• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Pembahasan Hasil Penelitian

3) Guru dan karyawan

Pendidikan dalam konteks kekinian yang menyesuaikan terhadap perkembangan zaman adalah upaya sadar untuk mengembangkan, mendorong, dan mengajak manusia agar tampil lebih progresif dengan berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa dan agama agar terbentuk pribadi yang sempurna. Dengan demikian tujuan pendidikan adalah untuk membentuk insan kamil sehingga memiliki integritas yang tinggi dalam mengembangkan fitrahnya sebagai makhluk yang bermartabat dan berbudi luhur. Itulah sebabnya pendidikan merupakan sarana vital bagi manusia untuk menciptakan generasi yang mampu memenuhi tantangan masa depan yang sedang berkembang dengan tetap menjunjung tinggi nilai etika dan moral.

Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang ideal, maka di dalam lingkup sekolah membutuhkan dukungan dari berbagai

unsur, salah satunya yakni guru dan karyawan sekolah. Posisi mereka sangat vital terhadap berjalannya proses pembelajaran. Posisi guru sangat dominan dan di elu-elukan oleh berbagai pihak, karena keberadaan guru diharapkan dapat memberikan wahana penyegaran terhadap anak didik yang membutuhkan peningkatan dalam aplikasi keilmuannya.

Guru yang baik adalah guru yang mampu menjalin hubungan yang harmonis terhadap warga sekolah utamanya kepada peserta didik. Menurut Paulo Freire yang dikutip oleh Takdir Ilahi mengatakan bahwa77, dalam konsep pendidikan yang ideal, guru menduduki peran sebagai partner belajar bagi anak didik. Guru adalah teman belajar anak didik yang memberikan arahan dan nasihat dalam proses belajar. Hal ini selaras dengan peran guru di SMP Negeri 1 Udanawu Blitar yang senantiasa memberikan

wejangan secara langsung kepada peserta didik dan juga mendukung

program yang dijalankan oleh pihak sekolah yang tertuang pada misi sekolah.

James M. Kouzes dan Barry Z. Posner dalam bukunya “The

Leadrship Challenge” yang dikutip oleh Takdir Ilahi memberikan

sepuluh “Komiten Pemimpin dalam Menyambut Abad XXI” dan ini

harus dimiliki pula oleh guru agar gurumemiliki kualitas yang lebih dalam segala kompetensinya. Adapun komitmen tersebut yakni78:

a) Mencari peluang yang menantang. Guru harus respon, proaktif dan tidak statis sebagai upaya untuk menyesuaikan tehadap zaman yang semakin berkembang.

b) Berani mencoba dan menanggung resiko. Guru harus berani mencari terobosan baru untuk kebaikan meski bertentang dengan orang lain.

c) Memimpin masa depan. Artinya, guru harus mampu menampilkan pribadi yang patut dicontoh sebagai suri tauladan serta menggambarkan masa depan yang gemilang melalui inovasi dan kreasinya.

d) Membina kerjasama dan mampu menjalin hubungan komunikasi dengan pihak luar sebagai teamwork demi terwujudnya tujuan yang didambakan.

e) Menyalurkan potensi dengan keterpaduan yang matang dalam mewujudkan idealisme dalam penyamaan yang tidak bertentangan dengan tujuan dan norma.

f) Memperkuat mitra kerja agar anak terpengaruh dengan apa yang dimiliki guru untuk melakukan pembaharuan.

g) Menunjukan keteladanan. Sebagai peranannya untuk digugu dan ditiru maka guru hendaknya memiliki pribadi yang utuh dengan tetap berpegang pada ajaran agama.

h) Merencanakan keberhasilan bertahap. Hal ini dimaksudkan agar guru mampu melaksanakan erencanaan yang matang dalam merealisasikan keberhasilan yang diinginkan oleh peserta didik. i) Menghargai setiap individu. Artinya guru harus menghargai

setiap peserta didik secara adil dan menyeluruh tanpa ada pilih kasih karena faktor potensi maupun prestasi siswa.

j) Mensyukuri keberhasilan yang diraih peserta didik. Hal ini akan mendorong peserta didik untuk meraih keberhasilan yang lebih menjanjikan.

Karyawan adalah tenaga pendidik yang mengatur jalannya administrasi sekolah, namun disisi lain karyawan juga memiliki hak penuh untuk ikut berpartisipasi dalam mendukung dan melancarkan program-program sekolah yang senantiasa diupayakan untuk pencapaian keberhasilan program.

Karyawan di SMP Negeri 1 Udanawu mendukung penuh terhadap penanaman karakter religius kepada siswa. Dalam kegiatan sehari hari di sekolah, upaya mereka salah satunya yakni dengan menggunakan pakaian sera tertutup bagi seluruh karyawan muslim. Upaya lain yang mereka lakukan yakni pemberian teguran saat siswa melakukan kesalahan dalam beretika. Hal ini diharapkan mampu

membantu guru dalam membentuk siswa yang berkarakter religius sehingga terbentuklah output yang beriman dan bertakwa.

4) Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan kabupaten Blitar memiliki tugas pokok yakni menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, meliputi kegiatan Bina Program, Ketenagaan, TK/SD/SLB, Diklamen, PLS/PO, Kesenian dan Kebudayaan, Pendidikan dan Pengurusan Wilayah kabupaten Blitar.

Visi Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Blitar yaitu:

“Terwujudnya masyarakat kabupaten Blitar yang beriman dan bertaqwa, berbudi pengerti luhur menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berbudaya sehat dan mandiri serta berwawasan kebangsaan”79

Dalam rangka mencapai Visi agar Terwujudnya masyarakat kabupaten Blitar yang beriman dan bertaqwa, maka salah satu upaya yang dilakukan oleh dinas pendidikan Kabupaten Blitar yaitu mengeluarkan kebijakan kepada seluruh lembaga pendidikan mulai dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/Aliyah wajib mengadakan kegiatan MADIN dan untuk sekolah SMP/sederajat-SMA/sederajat wajib menggunakan bawahan seragam panjang.

SMP Negeri 1 Udanawu berpartisipasi aktif dalam melaksanakan program dinas pendidikan kabupaten Blitar. Kurang lebih tiga tahun pemakaian seragam dengan bawahan panjang

79“Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Blitar”,http://www.blitarkab.go.id/2012/06/298 .

terealiasikan, sedangkan untuk kegiatan MADIN pihak sekolah merealisasikannya kedalam kegiatan pagi agar siswa secara keseluruhan mengikutinya. Dengan meletakan MADIN sebagai kegiatan pagi, guru juga merasa dimudahkan untuk memantau daftar hadir siswa. Hasil akhir dari kegiatan MADIN ini adalah setiap siswa akan mendapatkan sertifikat MADIN sebagai salah satu syarat untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di wilayah kabupaten Blitar.

b. Faktor penghambat 1) Teman Sejawat

Rata-rata anak usia sekolah lebih banyak menghabiskan waktunya hampir 40% bersama teman sejawatnya. Bagaimanapun bagi anak usia sekolah. Teman bisa memberikan rasa aman dan nyaman, dengan teman bisa memberikan ketenangan saat mengalami kekhawatiran, hingga tidak jarang sifat remaja yang awalnya pemalu menjadi percaya diri.

Beda halnya dengan masa kanak-kanak, hubungan sebaya masa remaja lebih didasarkan pada hubungan persahabatan. Menurut Devitt dan Orm Rod dalam desmita mengatakan bahwa80,

karakeristik lain dari pola hubungan anak usia sekolah dengan teman sebayanya adalah munculnya keinginan untuk menjalin hubungan pertemanan yang lebih akrab atau dalam kajian psikologi perkembangan disebut istilah Friendship

(persahabatan).

80Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik: Panduan Bagi Orang Tua dan Guru

Dalam Memahami Psikolohi Anak Udia SD, SMP, SMA, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sama halnya dengan remaja lain, Siswa SMP Negeri 1 Udanawu Blitar juga menjalin persahabatan yang berjalan di dalam lingkungan sekolah dan diluar lingkungan sekolah. Hubungan persahabatan yang diciptakan mereka bersumber dari kebutuhan mereka akan keluarga yang akan mendengarkan keluh kesahnya dan berbagi cerita masa remaja serta karena persamaan usia sehingga mereka lebih mengerti dan faham tentang perasaan yang dirasakan oleh sahabatnya.

Santrock dalam Desmita menyebutkan enam fungsi penting dari persahabatan81, yaitu:

a) Sebagai kawan (companionship). Persahabatan memberikan remaja seorang teman yang akrab, bersedia meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama-sama.

b) Sebagai pendorong (Stimulation). Persahabatan memberikan informasi yang menarik dan hingga menimbulkan rasa bahagia. c) Sebagai dukungan fisik (Physical Support). Persahabatan

menyediakan waktu, kemampuan serta pemebrian pertolongan. d) Sebagai dukungan ego (Ego Support). Persahabatan memberikan

harapan dan dukungan serta motivasi serta umpan balik yang membantu anak untuk mempertahankan kesan pada dirinya sebagai individuyang kuat, mampu menarik dan berharga.

e) Sebagai perbandingan sosial (sosial comparison). Persahabatan mengajarkan bagaimana berinteraksi dan menjalin hubungan yang baik dengan manusia lain.

f) Sebagai pemberi keakraban dan perhatian (intimacy/affection) persabahabatan menghadirkan hubungan yang hangat, erat, saling percaya, dan berkaitan dengan mengungkapan diri (curahan hati).

Banyaknya manfaat positif yang diambil, maka tak khayal menjalin hubungan persahabatan menjadi kebutuhan tersendiri bagi remaja. Disisi lain persahabatan memberikan banyak pengaruh negatif yang diberikan bila remaja salah dalam memilih teman sehingga membawa dampak buruk terhadap perkembangannya.

Menurut Santrock yang dikutip Desmita dalam bukunya

Psikologi Perkembangan Peserta Didik mengatakan bahwa82,

Sejumlah teori menekankan pengaruh negatif pada teman sebaya terhadap perkembangan anak-anak dan remaja. Bagi sebagian remaja, ditolak atau diabaikan oleh teman sebaya, menyebabkan perasaan kesepian dan permusuhan. Disamping itu, penolakan oleh teman sebaya dihubungkan dengan kesehatan mental dan problem kejahatan. Sejumlah ahli teori juga telah menjelaskan budaya teman sebaya remaja merupakan suatu bentuk kejahatan yang merusak nilai-nilai dan kontrol orang tua. Lebih dari itu, teman sebaya dapat memperkenalkan remaja pada alkohol, obat-obatan (narkoba), kenakalan, berbagai bentuk perilaku yang dipandang orang dewasa sebagai maladaptif.

Hal ini yang menjadikan resah oleh guru Pendidikan Agama di SMP Negeri Udanawu, karena pengawasan mereka terhadap siswa terhambat manakala siswa sudah kembali pada lingkungan keluarganya. Siswa lebih banyak menggunakan waktu dengan

sahabatnya dari pada keluarga. Siswa yang berada jauh dari pantauan orang tuanyalah yang sering menjadikan resah guru karena pergaulan yang jaman sekarang yang jauh dari norma-norma. Oleh karenanya, orang tua tetap memainkan peranan yang penting dalam kehidupan remaja. Hal ini karena antara hubungan orang tua dengan teman sebaya memberikan pemenuhan dan kebutuhan yang berbeda dalam perkembangan remaja. Karena teman sebaya sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak , maka orang tua harus selektif dalam memilihkan teman bagi anak dan memantau dengan siapa anak berteman.

Untuk membantu orang tua dalam memilih teman bermain anaknya, Ahmad Tafsir memberikan tiga patokan bagi orang tua, yakni83, a) Pilih teman yang baik moralnya, b) Pilih teman yang cerdas (IQ-nya tinggi), c) Pilih teman yang kuat akidahnya. Ketiga patokan ini didasarkan pada kebutuhan masa kini yang harus memiliki penguasaan IPTEK sebagai konsekuensi perkembangan zaman serta peningkatan IMTAQ agar tetap menjadi pribadi yang dengan posisinya sebagai hamba tuhan.

Hadist riwayat Bukhari dalam kitab Fathul Bari, Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik

(shalih/shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya 83Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran..., hlm.138

itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”.84

Dalam sabda ini, Nabi menjelaskan manfaat yang akan didapatkan jika remaja gemar berteman dengan orang yang baik. Sebaliknya, Nabi juga menjelaskan kerugian yang akan remaja dapatkan jika berteman dengan orang yang buruk perangainya. Ini secara tidak langsung merupakan perintah dari Nabi agar remaja memilih orang yang baik sebagai teman karib atau teman dekatnya. Sebaliknya, beliau melarang mereka untuk menjadikan orang-orang yang jahat sebagai teman karib.