• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROFIL MAJALAH SASTRA JAWA 1945—2006

3.8 Gumregah

Telah dikemukakan di depan (lihat subbab 2.2) bahwa majalah Gumregah merupakan majalah sastra Jawa yang pertama kali terbit sesudah berdirinya OPSJ. Majalah itu diformat menye- rupai buku dengan ukuran 14,5 cm x 21,5 cm, dengan wajah (sam- pul) lukisan pujangga Jawa terakhir, R. Ng. Ranggawarsita, seperti berikut.

Penerbitan majalah sastra Jawa Gumregah diprakarsai oleh Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) Komisariat Jawa Tengah yang bermarkas di Surakarta. Majalah itu dicetak oleh percetakan “Fadjar” N.V. Tim redaksinya cukup tangguh yang terdiri atas para penga- rang beken ‘handal’ dan me- libatkan unsur pemerintah (termasuk TNI dan Polri) se- bagai pelindungnya. Susunan tim redaksinya ialah Pemim- pin Umum: Soepardi Hardjo- kusumo; Pemimpin Perusaha- an: Soendoro; Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: S. Wakidjan; Dewan Redaksi: Mt. Soepardi, Widi Widayat, Achmad D.S., dan N. Sak- dani; Pembantu: Any Asmara,

Soedharma K.D., Murja Lelana, Ki Adi Sumidi, Soeparto Brata, Esmiet, St. Iesmaniasita, Susilomurti, dan Trim Sutedja. Susunan tim redaksi selengkapnya seperti yang tercantum dalam fotokopi yang disertakan ini. Sementara itu, alamat kantornya adalah Jalan Djamsaren 87, Surakarta.

Gumregah merupakan majalah bulanan, terbit pertama kali pada tanggal 31 Januari 1967. Nama Gumregah dapat dimaknai sebagai manifestasi keinginan para pendukungnya untuk “bang- kit” berkenaan dengan kecemasan mereka terhadap (kehidupan) sastra Jawa yang, antara lain, disebabkan oleh penyitaan 21 judul roman berbahasa Jawa oleh aparat keamanan di Surakarta (Huto- mo, 1975: 72), dan “bangkit” setelah terlepas dari tekanan (rong- rongan) Lekra dan LKN.

Keinginan untuk gumregah ‘bangkit’ tersebut ada hubung- annya dengan motto yang tertera di bawah nama majalah itu yang berbunyi “Puspita Susastra Jawa”. Artinya, majalah itu dan sastra yang ditampilkannya diharapkan dapat menjadi ‘bunga sastra Jawa yang indah’; (puspita berarti ‘bunga’, sedangkan susastra berarti ‘sastra yang indah’). Motto itu juga sebagai penanda bahwa majalah tersebut merupakan pers khusus sastra Jawa sehingga isinya lebih banyak menampilkan (tulisan) sastra Jawa, baik berupa fiksi maupun nonfiksi. Oleh karena itu, majalah Gumregah juga berfungsi sebagai media atau ajang pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa. Hal itu juga dinyatakan dalam “Ature Redaksi” ‘“Prakata Redaksi”’ Gumregah Nomor 2, 1967, sebagai berikut.

Sarehne wus tetela menawa Gumregah uga dadi salah sawiji- ning papan pirantining pambudi daya kanggo nguri-uri ngrembakakake basa sarta susastra Jawa, mula si ponang jabang

Gumregah iki perlu kita jaga supaya urip pambudidayane bisa

lestari sateruse, kalis saka godha rencana nir baya nir rubeda. ‘Berhubung sudah jelas bahwa Gumregah juga menjadi salah satu tempat sarana upaya untuk menghidupsuburkan bahasa dan sastra Jawa, maka si jabang bayi Gumregah ini

perlu kita jaga agar kehidupannya dapat lestari, terhindar dari goda, bahaya, dan penghalang.’

Sehubungan dengan itu, terbitnya Gumregah Nomor 1 men- dapatkan sambutan yang menggembirakan sehingga Gumregah Nomor 2 dapat diterbitkan sesuai dengan rencana. Pernyataan itu diungkapkan oleh Dewan Redaksi sebagai berikut (lihat Gumregah No. 2, 1967:3).

Kanthi rasa gembira lan bingar pamong nglepas siGumregah

No. 2 iki sowan ing ngarsane para kadang sutresna lan para maos.

Gembira lan bingar awit gumregahe Gumregah pranyata antuk kawigaten kang ora sithik.

Gedhening kawigaten mau mracihnani manawa basa lan kasusastran dhaerah sarta kabudayan dhaerah umume perlu kita uri-uri, kita suburake, lan kita sampurnakake endi kang durung mathis.

‘Dengan rasa gembira dan senang, pengasuh melepas si Gumregah No. 2 ini datang di hadapan para sahabat pecinta dan para pembaca.

Gembira dan senang karena bangkitnya Gumregah ternyata mendapatkan perhatian yang tidak sedikit.

Besarnya perhatian tadi menunjukkan bahwa bahasa dan kesusastraan daerah serta kebudayaan daerah umumnya perlu kita pelihara, kita pupuk, dan kita sempurnakan mana yang belum tepat benar.’

Dengan sambutan yang menggembirakan itulah, pada penerbitan Gumregah nomor 2 ada tambahan rubrik “Kasarasan” ‘“Kesehatan”’ yang diasuh oleh Dokter Sarjanto.

Sebagaimana telah dikemukakan (pada awal Bab III ini) bahwa Gumregah tersebut merupakan majalah (khusus) sastra Jawa. Oleh karena itu, tulisan yang ditampilkan kebanyakan berupa karya sastra, baik fiksi maupun nonfiksi, yang tertampung dalam rubrik-rubrik pilihannya. Rubrik-rubrik yang terdapat dalam Gumregah selain “Ature Redaksi” adalah “Crita Cekak

‘“Cerita Pendek”’, “Leladi Budi” ‘“Sajian Budi”’, “Puspita Wanodya” ‘“Bunga Wanita”’, “Crita Rinonce” ‘“Cerita Bersambung”’, “Puspita Mudha” ‘“Bunga Remaja”’, “Langen Puspita” ‘“Keindahan Bunga”’ (yang dimaksud adalah “puisi”), “Paniti Pustaka” ‘“Kajian Pustaka”’, “Wegah Susah” ‘“Ogah Susah”’, “Kasarasan” ‘“Kesehatan”’ (tambahan baru), dan “Ajang Organisasi” ‘“Ajang atau Media Organisasi”’. Di samping rubrik yang menampilkan fiksi, yakni rubrik “Crita Cekak” dan “Crita Rinonce”, dalam Gumregah nomor 2, misalnya, juga terdapat tulisan-tulisan berupa fiksi, misalnya “Aja Sembrana”, “Fitnah”, dan tulisan dalam rubrik “Puspita Mudha”. Rubrik “Leladi Budi”, “Puspita Wanodya”, dan “Paniti Pustaka”, serta tulisan-tulisan berjudul “Wasise Wong Biyen” dan “Ranggawarsita Isih Kena Diarani Peteng” menampilkan tulisan berbentuk esai. Sementara itu, rubrik “Langen Puspita” menampilkan karya puisi (guritan), “Wegah Susah” menampilkan tulisan-tulisan yang bersifat humor (hiburan), “Kasarasan” menampilkan konsultasi (tanya jawab) tentang kesehat- an, serta “Ajang Organisasi” menampilkan berita penting, misalnya berita tentang terbitnya majalah anak-anak Si Glathik dalam Gumregah nomor 2 (1967:39). Dalam Gumregah nomor 2 (1967:20— 21) juga ditampilkan “Pengumumam Presiden/Mandataris MPRS/ Panglima Tertinggi ABRI” tentang penyerahan kekuasaan peme- rintahan dari Presiden Soekarno kepada Pengemban Ketetapan MPRS Nomor IX/MPRS/1966, Jenderal TNI Soeharto.

Duduknya beberapa pengarang tangguh dalam tim redaksi majalah Gumregah tersebut menunjukkan bahwa mereka merupakan “penjaga gawang”—yang sewaktu-waktu dapat diminta untuk mengisi rubrik-rubrik yang telah diprogramkan. Misalnya, dalam Gumregah nomor 2 terdapat cerpen “Ngelu” karangan Any Asmara dan “Wong Lanang” karangan Ars. Atmowiloto (si Pedut) untuk mengisi rubrik “Crita Cekak”, artikel “Ibu Suhing Bebrayan” karang- an Ju Wida (nama samaran Widi Widayat) untuk mengisi rubrik “Puspita Wanita”, cerbung “Tinarang ing Sarangan” karangan M.T. Suphardi untuk mengisi rubrik “Crita Rinonce”, cerita “Aja

Sembrana” karangan Widi Widajat dan “Fitnah” (dalam rubrik “Kara Carita”) karangan N. Sakdani. Any Asmara, Widi Widajat (Ju Wida), M.T. Suphardi, dan N. Sakdani adalah pengarang-pe- ngarang handal yang ikut membidani lahirnya majalah Gumregah tersebut dan ikut duduk dalam tim redaksinya. Sementara itu, rubrik “Puspita Mudha” diisi oleh Anjar Any dengan judul “Rukun iku Perlu”, rubrik “Paniti Pustaka” diisi oleh Pak Guna dengan judul “Cekak, Cerkak, Cekak”, rubrik “Wegah Susah” diisi oleh Si Pedut (nama samaran Arswendo Atmiwiloto) dengan beberapa artikel pendek, dan artikel “Ranggawarsita Isih Kena Diarani Peteng” ditulis oleh Ki Pujanganom (nama samaran). Artikel-artikel lainnya, antara lain, diambilkan dari berita Antara dan kutipan dari media massa cetak lain.

Di samping karangan-karangan yang telah disebutkan, majalah Gumregah nomor 2 juga memuat informasi tentang jumlah tiras majalah itu lebih banyak daripada jumlah tiras majalah Gumregah nomor 1, serta memuat pertanyaan berhadiah dan iklan. Iklan yang ditampilkan, misalnya datang dari Percetakan “Fadjar” N.V., Si Glatik, dan penjual buku tentang J.M.D. (Jusuf Muda Dalam).

Dalam dokumen MAJALAH SASTRA JAWA MASA KEMERDEKAAN 201 (Halaman 73-78)

Dokumen terkait