu.